“Bi Ai, jus markisa buat nenek yang ini, bukan?” tanya Wulan sambil menunjuk pada teko yang terbuat dari kaca dan berisikan cairan berwarna oranye di dalamnya. Wanita paruh baya yang sedang menggoreng ikan itu pun menoleh mendengar ada suara Wulan di dapur. “Kenapa, Neng?” timpalnya sambil menoleh setelah menutup penggorengan menggunakan panci dan mengecilkan apinya. “Jus markisa buat nenek yang ini, bukan?” tanya Wulan sekali lagi sambil ia memindahkan isi teko kaca itu pada gelas. Meski Bi Ai belum memberi jawaban, tapi Wulan sendiri sudah tahu jika ini adalah jus markisa, karena aroma jus ini yang begitu wangi akibat dari buah markisa asli yang digunakan untuk pembuatannya. “Oh, bener, Neng. Iya ... yang itu. Kalau neng mau boleh ngambil, kok. Itu agak masam, bibi nggak ngasih gul

