08. Gara-gara Vanessa

838 Words
Sejak semalam Vera tidak bisa tidur karena masih memikirkan Deva. Padahal ia sendiri yang memutuskan hubungan mereka, tapi malah dirinya yang semakin merana. Vanessa, Vanessa, Vanessa. Vera sangat ingin melihat wajah si Vanessa ini. Saat ia berpikir bahwa Kai bisa memberikannya foto gadis itu, dia malah menunjukkan fotonya sendiri dan bilang, "Ini pandangi terus, nanti kamu pasti terobsesi padaku." “Aku penasaran dengan Vanessa! Bukan kamu, Kai!” protes Vera. "Dia sangat lebih cantik darimu, Veronique, aku nggak tega kalau kamu jadi nggak PD setelah tahu," sahut Kai dengan entengnya sambil meminum jus alpukat. Vera sedikit sensitif saat orang memanggil nama depan lengkap seperti itu, "Bisa tidak panggil Vera saja?" "Veronique." “Vera!” “Veronique ssaaayang ....” "Serah." "Minum jusmu, Honey." “Honey?” Panggilannya pada Vera berganti-ganti seenak jidat. Gadis itu amat tidak nyaman endadak harus sekomplot dengan orang semacam Kai. Apalagi Kai sering melakukan hal seperti jilat-jilat bibir pula seperti om-om. Vera merasa salah menjebak dirinya sendiri bersama Kai. Padahal ia hanya ingin bertatap muka dengan Vanessa. "Apa Vanessa benar-benar akan ada di pertemuan itu?" Tanyanya. "Kemungkinan 80% datang." "Sebenarnya dia ada dimana sekarang?" "Mana kutahu, sejak putus, aku memblokir semua tentang dirinya. Kalaupun dia hadir di pertemuan kelompok, aku pasti akan berusaha mengejarnya juga.." jawabnya malah menyeringai aneh padaku, "lalu bisa kusayat tubuh seksinya. Gadis sepertinya belum sadar kalau belum dikasari." Dia terkesan bercanda saat mengatakan itu, tapi nada suaranya layaknya sedang mengintimidasi. Caranya mengatakan itu benar-benar bagaikan ancaman yang ditujukan kepada Vera. Benar, seolah-olah agar gadis ini tidak berakhir seperti Vanessa yang mengkhianatinya. "Aku benci pengkhianat," tambah Kai. Ia mulai meraba punggung tangan kanan Vera yang ada di atas meja seraya mengatakan lagi, "jadi ya, jangan main-main padaku." Vera menarik tangannya, "Kai, maaf ya, percuma saja mengancam, kita cuma sementara, jangan sok memilikiku! aku bukan milikmu!" Kai tertawa terbahak-bahak, "Jangan serius begitu dong, Veronique, biar tidak tegang. Kamu terlalu memperbudak diri pada Devano." "Minggu depan aku akan melihat tampangnya Vanessa, setelah itu akan kubuktikan pada Deva kalau dia salah menduakanku!" "Jujur saja, dia lebih cantik darimu, bodinya bagus sekali, tinggi, intinya lebih baik darimu, tutur katanya lembut. Kalau dia tersenyum, tidak akan ada yang menolaknya. Tidak heran Devano sampai gila padanya, aku juga kok." Mendengar hal itu saja membuat hati Vera semakin sakit. Saking kesalnya sampai-sampai ia malas merespon perbandingan fisik mereka dari mata seorang laki-laki. Kai melanjutkan setelah jeda beberapa detik, "Cuma ya itu, wajah malaikat, hati iblis. Dia mudah diajak tidur sebenarnya, saat pacaran denganku saja sudah tidur dengan om-om, tapi kumaafkan saja karena aku mencintainya." "Menjijikan." "Sayanh, namanya juga cinta. Tapi itu dulu, sekarang aku malah ingin dia mati agar bodinya tidak mengacaukan pikiran laki-laki." "Apa kamu benar-benar tidak pernah kontak dengannya lagi?" "Tidak, sudah hampir setengah tahun." "Lalu dimana rumahnya?" "Dulu itu kusewakan apartemen, sekarang pindah-pindah. Entah ada dimana." "Kamu baik banget pada pacar yang sudah tidur dengan orang lain?" Reaksi Kai malah mencolek dagu Vera dengan cepat. Kemudian membisikkan, "Makanya sekarang aku mau memperbaiki sistem pacaranku, terutama denganmu, Sayang. Kamu nakal dikit, pasti libas ..." Vera meyingkirkan tangannya, "Apaan sih! Kita ini bahkan tidak serius pacaran! Disebut teman saja tidak bisa!" "Karena kita sama-sama disakiti, hubungan kita nanti pasti baik-baik saja." "Kai? Kamu sadar'kan? Kita tidak benar-benar pacaran loh. Kamu sadar'kan ya? Setelah kamu memamerkanku pada entah anggota-anggota anehmu dan aku menemukan Vanessa, kita akan kembali ke kehidupan lama kita. Kamu cepatlah kembali ke kampusmu sendiri dan aku akan membuat hidup Devano menyesal. Paham?" "Untuk sekarang, jangan terlalu terbawa suasana, kita santai saja, masih seminggu lagi. Sebaiknya ayo pergi ke wahana hantu sekarang sekalian kubelikan pakaian baru untukmu di butik agar nanti bisa kupamerkan dengan baik." "Aku punya banyak pakaian." "Sayang, maaf ya, mantan pacar-pacar ku selalu berpenampilan seksi," sindir Kai memperhatikan gaya busana kasual Vera yang 'anak kuliahan banget'. Ia tersenyum kecil seraya menyarankan, "usahakan seksi sekali, oke. Jangan khawatir, kamu aman bersamaku. Kalau ada yang melirikmu, akan kuhajar nanti." "Harus banget ya?" "Ya, aku tidak suka jalan dengan cewek cupu, pacarku harus cantik, seksi, dan nafsuin." Ia sangat berbakat dalam melukai hati gadis biasa seperti Vera. "Maafkan aku ya," ucapnya lagi sambil tertawa sedikit, "aku mendadak ingin sekali melihatmu tampil lebih menarik." “Kenapa juga aku harus menurutimu?” “Aku pacarmu.” “Nggak perlu!” "Sudah ayo! Kutunjukkan caranya membuat mantan menyesal telah melukai kita," ajaknya saat menyambar lenganku, "Kupilihkan dress seksi untukmu. Devano pasti menyesal nanti karena membiarkan pacarnya jalan denganku." Vera tersentak kaget, “Pacarnya? Aku ini sudah mantan ...” Kai tisak peduli pada pernyataan itu. dia bertanya hal lain, "Kamu suka warna apa? Selain hijau ..."  "Mmmm ... merah, hitam, abu-abu.." "Oke," singkat Kai mengangguk. Lalu memaksa Vera menaiki mobilnya yang terparkir depan kafe. Memang ada yang aneh dengannya. Dia bahkan memaksa gadis itu duduk, memasangkan sabuk pengaman, lalu merapikan rambut yang tergerai itu. Baru akhirnya bergegas ke kursi pengemudi. Saat Vera bertanya, "Untuk apa perlakuan tadi itu?" Kai menjawab "Aku terbiasa memanjakan para pacarku di awal pacaran, santai saja, Veronique." “Vera!”  Dari situ Vera sudah tidak mau mengobrol apapun lagi. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan atau rencanakan Kai. Ia membiarkan saja saat dirinya diseret ke butik, dipilihkan juga dress kelewat seksi. Kai selalu memilih dress pendek. Pandangannya yang terarah pada baju itu seakan membayangkan tubuh Vera ada di dalamnya. Dan.. Itu berlangsung selama beberapa jam. Bukan Vera yang memilih pakaian, Kai yang heboh sendiri. Gara-gara gadis s****n itu, gara-gara Vanessa. Aku tidak akan terima kalau dia berbahagia dengan Devano nantinya. Semuanya gara-gara VANESSA!, begitulah yang terus menerus memenuhi batin Vera. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD