Bab 10. Mendaftarkan Perceraian

1103 Words
Sudah sepuluh hari Andira tinggal di rumah Levan, hari ini dia akan memasukkan gugatan perceraiannya setelah tiga hari yang lalu dia bertemu pengacara yang datang ke rumah Levan untuk membahas tentang perceraian Andira. "Andira, hari ini kamu akan mengajukan gugatan ke pengadilan. Nanti pengacara akan datang ke sini untuk menjemputmu, maaf aku tidak bisa menemani karena harus kerja." Levan membuka percakapan saat mereka sarapan. "Iya gak apa-apa, Kak. Sudah dibantu dengan disewakan pengacara aja aku sudah bersyukur banget, aku yang harus minta maaf karena sudah merepotkan Kak Levan." "Aku tidak merasa di repotkan, aku malah senang bisa membantumu. Ya sudah, kita sarapan dulu aku harus segera berangkat kerja." Levan sengaja mengakhiri obrolan agar Andira tidak merasa tidak enak padanya. Leon yang mendengar itu semua memasang wajah tidak suka, karena terlihat sang Papi perhatian pada Andira. Terlebih Arum, dia merasa jika Levan mengistimewakan Andira. Itulah yang membuatnya semakin tidak menyukai Andira. Selesai sarapan, Levan pamit bekerja sementara Andira hendak bersiap ke pengadilan sebelum pengacara datang menjemputnya. "Den, coba kita manfaatkan saja wanita itu. Den Leon minta belikan kue dan mainan saat dia pergi nanti, pasti dia sudah dikasih uang sama Papi. Daripada uangnya habis untuk dia foya-foya mending Den Leon mintain aja secara halus," ucap Arum mulai menghasut. "Gak mau ah, Mbak. Nanti dia pikil Leon benelan baik sama dia, Leon gak mau ngomong sama dia." "Ya sudah, gimana kalau Mbak aja yang ngomong sama dia?" "Ya udah telselah," sahut Leon pasrah. Arum pun bergegas menuju kamar Andira, dia mengetuk pintu dan tak lama Andira membukanya. Arum pun mengutarakan yang tadi dia bahas dengan Leon, Andira terlihat bersemangat karena berpikir Leon mulai membuka diri meski tidak bicara langsung padanya. "Memangnya Den Leon suka kue apa, Mbak?" tanya Andira semangat. "Hem, cashew nut cake. Kalau gak salah gitu namanya, pokoknya bilang aja gitu nanti di toko kuenya." "Oh, ya sudah nanti aku belikan. Kalau mainan kira-kira apa ya, Mbak. Pasti mainan Leon semua mahal, takutnya dia gak mau kalau dibelikan mainan murah." "Beli apa aja, dia pasti seneng kok asal yang namanya mainan. Namanya juga anak-anak, udah ya Dira saya balik lagi ke Den Leon." Arum bergegas pamit setelah selesai bicara, Andira tersenyum dengan pikiran baiknya tidak ada rasa curiga sedikitpun. Arum tersenyum puas, rencananya akan berhasil dengan apa yang dilakukannya. Dia harus membuat Andira terusir dari rumah itu secepatnya, dia tidak mau sampai Leon berubah pikiran dan dekat dengan Andira. Dia merasa kehadiran Andira akan mengancam pekerjaannya, padahal dia sudah nyaman bekerja di sana. Andira keluar dari kamar setelah selesai bersiap, dia sengaja menunggu kedatangan pengacara. Dia tidak ingin pengacara itu yang menunggunya, karena dia merasa bersyukur ada orang yang mau membantu. Meski dia tahu pengacara mendapatkan bayaran dari Levan, tetap saja dia merasa bersyukur karena ada yang akan membelanya. "Eh, Mbak Andira. Maaf membuat Anda menunggu saya," ucap pengacara saat turun dan melihat Andira duduk di teras. "Tidak apa-apa, Pak Romli. Saya sengaja menunggu kok," sahut Andira. "Ya sudah, kalau begitu kita berangkat sekarang. Supaya tidak terlalu lama antrinya nanti," ujar Pak Romli nama pengacara Andira itu. Andira mengangguk dan langsung beranjak mengikuti Pak Romli naik ke mobilnya, mereka pun meninggalkan rumah Levan untuk menuju ke pengadilan agama yang berada di daerah tempat Andira dulu melakukan pendaftaran pernikahan. "Pak, kira-kira gugatannya akan dikabulkan gak ya. Menurut yang saya baca minimal kami tidak serumah lagi selama enam bulan dan saya pun tidak punya bukti perselingkuhannya," ungkap Andira kekhawatirannya. "Mbak Andira tenang saja, saya sudah mulai mengumpulkan bukti agar gugatannya di kabulkan. Dan sebisanya Mbak Andira mendapatkan hak-hak Mbak Andira," sahut Pak Romli dengan percaya dirinya. "Maksudnya apa, Pak? Bagaimana caranya Pak Romli mengumpulkan bukti?" tanya Andira penasaran. "Maaf karena saya tidak konsultasi dulu sama, Mbak. Tapi saya sudah bicarakan dengan Pak Levan, jadi saya memutuskan menyewa detektif swasta untuk mengumpulkan bukti-bukti. Dengan begitu gugatan Mbak akan dikabulkan, juga Mbak akan mendapatkan harta gono-gini karena suami Mbak bersalah." "Jadi Pak Romli menyuruh orang mengikuti dia? Apa tidak apa-apa seperti itu, Pak? Dan pasti itu memakan biaya tambahan, kan?" "Tidak masalah, Mbak. Kita bukan sedang mengajukan hukum pidana, yang mana buktinya harus legal. Karena tidak mungkin kita meminta ijin dulu untuk mendapatkan buktinya, kan? Dan soal biaya semua sudah diurus Pak Levan," jelas Pak Romli membuat Andira menarik napas berat. "Saya terus menyusahkan Kak Levan, pasti biayanya tidak sedikit." Andira bergumam pelan hampir seperti bicara dengan dirinya sendiri. "Hehehe, Mbak Andira tidak usah khawatir. Pak Levan memang orang baik, dia kalau membantu orang tidak mau setengah-setengah. Saya sudah cukup lama mengenal Pak Levan, bahkan sebelum saya mengurus perceraian beliau." "Iya, Pak. Saya tahu Kak Levan orang baik, hanya saja saya merasa terlalu sering merepotkan beliau. Jadi rasanya tidak enak saja," sahut Andira menjelaskan alasannya. "Sudah tidak usah dipikirkan, yang terpenting sekarang urusan Mbak cepat selesai. Sebisanya saya akan mengurus perceraian Mbak agar tidak bertele-tele," ucap Pak Romli penuh keyakinan. "Terima kasih, Pak." Mereka pun akhirnya saling diam, sepanjang perjalanan Andira sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya mereka tiba di sana, Pak Romli memarkirkan mobilnya dan mengajak Andira turun. Mereka masuk ke area gedung pengadilan agama, Pak Romli membantu Andira dari mulai mengambil nomor antrian sampai mendaftarkan gugatannya. Seolah Andira di sana hanya sebagai pelengkap saja, semuanya diurus pengacara itu tanpa terkecuali. "Mbak, saya sudah melakukan pendaftaran. Kita bisa pulang sekarang, kita hanya tinggal menunggu panggilan sidang." "Baik, Pak." Andira beranjak dari duduknya, mereka berdua kembali ke mobil. Pak Romli kembali mengemudikan mobilnya meninggalkan area parkir gedung pengadilan agama. Andira menarik napas berat, seolah ada beban di hatinya yang masih tersisa. "Kenapa, Mbak?" tanya Pak Romli menyadari Andira bernapas berat. "Tidak kenapa-napa, Pak. Hanya sedikit gugup saja, kira-kira berapa lama kita harus menunggu untuk sidang pertama?" tanya Andira penasaran. "Mungkin sekitar satu bulan, tapi nanti akan saya usaha agar tidak selama itu. Saya yakin Mbak Andira ingin segera selesai, kan?" tanya Pak Romli menebak. "Iya, Pak. Rasanya masih seperti ada beban di hati, mungkin kalau sudah selesai baru rasanya plong. Oh ya, Pak. Boleh saya minta tolong mampir ke toko kue dan mainan sebentar, saya ingin membelikan kue dan mainan untuk Leon. Tapi kalau Pak Romli sibuk, biar saya pergi sendiri saja." "Baiklah, Mbak. Kebetulan saya tidak ada urusan penting lagi, biar saya antar saja. Apa sekarang Leon sudah bisa menerima kehadiran Mbak Andira?" tanya Pak Romli yang tahu jika Leon tidak menyukai kehadiran Andira. #Buat pembaca buku ini, mungkin hari Minggu buku ini akan kita hapus. Tapi tidak usah khawatir, karena akan kita terbitkan ulang dengan judul yang sama. Oleh karena persyaratan dari Aplikasi yang mengharuskan buku terbit sebelum 60 hari agar masuk rank jadi bukunya akan kita hapus dan up ulang. Terima kasih atas pengertiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD