07. Karena Vanessa

1330 Words
Sudah tiga hari lamanya, Vera memendam perasaan galau sendirian di rumah. Dia memblokir semua akun tentang Deva. Bahkan sampai tidak masuk kuliah karena takut bertemu pandang dengan dirinya.  Saat ini gadis ini juga mulai benci dengan sosok Frei. Meskipun demikian, dia sedikit menjelajahi media sosial temannya itu yang dipenuhi foto seorang laki-laki. Wajah laki-laki itu jelas tampan, tubuhnya berotot, sempurna di mata gadia manapun. Tiap jam ada saja foto baru tentangnya ini yang disebarluaskan. Caption yang tertulis berbunyi bahwa itu adalah sosok mantan yang sudah kembali menjadi pacar. Frei seperti terobsesi padanya. Lalu mantan pacar Vera juga kelihatannya terobsesi ingin menemukan Vanessa.  Sementara itu, Kai sendiri juga berkata kalau terobsesi pada Vera. Perkumpulannya sangat aneh seolah mereka telah didoktrin sesuatu. Vera tak henti-hentinya memikirkan hal buruk karena mereka semua. Ia sangat ingin mengetahui rahasia di balik siapa sebenarnya Vanessa itu. Ia sudah melakukan pencarian di dunia maya, siapapjn yang berhubungan dengan Deva, tapi hasilnya nihil. Tidak ada Vanessa dimana-mana. Dimanapun, kapanpun, kegiatan Vera beberapa hari belakangan hanyalah membuka laptop untuk memeriksa sumber lain tentang Vanessa. Di kantin kampus sekarang misalnya, ia malah sibuk bermedia sosial untuk stalk Deva ketimbang memakan camilan pesanannya. “Siapa dia! Awas saja!” ucapnya benci. Tak lama kemudian, ada pop-up pesan masuk email di laptopnya. Saat dibuka ternyata dari orang itu lagi. • From: Kaiden P. K Email: Kaiden69@coldbf.com Pagi, sendirian aja, jomblo ya? • Vera sontak kaget. “Apa-apaan dia ini! Tidak ada yang tahu alamat emailku sebelumnya! Bahkan Deva sekalipun! Lagipula selalu kusembunyikan dari publik!” ucapnya serius. Ia segera menghapus pesan itu sambil terus memggumam panik, “bagaimana orang yang kebetulan bernama Kaiden ini mengirim pesan padaku?” Tiba-tiba saja Kai berjalan menghampiri gadis ini dari belakang. Ia seenaknya duduk di kursi depannya. Kehadirannya ini sukses membuat Vera sangat syok. Apalagi dia tengah memegangi ponselnya seolah sedang mengetik pesan. Pop-up email kembali muncul di pojokan layar laptop Vera berbunyi: • From: Kaiden P.K Email: Kaiden69@coldbf.com Aku PDKT boleh ya? • Vera metatap matanya dengan tajam seraya membantah keras,"Sok tahu! Tidak usah ikut campur urusan orang. Lagian sampai kapan kalian ada di kampusku!" "Kampus kita dekat, aku masuk sore, kerjaanku juga sedang libur. Jadi kalau lagi tidak ada kerjaan gini, lebih baik menonton dramamu dan Deva." Vera mengamati sekeliling dimana hanta ada beberapa mahasiswa membeli kue di stand kantin. Ia menegaskan kembali pada Kai, "Jauhi aku, entah mengapa semakin lama, kamu semakin ikut campur urusanku. Aku hanya ingin sendirian sekarang." "Kasihan, sudah diduakan, putus, mantannya malah masih fokus mencari gadis lain sampai tidak masuk kuliah." "Bisa diam?" "Daripada stres karena tidak tahu siapa itu Vanessa, kenapa tidak tanya padaku saja? Sudah kubilang bukan, aku mantannya." "Bohong'kan?" "Nggak dong, Love. Dia memang mantanku, aku punya banyak gadis kesayangan, hanya saja semuanya b******n. Maafkan ucapan kasarku, maklum saja, hubungan percintaanku selalu berakhir sia-sia," ujarnya memberikan Vera senyuman manis yang dibuat-buat. Setelah terdiam beberapa detik, ia melanjutkan informasinya, "Vanessa itu mantan pacar keduaku. Dia sangat cantik, dia punya Villa di kota sebelah. Biasanya kami b******a disana." Vera bertambah pusing mengetahui hal privat semacam itu. Ia segera menyela, "Aku tidak butuh informasi berdasarkan curhatanmu, Kai. Pergi sana!" "Apa kamu tidak penasaran dengan Vanessa? Dengan alasan mantan pacarmu mencarinya? aku bisa mengajakmu ke pertemuan itu minggu depan. Asal kamu tahu saja, kebetulan pertemuan selanjutnya ada di Villa itu, Vanessa pasti ada disana, juga Devano, juga temanmu Frei dan pacar khayalannya." "Kenapa kamu menyebutnya pacar khayalan? Frei terus memajang foto pacarnya di medsos, dan itu gambar orang bukan gambar kartun." "Mungkin saja pacar orang." "Apa-apaan sih kalian ini! Siapa kalian ini!" Sentak Vera yang mendadak muak karena semua orang terus menyembunyikan sesuatu. "Ikut saja denganku ke pertemuan itu, lihat sendiri, nanti juga tahu, bagaimana?" Vera mulai waspada, "Syaratnya?" “Kamu bergabung saja,” jawab Kai bernada rayuan. "Itu saja?" "Tapi biasanya kalau bergabung, harus menunggu sebulan baru boleh ikut pertemuan, kecuali ..." "Apa?" "Jadilah pacar sementaraku. Aku ini ketua bulan ini, jadi aku bisa menentukan persyaratan anggota yang masuk ke pertemuan di bulan ini." "Untuk apa?" "Maksudnya?" "Untuk apa aku jadi pacarmu?" "Itu syaratnya, maksudku syarat khusus dariku. Syarat instan, tidak perlu gabung secara resmi, cukup ikut saja denganku liburan, maka kamu akan hadir di pertemuan." "Sebaiknya tidak usah." "Yakin? Yakin banget tidak mau menyelidiki Devano?" "Tidak dengan orang gila sepertimu." "Jangan jual mahal, aku juga tidak sedang menggodamu, Love. Aku membutuhkanmu untuk sesuatu juga." Vera sedikit keberatan dengan ucapan tidak sopan barusan. Ia bertanya hati-hati, "Sesuatu apa?" "Pamer doang." Karena aku diam saja, dia menegaskan lagi, "Beneran. Pamer doang. Aku ingin memamerkanmu pada semuanya, termasuk mantan-mantanku. Bagaimana?" "Mmmm .... oke kalau sebatas itu," terima Vera dengan sedikit ragu. Ia mengalihkan pembicaraan karena teringat ucapan lelaki itu tadi, "oh iya, kamu tadi bilang ya, kamu itu ketua bulan ini? Maksudnya setiap bulan ganti?" "Iya tentu saja, itu juga bagian dari pelatihan masing-masing anggota. Kita semua adalah calon pemimpin, dan calon pemimpin itu berkuasa bukan dikuasai." “Apa maksudnya itu?” "Sebagian besar anggota L.O.V.E itu adalah mereka yang tersakiti karena seorang dominan. Orang sepertiku yang dulu selalu memanjakan pasangan, rela diperintah atas dasar cinta nyatanya berujung kecewa. Jadi disini kita belajar memerintah bukan diperintah." “Wah ... sekumpulan orang yang tersakiti lalu jadi egois.” "Kadang-kadang bersikap egois itu sangat perlu kalau berhadapan dengan bajingan." Vera berpikir kalau itu adalah hal yang kenakan-kanakan. Dia pun mendengus tidak suka. Kai malah tersenyum menggoda, “Masa sih? Aku kekanak-kanakan? Aku sudah dewasa kok, mau semalaman sama aku, Love, akan kubuktikan ...” “Hah?” kejut Vera yang tidak menyangka isi hatinya dibaca dengan mudah, “kamu aneh.” “Jadi Devano lebih dewasa dari aku? Yakin?” Ver mendadak galau lagi mengingat Devano, "Tapi kalau aku disana, di pertemuan itu, aku akan bertemu Deva ..." "Itu namanya gagal move on," potong Kai dengan cepat seolah ingin meledek, "aku juga sering berpikiran seperti itu. Aku malas kuliah karena ada mantan-mantanku di kampus, tapi dengar, Veronique, kamu sudah diduakan. Jadi bersikaplah mahal sedikit, jangan habis disakiti lalu lembek begini, itu namanya b***k cinta." “Kayaknya kamu yang terdengar seperti b***k cinta!” “Nggak dong, sekarang aku dominan, cewekku noleh dikit, aku cubit ntar.” “Aku tidak peduli denganmu, aku seriusan mencintai Deva. Orang normal juga sakit hati setelah berhubungan setahunan malah seperti ini.” “Iya, iya, nggak usah ngegas dong, aku tambah nafsu.” Vera merinding. Kai tertawa melihatnya kaku. "Cukup, sekarang katakan padaku semua tentang mantan sialanmu itu..." kata Vera kemudian, “jangan membahas hal lain!”  "Intinya dia itu sebenarnya menduakanku, tidak tulus denganku. Ya walaupun sakit hati, tapi setidaknya aku sering mengajaknya tidur bareng." Dia mengatakan itu tanpa beban sama sekali. Meskipun yang tengah diajak bicara adalah seorang wanita, dia sepertinya tidak malu. Bahkan masih membicarakan betapa bencinya dia kepada mantannya yang bergender wanita itu. Vera menghentikan ujaran kebencian dari lelaki itu, "Tidak perlu sebenci itu dengan wanita, Kai!" "Tidak juga, tapi aku tetap tidak suka dengan tipu daya mereka. Kebanyakan ngomong cinta, ujung-ujungnya ada maunya." "Maaf ya, bukannya cowok yang lebih sering seperti itu?" "Oh, menurut pengalamanku, cewek yang kebanyakan genit, penggoda, sok polos, tapi endingnya bikin sakit hati." "Aku tidak mau berdebat masalah konyol. Jika kamu pembenci cewek, lebih baik sana pergi dan b******a saja dengan tembok" Kai malah tertawa. Ia perlahan mencondongkan wajahnya pada Vera, lalu berbisik, "Kurasa pilihanku kali ini tepat, minggu depan, kuajak ke tempat favoritku. Kamu akan suka, disana memang tempatnya orang galau... kita bisa menghabiskan malam bersama disana dengan romantis." "Tidak. Terima kasih. Cukup antar saja aku ke pertemuannya. Jangan terus mengatakan hal aneh padaku." “Aneh apanya? Itu hanya ajakan bercinta.” “Diam!” “Kamu masih virgin'kan ya?” “DIAM!” “Setahun nggak diapa-apain, Deva, ada yang aneh. Itu karena kalian tidak saling cinta, kalian pura-pura pacaran, atau memang Deva-mu itu impoten.” “DIAM KAMU DIAM!!” "Oke, oke, jadi setelah bertemu Vanessa, kamu mau apa?" “Bukan urusanmu!” “Jangan membentakku dong, Veronique, jawab yang lembut. Kalau kamu ngasari aku terus, nanti kamu kubuat takluk loh.” Vera mengembuskan napas panjang. Ia berusaha tenang agar pandangan tidak sopan Kai berhenti tertuju padanya. “Entahlah, aku hanya ingin tahu siapa apa dia lebih cantik dariku atau apa, jujur saja, aku tidak terima perlakuan ini." Kai terdengar mengejek, "Oh so sweet." "Intinya kamu pamerkan saja aku, tidak masalah. Aku juga akan berpura-pura jadi pacarmu. Tapi saat kulihat Deva, aku akan mengikutinya sampai bertemu Vanessa." "Pura-puranya mulai dari sekarang saja. Seminggu itu lama, kita jalani saja dulu. Besok ke wahana hantu di dekat alun-alun yuk, seru kayaknya." "Maksudnya?" "Nge-date dong." "Buat apa?" "Jangan anggap serius begitu, anggap saja teman jalan. Aku tidak terlalu dekat dengan teman-temanku. Lagipula, keseringan bergerombol dengan cowok-cowok membuatku mual." "Maaf, aku tidak mau." Kai pergi meninggalkannya sambil berpesan, "Sampai jumpa besok pagi, Veronique Kesayanganku! Kita harus saling mengenal sebelum bobok bareng." Vera malah fokus ke layar ponselnya yang sepi pemberitahuan. Biasanya pasti dipenuhi pesan Deva. Sekarang aku sendiri lagi. "Gara-gara Vanessa.." katanya meremas ponsel itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD