Vera terus menjauh dari rumah Kai, berharap agar taksinya cepat sampai. Tapi sudah beberapa menit tidak kunjung tiba juga. Padahal dari GPS kelihatannya dekat sekali.
Mungkin ia diam lama di trotoar pinggir jalan, orang-orang sekitar yang berjalan melewatinya merasa penasaran. Tentu saja, merekanpasti ingin tahu siapa gadis ini? Kenapa dia dari rumahnya Kai?
Di antara ibu-ibu, bapak-bapak dan sebayanya yang lewat, ada satu gadis SMA yang berhenti di depannya.
"Kak, dari rumah Kak Kai ya?" Tanyanya.
Vera inginnya langsung bilang, SOK TAHU. Dia sedikit sensitif pada orang yang ujung-ujung datang terus bersikap akrab seperti itu.
Gadis SMA tadi bertanya lagi sebelum pertanyaannya tadi dijawab, "Kenal Kak Kai ya?"
Vera terpaksa membalasnya, "Iya."
"Pacar baru? Atau anggota baru?"
"Anggota apa maksudnya?"
"Ya acara konseling remaja. Dulu aku ikut, seru ya!"
"Konseling?"
Vera semakin ingin tahu ada apa di pertemuan itu. Seharusnya seseorang melaporkan kegiatan ini jika positif doktrin. Tapi kelihatannya gadis ini normal seperti tetangga pada umumnya.
Tidak seperti Kai.
Atau Frei.
Atau lainnya.
Gadis ini tersenyum ramah padaku sambil berbisik, "Ya sudah Kak, moga betah ya sama Kak Kai. Dia orangnya aneh, Papanya juga."
Ketika dia ingin pergi, Vera menghentikannya seraya bertanya cepat, "Kenapa dengan Kai dan keluarganya? Kenapa Papanya pendiam?"
"Loh, Papanya'kan bisu."
“Bisu? Kok bisa? Nggak mungkin kayaknya.”
"Ya sudahya Kak! Buru-buru, betewe, namaku Jihan tetangganya Kak Kai, rumahku di sebelah itu pagar putih, lain kali mampir saja kalau bete sama Kak Kai, biasanya Kak Renata atau Kak Vanessa mampir soalnya," ujar gadis ini seolah-olah tidak peduli menawarkan orang asing untuk bertamu di rumahnya. Parahnya lagi dia seolah tahu Vera dan Kai pacaran.
“Mungkin itu karena dia Playboy,” Vera yakin.
Setelah gadis itu pergi, Vera mulai memikirkan tentang Papa Kai yang ternyata bisu. Lalu entah sengaja atau tidak, dia kok terkesan memberitahunya tentang semua itu. Pertama tentang Papanya Kai, kedua tentang Vanessa.
Vera sungguh curiga kebetulan yang terlalu banyak ini. Vanessa sering kesini dan mampir ke gadis bernama Jihan itu? Jihan sendiri adalah mantan anggota perkumpulan aneh? Pasti ada yang mereka semua sembunyikan.
Vera memikirkan hal itu hingga jemputan taksi datang. Bahkan ia lupa mengerjakan tugas kuliah hanya karena kepikiran Kai dan antek-anteknya.
Vera tidak tahan kemana-mana bertemu Kai. Padahal ini kampusnya, dia lebih sering ketemu dengan mahasiswa kampus lain ketimbang Deva.
Setiap pagi Kai sudah lalu lalang di lantai satu gedung fakultas Vera. Parahnya dia sangat mudah mengakrabkan diri dengan mahasiswa sini. Vera sangat heran dia bisa begitu mudah berteman.
"Eh ini pacar baruku, beda kampus tapi satu hati," kata Kai menyeret Vera agar mendekatinya untuk di pamerkan di kakak tingkat jurusan. Untung saja hanya dua cowok yang berdiri bersamanya.
Salah satunya kakak tingkat Vera yang punya wajah garang, potongan rambut bak tentara dan tubuh bagai binaragawan langsung menyelidikinya dari atas sampai bawah.
Vera ingin sekali mengatakan, 'Iya b**o, ini Vera, pacarnya Devano.', tapi lidahnya sudah bergerak.
"Oh Vera? Yang ospek nangis dikerjain Devano?" Lelaki itu seenaknya melontarkan gurauan garing seperti itu.
Semuanya tertawa, Vera juga. Formalitas, namanya juga kakak tingkat, dia tahu harus berbuat apa.
Mendengar nama Devano membuat Vera semakin terobsesi menemukan Vanessa. Orang yang selalu dicari sampai mengorbankan dirinya?
"Udah putus ternyata? Kok bisa? Kemarin bukannya masih yayang-yayangan?" Tanya kakak tingkat itu. Dia sepertinya hanya ingin mengejek, menggoda, atau semacamnya.
"Devano minggat, makanya Vera nempel kepadaku," jawab Kai bernada gurauan, "udah dari dulu'kan tidak cocok mereka."
"Kenapa tidak putus dari dulu? Deva punya pacar lain kalau nggak salah, sejak beberapa bulan yang lalu—atau sudah lama ya?"
Temannya yang sedari tadi hanya jadi patung, ikut menyahuti, "Oh, Vanny bukan?"
"Vanessa."
Kai tertawa saat ikut menyahut, "Mantanku, guys."
Vera terdiam lama memandangi mereka bertiga secara bergantian. Dia yakin mereka baru kenal beberapa menit yang lalu. Kenapa bisa sangat akrab?
"Oh, Sayang," Kai melirik Vera paham, "mereka ini satu SMA denganku dulu. Jangan kaget begitu, mereka temanku, pergaulanmu saja yang kurang luas."
"Udah ya," kata kakak tingkat Vera menepuk pundak Kai, "ngantin dulu. Bodoh amat dengan pacaranmu yang ganti tiap minggu."
"Oke."
"Hati-hati kena lion king."
"Gunakan protection!"
Vera mengamati Kai dalam-dalam. Satu hal, dua hal bolehlah dinamakan kebetulan, tapi semakin kesini semua hal yang terjadi di sekitarnya seolah sudah direncanakan. Semuanya yang berhubungan dengan Kai terus menerus mengukirkan nama "VANESSA". Kenapa namanya terus muncul? Apa mungkin hanya kebetulan?
Padahal baru bersama Kai hanya beberapa har, tapi semua kenyataan bahagia Vera hancur seketika. Takdirkah? Kebetulankah? Apa direncanakan seperti itu? Apa Kai merencanakan segalanya agar terjadi seperti ini? Atau dia adalah benang merah di kehidupannya?
"Siapa kamu ini, Kai? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Vera karena tidak tahan, "apa aku punya salah padamu sehingga membuat 'kesialan' terus terjadi padaku?"
Kai tersenyum kecil, "Memangnya kehadiranku ini membawa s**l menurutmu?"
"Frei masih hilang, lalu pac—Devano, lalu orang-orang yang bertemu denganku terus berkata 'VANESSA', tetanggamu, lalu mahasiswa sini juga? Kamu yang membuat mereka mendoktrin pikiranku agar terus kepikiran Vanessa bukan?"
"Renata, Vanessa dan sheila itu mantanku, mereka saling berhubungan untuk memanfaatkanku. Vanessa, suka memanfaatkan keadaan. Pertama, kenapa Vanessa hadir di hidupmu? Itu karena dia memanfaatkan Devano. Devano berhubungan denganmu. Aku—adalah jembatan yang akan membantumu menemukan si cewek s****n ini."
"Apa mereka bertiga teman, lalu sama-sama menghancurkanmu? Lalu Vanessa juga menarget Devano? Karena uang?"
Kai tergelak mendengarnya. Dia malah menepuk pundak Vera, lalu meremas sedikit kasar. Ia merendahkan kepala hanya untuk berbisik di telinga gadis itu, "Kamu tidak perlu seserius itu kalau sedang bicara tentang Devano. Kamu sudah tahu alasannya kenapa dia mencari Vanessa. Aku ini—sensitif kalau ada cewek yang banyak berakting."
Vera menyingkirkan tangannya, "Apaan sih! Aku ini serius! Akting apaan? Yang ada sikapmu yang mencurigakan! Kamu tidak serius menolongku'kan?"
Kai memandangnya dari dekat, "Bagus bagus—cinta baruku ini bagus sekali aktingnya. Aku ini bisa melihat masa depanmu loh, biar kuberitahu ya ..."
Vera mundur agar tidak terlalu dekat dengan wajah Kai. Ia tidak nyaman kalau saling tukar napas begitu, apalagi di lantai bawah ini ada CCTV.
"Kamu akan dipenuhi penyesalan karena terlalu mencintai seseorang, Veronique. Cintai aku saja, 50% saja, itu akan membuatmu jauh lebih aman ketimbang kamu memberikan hatimu 200% kepada Devano. Apa yang terlihat sering tidak sama dengan yang terjadi."
"Kamu ini ngomong apaan sih?"
"Ya—tapi aku paham kok. Aku tahu rasanya terobsesi—kebiasaanku itu, tidak bisa dihilangkan," Kai berusaha menyentuh dagu Vera. Setelah tersenyum karena tidak berhasil melakukannya, dia menambahkan ocehannya, "Kamu pasti menyesal nanti."
“Dengar, hubungan kita ini—hanya sebatas saling memanfaatkan, sebaiknya kamu berhenti memegangku.”
“Sorry, aku merasa kamu punya aura magnet, tanganku seperti ingin terus menyentuhmu.”
“Aku yang ogah kamu sentuh.”
“Katakan itu pada tubuhmu, Sayang, dadamu berdebar-debar barusan'kan? Aku saja sampai khawatir,” sindir Kai sambil tertasa culas.
Vera segera pergi dari hadapannya, keluar gedung dan berusaha tidak menoleh ke wajah penuh senyuman aneh itu.
Kai malah berseru, "Oh iya, coba kamu pergi ke gedung fakultas kesehatan yang sepi itu. Ada kejutan loh, tapi aku tidak bisa menemani karena ada kelas di kampusku sebentar lagi. Sampai bertemu besok ya, kutunggu curahan hatimu nanti."
Fakultas kesehatan sudah dihapus dari daftar fakultas kampus. Seluruh mahasiswanya sudah dipindahkan ke universitas lainnya sejak setahun silam. Jadi akibatnya, Kai benar, gedung yang tepat berada di samping gedung itu selalu sepi.
Bagi Vera, ucapannya itu terdengar mencurigakan. Ia ingin segera pulang saja, namun langkah kakinya malah menuju gedung itu.
***