4

1362 Words
Aku ingin mengabaikan perasaan tidak menyenangkan setelah perjumpaan dengan Eric. Namun, rasanya bel peringatan dalam kepalaku terus berdentang dan menyarankan agar melakukan sesuatu. Aku sih tidak keberatan melarikan diri dari istana, tetapi jaminan selamat selama perjalanan, kan, tidak ada. Nah, mari aku berikan penjelasan singkat mengenai kemampuan Moira. Nol besar. Dia terlahir dengan sendok emas. Itu saja kelebihannya. Kalau aku berencana meninggalkan istana, maka setidaknya aku harus mempersiapkan beberapa hal. 1. Peta. Demi kesehatan mentalku, aku tidak sanggup. Bahkan meskipun aku anak IPS, bukan berarti aku jago menafsirkan simbol dalam peta. Bahkan saat menggunakan aplikasi peta di ponsel pun aku masih kebingungan apalagi peta manual. Bisa-bisa aku tersasar ke sarang penyamun. 2. Uang. Begini, kawan-kawan. Moira itu sebenarnya miskin. Seluruh kemewahan dan kenyamanan yang dia nikmati berasal dari kebaikan hati Caden. Setidaknya seorang darah biru mewarisi aset; semisal pertambangan emas, perkebunan anggur, ataupun usaha dagang; tetapi, Moira tidak memiliki apa pun selain yang Caden berikan. Dia tidak jago dalam perniagaan, akutansi, bahkan seni. Satu-satunya bakat luar biasa Moira hanyalah membantu tokoh utama bersifat sadis. Moira tidak membantu Caden mengurus Albastar. Dia bahkan tidak menawarkan bantuan sekadar mengurus rumah tangga istana. Jelas-jelas dia bisa melakukan kolusi jabatan, tetapi kesempatan tersebut terlewat begitu saja. Tunggu sebentar. Bukankah itu menguntungkan bagiku? Aku tidak perlu mengurusi masalah baru selain cara keluar dari tubuh Moira. Bagus. 3. Kriminal. Aku tidak berani mengambil perhiasan Moira dan menjualnya demi membayar jasa pengawal. Lagi pula, dengan penampilan Moira yang terbilang di atas rata-rata, aku yakin dia menjadi sasaran empuk perdagangan manusia. Aku tidak mau berakhir di rumah hiburan. Tapi, aku juga tidak ingin terjebak di sini selamanya! Payah! Caden? Dia menyempatkan diri menemaniku, bahkan sekadar melihatku makan camilan dan membaca novel. Omong-omong, ternyata aku bisa membaca dan menulis! Aku kira kemampuan Moira tidak bisa kumiliki, ternyata ... oh tidak! Bukankah aneh aku pindah di dimensi ini dan bisa mengerti bahasa mereka semudah bahasa ibuku? Apa artinya aku akan terjebak di sini selamanya? “Pelayan, tolong tambahkan bunga-bunga ke dalam bak mandi. Usahakan semua warna ada di sini.” Oleh karena itu, aku melakukan ritual pengusiran. Bunga tujuh warna dan air yang diambil dari tujuh mata air. Aduh-aduh, mana mungkin aku bilang, “Masukkan air yang berasal dari tujuh tempat.” Mereka tidak mungkin mengerti! Akhirnya aku harus berpuas diri dengan bunga tujuh warna. Aku bersiap di kamar mandi-yang-luasnya-bukan-main. Pelayan meletakkan aneka bunga dalam keranjang anyam dan aku pun mengintruksikan agar mereka menaruhnya di dekat jacuzzi. “Malam ini aku ingin mandi sendiri,” kataku kepada mereka. “Kalian tidak perlu menolongku.” “Ta-tapi, Yang Mulia, tugas kami melayani Anda.” Begini, ya. Sebagai manusia yang berasal dari era berbeda, aku tidak nyaman dilayani orang. Aku tidak perlu merasakan beban tambahan saat mereka melihatku telanjang meskipun, sebenarnya, mereka menganggapnya wajar. “Tidak,” tolakku sembari mengangkat kedua tangan, memperlihatkan telapak tangan kepada mereka. “Aku ingin sendirian. Sekarang, tolong kalian pergi dan tinggalkan handuk serta jubah mandi di sini.” “Yang Mulia.” “Pergi atau aku adukan kalian kepada Kakak dengan tuduhan membuatku marah?” Sontak wajah mereka pun pucat. Akhirnya mereka pergi dan meninggalkanku. “Sekarang bagaimana caranya melepas korset sialan?” Aku mati-matian mengurai setiap tali dan hampir terjungkir. Korset, gaun, dan kamisol. Secara serampangan aku melemparnya ke lantai. Lalu, dengan rakusnya aku menaburkan kelopak bunga (yang tentu saja kucabut asal dari mahkotanya) ke dalam jacuzzi. Aster, mawar, melati, peony, teratai. Semuanya! Lalu, aku berendam dan merapal mantra: “Pulang! Pulang! Pulang ke asal. Pergilah ‘aku setan gentayangan’ dan kembalilah ke asal.” Melafal kalimat tersebut sembari membasuh diri dengan air. Lilin beraroma mawar membuat diriku merasa semakin mirip dengan setan. Padahal aku tidak minta dipanggil dan berinisiatif pulang tanpa diantar, tetapi teori ritual pengusiran setan mungkin hanya berlaku di sinetron. “Aaaah! Kenapa tidak manjur?” Akhirnya aku menyerah. Air hangat sama sekali tidak membantuku menghilangkan pikiran mengenai sejumlah skenario buruk terkait Adrin. Ditambah kemunculan Eric. Terima kasih, tekanan darahku langsung meroket. Emmm, berita buruk. Mandi bunga membuatku gatal. Sepertinya aku harus meminta tolong kepada pelayan untuk mengganti air dan mandi secara normal. Lagi-lagi, teori tidak sesuai dengan praktik di lapangan. Samar-samar aku mendengar keributan, tampaknya kamarku kedatangan pengawal sebab terdengar percakapan singkat antara pengawal dan pelayan. Kemudian seseorang mengetuk dan memohon izin: “Yang Mulia, bolehkah kami masuk?” Tentu saja yang dimaksud sebagai ‘kami’ ini pastinya pelayan perempuan, bukan lelaki. Aku hendak menjawab, tetapi tiba-tiba ada yang menyergapku dari belakang. Sepasang tangan menarikku rapat hingga aku tergagap. Tanganku sibuk mencakari tangan yang membekap mulut—menutup kesempatanku meminta tolong. Sesuatu yang tajam menekan leherku, membuatku diam. “Dengarkan aku,” kata suara yang terdengar dalam dan penuh peringatan. Jantung berdegup kencang, membuat aliran darahku berdesir dan dadaku pun terasa sakit. “Jangan biarkan mereka masuk.” Hah? Jangan biarkan masuk! Apa agar kau bisa membunuhku? Astaga. Apakah karena aku melakukan ritual pengusiran lantas membuat dedemit Albastar tersinggung? “Mengangguk kalau kau setuju.” Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Aku mengangguk. Terengah-engah, aku berusaha mempertahankan suara agar terdengar normal. “Jangan masuk,” kataku. “Aku tidak mau diganggu.” Mereka masuk, aku mati. Aku di sini, aku mati. Betapa menyenangkannya pilihan yang kudapat. Lagi-lagi, pengawal bercakap dengan pelayan. Kemudian. “Kalau begitu, maukah Anda keluar sebentar?” Hore! Aku bersedia! Aku mau! Aku ingin keluar dan berteriak, “Ada orang m***m di kamar mandiku!” Oh sial. Benda tajam yang menyentuh leher tidak bisa aku abaikan. “Aku tidak mau!” “Yang Mulia, tolong ...” “Tidak!” Oh aku ingin menangis. Moira, memangnya ada berapa musuh yang kaumiliki? “Aku tidak suka diganggu. Tolong, mengertilah.” Tolong mengertilah hidupku di ujung tanduk. Akhirnya tidak ada intrupsi. Terdengar langkah kaki yang berarti pengawal meninggalkan kami. Kini aku hanya bisa pasrah menghadapi pembunuh dan berharap setelah tewas tidak terperangkap di tubuh orang bermasalah. Ayo, lakukan. Tapi yang cepat agar aku tidak perlu merasa sakit. Perlahan aku bisa merasakan tekanan di leherku berangsur hilang. Lantas saat merasa aman, tanpa ragu aku memanfaatkan keteledoran si penyusup. Secepat kilat aku menjauh dan berusaha meninggalkan jacuzzi hanya untuk merasakan cengkeraman di tanganku. Dia menarikku hingga aku kembali tercebur, membuat air tumpah beserta sekumpulan kelopak bunga ke lantai. Tubuhku ditekan hingga punggung membentur pinggiran jacuzzi. Kini aku bisa melihat sosok si penyusup sebab kami berdua berada di dalam jazuzzi. Sosok itu memakai jubah hitam bertudung. Seluruh tampilan tersembunyi, kecuali matanya. Sepasang mata berwarna merah. Napasku seolah terhenti. Aku tidak ingin menganggap dia sebagai suami Moira, tetapi semakin disangkal, kian kencang lonceng peringatan berdetam. “Lakukan,” kataku, menantang. Suaraku terdengar serak, bahkan air mata pun tidak menetes. “Kau datang untuk membunuhku? Lakukan saja. Aku sumpahi dirimu impoten dan dihantui arwah gentayangan.” Sebagai setan, nanti akan aku cari setan lokal dan mengajak mereka bersekongkol menghancurkan siapa pun yang mengancamku! Jarak di antara wajah kami hanya terpisah sesenti. Dia bisa merasakan napasku menerpa pelindung wajahnya. “Membunuhmu?” Memangnya ada alasan lain menyusup ke kamar mandi perempuan selain kemungkinan membunuh? Setidaknya biarkan aku memakai jubah terlebih dahulu sebelum menusukku dengan belati. Aku tidak mau telanjang! “Kalau begitu biarkan aku pergi,” kataku mencoba membujuk. “Aku tidak akan memberitahu mereka, tapi kau harus pergi. Aku bahkan tidak peduli dengan semua urusan kotormu.” “Sejak kapan kau bisa dipercaya?” Sejak aku yang merasuki tubuh Moira ingin pergi tapi tidak bisa! “Sejak sekarang,” semburku. “Apa kau tidak tahu malu membiarkan wanita yang bukan istrimu telanjang? Lagi pula, kalaupun aku berteriak, kau pasti akan menghunjamkan belati ke jantungku.” Barangkali dia bersedia mempertimbangkan ucapanku. Akhirnya dia melepaskan cengkeramannya dan memberiku jarak. Sontak aku menyilangkan tangan di depan d**a dan merapatkan paha, berusaha menutupi ketelanjangan. Dasar penyusup tidak tahu diri! “Berbalik!” ujarku, marah. “Jangan mengintip dan carilah ramuan agar kau melupakan pertemuan kita.” Dia berbalik dan aku bergegas mengambil jubah mandi. Tanganku gemetar saat berusaha mengikat tali, beberapa kali aku mengintip—memastikan dia tidak menyerangku. “Aku akan pergi dan memastikan tidak ada yang masuk ke sini. Ingat, jangan sekali-kali kau menyerang pelayanku,” kataku memperingatkan. “Lekas enyah.” Tanpa perlu berpikir dua kali. Aku pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD