Terlahir sebagai orang kaya memang menyenangkan.
Aku tidak peduli disebut matre ataupun kikir. Tidak apa-apa. Mendapatkan satu, dua, bahkan puluhan sebutan buruk tidak akan mengurangi trauma di masa lalu milikku. Alias, rasanya sama saja. Sama sakitnya. Namun, daripada bersusah hati memikirkan hal yang menyedihkan, lebih baik mempertimbangkan kemungkinan “setan gentayangan” yaitu, aku, sebagai pemegang sendok emas. Moira dan ATM yang isinya tidak terbatas.
Terima kasih, Moira. Kali ini dengan segenap kebahagiaan, aku ucapkan rasa syukur. Aku, si setan gentayangan, merasa beruntung sempat mampir ke tubuh orang ningrat. Sekalinya nanti diusir keluar dari tubuh Moira, setidaknya aku sempat menikmati kekayaan kaum borjuis.
Caden menepati janji. Tokoh-antagonis-ganteng-kesayanganku itu memang bisa diandalkan. Katakan selamat tinggal kepada korset. Akhirnya aku bisa mengenakan pakaian sehat dan ramah di perut. Pelayan telah mengganti seluruh pakaian di ruang baju.
Iya, kalian tidak salah baca kok. Ruang baju. Bisa kalian bayangkan, ‘kan, jumlah koleksi baju yang Moira miliki? Mungkin setara dengan jejeran pakaian di mal. Itu bahkan belum termasuk sepatu, aksesoris, perhiasan, dan printilan pelengkap pakaian lainnya. Apabila harta memang hanya titipan, maka aku tidak keberatan dititipi kekayaan sebanyak-banyaknya.
Entah perancang mana yang dipercayai Caden, aku tidak tahu dan aku tidak ingin tahu. Pokoknya selama korset terkutuk itu menjauh dariku, aku senang.
Bukan berarti ingin menetap di tubuh Moira, ya. Bagiku menjadi kuntilanak yang merdeka jauh lebih menyenangkan daripada berperang melawan takdir kematian milik Moira Hoshana. Masalah yang harus dibereskan ... seperti PR matematika yang selalu kuhindari. Jenis PR yang menyita kebahagiaan, membuat pusing, dan walaupun mencoba memahami sebaik mungkin tetap tidak mengerti, alias kecerdasan milikku memang dangkal.
Laporan proses penyelamatan:
1. Membatalkan pertunangan antara Moira dan Adrin. (Status: Sukses.)
2. Membimbing Caden ke jalan kebajikan. (Status: Sedang diusahakan.)
3. Menghalangi percintaan antara Caden dan Ciara. (Status: Saat ini masih dalam perencanaan.)
Malam ini Albastar mengadakan perayaan. Setiap kota di Albastar menggelar pasar malam, bahkan mungkin setiap keluarga mengadakan jamuan demi memperingati kemenangan pendiri Albastar yang bernama Sevar Aryouz. Akan ada kalkun panggang, pai daging, jus apel, dan manisan terhidang di setiap meja makan. Bahkan seorang Hoshana yang konon setara dengan setan pun masih memikirkan isu kesejahteraan. Hoshana tidak mengambil pajak demi kepentingan pribadi semata. Sekolah kerakyatan dibangun dan setiap orang dipersilakan mengenyam pendidikan, buletin informasi tersedia di setiap sudut jalan, dan rumah sakit bagi warga desa. Bahkan dengan rekam kerja semacam ini pun masih ada orang yang membenci Hoshana karena kecenderungan Hoshana dalam menghancurkan sesuatu. Semisal Moira, meskipun melakukan kekerasan seksual terhadap Adrin, tetapi dalam beberapa hal dia berusaha memenuhi kebutuhan fisik Adrin; papan, sandang, dan pangan. Mungkin sebenarnya Moira mencintai Adrin, tapi tidak bisa menerima penolakan. Kebencian dan kecemburuan berakumulasi, membuat Moira gila.
Padahal daripada mengejar Adrin lebih baik Moira menghabiskan kekayaan. Salon kecantikan, makanan, perhiasan; apa pun. Pikiran orang kaya memang sulit dipahami.
Intinya, kalian bisa berusaha menjadi baik kepada siapa pun, tetapi selalu ada orang yang tidak menyukai keberadaanmu. Seperti itu.
Akan tetapi, dengan kinerja sebagus Caden, lantas mengapa Adrin bisa mendapat dukungan merebut kekuasaan Caden? Pasti ada yang mensponsori perbuatan Adrin. Siapa?
“Yang Mulia, Anda tampak sempurna.”
Sesaat aku tersentak dari lamunan.
Aku mengerjap, memandang pantulan di cermin yang menampilkan Moira dalam balutan busana bernuansa ungu pucat dan warna lavendel. Jenis gaun yang memamerkan bahu dan punggung. Rok mekar seperti kelopak bunga teratai, pada permukaannya dihiasi forget-me-not. Ametis berbentuk tetes air mata menempel di bagian pinggang. Bagai dewi bulan yang hendak menemui kekasihnya, itulah yang aku pikirkan. Untaian mutiara mungil terselip di antara jalinan kepang. Heidi, pelayan yang sampai sekarang belum aku ketahui namanya, memasangkan hiasan rambut berbentuk bunga dahlia ungu di kepalaku. Riasan yang disapukan ke wajah pun tampak alami, tidak menor. Sebagai sentuhan terakhir, aku mengenakan sarung tangan putih. Selesai.
“Sekarang Anda akan menjadi pusat perhatian.”
Pusat perhatian.
Oh tidak usah.
Lebih baik aku jadi karakter sampingan saja.
Walaupun pernah aku membaca kutipan bahwa setiap orang merupakan tokoh utama dalam ceritanya masing-masing, tetapi dalam kisahku—tepatnya kehidupanku—aku ini pecundang.
Ayah tidak bisa mengontrol emosi. Saat marah dia selalu membentakku, bahkan di depan umum, tidak peduli situasi dan kondisi. Dulu saat saat SD aku pernah mendapat nilai nol besar untuk ulangan matematika. Beliau marah besar, katanya aku bodoh dan memalukan, tidak seperti saudaraku. Karena beliau bekerja sebagai kusir delman, maka setiap malam beliau akan menggunakan cambuk untuk memukul meja saat aku tidak bisa menjawab dengan benar soal matematika. “Soal begitu saja tidak becus!” Melecutkan cambuk berkali-kali hingga meja yang menerima lecutan pun hancur. Aku hanya menangis, memohon ampun. Sangat menyedihkan. Ibu pun tampaknya menganggap metode pengajaran yang digunakan suaminya itu termasuk normal, bisa dimaklumi.
Itulah pertama kali aku, sebagai bocah cilik, kehilangan pengharapan.
Oleh karena itu, aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun dalam bahtera pernikahan. Ada luka dalam diriku. Aku takut mewariskan luka itu kepada anak-anakku.
“Yang Mulia?”
Aku mencoba mengusir ingatan masa lalu—berusaha menguatkan diri sebab kejadian itu telah lewat; tidak ada cambuk, tidak ada makian, dan aku bebas. “Antarkan aku menemui Kakak.”
Pelayan pun mematuhi keinginanku. Mereka mengantarku menemui Caden. Melewati koridor yang diterangi lampu kristal, menikmati nuansa hangat musim semi, dan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Caden tampaknya tengah menungguku. Malam ini dia tampak luar-biasa-tampan!
Sebagai penggemar Caden garis keras, aku akan mendukungnya di mana pun. Hidup Caden!
Busana yang seperti seragam perwira bernuansa putih dan perak tampak cemerlang dikenakan Caden. Cravat biru tua melingkari leher dan sebuah bros berbentuk sayap tersemat di sana. Rambut Caden dikuncir model ekor kuda. Jubah agung berwarna merah tampak kontras dengan busana Caden. “Ayo, Moira,” katanya sembari menawarkan tangannya yang mengenakan sarung tangan putih kepadaku. “Saatnya menikmati perayaan.”
Seulas senyum mengembang di bibirku. Tanpa ragu aku meraih tangan Caden dan menggenggam jemarinya. Sekali ini aku ingin bersikap egois. Tidak sepertiku, Moira memiliki Caden. Lelaki yang akan selalu melindungi Moira dari siapa pun. Caden seperti matahari yang melelehkan musim dingin dalam diriku. Berkat dialah aku tetap bertahan di dunia meskipun dorongan untuk mengakhiri selalu hadir. Saat aku merasa tidak berguna dan tidak berarti, sosok fiktif Caden membuatku kembali bersemangat menjalani hidup. Sekali ini saja aku ingin menikmati kebersamaan antara diriku dan Caden.
Kami berdua berjalan menuju ruang pesta. Gemerlap kandelir dan sinar lampu kristal begitu menyilaukan, hanya sekejap saja, lantas kemudian aku bisa melihat undangan pesta. Mereka terlihat menawan dalam busana mewah. Aneka bunga menghias sudut ruangan; mawar, lili, sedap malam, dan sejumlah bunga yang tidak aku ketahui namanya. Orkesta menghentikan permainan musik, membiarkan bentara mengumandangkan kehadiran Caden dan adiknya.
Aku tidak mendengarkan perkataan Caden, terlalu mabuk dengan aroma parfum dan bunga yang bercampur di udara. Kesadaraan barulah tiba ketika Caden menepuk punggung tanganku. “Malam ini kau terpaksa harus menemaniku menemui undangan.”
Susah payah aku menelan ludah. “Kakak, yakin?”
“Kau adikku,” jawabnya. Binar kebahagiaan berpendar di kedua mata Caden. “Kita akan selalu bersama-sama dalam situasi apa pun.”
Bersama-sama. Andai aku bisa bertemu jiwa Moira dan memintanya melindungi Caden. “Baiklah.”
Tangan Caden terasa hangat, mengusir keraguan dalam diriku. Orkesta mulai memainkan musik mendayu, mengiri pasangan yang tengah menari. Begitu kami turun ke lantai pesta, beberapa orang mulai menghampiri Caden. Tentu saja aku hanya diam dan pamer senyum. Tidak peduli. Adapun yang ingin kutemui hanyalah Ciara. Demi bintang dan bulan, seperti ujar Romeo yang tersohor itu, aku akan membatalkan acara jatuh cinta mereka berdua. Caden tidak boleh jatuh hati kepada Ciara. Bukan karena aku cemburu, melainkan demi melindungi Hoshana dari kejatuhan. Lagi pula, ada banyak nona cantik yang bisa bersanding dengan Caden. Siapa pun boleh asalkan bukan Ciara.
Akan tetapi, sosok yang datang menyapa kami bukanlah Ciara.
“Permata Albastar. Semoga kemuliaan selalu memberkahi Anda.”
Cengkeraman tangan Caden terasa erat di jemariku. “Gundry,” katanya, dingin. Amat menusuk seperti ribuan jarum beracun. “Kau berani menunjukkan batang hidungmu,” tegasnya, “di depanku.”
“Saya bukan pengecut,” balasnya, sengit. Sejenak sepasang mata semerah rubi menatapku, dalam. “Tidak akan melarikan diri.”
Astaganaga! Bukan dia yang ingin kutemui. Ciara. Dialah yang sangat aku harapkan kehadirannya!
Adrin.
Tampaknya malam ini aku harus menghadapi musuhku.
Sialan!