Jantung bertalu memicu gejolak dalam diriku. Titik-titik keringat bermunculan di pelipis dan hawa dingin membasuh tubuh. Ketakutan milik Moira, atau mungkin, milikku. Entahlah. Bahkan harum bunga takkan mampu menghilangkan rasa pahit yang melekat di lidah. Meskipun mengetahui pembunuh Moira di masa depan, tetapi teror telanjur mencengkeram; membenamkan cakar ke dalam daging, mengoyak keberanian hingga hancur berkeping-keping, dan melenyapkan sisa-sisa pengharapan milikku.
Adrin tampil bagai malaikat maut. Busana bernuansa hitam yang dipadu manset merah. Aksesoris yang dia kenakan hanyalah bros kupu-kupu perak yang tersemat erat di cravat berwarna rubi. “Saya bukan pengecut,” katanya, seperti ular beludak yang siap menancapkan taring beracun. “Tidak akan melarikan diri.”
Hanya dengan menatap sepasang mata setajam belati mampu menciptakan sensasi lumpuh. Seolah ada tangan tidak kasatmata yang melingkari leher, membuatku kesulitan bernapas. Susah payah aku berusaha menghela napas, meraup udara, bernapas.
Aku bukan Moira, kataku memperingatkan diri sendiri.
Samar-samar lagu yang dimainkan orkes terdengar amat redup, seolah aku berada jauh dari arena pesta.
Aku ingin pergi dari sini!
“Mungkin mengirim dirimu ke medan perang merupakan keputusan bijak.”
Adrin menampilkan seulas senyum sebagai respons atas komentar Caden. Bukan rahasia bila Albastar melakukan perluasan wilayah. Hanya masalah waktu sampai seluruh kerajaan bertekuk lutut di bawah pemerintahan Albastar.
Keduanya saling melempar opini terkait politik-yang-amat-tidak-menarik-minat-karena-aku-tidak-mengerti. Krisis antara hidup dan mati. Dengan kata lain: Dilema. Aku sungguh berharap memiliki kemampuan berdiplomasi milik Littlefinger, setidaknya di saat amat-tidak-menyenangkan seperti ini aku bisa menyuarakan pendapat dan, semoga saja, bisa melerai ketegangan di antara kedua pria ini.
Sayang seribu sayang, diriku hanyalah b***k kapitalis yang tidak tahu menahu urusan ekonomi, pemerintahan, apalagi politik.
Aku: Halo, Otak. Bisakah kau menolongku memberikan satu atau mungkin beberapa ide brilian agar Caden-ku terlindung dan Adrin mengurungkan niat membantai keluarga kerajaan?
Otak: Tunggu sebentar, ya. Saya akan mencari beberapa data di ruang arsip yang mungkin berguna. Wah, maaf. Sepertinya bagian arsip hanya menyimpan memori tidak menyenangkan dan penuh air mata. Apa Anda berminat menengok barang sejenak?
Aku: Tidak usah!
Sungguh tidak berguna.
Begitulah, aku hanya diam sembari mengobati luka hati dan luka batin. Lalu, saat aku dan Adrin, SECARA TIDAK SENGAJA, bersitatap. “Bolehkah saya mendapatkan kesempatan berdansa dengan Anda, Putri Hoshana?”
Adrin menawarkan tangannya, menunggu jawaban.
Mulutku ingin berkata tidak, tetapi norma kesantunan mengharuskan seorang wanita menerima tawaran dansa.
“Angin apa yang membuatmu berubah pikiran?” Caden mewakiliku. Dia melingkarkan lengan di pinggangku, gestur ketidaksukaan terhadap ide Adrin. “Adikku tidak tertarik denganmu, Gundry.”
Lagi-lagi, seulas senyum tersungging di bibir Adrin. “Kami berdua sepertinya perlu bicara dari hati ke hati. Bukan begitu?”
Tidak mungkin.
Aku bahkan tidak tertarik melakukan jajak pendapat dengan karakter yang lebih memilih istri orang lain daripada pasangannya.
“‘Hiduplah dalam kedamaian, Kawan.’ Ucapan Anda waktu itu amat sangat menyejukkan.”
Hiduplah dalam kedamaian, Kawan. Satu-satunya orang yang pernah aku beri penyejuk rohani saat itu hanyalah si penyusup. Mata merah ... oh tidak! Tidak! Jadi pria waktu itu yang melihatku mandi adalah Adrin? DIA?
Lubang, ada di mana lubang untuk mengubur harga diri dan diriku sekalian?
“Moira?”
Aku mengerjap, mengusir kenangan memalukan saat mandi bunga. “Ka-Kakak, bolehkah aku ... menerima permintaan dansa?” Air muka Caden berubah keruh, seolah ada seseorang yang menyiramkan air comberan kepadanya. “Kakak, tolong.” Aku memeluk Caden, gerakan berlebihan yang sengaja aku lakukan demi upaya membocorkan rencanaku, agar Caden tidak salah paham. “Lebih baik mengetahui maksud dan tujuan kehadirannya,” bisikku, lirih. “Kakak, hanya kau seorang yang ingin kulindungi.”
Sesaat tubuh Caden menengang, kemudian perlahan simpul-simpul ketidaknyamanan dalam dirinya pun terputus. “Bila itu yang kauinginkan,” katanya sembari melepasku kepada Adrin.
Di mata orang luar, kelihatannya adegan antara aku, Caden, dan Adrin amat romantis. “Oh lihat Paduka menyerahkan adiknya kepada calon mempelai pria.” HEH YANG BENAR SAJA! Di hatiku tetap Caden yang nomor satu. Aku adalah antifan Adrin. Semua ini aku lakukan demi melindungi Caden.
Caden, tidak akan aku biarkan Adrin dan kaki tangannya menyakitimu.
Catat, selama aku masih menetap di tubuh Moira.
Jemari Adrin melingkupi jemariku. Khalayak tampak terperangah menyaksikan kejadian langka antara Moira dan Adrin. Bisik-bisik tertutupi suara musik yang mengalun lembut. Aku bahkan tidak mau repot-repot menguping pembicaraan siapa pun. Saat ini aku hanya ingin melayani tantangan Adrin.
Adrin melingkarkan lengan di pinggangku sementara tangan yang lain menggenggam tanganku. Gerakan awal bisa aku ikuti, tetapi langkah berikutnya....
“Yang Mulia, Anda sengaja menginjak kakiku?”
HAHA AKU, ‘KAN, TIDAK BISA MENARI. RASAKAN!
“Maaf,” kataku mencoba menampilkan kesan menyesal (padahal tidak) kepada Adrin. “Sebenarnya aku kehilangan bakat menariku semenjak insiden tidak menyenangkan.”
Anehnya, Adrin terkekeh menanggapi komentarku. Nada tawanya amat riang, seperti dencing lonceng.
Hatiku hancur. Padahal aku lebih tertarik menari bersama Caden! Kembalikan kesempatan berdansaku bersama Caden!
“Bukankah Kakak telah mengirim surat pembatalan pertunangan di antara kita?”
Alih-alih penolakan, kalimat yang Adrin lontarkan amat tidak menyenangkan. “Lebih baik kita bertunangan. Sepertinya aku bisa menerima.”
Dia berkata “aku” bukan “saya”. Iktikad pendekatan yang jelas mencurigakan. “Aku tidak ingin bertunangan denganmu,” kataku, tidak terima. Sekali lagi, aku menginjak kaki Adrin. Lalu, sekali lagi “dengan niat” aku menginjak kaki Adrin. “Lebih baik kita tidak menikah dan amat kusarankan kita tidak perlu bertemu,” kataku menekankan, “lagi. Pokoknya lebih baik kita tidak perlu bertemu-woooooh!”
Adrin memutar tubuhku hingga kehilangan keseimbangan. Saat aku mengira akan membentur lantai dansa, ternyata sepasang tangan kokoh telah merengkuhku hingga kini pipiku menempel di d**a Adrin.
“Balasan,” bisiknya, embusan napas menerpa daun telinga—membuatku gemetar. “Setelah kupertimbangkan, lebih banyak manfaat yang bisa didapat dari pertunangan.”
Aku meronta, berusaha menjauh. “Kau tidak menyukaiku.”
“Aku mengira tidak bisa menoleransimu,” katanya mengoreksi. “Namun, kabar yang kudapat dari nuri-nuri yang bernyanyi di istana tampaknya berbeda.”
“Kau tukang intip,” kataku mencela.”Bagaimana bisa kau masuk ke kamar mandiku?”
Tanpa bisa kutahan, rona merah menjalar di pipi.
“Sebenarnya aku tidak melihat apa pun.”
Dia berkata seperti itu, tapi ujung bibirnya melengkung.
“Aku membencimu!”
Lagi-lagi, tawa renyah keluar dari mulutnya. “Cukup menghibur,” ungkapnya. “Terlebih setelah mendengar pendapatmu mengenai pekerja kelas bawah.” Binar cemerlang berpendar di kedua matanya, seolah dia menemukan pengharapan dalam diriku. “Mungkin kau bisa membantuku.”
“Apa maksudmu?” Aku mendongak, menatap langsung ke matanya. “Kita tidak pernah sekata dalam apa pun.”
“Nilai dirimu di mata kakakmu sepertinya amat tinggi.”
“Kakakku tidak menilaiku seburuk dirimu.”
Perlahan Adrin melepasku, memberikan jarak di antara kami. “Aku menunggu undangan teh darimu.”
Aku benar-benar ingin menggigitnya!
***
Apakah ini yang disebut sebagai “kutukan cinta pertama”? Adrin, si mantan kekasih, memorak-porandakan suasana hati. Jungkir balik. Persis tukang tagih utang. Sedari awal kemunculan Adrin dalam Be My Lover, aku tidak menyukainya. Begini, ya, wajah tampan tidak menjamin karakter seseorang akan sebaik penampilan luar. (Kecuali Caden. Dia sempurna luar dalam. Perfecto numero uno! Tidak ada cela. Mulus.)
Tidak percaya?
Ted si pembunuh berantai merupakan salah satu bukti faktual. Tentu saja tidak ada seorang pun mengira bahwa si Ted ini menculik dan menghabisi gadis-gadis cantik. “Oh aku tidak menyangka dia bisa sejahat itu,” kata salah satu tetangga saat diwawancarai wartawan. Tentu saja mereka, para tetangga, tidak tahu ada pembunuh berantai yang hidup di antara mereka. Tidak. Itu karena penampilan Ted amat tampan dan menarik. Dia pintar memanfaatkan kelebihan fisik demi menjerat calon mangsa. Kalian lengah, baaam! Tahu-tahu palu melayang di kepalamu.
Masih kurang?
Dokter Hanibal. Oke, dia memang karakter fiktif dalam sebuah novel yang kemudian menjadi populer setelah diangkat di layar kaca dalam serial misteri-pembunuhan. Dokter Hanibal, sama seperti si Ted tukang palu, amat menawan. Tidak hanya plus di penampilan saja, tetapi dalam wawasan; dia bahkan bisa memanipulasi seseorang agar mengikuti insting jahat mereka. Bayangkan gabungan kecerdasan, keindahan paras, dan keahlian memasak. Setop, kalian tidak perlu menonton serial tersebut sebab isinya mengenai hasrat Dokter Hanibal mengolah korban sebagai makanan. Namun, andai kalian tidak keberatan dengan unsur sadis dan gore, mungkin kalian bisa menikmati setiap momen dalam film tersebut tanpa ada dorongan ingin muntah saat menonton Dokter Hanibal menumis jeroan manusia.
Masih kurang?
Lord Dracul. Vampir ganteng yang kehilangan istri semasa perang kemudian memutuskan membangkang dari kehendak kebenaran. Dia membunuh kelasi malang dan sejumlah gadis. Konon dia bisa berubah wujud menjadi serigala hitam dan kelelawar. Tentu saja vampir harus ganteng karena kalau penampilan mereka buluk maka tidak ada korban yang bisa terjerat. Itulah intinya! Penampilan seperti bungkus permen; kaukira ada ternyata cuma isi secuil, atau lebih buruk: Kosong. (Oho, aku pernah membeli permen yang ternyata hanya berisi angin alias kosong.)
“Aku menunggu undangan teh darimu.” Senyum yang Adrin tampilkan bukan main mengesalkan-kurang-ajar-tidak-tahu-dirinya. Seolah dia tengah berpuas diri karena memenangkan adu ketangkasan dan membuat diriku terlihat seperti pecundang. “Kita bisa bicara dari hati ke hati.”
Hai, Adrin. Seharusnya kau mengejar Ciara dan mempertimbangkan hubungan bilateral. “Oh?”
Aku ingin jadi Hydra, naga yang kepalanya tumbuh setiap kali seseorang memenggal salah satu kepala. Jelas Adrin bukan Hercules sang pahlawan dan aku tidak sudi menganggap dia sebagai pejuang kebenaran. Dih! Pasti menarik bila aku gigit kepala, tangan, lalu kaki. Sekalian melempar Adrin ke dunia seberang. Mungkin di dimensi ini ada Hela, Hades, Anubis, Yama, atau mungkin Ereshkigal. Akan aku katakan kepada para dewa-dewi kematian: “Dengan ini saya persembahkan seonggok Adrin. Silakan Anda gunakan sebagai sesajen membangun jembatan atau gedung pencakar sekalian. Oh jangan lupa Anda harus menanamnya sedalam mungkin agar saya tidak perlu bertemu dengannya.”
Susah payah kupaksakan diri agar tersenyum. “Tentu saja,” jawabku. Tapi bohong! “Suatu saat.”
Suatu saat ketika aku berhasil menemukan cara menyingkirkanmu. Masa bodoh dengan rasa cinta Moira terhadap Adrin. Wanita itu harus berterima kasih kepadaku, nanti saat aku bisa keluar dari tubuh ini, dan memikirkan kandidat lain yang pantas dinikahi. Aku, sebagai roh gentayangan merangkap penyelamat Caden, dengan senang hati melindungi Hoshana.
“Suatu saat,” Adrin mengulangi ucapanku dengan nada mengejek. Tampaknya dia tahu bahwa aku tidak berkeinginan mengabulkan permintaannya. “Amat diplomatis.”
Pasangan lain mulai memasuki lingkaran dansa, menanti lagu kembali dimainkan orkes. Sudah cukup. “Waktunya melupakan masa lalu,” kataku. “Kau bukan segala-galanya, Adrin.”
Sengaja aku memanggil nama Adrin tanpa embel-embel gelar. Hanya ingin menekankan kesungguhan hati bahwa Moira benar-benar tidak berminat menikahi.
Tanpa menunggu balasan aku pun membungkuk, sebagai salam perpisahan. Setelahnya aku bergegas kembali kepada Caden. Persetanlah dengan Adrin. Dia adalah ancaman bagi kebahagiaan Caden. Selama masih terjebak di wadah Moira, maka aku berkewajiban menjamin kelangsungan hidup Caden.
“Kakak!”
Karena terlalu bersemangat, aku sampai melupakan norma sopan santun. Tanpa bisa dicegah, tangan telanjur menepuk lengan Caden. Saat dia menoleh, bisa kurasakan seolah ada rombongan kupu-kupu menari di sekitar Caden. Senyum pun mekar di bibir, tidak bisa aku tahan. “Moira,” katanya.
“Salam kepada Putri Moira Hoshana.”
Suara yang menyapa terdengar begitu merdu seolah muse memainkan musik di sekitarku. (Oh ya, ada orkes simfoni tengah didendangkan.) Dalam sekian detak jantung, tatapanku terpaku kepada sosok yang berdiri di hadapan Caden. (Sebenarnya sedari tadi Caden tengah bercakap dengan seseorang. Aku terlalu girang hingga main asal tempel tanpa memperhatikan situasi. Tapi, hei! Memangnya salahku bila ingin segera lepas dari Adrin?)
“Irshin menyampaikan rasa terima kasih kepada Albastar.”
Ciara Ayveen. Tokoh utama dalam Be My Lover. Sosok Ciara benar-benar menakjubkan. Rambut sehitam kayu eboni. Sepasang mata bak jamrud mulia. Bibir merah merekah. Kulit seputih salju. Gaun bernuansa merah rubi dan hitam membungkus tubuhnya. Siapa pun pasti mengira dia sebagai jelmaan peri bunga. Aku bertaruh ada satu, dua, puluhan laki-laki bersedia menyerahkan diri kepada Ciara. Dia bisa disetarakan dengan Putri Salju. Tidak, tunggu sebentar. Dia memang Putri Salju dan akulah ibu tirinya!
Jangan bilang....
Inilah saat cinta pertama Caden mekar!
Tidak, tidak, tidak, tidak boleh.
Di samping Ciara, ada seorang lelaki berperawakan tegap. Dia mengenakan busana biru gelap dipadu cravat berwarna lavendel. Rambut pirangnya tergerai bebas melewati garis bahu. Sama seperti Ciara, lelaki ini memiliki mata berwarna hijau.
“Allen Ayveen,” ucapnya memperkenalkan diri. “Memberi salam kepada Putri Moira Hoshana.”
Dia membungkuk, meminta izin menyentuh tanganku.
Bibirnya menyentuh punggung tanganku, yang untungnya mengenakan sarung tangan, dan meninggalkan kecupan singkat. Jemarinya mencengkeram erat, seperti elang menemukan mangsa.
“Terima kasih,” balasku seraya menarik tangan. Cepat-cepat aku melingkarkan tangan ke lengan Caden, berharap bisa mengenyahkan rasa tidak menyenangkan yang tertinggal dari kecupan Allen.
Aku mendongak, mencoba membaca emosi yang mungkin ditampilkan Caden. Anehnya hanya ada seulas senyum basa-basi. Namun, di dalam matanya kutangkap kilatan kobaran ketidaksenangan.
Apa dia cemburu Ciara hadir bersama Allen? Bisa jadi. Namun, halooooooo! Caden, dengarkan aku. Ya, dengarkan baik-baik. Ciara bukan jodohmu. Lebih baik aku saja yang jadi jodohmu. Tentu saja setelah aku temukan cara keluar dari tubuh adikmu. Itu pun kalau kau tidak keberatan menikahi roh gentayangan.
“Pangeran Irshin sepertinya pandai bermanis-manis.” Sekali bicara ternyata komentar Caden jauh di luar dugaanku. Aku kira dia akan langsung melamar Ciara, seperti yang terjadi di novel. Tahu, ‘kan, seperti: Aku ingin menikahimu. Jadilah istriku. “Amat mengesankan.”
Mengesankan. Nada suara Caden terlalu menusuk. Dia tidak benar-benar memuji.
“Kakak amat senang mendapat undangan dari Anda,” kali ini Ciara menengahi. “Saya harap Anda mengerti luapan semangat yang diperlihatkan olehnya lantaran senang.”
Aku ingin memercayai ucapan Ciara sebagai hal baik, tetapi cara Allen memandangi Moira justru membuatku berpikir mengenai Serigala yang mencoba memakan Kerudung Merah. Gampangnya aku ibaratkan tatapan Allen mirip diriku saat melihat es kelapa muda di musim kemarau.
Tolooooong! Aku ingin keluar dari tubuh Moira.
“Itulah yang ingin saya sampaikan,” kata Allen. Kedua matanya berbinar cemerlang. Sekilas dia menatap Caden kemudian berlama-lama kepadaku. “Terlalu senang.”
Berhenti melihatku. Pergi, pergi! “Kakak, berikan kesempatan kepada orang lain,” bisikku, lirih. Lebih mirip cicitan karena aku terlalu takut kepada Allen. Meskipun di novel dia mati di tangan Caden, tetapi lebih baik menjauhi kemungkinan pecah perang di antara mereka. “Ya?”
Akhirnya Caden mengamini saranku. Dia mempersilakan Ayveen bersaudara menikmati jamuan. Sesaat aku merasa lega karena akhirnya masa kritis telah berlalu.
Sampai aku mengetahui tatapan Allen masih tertuju kepadaku.
“Kakak, aku boleh pergi?”
“Apa kau tidak enak badan?” Telapak tangan Caden menyentuh keningku. “Moira, hati-hati.”
Aku menggeleng. “Kakak di sini saja,” kataku menyarankan. “Mereka jauh-jauh kemari hanya demi bertemu denganmu.”
“Moira.”
“Kakak, jadilah raja yang bisa diandalkan.”
Akhirnya Caden hanya bisa mengembuskan napas, kalah. “Nanti aku akan menemuimu.”
Suasana pesta terlalu riuh. Aku butuh ketenangan.
Oleh karena itu, aku memutuskan pergi ke taman. Tentu saja ada pelayan dan beberapa pengawal yang mengekor di belakangku. Syalala jadi orang kaya ternyata menyenangkan. Tentu saja menyenangkan! Tidak perlu memikirkan tagihan telepon, gas, air, listrik, dan pajak!
Ya sudahlah. Lebih baik aku melupakan beban hidup di masa lalu dan mulai menikmati kekayaan Moira. (Hahaha! Moira, cepatlah kembali sebelum aku menghabiskan uangmu!)
Rembulan tampak bulat di langit. Jutaan bintang bersinar cemerlang seperti kilau berlian. Udara malam anehnya terasa lebih menyejukkan daripada aroma parfum di pesta. Tanpa ragu aku melepas sepatu dan bertelanjang kaki menikmati permukaan batu.
“Yang Mulia, Anda tidak seharusnya bertelanjang kaki.”
Heidi, ternyata dia mencemaskan keadaanku. Hmmm Heidi, kau memang patut dihadiahi kasih sayang. (Olehku, bukan Moira.)
“Tidak,” kataku menolak. “Seharusnya kau mencoba menikmati segarnya nuansa malam saat telapak kaki menyentuh rumput.”
Lampu taman berpendar lembut, mengundang kawanan ngengat. Aku menapaki satu demi satu batu yang ditanam mengikuti pola tertentu. Terus melangkah hingga memasuki labirin buatan. Tentu saja labirin yang satu ini berbeda dari labirin tempat Minotaur terkurung; tidak perlu membawa gulungan benang agar tidak tersesat, tidak ada tulang belulang berserakan di tanah, dan ada cukup banyak lampu taman yang menerangi jalan. Labirin yang satu ini dindingnya terbuat dari rumpun mawar berwarna lavendel. Kebetulan ada banyak mawar yang tengah mekar. Sembari berlalu melewati dinding mawar, aku menyempatkan diri menghidu harum bunga. Anggap saja aku sebagai Alice yang tengah jalan-jalan di taman Ratu Hati.
Pelayan dan pengawal yang mengikutiku tampaknya tidak berani menyuarakan pendapat setelah mengetahui diriku hanya ingin mengagumi bunga di malam hari. Terus terang bertemu dengan Adrin amat menyita semangat hidupku. Itu belum termasuk kemunculan Allen. Semoga Allen dan Ciara segera kembali ke Irshin.
Aku terus berjalan hingga sampai ke tengah labirin. Di sana ada sebuah kolam dengan patung air mancur berbentuk wanita duyung yang tengah menuang guci air ke dalam kolam. Air mengalir pelan, membuat riak-riak di permukaan kolam. Di dalam kolam terdapat kumpulan teratai ungu. Bunga-bunga tersebut mekar sempurna dalam siraman cahaya bulan. Kunang-kunang hilir mudik di antara kelopak bunga, sebagian besar menjauh dari permukaan kolam lantaran ada ikan koi yang hidup di sana.
Akan tetapi, bukan keindahan kolam yang menyita perhatianku, melainkan kehadiran Eric Hoshana.
“Salam, Putri Moira.”
Dia mengenakan setelan bernuansa putih dan perak. Pembawaan Eric tampak tenang dan anggun. Seperti harimau putih, pikirku.
Setelah memberi hormat, dia pun berkata, “Anda sepertinya tengah bersenang-senang.”
Sesaat berpikir mengenai hal-hal tidak menyenangkan yang telah terjadi. “Apa Anda tidak ingin menemui Kakak?” Kakiku memilih berjalan mengitari kolam, sama sekali tidak peduli pada kehadiran Eric, dan saat perjalananku terhenti tepat di depan Eric, aku menambahkan: “Di sini amat menenteramkan.”
Tidak perlu takut. Ada pelayan dan pengawal yang menemaniku. Eric bukan orang bodoh yang akan langsung menyerangku. Bahkan dia mungkin tidak memikirkanku sebagai ancaman.
“Iya,” katanya mengiakan. Tatapan Eric tampak menerawang, seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan olehnya. “Ibu Anda pun menyukai tempat ini.”
“Karena indah?”
Hening sesaat. Eric tidak mengatakan apa pun, tatapannya tetap terfokus pada patung duyung.
“Tempat ini sangat indah,” kataku memecah kesunyian.
“Karena dia merasa bebas saat berada di sini.”
Aku menatap Eric yang menampilkan seulas senyum yang terasa sendu. “Karena,” katanya, nada suaranya sedikit bergetar. “Hanya di sini dia bisa menjadi dirinya sendiri.”