10

1552 Words
Mengunjungi Adrin termasuk tindakan di luar nalar. Moira amat memuja harga diri, status, serta identitasnya sebagai salah satu darah biru. Kalaupun ingin menjumpai Adrin, dia pasti mengirim undangan agar lelaki itu hadir di istana. Tentu saja Adrin tidak lantas mengamini perintah Moira. Acap kali dia beralasan menghadiri acara penting dan tidak pantas menolak undangan pertama yang diajukan kepadanya. Tanpa perlu mengonfirmasi kabar burung pun semua orang pasti paham bahwa bangsawan Gundry tersebut tidak menaruh minat terhadap Putri Hoshana. Lagi pula, sebenarnya menolak undangan keluarga kerajaan termasuk dalam tindakan tidak sopan. Siapa pun tidak berani mempertaruhkan peruntungan bila berkaitan dengan Hoshana. Namun, yang kita bicarakan ini “Adrin”. Lelaki yang mungkin tidak mengenal batasan antara berani dan gila. Selalu seperti itu. Menurutku hal yang paling mengerikan di dunia ini adalah cinta, perasaan, nalar, dan logika. Apabila seseorang tidak bisa mengendalikan ego, maka kesadaran dalam berpikir pun akan terganggu. Seperti yang dialami Moira. Tidak hanya Moira. Kebanyakan manusia yang aku kenal di dunia asalku pun bertindak serupa. Saat putus cinta ataupun menjadi korban cinta bertepuk sebelah tangan, kebanyakan dari mereka terlihat hancur. Sehancur-hancurnya. Lucu, bukan? Saat jatuh cinta seharusnya orang pun bersiap dengan kemungkinan terburuk; perpisahan, pengkhianatan, dan rasa tidak berbalas. Namun, kebanyakan terbuai dengan janji manis, angan-angan semu, dan ekspektasi sehingga saat “jatuh” mereka akan merasa remuk redam. Jatuh cinta ternyata bisa semengerikan itu. Bukan berarti semua cinta tidak menjanjikan kebahagian, melainkan jarang pasangan yang sampai tua merasa menjadi bagian dari satu sama lain. Kebanyakan kenalanku menikah atas dasar “memang seharusnya begitu”. Bukan karena cinta. Bukan karena takdir hati. Bukan karena saling membutuhkan. Seorang wanita dianggap bahagia bila menikah dengan lelaki mapan. Mapan menurut standar masyarakat golongan menengah ke bawah tidak lain ialah; pegawai pemerintah, punya mobil, memiliki sawah dan ladang, serta bisa dipamerkan sebagai menantu idaman ketika kondangan. Tidak berhenti di tahap “pernikahan”. Seorang wanita yang telah berkeluarga akan dituntut oleh masyarakat agar lekas mengandung. Kalaupun seorang wanita berhasil menikahi lelaki yang telah memenuhi nilai-nilai keberhasilan menurut versi bahagia-ibu-ibu-penggosip, maka belumlah sah bila belum menghasilkan keturunan. Dengan kata lain, cacat. Lantas ketika seorang wanita telah memiliki anak pun masih dikejar persyaratan lain; pandai memasak, pintar berbersih, rajin ikut kegiatan arisan serta kondangan, harus kelihatan cantik, dan bau badannya harus wangi. Sungguh melelahkan bila terlahir sebagai wanita dalam lingkungan yang demikian. Tidak ada yang namanya identitas pribadi. Seorang wanita yang memilih jalan berbeda dari mayoritas akan didera hukuman sosial menurut masyarakat tersebut—maksudku kelompok ibu-ibu pemuja gosip. Padahal bahagia itu tidaklah sama. Kebahagiaan bagi satu sama lain akan berbeda. “Bahagia versiku, belum tentu adalah bahagiamu. Bahagia versimu, belum tentu bahagia bagiku.” Sejelas itu. Terang, benderang, dan mentereng. Namun, dasar namanya manusia yang telah terkontaminasi kejahatan iblis penggibah; kalau tidak sama maka salah. Hidup ini bukan Matematika yang satu tambah satu sama dengan dua. Apabila ada wanita yang merasa bahagia hidup tanpa pasangan, seharusnya tidak perlu dipermasalahkan asal dia—wanita itu—tidak melanggar hukum adat dan agama. Tidak perlu mengomentari ketidakmampuan seorang wanita yang tidak bisa mengandung. Jangan juga memperbincangkan aib istri yang tidak bisa memasak. Sesama wanita seharusnya saling menolong dan melindungi, bukan sebaliknya. Inilah yang membuatku kesal terhadap Moira. Setidaknya Moira tidak ditodong keharusan seperti wanita di duniaku. Moira bisa hidup aman tenteram, menikmati makanan empat sehat lima sempurna, memakai pakaian bagus, dan tidak perlu memikirkan tagihan beban hidup. Moira hanya perlu jatuh cinta kepada pria yang tepat. Jatuh cinta dan berbahagia. Semudah itu. Kata penyair, “Dengarkan hati dan biarkan suaranya membimbingmu.” Seperti itu. Haha. Apa yang sedang aku bualkan? Nasihat cinta dari seorang wanita yang bahkan tidak pernah mengalami musim semi seumur hidup. Ironis. Jatuh cinta. Aku teringat lirik lagu yang kurang lebih berbunyi, “Cinta. Tidak benar-benar kita pahami.” Mungkin butuh sekolah khusus agar semua orang bisa jatuh cinta dan saling mencintai. Akan tetapi, aku tidak berencana menginjakkan kaki ke ranah tersebut. Sebagai manusia yang terbiasa mengenal penolakan, sakit hati, dan kesedihan sudah pasti lebih baik tidak berharap berlebihan. Bahkan ketika terjebak dalam tubuh Moira pun aku tidak berkeinginan memanfaatkan apa pun dari dirinya. Tidak wajah, harta, bahkan koneksi. Kecuali makanan. Sebab makanan lezat bisa membuatku senang. Lebih baik merasa senang daripada tidak sama sekali. Menikmati makanan enak sembari memperhatikan wajah Caden. Lengkap sudah. Dengan kata lain, aku ini benalu tidak tahu malu. Suatu saat mungkin Moira akan kembali, mengusirku, dan kumat mengejar Adrin si lelaki-m***m-tukang-intip. Sebagai pengagum Caden lahir dan batin, akan aku usahakan ketika Moira kembali maka Adrin akan jinak alias tidak menggigit. ~♦♦♥♦♦~ Sesungguhnya Caden tidak ingin meloloskan permintaanku. Dia yakin bertemu Adrin tidak membawa manfaat apa pun. “Seperti parasit,” katanya kepadaku. “Lelaki itu akan mengisap habis kehidupanmu.” Setuju. Adrin setara dengan parasit mematikan. Hanya saja parasit versiku dan versi Caden jelaslah berbeda. Menurut Caden, Adrin hanya ingin memanfaatkan diriku—Moira—agar mempermudah usahanya melebarkan pengaruh. Padahal aku menganggap Adrin sebagai pengaruh buruk karena sikap acuhnya; mengabaikan Moira, tidak mau mengiakan ajakan, dan tukang PHP. Pria semacam itu pantas dibuang ke neraka. Demi keamanan, Caden memerintahkan seorang penjaga bernama Claude Kova. Jantungku hampir copot saat mendengar nama itu disebut. Claude Kova bukan sembarang karakter. Dia merupakan anjing pembunuh yang dipelihara Caden. Tanpa ragu menebas manusia mana pun yang mengancam keselamatan tuannya. Tipikal pembunuh berdarah dingin. Claude Kova tidak masuk resimen kemiliteran mana pun. Dia seperti bayangan Caden, mengikuti ke mana pun tuannya pergi. Karena itulah, perjalanan menuju kediaman Gundry hanya ditemani oleh Heidi, Claude, dan kusir. Aku dan Heidi memilih menutup rapat mulut, tidak berkomentar terkait bekas luka di pelipis dan pipi Claude. Bekas luka yang warnanya sama dengan warna rambut Claude yang cokelat gelap. Berbeda dengan Heidi yang mengenakan seragam pelayan, Claude memilih memakai jubah hitam lengkap dengan sarung tangan dan sepatu bot. Dia duduk di seberangku dan hanya bersidekap sembari menatap diriku lekat-lekat. Semoga dia tidak menemukan keanehan apa pun dalam diriku! Heidi memilih menunduk. Gadis itu memainkan jemari di pangkuan seolah dengan begitu Claude akan berubah jadi boneka beruang. Oke, ide bagus. Aku akan menganggap Claude sebagai boneka. Ketidaknyamanan barulah terhenti saat kereta tidak lagi melaju. Kusir membuka pintu kereta kuda. Heidi dan Claude keluar, aku yang terakhir. Claude menawarkan tangan, berusaha membantuku keluar. Demi melindungi identitas asli bahwa aku bukan Moira-dan-tidak-takut-pada-Claude, maka aku memegang tangannya dan turun. Kediaman Gundry seperti bangunan di Eropa. Lebih tepatnya mengikuti Rococo. Megah, mewah, dan indah. Ada pagar yang kini dalam kondisi terbuka sebab pelayan kediaman Gundry menyambut kedatangan kami. Kepala Pelayan memberi hormat. Lelaki tengah baya dengan perawakan halus. Dia mengantarku menuju kediaman utama. Sepanjang jalan aku memperhatikan keindahan taman; magnolia, melati, aster, bahkan bungur. “Tuan akan segera turun.” Kepala Pelayan mempersilakanku duduk di sofa. Heidi dan Claude berdiri di belakangku. Seorang pelayan mempersembahkan secangkir teh. Mengutip pernyataan Sun Tzu, “Dia yang mengenal lawannya pasti menang. Sementara dia yang tidak mengenal lawan pasti kalah.” Pengetahuanku akan Andry hanya berdasar sekilas informasi dari novel. Sejauh ini dia tidak menyukai Moira, itulah yang aku simpulkan. Namun, begitu Adrin menerima permintaanku bertamu, maka sudah sepantasnya memilih berhati-hati. Analisis kondisi: ‒ Mungkin tehnya beracun. ‒ Kalau tehnya tidak beracun, berarti ada jampi-jampi pelet. ‒ Teh merek pelet tidak baik bagi kesehatan. ‒ Oke, tidak usah diminum. ‒ Beres. “Kenapa kau memelototi teh seolah aku memasukkan sesuatu di dalam sana?” Adrin telah hadir. Setiap langkah yang dijalankannya amat anggun. Dia duduk di seberangku. “Selamat datang, Putri Hoshana.” Padahal tadi dia menyebutku “kau”, bukan “Anda”. Jelas dia berniat mengakrabkan diri atau, yang terburuk, merendahkan. “Kau terlihat seperti forsythia,” Adrin melanjutkan, masih dengan senyum beracun. “Atau bunga matahari?” “Haha. Lucu. Aku sampai terbahak-bahak.” Berkebalikan dengan komentarku, aku tidak tertawa sama sekali. Adrin menyilangkan kaki, kemudian meletakkan tangan di lutut. “Sebenarnya kau tidak perlu ditemani bayangan Paduka.” Aku yakin saat ini Claude mempertimbangkan melempar belati ke jantung Adrin. “Kakakku tahu yang terbaik.” “Dia selalu tahu segalanya,” Adrin mengomentari. “Apakah itu yang kaumaksud?” Hanya helaan napas yang menjadi respons. Kepala benar-benar akan pecah setiap berhadapan dengan Adrin. “Aku jauh-jauh kemari bukan demi membahas kakakku, Count Gundry.” “Benarkah?” Telunjuk Adrin menyapu rahangnya. Benar-benar minta ditabok! Seharusnya Ciara memilih Caden daripada Adrin. Lelaki ini hanya mengira dirinya amat menarik sehingga berani bersikap sesuka hati. Bagaimanapun juga aku tidak akan tertipu. Dasar m***m! Tukang intip! Sebaiknya aku mencekik dia saat ini juga. Berhubung ada Claude. Kami berdua pasti bisa menyelesaikannya dalam sekejap. “Count Gundry, kedatanganku berkaitan dengan pertunangan. Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Anda dapatkan. Anda tidak perlu risau sebab surat pertunangan telah dibatalkan.” Hanya keheningan yang Adrin tunjukkan. “Aku tidak ingin ada kesalahpahaman,” kataku menjelaskan. “Anda tidak akan dikait-kaitkan dengan Moira Hoshana. Anggap saja ide pertunangan itu hanya bualan belaka.” “Bualan?” “Iya,” kataku membenarkan. “Bualan dan tidak perlu ditanggapi.” “...” “Lagi pula, kita berdua belum menandatangani surat pertunangan. Jadi, syukurlah tidak perlu repot mengumumkan pembatalan pertunangan.” “Wah, kenapa kita tidak menikah saja?” Mataku membelalak. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja telontar dari mulut Adrin. “Bukankah lebih baik kita langsung menikah daripada bertunangan?” Kali ini aku tidak keberatan menampar Adrin. Dia menjengkelkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD