Kali ini aku tidak protes saat pelayan membantu mengeringkan tubuh. Tangan terampil mengambil setiap kelopak bunga yang menempel di kulit dan terselip di rambut. Aku sengaja meminta gaun tidur baru dengan alasan terkena air—basah. Setelah memastikan rambut bersih dan kering, mereka bermaksud membersihkan kamar mandi, tetapi aku menyergah.
“Jangan,” larangku kepada mereka. “Besok saja.”
Satu kekurangan dalam rencanaku: Denah bangunan. Kamar mandi terhubung langsung dengan kamar tidur. Satu-satunya akses masuk ke kamar mandi hanya melalui satu pintu, dan; apabila ingin masuk ke sana, maka harus lewat terlebih dahulu melalui ruang tidur. Aku asumsikan si penyusup menyelinap ke kamar tidur saat aku berada di luar (mungkin dia terdesak dan secara asal memilih ruanganku). Lalu, kebetulan aku kembali di saat tidak tepat.
Intinya, dia masih ada di sini.
“Yang Mulia, kami izin undur diri.”
Akhirnya mereka pergi dengan selamat tanpa satu pun luka gores. Terima kasih.
Sebisa mungkin harus menghindari pertumpahan darah. Hitung-hitung berbuat kebajikan.
Meski enggan, aku kembali ke kamar mandi dan mendapati dia duduk di jacuzzi. Tangan bersidekap, kaki tersilang. Dasar kurang ajar! Apa dia pikir dirinya seorang bos besar? Sungguh tidak tahu diri. Tunggu saja saat ada kesempatan akan aku pukul dia. Tentu saja dengan bantuan Caden.
“Kau harus pergi,” kataku menyarankan. Aroma mawar menyerbu indra penciumanku. Lilin-lilin sebagian mulai habis terbakar dan menciptakan lelehan merah seperti gulali. “Jangan lewat pintu kamar karena Kakak menempatkan penjaga. Satu-satunya cara keluar dari sini lewat jendela. Kau bisa melompat, bukan? Seperti burung. Wuuuz.”
Terdengar dengus. Dia jelas menyangsikan penawaranku. “Semua Hoshana seperti anjing gila,” katanya, sinis. “Apa gunanya memercayaimu?”
Oh yeah, memangnya aku peduli?
“Ada banyak manfaat mendengar nasihat,” ujarku menyuarakan pendapat. “Satu, kau bisa pergi dari sini tanpa menumpahkan darah pekerja istana. Dua, hemat waktu. Terakhir, kau tidak perlu berkelahi.”
Cepatlah pulang ke sarangmu!
Dia bangkit. Berjalan anggun mendekatiku seperti harimau mengincar mangsa. Kini setelah jarak di antara kami hanya tersisa selangkah, kami pun berhadapan. Tubuhnya tegap. Aku harus mendongak saat berusaha menatap kedua matanya. Bisa saja aku memanggilnya Adrin. Namun, tidak. Belum tentu dia orang yang sama. Semoga dia bukan Adrin. Oooh jangan sampai. Tidak, tidak, tidak usah.
“Apa kau tidak takut aku akan mencelakaimu?”
Aku mengedik, tidak peduli. Toh aku sudah pernah mati. Kalaupun kali ini harus mati sebagai Moira, akan aku pastikan menyempatkan diri menghantui lelaki ini.
“Tidak ada untungnya membunuhku.”
“Benarkah?” Dia menunduk, mencoba mendekatkan wajah kepadaku. Namun, aku mengelak dengan mundur selangkah. “Kau bahkan tidak ingin menanyai alasanku ada di sini.”
Idih. Tidak usah, ya.
“Aku anggap kau pencuri t***l. Kalau kau butuh perhiasan, akan dengan murah hati aku persilakan kau mengambil perhiasanku. Tapi, tolong segera pergi dan jangan pikir melukai siapa pun yang tinggal di istana.”
“Kenapa?” Dia kembali mendekat dan aku pun mundur hingga punggung membentur pintu. “Tidak boleh melukai orang yang berusaha membunuhku?”
Hei! Halooooo, kau yang memutuskan menyelinap ke istana. Itu artinya kau yang bermasalah. Bukan kami!
“Mereka punya keluarga yang harus dihidupi,” kataku menjelaskan. “Kau tidak boleh menyakiti sanak saudara seseorang yang hanya ingin mendapatkan penghasilan agar bisa bertahan hidup.”
Para pelayan bekerja demi sebutir gandum. Sebagai manusia yang hidup di era kapitalis, amat familiar dengan istilah “kerja keras bagai kuda”. Setiap pekerja di sini, di istana, menanggung beban hidup sekian orang. Lebih baik menyelamatkan daripada melenyapkan. Itulah prinsip yang ingin aku percayai.
“Menarik.” Dia menempelkan kedua tangan di pintu, mengurungku di antara lengan. “Bagaimana bisa seorang Moira memikirkan orang lain?”
Kabedon. Aduh-aduh, sayang sekali aku tidak tertarik (kecuali Caden! Tidak masalah kalau dia yang melakukan kabedon). Sungguh menggelikan.
“Jangan meremehkan,” responsku sembari meliuk—merunduk lewat cela di lengan bawah. Tanpa ragu membuat jarak seaman mungkin dari dirinya. “Sekarang kau ingin pulang atau mempertimbangkan lowongan kerja sebagai tukang bersih-bersih?” Aku menunjuk kelopak bunga yang bertebaran di lantai. “Gara-gara kau, aku harus membatalkan ritual buang sial.”
“Kau seorang Hoshana,” katanya, pahit, seakan kata “Hoshana” terlarang disebut. “Selalu menjadi duri dalam daging.”
Tuan Penyusup, apakah kau tidak mengenal istilah “jangan terlalu membenci sesuatu”?
“Yuhuuu, pintu keluar di sebelah kananmu.”
Hening.
Dia diam. Mungkin dia mengira ada kerusakan dalam kepalaku.
“Keluar,” kataku. “Berhenti memikirkan cara membunuh Hoshana mana pun.” Tenang, Caden. Roh gentayangan yang satu ini akan melindungimu dari marabahaya. (Catat, selama aku menempati tubuh Moira.)
“Tapi, kalian boleh membunuh siapa pun?”
Lidahnya harus diolesi balsam. Sedari tadi tidak ada manis-manisnya. (Memang Caden yang terbaik. Dia manis, lembut, perhatian. Ooooh dengan kekuatan bulan, aku akan melindunginya. Sebagai Moira aku akan memotong tali merah antara Caden dan Ciara.)
“Tindakan membunuh tidak dibenarkan,” aku pun mengoreksi. “Kau bisa menjadi hakim keadilan dan menganggap semua orang pantas mati. Namun, keadilan hanyalah masalah sudut pandang pelaku. Hal yang benar menurutmu, belum tentu baik bagi orang lain.”
Dia hendak menjulurkan tangan, meraihku.
Oooo tidak bisa. Aku tidak mau.
Lagi-lagi, aku mengelak. “Kenapa tanganmu gatal ingin menyentuhku?”
Dia tersentak, seolah aku menamparnya.
Kali ini dia tidak membalas.
“Sekarang segera pergi,” kataku menyemangati. “Nikmati segala yang masih kau miliki dan lupakan rencana membunuh Hoshana. Hiduplah dalam kedamaian, Kawan.”
Sebenarnya aku hanya berpura-pura kuat. Ingin lari ke kamar Caden dan memberitahunya keberadaan si penyusup. Ada istilah mengenai pertempuran, “Kenali kelebihanmu maka kau bisa menaklukkan musuh. Namun, apabila kau tidak mengenali kelebihanmu, maka kau akan kalah.” Untuk saat ini, aku tidak tahu-menahu identitas si penyusup. Satu-satunya yang aku pahami hanyalah sekian keahlian milikku yang tidak membanggakan.
“Mari,” kataku sembari keluar dan mengarahkannya ke kamar tidur, “silakan melompat dan semoga kita tidak perlu berjumpa.”
Sinar rembulan menyeruak masuk melalui jendela yang terbuka. Angin malam berembus pelan menggoyang ranting pohon ek. Suasana temaram seolah dirancang khusus demi pertemuan tidak terduga ini.
“Kau benar-benar membiarkanku pergi?”
“Pergilah,” kataku, lirih. Sengaja aku berbisik agar penjaga tidak mendengar percakapanku. “Kecilkan suaramu. Apa kau ingin tertangkap?”
“Moira, selamat malam.”
Aku tidak membalas. Si penyusup akhirnya keluar melalui jendela. Pergerakannya amat lincah seperti tupai.
Mengeceknya?
Oooo tidak perlu. Sekarang aku hanya ingin menikmati tidur tenang tanpa gangguan.