09. Orang-orang di Sekitar Kai

941 Words
Kai mengajak pacar palsunya mampir ke rumah. Ternyata letaknya tidak jauh dari kampus Vera. Rumahnya sendiri berdiri di tepi jalan raya. Bangunannya cukup mewah, bertingkat dua, bergaya ala perumahan modern dengan d******i warna hijau yang menyatu dengan pohon-pohon di halamannya.  Vera tidak percaya tampang berandal seperti Kai ternyata berasal dari golongan orang berada. Padahal kadang ia memperhatikan selera berpakaiannya. Jangankan bisa disebut rapi, kadang ia merasa kemeja yang dia pakai seperti sudah berusia tahunan. Kemudian merek masuk melewati gerbangnya. Iya tempat ini juga dikelilingi gerbang hitam tingginya dua meteran. Ada seorang pria paruh baya yang sedang berkebun di halaman.  Kai menyapanya, "Siang, Pa, jangan kebanyakan main tanah, nanti ikutan tertimbun loh." Itu Papanya. Pria itu melihat Vera sesaat dengan tatapan kosong. Alih-alih memberikan salam, dia malah kembali memupuk bunga-bunga. Dia menghiraukan Vera seolah dia itu patung. "Ayo masuk tidak perlu terlalu formal disini, Love, Papaku tidak akan peduli dengan keberadaan kita," kata Kai menyeretnya masuk ke dalam ruang tamu. Tatapan mata pria itu sangat hampa seperti tidak peduli apapun. Saat Vera menoleh kembali kearahnya, mereka bertemu pandang sekilas. "Kai, Papamu kenapa? Kenapa aku merasa dia diam sekali? Tidak masalah ya?" Tanya Vera begitu duduk di sofa. "Empat ciuman untuk rahasia Papaku." "Nggak usah." Sejak mengenal Kai, satu per satu orang aneh muncul di depan mata Vera. Temannya Frei yang patah hati sampai kini belum ia temui, entah apa yang dia lakukan. Lalu pacarnya yang ternyata dalam senyumannya menyimpan banyak rahasia, sekarang malah menghilang karena fokus mencari Vanessa. Kai sendiri masih tidak mau terbuka pada tentang dirinya dan perkumpulan itu. Lalu sekarang papanya tampak menyembunyikan banyak hal. "Love, sebulan lagi kampus kita akan melakukan kerjasama kegiatan bersama. Kamu tidak mau menawarkan diri untuk ikut partisipasi?" tanya Kai. Vera beralasan, "Aku masih baru menginjak dunia perkuliahan. Lagipula aku baru tahu ada yang namanya December... Arts. Lagian ini kegiatan juga ngapain sih?" "Sebenarnya itu event-nya anak desain, event tahunan kampus kita, banyak kegiatannya, banyak juga stand penjual dari pihak mahasiswa atau promotor, ada penampilan-penampilan entahlah, banyak sekali. Aku tidak begitu paham rentetan acaranya, cuma ya tetap saja aku mewakili BEM Universitas ikut bantu mengurus administrasinya." "Oh." Kai mulai duduk di sebelah Vera, mendekatinya seraya melanjutkan, "Intinya, aku dan Devano itu disibukkan dengan event jurusan lain dan kami nanti akan tampil bersama loh. Kita lihat saja setelah kejadian ini, apa dia masih mau melakukannya." "Tampil apa?" "Ada acara band, Sayang." “Oh.” “Nanti ada modelling juga, harusnya kamu ikut,” sarannya sembari semakin mendekatkan posisi duduknya, "pinggangmu lekuknya bagus, jadi pasti menang." Vera sontak berdiri karena sedikit terganggu. Dengan tegas ia mengingatkannya, "Kai, aku mau mampir karena memang ini satu arah dengan rumahku, tapi bukan berarti kamu seperti mendekatiku seperti itu. Jangan terlalu dekat denganku!" Kai tertawa kecil, "Kamu terlalu serius. Dekat bukan berarti aku sedang menggodamu. Jujur saja, aku cukup senang dengan baumu."  "My God, mulai besok aku akan berhenti memakai parfum, jadi pastikan jangan dekat denganku. Paham?" "Kurasa bukan karena parfum," sahut Kai cepat. Dia memberikan gadiaseringaian aneh saat menambah ucapannya, “hidungku ini sensitif, aku menyukaimu, baumu sangat menyenangkan... apalagi sentuhanmu. Aku benar-benar terobsesi padamu.” “Kamu tidak malu mengatakan hal seaneh itu!” hina Vera tidak tahan, “please hentikan!” "Bagian mana yang aneh, Sayang?" "Obsesi? Apa-apaan sih kamu ini? Itu menjijikan." "Devano terobsesi ingin memiliki mantan pacarku, Freissy terobsesi ingin memiliki pacar orang. Aku terobsesi ingin memiliki pacar temanku. Bagaimana menurutmu? Cukup aneh ya?" “Pacar temanku? Maksudnya aku? Kenapa kamu seolah terus menyebut kalau aku dan Devano masih pacaran?” “Oh, maaf,” singkat Kai pura-pura terkejut. Dia jelas sedang mempermainkan Vera. Ada yang aneh dengan tatapannya ataupun senyuman bibirnya. “Masa udah putus?” bisiknya. Vera menegaskan lagi, "Hentikan ucapan konyolmu, intinya sekarang aku hanya berniat untuk mencari Vanessa. Jadi aku bisa tahu kenapa Deva terus mencarinya selama berbulan-bulan." "Oh iya, Sayang, aku lupa memberitahumu sesuatu. Ada salah satu anggota L.O.V.E, yang kalau tertarik pada seseorang, dia cenderung mengejarnya sampai dapat. Kalau tidak bisa didapatkan, dia akan menggunakan k*******n. Sebaiknya kamu tidak bertatap mata dengannya, dia mudah jatuh hati." "Hah? Masudnya? Ngapain ngomong itu padamu?" respon Vera tidak bisa lebih dari ini. Kai tersenyum lebar, "Dia teman kampusku, sifatnya sedikit mudah patah hati tapi juga mudah jatuh hati. Sedikit rumit menghadapinya. Jadi, jangan melihatnya terlalu lama nanti atau dia akan mengira kamu jatuh cinta padanya. Kalau itu terjadi, aku akan susah menyingkirkannya." "Aku bahkan tidak tahu orangnya seperti apa? Memangnya orang semacam ini ada di dunia nyata!" "Nanti akan kuberitahu. Saat dia datang, pastikan selalu menunduk, memandangku atau lihat lainnya saja, jangan melihatnya. Banyak sekali korban mahasiswi kampusku yang terpaksa pindah kota karena diteror. Dia juga sering dilaporkan polisi karena mengganggu privasi orang, intinya dia itu waras tapi sedikit ... creepy." “Bagaimana mungkin orang creepy sepertimu mengatakan orang lain creepy? Kalau orang sepertimu saja menganggapnya creepy, lalu aku yang normal ini bagaimana?” “Kamu suka banget nyindirin aku ya, Sayang? Aku kalau makin kesel, makin nafsu loh.” “Jangan-jangan benar, perkumpulan ini tempat mendoktrin orang untuk menjadi gila? Siapa orang yang biasanya menjadi pembicara ini? Kata Frei dia harusnya dosen psikologi'kan?” “Mau tau aja kamu, itu rahasia kelompok. Kamu'kan orang luar.” “Aneh ...” “Cium aku dulu, aku akan menjawabnya.” “Hentikan, Kai! Kamu tidak paham juga, kenapa orang-orang menjadi sangat aneh sejak aku bertemu denganmu!” “Aku ini kunci semua rahasia kalian, tentu saja saat aku datang, rahasia demi rahasiamu akan terbongkar. Jadi jangan main-main denganku, aku tahu apapun tentangmu.” “Bullshit! Jangan sok di depanku!” "Oh iya, Veronique Sayang, tambahan lagi, aku ini ... mahasiswa psikologi semester lima, cuma beritahu doang sih, biar kita akrab." Vera langsung bergegas keluar rumah, "Aku pulang saja." Kai mengikutinya , "Biar kuantar." "Nggak! Aku mau sendiri sekarang, Oke!" Vera pergi melewati Papa Kai yang sesekali menoleh. Satu-satunya pemandangan terakhir yang ia lihat adalah mereka berdua memandangnya dengan tatapan kosong. Langkah kaki gadis ini dipercepat di trotoar jalan sambil memesan taksi Online. Ia tidak mau terlalu dekat dengan Kai dan papanya yang aneh. Setelah mendapatkan pengakuan aneh tadi, ia semakin ragu bisa bertahan lama bersama mereka. Gadis ini mendadak paranoid. Bahkan di jalan yang mulai ramai kendaraan ini, ia berkali-kali menoleh untuk memastikan tidak diikuti. Mengerikan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD