6

2499 Words
Moira tidak memiliki keluarga selain Caden di istana megah dengan segala kerlip intan berlian. Di cerita pernah disebutkan mengenai ratu dan selir, tetapi mereka semua—termasuk kaisar—telah tiada. Kaisar mati di tangan putranya, permaisuri mati karena sakit, sementara selir dan sejumlah keturunan raja dibantai Caden. Kalaupun ada yang dibiarkan hidup oleh Caden, kemungkinan mereka—para Hoshana—memilih diam terkait pengangkatan Caden. Seorang pemimpin yang mendapat kekuasaan melalui jalan berdarah. Tidak terbayangkan jejak p*********n yang tertinggal di belakang. Demi sebuah mahkota, kerajaan, dan pengakuan; bersamaan dengan ketiga hal tersebut, dia pun mendapatkan sekutu serta musuh. Seperti si penyusup-laknat-tidak-tahu-diri yang membuatku terlihat memalukan. Meski tubuh yang dilihat olehnya itu milik Moira, tetap saja aku sebagai penumpang gelap merasa berkewajiban melindungi si tuan rumah. Si penyusup ini jelas tidak berada di sisi Hoshana. Lebih tepatnya dia membenci seluruh Hoshana. Mungkin dia mencuri sesuatu → tepergok → dikejar penjaga → memilih masuk kamarku → (mungkin) menunggu kesempatan menggorok leherku → kabur. Terima kasih. Beruntung aku bisa mengonfrontasi dengan cara menendangnya keluar. Biasa di setiap kepemimpinan pasti ada pihak oposisi. Namun, oposisi di zaman kerajaan besar kemungkinan berbuat barbar. Lenin yang membantai seluruh keluarga kerajaan, pemberontakan di Prancis yang menuntut hukuman gelotin bagi bangsawan korup, dan jangan lupakan Kerajaan Gelang-Gelang yang menggulingkan Kertanegara. Aku tidak mau terjebak di tengah kecamuk pemerintahan. Sudah cukup menyebalkan mati merana di era kapitalis, tidak perlu menambah pengalaman mati sebagai Moira. Oleh karena itu, aku sengaja mendekati Caden dengan harapan Moira berubah pikiran dan kembali. Hidup di Albastar tidak menarik. Bayangkan pakaian yang harus aku kenakan. Kamisol, gaun, korset. Bahkan pagi ini aku memelototi pelayan yang mencoba memakaikan korset kepadaku. “Aku tidak mau,” kataku, menolak. “Lebih baik kalian carikan pakaian lain.” “Tapi, biasanya Yang Mulia—” “Kalian mengerti alasan gadis di zaman ini mengalami kematian mendadak? Korset! Kalian bayangkan organ tubuhku tergencet.” Tidak ada yang menjawab. Kedua pelayan, yang salah satunya kukenali sebagai Heidi, menunduk. Pagi ini kamarku terasa mengerikan! Aku tidak suka jenis pakaian yang mengharuskan pemakai menggunakan korset. Rasanya menyakitkan. Di saat seperti ini aku merindukan kaos dan celana jins. “Apa kalian memiliki gaun katun?” Heidi dan temannya saling bertukar pandang. “Ya?” “Pinjami aku bajumu.” “Tapi, Baginda tidak akan memperbolehkan,” jawab Heidi. Terkutukalah kehidupan monarki ini! “Ya sudah, tolong bantu aku.” Pada akhirnya aku melewatkan sarapan karena urusan pakaian. Jika bukan Adrin, maka korset inilah yang akan membunuhku. Karena itulah, aku memikirkan metode lain agar tidak terkena serangan asma karena korset. “Yang Mulia, Anda tidak seharusnya berada di dapur.” Andai diperbolehkan menyentuh anggota keluarga kerajaan, mungkin Heidi akan mencengkeram pergelangan kakiku dan terus merengek di sepanjang jalan. “Anda hanya perlu memerintah kami.” Moira tidak mungkin masuk dapur istana. HAHAHA! Aku tidak peduli. Demi mencapai tujuan seseorang harus melakukan sesuatu. Aku bahkan tidak peduli ketika koki istana terusik kehadiranku. Langsung saja kuhadiahi dia “pelototan” yang artinya: “Berani menggangguku? Mau mati? Hah?” Terbukti ampuh. Koki dan pekerja di dapur istana memilih diam dan membiarkanku melakukan apa pun. Aku mengambil keranjang roti dan mengosongkan isinya. Cekatan mengambil tomat, selada, roti gandum, ham, sebotol acar timun, dan telur. Di pantry (syukurlah peralatan memasaknya tidak berbeda jauh dari duniaku) aku pun mempersiapkan saus. Pertama, campur mayones dan saus tomat. Setelahnya aku mencuci sayuran dan mulai memotong tomat, selada, dan acar timun. Roti gandum harus dibuang bagian pinggirnya. Setelah semua bahan siap, aku mulai menggoreng telur mata sapi. Lalu, roti gandum pun dipanggang di teflon. Begitu matang, aku mengolesi pinggiran roti dengan campuran mayones dan saus tomat. Susun selada, tomat, telur, roti (yang tentunya kedua sisinya telah diolesi campuran saus mayones dan saos tomat), selada, ham (pastikan sudah dipanggang), acar timun, dan roti. Potong menyilang agar membentuk segitiga. “Sandwich kebahagiaan!” Aku tidak peduli tatapan ingin tahu orang-orang yang ada di sekitarku. “Sekarang aku akan mengantarnya untuk Kakak.” “Ya-Yang Mulia?” Heidi menatap sandwich di piring. “Baginda pasti—” “Akan menyukainya,” kataku memotong. “Nah, yang ini untukmu.” Aku menyerahkan piring yang berisi dua sandwich kepada Heidi. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih. “Hamba tidak berani.” “Ah jangan begitu,” kataku, kecewa. “Itu tidak beracun dan kujamin enak. Nah, kalian boleh mencicipi sandwich yang ada di piring. Aku sengaja membuatnya untuk kalian.” Berbeda dengan perkiraanku, mereka—para pekerja di dapur istana—tampak pucat, seolah aku menyuruh mereka menelan racun. “Hei, jangan dibuang. Kalian bisa dilaknat dewa. Pokoknya kalian makan dan jangan sampai ada yang berbohong sudah memakannya.” Lantas aku mengambil piring khusus yang kupersiapkan untuk Caden. Samar-samar saat keluar dari dapur, aku sempat mendengar seseorang memuji masakanku. ~♦♦♥♦♦~ Pasti ada tumpukan tugas menunggu terselesaikan. Terima kasih aku ucapkan kepada Moira yang tidak perlu bekerja demi menikmati kenyamanan. Aku pasti tidak sanggup mengatur pembukuan dan sederet angka mengenai debet dan kredit. Andai Moira lahir di zaman Prancis atau Rusia, mungkin dia akan dipenggal seperti Marie Antonite; dianggap hanya bisa menghabiskan uang rakyat, cuma mengerti foya-foya, dan tidak bisa dibanggakan. “Yang Mulia?” Salah satu penjaga kebingungan melihat kehadiranku tanpa pelayan yang mengekor di belakang. Satu, aku mengusir mereka karena tidak suka diikuti. Dua, Heidi mungkin tengah menikmati masakanku dengan air mata berlinang. “Buka,” perintahku dalam intonasi seorang tiran. Penjaga akhirnya mempersilakanku masuk ke ruang kerja. Di sana Caden tengah berjibaku dengan setumpuk dokumen. “Moira?” “Kakak, cobalah memikirkan kesehatanmu.” Aku mengabaikan kehadiran seorang asisten yang entah siapa namanya dan meletakkan piring di meja. Begitu mendekat, kusadari luka gores di pipi Caden. Beraninya! Siapa yang berani melukai Caden-ku? “Cobalah walau segigit.” Caden melirik asisten yang berada di belakangku. “Kau tidak perlu membawakanku makan siang.” “Kakak, aku sengaja membuatnya khusus untukmu.” Haha, lawak. Sebenarnya aku membuat beberapa untuk Heidi dan sejumlah orang. Tapi, itu tidak perlu dikonfirmasikan. “Tolong cicipi.” Tanpa menunggu komentar Caden, aku memilih duduk di sofa dan pura-pura tidak peduli. Padahal dalam hati aku berkata, “Ayo cepatlah makan. Ayolah. Sini aku suapi.” Caden yang mengenakan busana bernuansa hitam dan ungu membuatku ingin melayang di pangkuannya sambil menuturkan kalimat cinta Romeo kepada Juliet. Pokoknya Caden nomor satu, yang lain tidak ada artinya. Tunggu. Keluar dari tubuh Moira tetap penting. Aku tidak mau terjebak di sini selamanya! Maaf, Caden. Walau dirimu tokoh kesayangannku, tetapi hidup di zaman ini amat tidak mengenakkan. Awalnya Caden terperangah, seolah makanan yang kusajikan itu diambil dari bukit setan atau jurang iblis. Sejenak tertegun, kemudian dia meraih sandwich dan menggigitnya. “Bagaimana?” Tanpa sadar aku bangkit, mendekati Caden. “Enak?” “Aku belum pernah makan seenak ini.” “Nah, lebih baik Kakak habiskan,” kataku sembari menarik tangan Caden dan mengarahkannya ke sofa. Aku letakkan piring di pangkuan Caden. “Makan dan jaga kesehatanmu. Kakak, kan, orang penting di Albastar.” Saat aku melirik ke belakang, ternyata asisten yang entah namanya siapa itu sudah tidak ada. Mungkin dia merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. “Kakak, kenapa kau bisa terluka di sini?” Aku menunjuk pipiku. Mana mungkin aku berani menyentuh pipi Caden yang indah itu? “Semalam ada kucing liar yang berani masuk ke kamarku,” jawabnya. Setiap kata diucapkan dengan intonasi khusus. “Untung dia tidak masuk ke kamarmu.” Hahaha. Kalau yang kaumaksud kucing liar itu si penyusup, sepertinya ... hahaha semoga aku tidak mengacaukan sesuatu. “Apa kita perlu memanggil penyembuh?” Tunggu saja. Aku pasti akan membalas luka di wajahmu, Caden. Akan aku rujak si penyusup! Tunggu saja. Beraninya dia melukai Caden! “Tidak perlu.” Aku mengangguk. “Kakak, boleh aku minta tolong?” Salah satu alis Caden terangkat. “Kenapa?” “Aku ingin pergi ke butik,” kataku. “Tidak perlu. Kau bisa mengundang perancang ke sini.” “Sebenarnya aku ingin sekalian jalan-jalan. Tapi, kalau Kakak keberatan.” Caden menghela napas. “Baiklah.” Aku hendak bersorak bahagia, tapi Caden menambahkan; “Namun, ada syaratnya.” Dasar antagonis! Bagaimana bisa kau memberi batasan kepadaku? *** Aku membatalkan rencana mengunjungi butik. Bukan karena kehilangan minat, melainkan persyaratan yang diajukan Caden. “Baiklah,” katanya. “Namun, ada syaratnya.” Nah masalahnya aku tidak suka dengan “ada syaratnya”. Mirip meminta pesugihan kepada Nyai Blorong. Kau akan mendapat kekayaan, tetapi sebagai gantinya harus mengorbankan sesuatu. Caden akan mengizinkan apabila aku memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Penjagaan. 2. Hanya boleh mengunjungi butik yang ditunjuk Caden. 3. Tidak ada acara mampir ke kafe alias langsung pulang. Amat tidak gaul. Dengan kata lain, norak. Memangnya aku anak SD yang perlu diwanti-wanti agar tidak ikut orang asing? Aku hanya ingin mengenyahkan korset dari daftar kebutuhan hidup Moira. Cuma itu. Gampang. Namun, tidak seindah perkiraan. Caden memiliki rencana sendiri terkait gaya hidup adiknya. (Mungkin) dia berpikir ada orang yang cukup gila berani menyerang Moira di siang bolong. (Mungkin) dia berasumsi ada sekelompok orang g****k yang ingin menculik Moira dan meminta tebusan. Padahal, ya, padahal reputasi Hoshana terkenal ganas; maka amat kecil kemungkinan ada mafia tertarik melakukan tindak kriminal terhadap Moira. Kecuali, menculik Moira demi meloloskan permintaan tertentu. Sekali lagi kemungkinan tebusan dan jaminan harus setara dengan besarnya risiko yang ditanggung si penculik. Dasar tidak kreatif. Maksudku pola pikiran mengenai menculik Moira. Antara takhta, wanita, dan harta; jelas Caden menitikberatkan pada takhta. Bukan tanpa alasan dia bersedia menebas leher ayahnya sendiri serta sederet kerabat demi melicinkan jalan menuju singgasana. Aku bahkan takjub mendapati Moira tidak menjadi salah satu korban kebiadaban Caden. Lelaki itu bisa cukup edan, dan memang edan, melenyapkan seseorang. Sadis, tampang oke, dan kaya. Jelas pembaca Be My Lover menempatkan Caden sebagai antagonis laknat-tapi-sayang-bila-dibuang. Mereka, para pembaca, bahkan berkomentar rela disakiti asal Caden pelakunya. Haha, lucu. Omong-omong, aku termasuk salah satu penggemar yang menyuarakan seruan serupa. Sekarang aku menyesal. (Kenapa dulu aku tidak mengomentari cerita normal sih?) Oke, mari kita singkirkan perkara culik-menculik, cacah-mencacah, dan antagonis sedeng. Sekarang aku ingin mengabari kalian mengenai seorang perancang bernama Madam Olenka. Dia hampir membuatku merasa “normal”. Tunggu, tolong jangan menilai diriku sebagai tukang kibul sebelum kalian mendengar penjelasanku. Oke? Madam Olenka tipikal wanita berusia kira-kira sekitar empat puluhan. Aku tidak yakin menilik riasan tebal yang kujamin menutupi usia asli Madam Olenka yang mungkin bisa lebih muda atau sebaliknya. Perawakannya tinggi kurus dengan garis wajah tajam dan sepasang mata yang mengingatkanku kepada ibu tiri Cinderella. Bahkan kacamata berbingkai emas yang dikenakan olehnya pun semakin menguatkan aura tegas dalam dirinya. Rambut wanita itu disanggul dan oh kalian harus memperhatikan pakaian yang dipilih Madam. Jenis gaun mengembang dengan kerah tegak. Jantungku mencelus saat melihat korset hitam yang menempel di pinggang. Oh tidak, jangan benda terkutuk itu! Pergi! Enyah dan kembalilah ke asalmu. Madam Olenka berdiri dengan postur tubuh sempurna; tegak, dagu terangkat, dan bahu lurus. “Yang Mulia, izinkan saya menawarkan beberapa rancangan edisi musim semi.” Untung saja aku duduk di sofa karena sepertinya kakiku mulai terjangkit sindrom kesemutan. Madam Olenka mengintruksikan seorang gadis (yang gaya busananya pun sebelas dua belas dengan majikannya) menyerahkan sebuah buku berisi ilustrasi desain yang keseluruhannya berkaitan erat dengan korset. Oke, aku berencana membakar butik Madam Olenka. Ada yang bersedia ikut? “Anda amat sempurna,” katanya memuji. Bahkan saat tersenyum pun Madam Olenka menampilkan deretan gigi cemerlang. Padahal aku berharap menemukan satu dua gigi emas yang mungkin ia pasang sebagai susuk. “Sepantasnya Anda mengenakan busana nomor satu.” Korset sialan! Lama-lama aku berpikir Caden bersekutu dengan dedengkot pembenci Moira dan berencana membunuhku menggunakan korset seperti yang dialami Putri Salju. (Sebagai informasi, dalam kisah Putri Salju di beberapa versi dia mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan; 1. Sisir. 2. Selendang. 3. Korset. Lalu, percobaan keempat menggunakan apel beracun.) Lebih baik aku mengajukan surat pengunduran diri sebagai anggota keluarga Hoshana daripada harus berjibaku dengan kesehatan organ tubuh. Persetan dengan kekayaan kalau tidak bisa aku nikmati. “Hmmm,” responsku sembari mengangguk-angguk. “Setiap detailnya akan dihias permata dan mutiara,” Madam Olenka menambahkan. “Serta sulaman benang emas. Anda pasti akan terlihat seperti dewi.” Dasar pembual. Bayangkan potongan intan mulia yang bila digabung pasti menambah beban hidup setelah korset dan kemungkinan mati terkena sesak napas. “Korsetnya pun akan dibuat khusus demi Yang Mulia.” Oke. Saatnya menemui Caden. ~♦♦♥♦♦~ “Kakak, aku ingin mengungkapkan keberatan.” Saat makan malam akhirnya aku bisa mengutarakan protes emansipasi. Semua wanita berhak mendapatkan jaminan kesehatan. “Ya, Moira?” Dalam balutan busana bernuansa hitam dan perak, Caden terlihat menawan seperti biasanya. “Aku mendengarkan.” “Aku tidak suka Madam Olenka,” kataku tanpa tedeng aling-aling. “Tidak bisakah aku keluar ke ibu kota?” Sontak Caden menghentikan kegiatannya memotong steak. Kali ini tatapannya terarah kepadaku. “Moira, kau bisa mendapatkan segalanya di sini.” Oho begitu? “Tapi, aku ingin perancang yang inovatif. Seseorang yang bisa membuatkanku pakaian tanpa unsur korset.” Caden meletakkan pisau dan garpu. Tidak meneruskan makan. “Hanya itu yang kauinginkan?” “Aku ingin jalan-jalan ke ibu kota,” kataku menambahkan, “tanpa legium prajurit.” “Sebaiknya habiskan makananmu,” Caden menunjuk piring yang sama sekali belum tersentuh olehku. Tanpa menunggu reaksiku, dia meraih piringku dan mulai memotong steak menjadi potongan kecil. “Semua orang berlomba ingin berada di posisi kita, Moira. Semua orang.” “Aku hanya ingin jalan-jalan.” Caden menyuapiku. Sesaat aku tertegun, bingung. Namun, setelahnya aku segera mengunyah daging yang disuapkan Caden dan kembali melanjutkan protes terkait ketidaknyamanan. “Ayolah, Kakak pasti mengerti.” “Sebentar lagi akan diadakan perayaan Albastar.” “Kakak, jangan mengalihkan pembicaraan.” “Akan ada pesta, dansa, dan jamuan,” Caden melanjutkan, mengabaikan protesku. “Bahkan kembang api.” Sontak pemikiran mengenai Ciara pun terlintas di kepalaku. “Apa Kakak mengundang Kerajaan Irshin?” “Formalitas,” jawabnya. “Mungkin mereka akan hadir.” Bel peringatan berbunyi nyaring. BAHAYA! BAHAYA! BAHAYA! Berdasarkan novel, Caden dan Ciara berjumpa pertama kali di perayaan Albastar. Bedanya, pada saat itu Moira dan Adrin telah menikah. Meski aku berhasil membatalkan awal kehancuran Hoshana, bukan berarti plot Caden menggila karena Ciara tidak mungkin terjadi. Caden, sebagai penggemarmu, aku tidak akan membiarkan dirimu jatuh hati kepada Ciara. “Kakak, apa kau akan berdansa dengan seseorang?” Seulas senyum khas antagonis-seksi-tiada-tara terpeta di wajah Caden. “Entahlah,” ungkapnya. Entahlah? ENTAHLAH? Hei! Kau tidak boleh begitu, Caden. Seluruh hidupku bergantung pada acara dansa-dansimu. “Kakak, sebaiknya tidak usah berdansa dengan siapa pun,” kataku menasihati. “Aku bahkan berencana menonton orang berbasa-basi sambil makan apel.” Ayo, Moira. Kau pasti malu, ‘kan, melihatku bersikap tidak elegan? Ayo, kembali sebelum reputasimu hancur. Ohohoho! “Kau tidak tertarik mengejar Gundry tengik itu?” Woei! Dasar tidak sopan. Kenapa kau tiba-tiba menyebut nama terkutuk yang tidak ingin aku dengar? “Kakak, jangan sebut nama seseorang yang tidak baik. Nanti kebahagianku bisa hilang.” Setelahnya kami tidak memperbincangkan Adrin maupun Ciara. Yeah sepertinya acara perayaan akan baik-baik saja. Aku, sebagai Moira, tidak mengganggu Adrin dan tidak ada alasan khusus membuatnya membenciku. Semua aman terkendali. Mungkin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD