“Tenang saja. Suratnya sudah aku bakar.”
Caden tidak memperlihatkan tanda-tanda menyesal ataupun khawatir bila tindakannya akan memengaruhi hubungan antara Albastar dan Irshin. Tokoh kesayanganku kelewat santai.
“Bukankah aku lebih baik dari mereka, Moira?”
Sepertinya bukan hanya menyingkirkan Adrin dari daftar permasalahan hidup, melainkan pertimbangan mengenai cara menjinakkan Caden juga perlu diperhitungkan.
“Atau kau lebih menyukai Ayveen daripada Gundry, Moira?”
Jangan bercanda! Baik Adrin maupun Allen, keduanya tidak termasuk dalam “pria ganteng” impianku. Adrin hanya ingin memanfaatkan diriku sementara Allen masih dipertanyakan keamanannya. Bisa saja Allen hanya tertarik memperluas pengaruh Irshin di Albastar. Jadi aku simpulkan kedua pria ini tidak ada bedanya!
Tapi....
“Kakak, apa kau tidak tertarik dengan Putri Ayveen?”
Oh saat menanyakan hal, yang mungkin jelas jawabannya, hatiku sakit. Tidak sanggup. Tolong katakan kau tidak tertarik kepada Ciara. Cayden, sebagai fan nomor satu, aku berharap dirimu tertarik kepada gadis normal-setia-tidak-berbahaya.
Ujung bibir Caden terangkat, membentuk seulas senyum. “Kenapa?”
Karena aku takut kau akan menghancurkan masa depanmu. “Putri Ayveen ... emmm maksudku, dia sangat cantik.”
“Lantas?”
Jangan lantas, lantas, lantas! “Cantik,” jelasku sembari membuat lingkaran khayalan di udara menggunakan telunjuk. “Semua pria pasti suka tipe seperti Putri Ayveen. Cantik, manis, pintar, bijaksana ... semua kriteria ratu ada pada dirinya.”
“Moira, apa kau ingin aku melamar Putri Ayveen?”
Aku diam. Tidak membalas.
“Atau kau ingin aku menerima lamaran Pangeran Ayveen?”
Hei! Jangan jual aku kepada lelaki yang tidak jelas asal dan usulnya! “Bukan begitu,” kataku mencoba menghilangkan kesalahpahaman. Entah mengapa rasanya aku melihat api membara dalam diri Caden. “Aku hanya penasaran.”
“Penasaran?”
Kenapa Caden amat irit kata saat bertanya? Tidak bisakah dia menggunakan rumus SPO?
“Penasaran,” kataku membeo.
“Aku tidak tertarik kepada Putri Ayveen,” Caden menjelaskan. “Kalau itu yang kaucemaskan, Moira. Jawabanku ialah, tidak. Aku tidak ingin meletakkan Putri Ayveen di singgasana ratu maupun permaisuri.”
Menarik. Caden tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Ciara. Itu artinya tokoh favoritku, Caden tersayang, tidak akan mengalami akhir menyedihkan.
Wow, aku bisa meninggalkan Caden tanpa khawatir seseorang akan menusuknya dari belakang.
“Lagi pula, ada orang lain yang aku sukai.”
Oke, Caden. Jangan malu-malu. Beritahukan seluruh detail cintamu kepadaku agar aku bisa menyelidiki bibit, bebet, dan bobotnya. “Siapa?”
Sesaat dia terdiam. Hanya memandangku.
“Siapa?” Hoho, mana mungkin aku menyerah? Ayo beritahu aku. “Siapa dia, Kakak?”
“Seseorang yang tidak bisa kumiliki.”
***
Setelah pengakuan Caden mengenai cinta sepihak, aku memutuskan akan berusaha menghibur tokoh kesayanganku. Salah satunya menggunakan makanan.
Dibantu Heidi, kami membuat biskuit. Cokelat, madu, dan kurma. Aku ingin Caden tetap sehat! Dia tidak boleh sakit. Apalagi sakit hati. Biar Adrin sajalah yang sakit jiwa dan pikirannya, jangan Caden.
Maka siang itu aku bermaksud mengirim toples berisi biskuit ke Istana Matahari. Bisa saja meminta bantuan pelayan, tetapi hadiah yang diberikan secara langsung akan berdampak positif untuk suasana hati Caden.
Saat berdiri di depan ruang kerja, penjaga menginstruksikan kepadaku agar menunggu sebab ternyata Caden tengah menerima tamu.
“Baginda, aku sudah melakukan segalanya!”
Sontak aku dan semua orang yang berada di luar ruangan pun tertegun. Nada suara yang terdengar sarat kemarahan. Pemilik suara ini. Tidak salah lagi.
Eric Hoshana.
“Paman, kendalikan amarahmu.”
“Anda bermaksud memisahkanku dari putriku!”
Putri? Eric Hoshana memiliki seorang putri?
“Aku tidak bermaksud memisahkan kalian,” Caden mencoba menangkan. “Kau tahu itu, Paman.”
“Sekarang Anda memanggilku sebagai ‘Paman’,” Eric mendengus, sinis. “Ada apa ini? Tiba-tiba saja Anda bersikap manis.”
“Aku selalu berusaha menghargai sumbangsihmu.”
“Anda seharusnya mengerti alasan sokongan yang selama ini diberikan kepada Anda demi putriku.”
Rasa gatal menggelitik keingintahuanku.
Selama ini aku tidak mengetahui hubungan Eric dan Caden selain keduanya berbagi marga “Hoshana”.
“Aku berjanji kepada ibunya,” Eric melanjutkan, kali ini nada suaranya terdengar memilukan. Tidak ada amarah, hanya kekecewaan. “Aku akan mengeluarkannya dari istana. Seharusnya dia bersamaku, ayahnya, bukan Anda.”
Bersama Eric? Siapa gadis yang keduanya tengah perbincangkan? Aku melirik Heidi yang memilih menunduk, kemudian tatapanku jatuh kepada penjaga yang ternyata tiba-tiba tertarik berpura-pura menjadi patung penunggu.
Halooooo! Apa kalian tidak tertarik mengorek rahasia istana? Sebab aku penasaran setengah mati. Ini semacam spoiler yang tidak keberatan aku baca sebelum cerita berakhir.
“Paman, menurutmu apa yang akan terjadi bila dia tahu bahwa dirinya merupakan anak hasil perselingkuhan?”
“Baginda!”
Seolah tidak terganggu dengan bentakan Eric, Caden melanjutkan: “Karena selama ini dia menganggap lelaki yang kubunuh sebagai ayahnya, bukan kau.”
Hei, Caden. Slow down.
“Lebih baik dia tahu kebenarannya daripada hidup seperti ibunya,” Eric membalas. “Hidup dalam sangkar emas.”
“Aku memenuhi segala keinginannya.”
“Sampai kapan kau bermaksud mengekangnya dalam cengkeramanmu. Baginda, sebagai seorang ayah, aku memohon belas kasih darimu. Mengertilah keinginan terakhir mendiang istriku.”
“Dia bukan istrimu,” Caden mengoreksi, suaranya sedingin es hingga membuatku menggigil. “Putrimu akan aman bersamaku.”
Pada akhirnya aku tidak berani mendengar percakapan di antara mereka. Toples berisi biskuit aku titipkan kepada penjaga.
Satu lagi informasi: Caden menawan putri Eric.
Semoga Eric bisa bertemu putrinya, itulah harapanku.
***
“Baginda, kembalikan putriku kepadaku.”
Caden tidak berminat mengabulkan permintaan Eric. Sejauh ini dia berhasil menempatkan Eric sebagai salah satu penyokong kekuatan setelah Tinuven, ayah kandung Caden, tumbang. Telah ia tumpas saudara lelaki maupun perempuan yang kemungkinan besar akan mengganggu kepemimpinannya. Dia tidak ingin mengambil risiko dengan membiarkan saudara sedarah yang mungkin dimabuk kekuasaan. Semua orang tahu bahwa watak manusi bisa berubah. Loyalitas, cinta, persahabatan, bahkan hubungan darah hanyalah kontrak tanpa jaminan.
“Dia aman bersamaku.” Caden menyesap teh, tampak tidak terganggu dengan kegusaran Eric yang duduk di seberangnya. “Aku akan menyayanginya sebaik Nyonya Hilda.”
“Jangan sebut nama istriku dengan bibir beracunmu,” desis Eric.
“Dia istri ayahku,” Caden mengoreksi, matanya menangkap kedua tangan Eric yang tengah mengepal. “Semua orang tahu bahwa Nyonya Hilda milik Tinuven, bukan Eric.”
Eric tidak membalas.
“Aku turut berduka atas kepergiannya.” Caden meletakkan cangkir di meja. Benaknya mengingat sesuatu di masa lalu. Cara mati yang paling menyedihkan ialah, mengakhiri nyawa dengan tangan sendiri. Caden masih ingat betapa kacau suasana kala itu. Bahkan bagi manusia sejenis Tinuven, kepergian Hilda menyisakan trauma. “Mungkin dia memang tidak ingin terhubung dengan siapa pun. Suami yang tidak pernah ia cintai, kekasih yang tidak bisa membawanya pergi dari sangkar emas, dan seorang putri yang tidak cukup kuat membuat ia bertahan hidup.”
“Oleh karena itu, biarkan putriku kembali kepadaku.”
“Hanya itu yang kauinginkan?”
“Aku tidak ingin dia mengikuti jejak ibunya!”
Caden menampilkan seulas senyum. Namun, senyum itu tidak terpancar di kedua matanya. “Moira bukan Hilda, Paman.”
Ucapan Caden membuat Eric tersentak. Bahu lelaki itu bergetar seolah ada sesuatu yang berguncang dalam dirinya. “Kenapa kau melakukan ini?”
Salah satu alis Caden terangkat. Dengan anggun ia menyilangkan kaki dan berkata, “Di Albastar pasukanmu merupakan salah satu yang terkuat.”
“Aku tidak akan mengkhianatimu,” Eric menggeram. “Bila itu yang kaucemaskan. Bukankah aku pernah berjanji kau dapatkan singgasana sementara aku memperoleh putriku?”
“Ya....” Caden menggosok dagu. Sesekali ia menatap jendela yang menampilkan sepasang burung yang tengah bercengkerama. “Aku membutuhkan Moira.”
Sesungguhnya Caden bermaksud menikahkan Moira kepada siapa pun yang gadis itu dambakan, termasuk Gundry. Namun, pada suatu hari Moira berubah pikiran. Dia menolak dinikahkan dengan Gundry. Bukan hanya itu, kepribadian Moira pun berubah. Sedikit demi sedikit Caden merasa kehadiran Moira amatlah penting.
Dia tidak sanggup melepaskan Moira.
Kepada lelaki yang mungkin Moira cintai.
Kepada ayah kandung Moira.
Kepada siapa pun.
Sesuatu dalam diri Caden tidak ingin berpisah dengan Moira. “Mungkin aku seperti ayahku.”
Kedua mata Eric membelalak. “Apa maksudmu?”
“Sama seperti Ayah yang tidak ingin dipisahkan dari Nyonya Hilda, aku pun tidak sanggup berjauhan dari Moira.”
“Kau berjanji!”
“Paman, coba pertimbangkan baik-baik,” Caden berusaha membujuk Eric. “Bersamamu ia akan belajar mengetahui masa lalu ibunya. Dia akan menyalahkan dirimu karena menelantarkannya. Bukan begitu? ‘Kenapa ayah kandungku tidak bersamaku?’ ‘Kenapa ibuku berselingkuh?’ Lalu, hal baik apa yang bisa kauperoleh dari semua ini selain fakta bahwa Nyonya Hilda berselingkuh dan membiarkan putrinya telantar.”
Eric memejamkan mata. Kepala tertunduk dan bahu yang seolah memikul beban tidak kasatmata. “Aku sungguh-sungguh tidak ingin melepaskannya kepada kakakku.”
“Akan tetapi,” Caden menambahkan. “Ayahku selalu akan berusaha merebut Hilda dengan cara apa pun.”
“Karena ibumu,” Eric menghela napas, mulai menuturkan; “Karena Kakak membunuh ibumu. Itulah mengapa kau marah dan ingin menghabisi semua yang ia sukai.” Kali ini tatapannya terpaku kepada Caden. “Lepaskan Moira. Baginda, kau telah membalaskan dendam. Moira hanyalah salah satu korban kejahatan kakakku. Dia sama sekali tidak tahu-menahu perihal perebutan takhta. Biarkan dia hidup sebagaimana mendian Hilda inginkan.”
Bila Moira pergi, maka Caden pun akan sekarat.
Seolah ada bagian terpenting dalam diri Caden hilang bersama kepergian Moira. Dia tidak sanggup melepaskan tangan yang selama ini memberinya rasa nyaman. Seperti oase. Dahaga dalam diri Caden hanya bisa lenyap bila bersama Moira.
“Izinkan dia bersamaku,” Caden memohon. Tidak ada ketamakan. Tidak ada dengki. Hanya kebutuhan. Moira membuat Caden merasa utuh sebagai manusia. Dia bisa merasakan sesuatu dalam dirinya amat bergantung pada kehadiran Moira. “Biarkan Moira di sisiku.”
“Baginda!”
“Ya,” Caden mengamini. “Aku amat tamak.”
“Semua orang tahu istana merupakan sarang ular! Hari ini kau berhasil melenyapkan Tinuven, tetapi akankah itu menjamin keselamatan Moira dari pihak lain yang mengincar kedudukanmu? Baginda, aku mohon mengertilah. Jangan biarkan kegilaan menjangkiti Moira sebagaimana Hilda ditelan kegilaan. Dia berhak memilih kehidupan lain. Bukankah Gundry dan Pangeran Ayveen memperlihatkan minat terhadap putriku? Maka dari itu, tolong dengarkanlah permintaan dari seorang ayah. Mereka berdua sama buruknya dengan Tinuven. Binatang buas yang tidak akan mundur walau diancam bara api sekalipun.”
“Aku bisa menjaganya.”
“Baginda, justru kau merupakan binatang terkutuk. Hidup dalam kekangan moral, bertindak atas dorongan hukum, dan tidak memiliki hak atas pilihan selain kesejahteraan kerajaan. Bagaimana bisa Baginda membahagiakan Moira apabila Anda pun belum tentu bahagia?”
Eric bangkit, sadar bahwa perundingan berjalan alot. “Putriku tidak bisa selamanya bersamamu.”
Setelahnya ia meninggalkan Caden seorang diri.
Caden menekan keningnya menggunakan jari. Rasa-rasanya ia akan meledak.
“Baginda,” panggil salah seorang penjaga.
Caden tidak menjawab, tatapannya tertuju pada titik semu di langit-langit.
“Putri meminta saya menyerahkan kudapan.”
Saat itulah Caden melihat toples dalam dekapan si penjaga.
Sekali lagi, senyum mengembang di wajah Caden. “Letakkan di meja,” katanya.
***
Seminggu Caden melewatkan santap malam bersamaku. Padahal aku amat menanti kesempatan bersamanya. Tanpa kehadiran Caden, baterai semangat hidup milikku kehilangan daya. Pasti ada tumpukan tugas yang menanti perhatian Caden hingga kami berdua harus terpisah.
Seharusnya malam ini aku segera tidur, tetapi kantuk tidak kunjung datang. Alhasil aku hanya berbaring sembari menatap langit-langit. Terbersit ide mengunjungi Caden dengan alasan ingin memberinya secangkir teh s**u. Pasti tidak ada yang akan melarang kehadiranku di ruang kerja Caden.
Saat aku memutuskan hendak beranjak dari ranjang, tiba-tiba terdengar suara daun jendela terbuka. Dari sana masuklah sosok yang tidak pernah, tidak akan, tidak mau, dan tidak ingin aku temui.
Adrin.
Perlahan aku bangkit dan mengahampiri Adrin. “Apa kau ini jailangkung?”
“Jai-apa?”
Dia mengenakan busana serbahitam. Saat menarik penutup mulut, ia menampilkan seraut senyum beracun. “Seharusnya kau memanggil penjaga.”
“Pergi,” kataku sembari menunjuk pemandangan di luar jendela.
Alih-alih mengamini perintahku, Adrin justru mengabaikanku dan duduk di ranjang.
“Kita perlu bicara,” katanya, masih dengan senyum terpampang di wajahnya.
“Kita akan bicara,” kataku sembari bersidekap, menolak duduk di dekatnya. “Pertama, segera tanda tangani surat pembatalan pertunangan. Kedua, minta maaf kepada pelayanku. Ketiga, jangan berani menginjakkan kaki ke kamarku!”
Lebih baik aku minta bantuan Caden agar memindahkan kamarku. Penjagaan di tempatku payahnya bukan main hingga pria bisa masuk tanpa diundang.
Salah satu alis Adrin terangkat dan kini senyum di wajahnya kian cemerlang seolah telah menemukan sesuatu yang bagus untuk diperdebatkan. “Padahal dulu kaulah yang mengemis perhatianku, Moira.”
“Putri Moira,” koreksiku. “Apa kau tidak bisa bersikap jentelmen? Apa susahnya menandatangani surat tersebut?” Tanpa sadar kedua kakiku mengentak seiring luapan emosi. “Aku hanya ingin menikmati hidup dalam sistem monarki ini!” raungku sembari memijat kepala. “Kau benar-benar tidak mau membiarkanku hidup damai!”
“Coba pikirkan keuntungan bertunangan denganku.”
Baiklah akan aku pertimbangkan keuntungan bertunangan dengan Adrin.
Yup! Benar sekali! Tidak ada!
“Setidaknya kau bisa menikah dengan pria paling tampan.”
“Kakak lebih tampan daripada dirimu,” kataku menolak pengakuan Adrin. “Sekarang pergi dan jangan kembali. Hush. Hush. Hush.”
Secepat kilat Adrin mendekat, aku tidak sempat mengelak ketika dia berhasil menangkap lenganku dan mencengkeramnya. “Coba, Moira. Apa kau mengenal dirimu?”
Jangan remehkan pembaca novel! Jelas aku mengenal Moira sebaik mengenal ketampanan Caden! “Pergi,” desisku.
“Kau begitu memuja Caden seolah dia jelmaan dewa,” katanya, sarkas. “Namun, apakah kau benar-benar mengenal Caden sebaik diriku?”
“Setidaknya dia tidak membiarkanku merasa tidak berharga,” balasku. “Kaulah yang pertama menolak perasaanku, bukan Kakak. Sir Gundry, sudah saatnya kau melupakan delusimu. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadapmu.”
Cengkeraman tangan Adrin terasa menusuk hingga aku meringis menahan sakit.
“Dia membunuh Baginda Tinuven beserta seluruh keturunannya, kecuali dirimu.” Suara Adrin terdengar mengerikan. Seperti kobra yang mencoba membelit mangsa sebelum menghunjamkan taring beracun. “Pada awalnya aku menduga karena dia ingin memaanfaatkan dirimu sebagai barang dagangan.” Telunjuk Adrin menelusuri lenganku naik ke leher kemudian berhenti di titik yang berdenyut. “Namun, begitu aku mendengar dia juga menolak pinangan Pangeran Ayveen kecurigaan dalam diriku pun menjadi-jadi.”
Aku berusaha menghindari sentuhan Adrin, tetapi dia justru mempererat cengkeramannya. “Itu karena Kakak tidak ingin menikahkanku dengan lelaki yang tidak kucintai.”
“Cinta?” Sejenak telunjuk Adrin kembali menelusuri tulang selangkaku. “Apa pendapat Putri Moira mengenai cinta.”
“Yang jelas bukan dirimu.”
Adrin terkekeh. “Kenapa?”
“Karena kau membuatku muak!” Sekuat tenaga aku mengerahkan kekuatan agar bisa menginjak kaki Adrin. “Kenapa kau tidak kesakitan?”
“Sepatu bot,” jawabnya. “Kau menginjakku menggunakan selop.”
“Aku boleh menamparmu?”
“Dirimu seringan bulu,” katanya menggodaku. “Mana mungkin aku keberatan.”
Cih aku tidak senang dengan perubahan ini!
“Apa kau tidak ingin mengundangku ke ranjang?”
GILA! “Tidak.”
“Padahal aku tidak keberatan.”
Aku keberatan! Aku SANGAT keberatan! “Kau datang kemari hanya demi merayuku?”
Adrin membelai rambutku, sama sekali tidak peduli dengan kakiku yang masih menginjak sepatunya. “Salah satunya,” dendangnya, senang. “Tapi, bukan karena itu aku datang kemari.”
“Lantas?”
“Bujuk kakakmu agar membantu petani di daerah selatan.”
Aku menelengkan kepala, mencoba mengamati ekspresi yang terlukis di wajah Adrin.
“Mereka tengah dilanda paceklik,” Adrin menjelaskan. “Tuan tanah meminta pajak tinggi sementara hasil panen tidak memadai. Sayangnya tidak ada satu orang pun di lingkaran pemerintahan Caden yang bersedia mengutarakan musibah ini.”
“Kau ingin aku menolong mereka?”
Senyum yang mengembang di bibir Adrin amat tulus hingga aku mengurungkan niat menampar wajahnya. “Mereka dan buruh lainnya.”
Setelah menghela napas, aku pun berkata, “Baiklah. Akan aku usahakan.”
“Bagus.”
“Jangan lupa segera tanda tangani surat pembatalan pertunangan.”
“Untuk yang satu itu,” kata Adrin sembari mengecup pipiku. “Aku tidak mau.”
Sialan!