11

2183 Words
Aku tidak mengerti. “Wah, kenapa kita tidak menikah saja?” Sekali lagi. Aku tidak mengerti. “Gila.” Kata itu lolos dari mulut tanpa bisa tertahan. Tidak masalah bila Moira menikahi Adrin, tetapi lain cerita bila aku masih terjebak dalam raga Moira. “Imajinasimu sungguh tidak terbatas.” Tidak ada reaksi yang menunjukkan tanda-tanda terhina dalam raut wajah Adrin. Dia hanya menampilkan seulas senyum cemerlang seakan responsku amat normal dan masih bisa diterima olehnya sebagai pertanda bagus. “Bagaimana mungkin aku bisa berhenti membayangkan dirimu sebagai mempelaiku?” Kepada para pembaca yang mendewakan Adrin, mohon maaf ternyata pujaan kalian tidak tahu diri. Seorang jentelmen pasti langsung mundur begitu sadar dirinya tidak diinginkan. Namun, Adrin sepertinya tidak memiliki urat malu. Jangankan urat malu, sadar diri pun sepertinya tidak meresap dalam zat dirinya. Seperti seekor merak; congkak, tukang pamer, dan menganggap dirinya sebagai pejantan paling cantik. Bagaimanapun juga Caden jauh, jauh, jauh, jauuuuh lebih indah daripada Adrin. Bahkan seumpama Caden memakai gaun dan merias dirinya sebagai wanita pun aku yakin takkan ada satu orang pun yang sadar. Oh kepalaku sakit. Aku butuh aspirin. Aspirin! “Pernahkah kau ditampar seorang wanita?” “Belum,” Adrin menjawab, telunjuknya menyapu dagu. “Mungkin aku akan mempersilakan dirimu mendaratkan satu tamparan,” katanya sembari menunjuk bibir, “di sini.” Sungguh konyol. Aku mengasihani Moira atas cinta sepihak. Dia menginginkan Adrin. Cinta mati. Jenis kegilaan yang membuat Moira rela mati di tangan Adrin. Batas antara kasmaran dan bodoh ternyata amat tipis. Dia seharusnya mundur saat tahu Adrin tidak nyaman berada di dekatnya. Namun, tidak! Moira memilih mengejar Adrin. Abaikan moral. Abaikan logika. Abaikan segalanya. Terobos terus setiap pagar penghalang. Tidak masalah demi cinta. MOIRA, KAU KETERLALUAN! “Terima kasih,” kataku dengan nada monoton. “Sepertinya Sir Claude tidak keberatan menggantikanku.” Aku menempelkan jari ke bibir, mengecupnya, kemudian meniupkannya ke arah Adrin. “Menciummu dengan mesra. Sangat mesra.” Claude terbatuk. Suaranya amat mengerikan. Persis seperti kucingku saat tersedak karena terlalu bersemangat menghabiskan makanan. Aku artikan Claude tidak sudi mencium Adrin. “Lihat,” kataku menunjuk Heidi, “aku yakin dia pun tidak sudi menciummu.” Adrin tergelak. Tidak ada kesan kesal maupun marah lantaran ucapanku yang sebenarnya tidak sopan. “Apa ini salah satu rencanamu?” “Ha ha.” Sekali lagi, aku mencoba tertawa. Namun, hanya nada datar yang bisa kusenandungkan. “Sayangnya, aku telanjur menandatangani surat pertunangan. Kalau tidak salah, dirimu yang pertama kali membubuhkan tanda tangan.” SIALAN! “Gampang. Kita berdua tinggal menandatangani surat pembatalan pertunangan,” kataku mencetuskan ide. “Cerai. Kalau kau tidak mengerti, ‘Kita Putus!’” “Pu-Putus? Kau menganggap pertunangan ini seperti tali yang bisa kaupotong sesuka hati?” Aku menggeleng. “Sir, aku mencintai orang lain.” Kedua alis Adrin terangkat, tidak percaya. “Lelaki yang sangat baik hati dan lembut jiwanya,” kataku menambahkan. Kali ini aku sengaja menyentuh kedua pipi sembari berlagak tengah mabuk kepayang. “Saat pertama kali melihatnya, jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba saja perutku dipenuhi kupu-kupu kebahagian dan rasanya aku bisa meledak kapan pun lantaran terlalu senang. Pokoknya dia luar biasa menawan. Sir, kau tidak ada apa-apanya. Dia adalah matahari cemerlang. Terang benderang.” Aku yakin saat ini Claude dan Heidi terperangah dengan mulut menganga. “Kau sedang menjabarkan manusia atau makhluk gaib,” respons Adrin, tidak senang. “Sekadar informasi, berarti kau berselingkuh.” “Aku tidak peduli.” “Seharusnya kau peduli.” “Nay,” kataku menolak. “Kalau kau merasa dikhianati, lebih baik tanda tangani surat pembatalan pertunangan. Beres.” “Siapa dia?” Tunggu sebentar. Tiba-tiba intonasi suara yang Adrin gunakan terdengar mengancam—mirip binatang buas; berbahaya, mengintimidasi, dan siap menerkam siapa pun. Aku melihat langsung ke kedua mata Adrin yang merah seperti dibakar amarah. “Siapa dia?” Susah payah aku mencoba menelan ludah. “Si-apa maksudmu?” “Siapa lelaki tengik yang berani mendekatimu?” Adrin. Wuhuuuuu! Kau salah sangka. Aku sengaja bersikap genit mengenai lelaki rupawan, alias Caden, agar kau mundur! MUNDUR! Bukan terbakar emosi! Ternyata tukang parkir pun lebih andal dalam menginstruksikan sopir agar bergerak tepat ... sementara aku malah membimbing Adrin ke jalan lain. Nama jalannya adalah Jalan Sesat. Bukan ini yang aku inginkan! “Aku ingin mematahkan tangan dan kakinya,” Adrin melanjutkan, amarah meletup-letup seperti api yang membakar petasan. “Bagaimana kalau dia dilempar ke kandang singa? Sepertinya aku bisa memberi makan peliharaanku.” Bahkan saat mengucapkan serentetan ide gore, ekspresi Adrin menampilkan ketenangan mengagumkan. Adapun yang membuatku merinding ialah sorot matanya; sarat teror, bergelora oleh emosi, dan ... GILA! Di novel Adrin melempar Moira ke kawanan anjing kelaparan. Kini dia berencana melempar lelaki idamanku ke kandang singa. Tidak akan aku biarkan! Caden harus aku lindungi dengan segenap jiwa dan raga! Caden nomor satu! Selain dia, sayonara bye, bye. “Kalau kauberani menyentuh seujung jarinya,” kataku memperingatkan. “Maka aku bersumpah demi seluruh zat dalam tubuhku, aku akan datang langsung kepadamu dan membuatmu menyesal telah dilahirkan ke dunia!” Seolah merespons amarah milikku, Claude bergerak secepat kilat. Kini ia mengarahkan belati tepat di leher Adrin, ujungnya menekan kulit hingga meneteskan segaris darah segar. “Aku tidak akan mengampunimu!” Kini aku bangkit, menjulang, seperti sang pembalas dendam yang siap menelan si pendosa. “Kau yang pertama menolak kehadiranku, Count Gundry.” Kali ini aku tidak memanggilnya dengan “Sir” sebab tidak ingin menunjukkan kenyamanan apa pun. “Kau menganggap diriku tidak penting. Pertunangan yang dulu aku tawarkan kepadamu kauanggap sebagai kekang. Lantas, sekarang setelah aku memilih memutus ikatan yang tidak kauinginkan, kau menolak. Apa maumu?” Adrin tetap tenang. Dia duduk tanpa peduli kehadiran Claude yang kapan pun siap menhunjamkan belati ke dalam tenggorokkan. “Tuan Putri-ku, kaupikir aku akan surut oleh ancamanmu?” Suara pekikan terdengar. Saat aku menoleh, seseorang—pelayan pria—telah menyergap Heidi. Kini Heidi tersungkur sembari menangis lantaran bilah pedang melintang di atas lehernya. “Aku tidak peduli dengan para Hoshana,” Adrin melagu seakan menang. “Kecuali dirimu, tentu saja. Untuk saat ini aku merasa kau seperti orang yang berbeda.” Kedua tanganku terkepal, menahan seluruh gelombang amarah yang menerpa. “Aku berubah karena mengejarmu bukan lagi prioritas.” “Tenang saja, karpet damas ini amat mahal. Aku tidak berencana menumpahkan darah pelayanmu yang manis itu.” “Oh ya, perintahkan dia agar menjauhi pelayanku!” “Anjingmu yang pertama menggigitku.” Seulas senyum beracun terkembang di bibirnya. “Wah apa yang harus aku lakukan terhadapmu?” Claude menggeram. Aku yakin dia tengah mati-matian berusaha tidak memotong Adrin. “Aku bisa mengirim obat urut.” “Aku terkena luka gores,” Adrin mengoreksi, “bukan terkilir.” “Obat itu untuk meluruskan otakmu!” Seperti banteng aku menerjang maju, menyingkirkan tangan Claude dan langsung mencengkeram kerah Adrin. “Apa pun yang terjadi, aku pastikan akan membatalkan pertunangn konyol ini!” Segera aku mundur dan mengintruksikan Claude agar mengikutiku. Pelayan yang menyerang Heidi telah undur diri, menjauh. “Tidak apa-apa,” kataku menenangkan. “Kita pulamg.” Heidi terisak-isak di dalam pelukanku. Kami bangkit, dan sebelum berpaling, aku menyempatkan diri mengangkat tangan kiri; memperlihatkan jari tengah yang sengaja aku arahkan kepada Adrin. “Persetan denganmu!” Ya, persetan! *** Salah langkah. Aku kira pertunangan antara Adrin dan Moira belum terjadi, dengan kata lain sekadar wacana. Terjemahan: “Hore! Bendera kematian masih bisa dihindari.” Namun, ternyata Moira terlalu bersemangat, ternyata Moira “dengan dungunya” menandatangani surat pertunangan, dan ternyata.... Ternyata Adrin berencana memanfaatkan pertunangan. Betapa melelahkannya kehidupan ini. Sebagai roh gentayangan, yang seharusnya pensiun dari masalah duniawi, justru terjerat benang beban hidup orang lain. Oke, terima kasih. “Kenapa tidak ada yang berjalan sesuai keinginanku?” Tenggelam dalam dilema. Emosi dalam diriku tidak bisa dikendalikan. Andai air mata bisa menyelesaikan perkara, maka sekarang akan dengan senang hati aku menumpahkan seluruh dukacita. Mati sekali karena penyakit saja tidak menyenangkan apalagi mati dimakan anjing. Tidak terbayang rasa sakit ketika anjing mengerumiti setiap potong bagian tubuh sementara kesadaran belum hengkang dari tubuh. “Berlebihan!” Tentu saja berlebihan. Aku bisa mengerti rasa sakit hati yang dimiliki Adrin terhadap Moira. Namun, membalas dendam dengan cara demikian—mengumpankan manusia “hidup-hidup”—kepada anjing juga tidak dibenarkan. Moralitas karakter novel ini benar-benar patut dipertanyakan. Membunuh karena tidak suka, mengumpankan manusia ke kandang binatang buas, memanipulasi perasaan seseorang. Ya ampun, level kegilaan yang pengarang buat benar-benar mencengangkan. Dulu aku membaca cerita Moira karena menurutku menarik. Sebagai pembaca aku merasa bersimpati terhadap kemalangan setiap karakter, terutama Caden. Bahkan di saat mengira kehilangan kemampuan berempati jantungku seolah diremas ketika membaca akhir riwayat Caden. Meskipun tidak bisa mencintai diriku sendiri, tetapi setidaknya aku mampu menyayangi Caden sebesar kebencian terhadap hidupku sendiri. Terima kasih, Adrin. Berkat sumbangsih darinya, Heidi mengalami trauma dan sepertinya tidak bisa melayaniku sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Suasana hatiku memburuk, kontras dengan nuansa keindahan taman. Setidaknya aku tidak perlu memikirkan pakaian dan tata rias. Pelayan membantuku berhias. Gaun ungu berhias mutiara dan rubi. Rambutku dikepang menyamping dan hanya ada pita sutra sebagai penghias. Sepanjang perjalanan menuju Istana Matahari, tempat Caden bekerja, pikiranku dipenuhi percobaan pembunuhan. Satu, menyewa jasa pembunuh bayaran. Dua, membayar penyihir agar mengutuk Adrin. Tiga, menulis nama Adrin di pohon terkutuk. Lebih baik opsi keempat: Meminta bantuan Caden! Sesuai dengan namanya, Istana Matahari, merupakan tempat yang membakar seluruh semangat juangku. Beberapa kali aku bersua pekerja istana—kemungkinan bagian pajak, keuangan, rumah tangga—sebab air muka mereka amat asam. Pelayan yang mengekor di belakangku pun menunggu di luar ruang kerja sementara aku masuk. “Kakak!” Seperti dugaanku Caden tengah duduk di sofa ditemani tumpukan dokumen di meja dan secangkir teh. Kemeja perak, rompi biru, daso sutra berwarna ungu, dan celana hitam. Itulah pakaian yang dikenakan Caden. Peniti dasi berbentuk ular menjadi satu-satunya aksesoris yang ia kenakan. “Apa surat pembatalan pertunangan sudah dikirim ke kediaman Gundry?” Segera aku mengempaskan diri di samping Caden. Aroma parfum membuatku ingin menggerlung di lengan Caden. Seperti kucing ketika disuguhi catnip. Ingin menempel bagai prangko kepada amplop. Wangi yang membuat otak memikirkan kemungkinan lain mengenai d**a bidang yang bisa jemariku telusuri. Lebih baik bila kepalaku bisa menempel sebentar di d**a Caden—mencoba mendengar irama detak jantung miliknya. Caden, kenapa kau harus menjadi kakak Moira? Hiks. Saatnya menangis darah. “Sudah,” Caden menjawab. Aku mengangguk, puas. “Moira....” Caden meletakkan dokumen, memandangku. “Siapa lelaki baik hati dan lembut jiwanya?” Aku terdiam. Tidak mengerti. “Siapa lelaki itu?” “Lelaki? Baik hati?” “Lelaki yang membuatmu berpaling dari Adrin.” Haha. Lelucon terbaru ditambahkan ke dalam daftar kerumitan hidup milikku. Pasti Claude melapor seluruh kejadian ketika bertemu Adrin. Padahal waktu itu “lelaki impian” yang aku maksud ialah Caden. Namun, mana mungkin aku berkata, “Caden sayangku, sebenarnya lelaki baik hati dan lembut jiwanya itu adalah kau. Kau! Only you! Tiada yang lain.” Bisa-bisa Caden menganggapku m***m karena memiliki pikiran “tertentu” terhadap dirinya. Uhuk. Aku mengaku pernah memikirkan hal-hal tertentu mengenai Caden. Tapi, itu bukan salahku! Salahkan wajah, otot, dan pesona Caden. “Apa dia lebih baik dariku?” Tentu saja kau lebih baik daripada Adrin! Seratus persen! “Kakak?” Uwooooh! Caden tiba-tiba bereaksi seperti Adrin. Perlahan dia merapatkan jarak di antara kami. Seperti predator yang berhasil menemukan mangsa. Tatapan membara bagai api yang menyala-nyala berkobar di mata Caden. “Apa dia sebaik itu?” Caden meraih tanganku dan membimbingnya ke wajah, kini telapak tanganku menyentuh pipinya. “Katakan, Moira.” Astaga. Astaga! ASTAGA! MAMAMIA! Dalam hati aku bersorak, “EUREKA!” Tokoh kesukaanku yang gantengnya bukan main menyentuh tanganku! Sebagai fan mana mungkin diri ini tidak bahagia? Oh jantungku, sepertinya jantungku akan melompat keluar sembari berteriak, “OH NO! Aku menyerah! Kau terlalu tidak sehat bagiku!” “Emmm ... Kakak?” “Ya, Moira.” Oke, Caden. Aku tidak peduli kalaupun kau ingin menghancurkan dunia. Silakan. Lakukan. Kalau perlu taklukkan seluruh kerajaan seperti Bonaparte. Meski canggung, aku mencoba membasahi bibir. “Sepertinya ada kesalahpahaman.” Ya, kesalahpahaman! Claude seharusnya tidak menerangkan bagian konyol mengenai “pura-pura jatuh cinta” terhadap tokoh karangan. “Kesalahpahaman?” Caden menekankan wajahnya ke telapak tanganku. “Jelaskan, Moira.” Astaganaga! Kulit Caden terasa lembut! Seumur hidup tidak akan aku lupakan bahwa tangan ini telah menyentuh wajah Caden! “Tidak ada,” kataku. “Tidak ada lelaki yang aku sukai.” Kecuali Caden. “Aku hanya berpura-pura menemukan cinta yang baru agar Marquis Gundry bersedia membatalkan pertunangan.” Tidak ada satu kata pun terlontar dari bibir Caden. Dia hanya diam, memandangku. “Lagi pula,” kataku menambahkan, “mana mungkin aku sanggup menyukai lelaki lain? Mereka tidak sehebat dirimu. Kakak ada di atas hierarki pria tertampan se-Albastar.” Cengkeraman tangan Caden mulai mengendur. Perlahan aku menarik tangan, dengan sangat terpaksa, agar memutus koneksi antara kami. “Berarti keputusanku memang benar,” katanya setelah menghela napas. “Keputusan?” Caden mengangguk. “Menolak lamaran Ayveen.” Ayveen. Maksudnya Ciara? “Kakak menolak lamaran Putri Ayveen.” “Bukan,” katanya mengoreksi. “Lamaran itu ditujukan untukmu oleh Pangeran Allen.” Oke.... “Tenang saja. Suratnya sudah aku bakar.” Aku hanya bisa terdiam. Tidak mengerti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD