Deva mengajak pacarnya duduk berdua di meja makan. Dia kelihatan lebih waspasa ke sekelilingnya seolah takut didengarkan. Kelakuannya sangat aneh, tidak pernah dia seperti ini.
“Kamu percaya padaku'kan?” tanyanya.
"Ada apa sih?" Tanya balik Vera cemas.
Deva memegangi tangan gadis itu saat mulai bicara, "Aku minta maaf sebelumnya, aku tahu kamu dan Frei ke gedung pertemuan itu. Aku ada disana, di dalam gedung ... tapi aku tidak tahu kalau kamu bertemu Kai."
Vera menahan diri untuk tidak menelan mentah-mentah pengakuan ini. Setelah menenangkan diri, dia bertanya, "Kenapa kamu disana?"
“Disana itu aku ....”
“Dev?”
"Aku mencari seseorang."
"Dev, kamu tidak mencari Vanessa atau siapapun ini'kan?"
Deva menjawabnya dengan jawaban melebar, "Begini Vera, bukan maksudnya aku mencarinya lalu artinya ada hubu ..."
"Jadi iya!" Potong Vera mulai marah dengan pernyataan itu.
"Bukan, Sayang."
"Iya atau tidak?"
“Vera, Vera, Sayang, tenang dulu ...”
“Cepat katakan!”
"Masalahnya terlalu kompleks, kamu jangan tiba-tiba meninggikan suaramu begini, kita bicara baik-baik."
"Iya atau tidak!"
"Iya. Iya benar, aku mencari Vanessa."
"Kenapa kamu di perkumpulan itu? Itu tempat apa? Kenapa Frei jadi hilang setelah kesana? Dan untuk apa kamu mencari Vanessa? Siapa dia?"
"Itu tempat perkumpulan biasa, hanya saja mereka fanatik pada sesuatu. Maksudku, mereka aneh dan selalu punya obsesi tersendiri, seperti Frei itu yang terobsesi pada pacarnya. Iya, aku tahu tentang Frei, aku minta maaf menyembunyikan ini darimu. Saat itu aku melihatnya di gedung, dia sedang berdebat dengan seorang dosen. Aku tidak tahu jelasnya karena setiap ada perkumpulan, aku selalu menyelidiki tempat itu untuk mencari Vanessa. Aku menjadi anggotanya tiga bulan yang lalu. Pertemuannya biasanya dua minggu sekali."
Vera melototinya dengan amarah yang sudah tidak bisa dibendung. Akhirnya ia tahu tempat apa itu, salah satu anggotanya ternyata Deva sendiri.
“Kai benar?” tanyanya serius.
“Begini, tidak sepenuhnya benar, awalnya ...”
“Jadi, Dev, temanku menghilang karena terobsesi pada pacarnya, lalu kamu terobsesi pada Vanessa. Oh, itu perkumpulan orang buta cinta!" Rangkum Vera mulai menarik tangannya dari genggaman Deva.
"Aku tidak terobsesi padanya!" bentak Deva sambil berdiri dan menggebrak meja seakan ucapan barusan menyinggungnya.
Vera membalas bentakan itu, "JANGAN MEMBENTAKKU!"
"Karena kamu salah paham!"
"Salah paham katamu? Siapa yang pacaran diam-diam dan bergabung dengan geng orang aneh untuk mencari pacar gelap?"
"Tidak begitu!"
"Lalu siapa dia!"
Deva kembali menoleh ke berbagai arah, paling serius saat melirik jendela. Tak lama kemudian dia mengakui kembali, "Oke, oke, oke, singkatnya, dia memang pacarku. Iya benar, tapi itu bukan berarti ini obsesi dan aku terpaksa. Intinya sekarang, aku harus menemukannya karena hal lain!"
"Jadi kamu pacaran dengan orang lain juga selama ini? Membodohiku? Membohongiku? Lalu dia menghilang dan kamu jadi kebingungan sampai rela masuk geng aneh demi mencarinya? Oh cinta banget kamu ya?"
"Jangan memancingku, Vera."
"Berapa lama?"
"Aku mencari Vanessa itu—"
Vera menyela dengan tegas, "Katakan saja, jangan banyak bicara selain jawaban dari pertanyaanku, berapa lama kalian bermain di belakangku!"
"Jangan meninggikan suaramu terus!”
“Kalau gitu jawab dong!”
“Bermain apanya sih hah? Sudah kubilang terpaksa, kamu paham ucapanku tidak!"
"Jawab saja, Dev!"
"Inilah aku benci sifat egoismu, inilah kenapa aku selalu menyembunyikan hal-hal penting darimu.”
“Aku egois katamu, lalu kamu apa!”
“Kamu sungguh tidak bisa diajak bicara!"
"Kamu selingkuh, Deva! Tidak ada selingkuh yang dibicarakan dengan pasangannya!"
"Aku terpaksa!”
“Macarin orang karena terpaksa? Oh alasan apa itu? Yang benar saja, Dev!”
“Ini serius, dengarkan aku dulu ...”
“Omong kosong sudah, omong kosong,” ucap Vera menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia mulai menangis tersedu-sedu.
Deva perlahan menyentuh lengan gadis itu. Suaranya melembut saat mengatakan, “Maaf, maaf, tapi sekarang kamu mau mendengarkanku atau tidak?”
“Maaf kamu bilang? Enak saja bilang maaf!” kesal Vera menurunkan tangan. Dia mendorong tubuh Deva agar jauh darinya, "kalau aku pacaran dengan orang lain juga, aku minta maaf boleh? Terus dimaafkan?"
"Lihat aku, menurutmu apa aku sudi melakukan ini?"
Vera mengeluarkan emosinya, “Kamu sudah bohong tau!”
“Vera, tenang dulu—”
“Jadi saat aku, pacarmu, diganggu Kai, kamu ada gedung s****n itu mencari pacarmu yang lain?”
Deva hanya mengembuskan napas penuh kebimbangan. “Sayang, kumohon!”
"Begini saja, pergi dan temukan dia!" bentak Vera sambil mendorong Deva lagi dan lagi agar segera pergi dari rumahnya, "aku mau tidur!"
"Percayalah padaku, Vera, besok aku akan menunjukkan sesuatu padamu.." mohon Deva mulai melembut. Ia malah tidak mau beranjak dari hadapan sang kekasih.
“Sesuatu apa?”
“Alasanku mencari Vanessa, aku tidak mencintainya sama sekali, aku mencintaimu, Sayang.”
“Kalau gadis bernama Vanessa itu belum kutemui, memang sulit tau benarnya ucapanmu.”
“Nah itu dia, maka ayo cari sama-sama!”
Vera melototi sang kekasih itu dengan penuh kemurkaan, “Enak saja kamu bilang kayak gini ... pasti kalian ....”
“Aku serius, Sayang, kamu akan tahu seabnya nanti.”
“Tentu saja, kalian sudah bekerjasama untuk membodohiku kalau-kalau ketahuan!”
“Ketahuan selingkuh? Vera, tadi aku yang memberitahumu! Aku ingin jujur tentang hal lain padamu!”
Vera mengusir Deva pergi dari rumahnya. Dia menutup pintu dengan paksa, lalu berteriak, “PERGI SAJA SANA!”
Deva mulai mengedor pintu rumah itu seraya berseru, "Vera! Tolonglah sebentar saja! Vera! Aku berusaha jujur padamu! Vanessa memang pacarku tapi ada alasannya—"
“Alasannya ya karena kamu playboy!” Vera mundur dari pintu itu. Kedua matanya sudah sembab karena air mata yang terus mengalir.
“Vera—” Suara Deva mulai berat yang menandakan bahwa ia masih kesulitan mencari alasan.
Vera tidak sanggup menahan genangan air matanya lagi. Dia segera kembali ke dalam rumah dan memikirkan cara untuk tidur malam ini.
"PULANG SANA!" Bentaknya.
Sementara itu Deva masih berusaha mendapatkan perhatiannya, "Sayang! Tolong percayalah padaku, biarkan aku jelaskan dulu masalah intinya. Tapi nanti kamu jangan syok mendengarnya—
"
Vera merasa dadanya berat setelah bertengkar dengan Deva. Mereka tidak pernah berseteru sebelumnya. Ia tahu kalau kalau ini permasalahnnya sudah fatal. Jadi ia memutuskan berbalik untuk menuntaskan segalanya.
Semuanya akan selesai kalau kata itu terucap dari bibirnya.
Ia membuka pintunya lagi.
Deva masih setia berdiri di ambang pintu dengan wajah terselimut rasa takut dan kesedihan. “Vera—”
"Dev, maaf aku tadi belum bilang. Kita putus," ucap Vera cepat. Dia bukan tipikal orang yang suka basa-basi. Dadanya semakin sesak melihat wajah sang kekasih.
Dev menghela napas panjang pertanda kecewa berat pada putusan itu. Kepalanya terus menggeleng seraya bergumam, "Vera, Kamu ini keras kepala sekali—"
Namun bagi Vera, selesai ya selesai. Tidak ada urusan lagi. Setidaknya malam ini dia bisa tidur dengan tenang setelah menangisi keadaan.
***