^^
Entah rasa apa yang hinggap dihatiku, tapi sebisanya aku akan menepis rasa ini sejauh mungkin.
Aku tak ingin memikirkan suatu hal yang aku sendiri tak mau pikiran ini muncul begitu saja dalam benakku.
°Abraham°
***
Satu minggu sudah Abraham tidak bertemu dengan wanita bercadar itu, ditambah karena dia sendiri yang sering berdiam diri di rooftop ketika jam pulang. Rasanya malas jika harus ke kantin, mengingat kejadian terakhir kali di kantin yang tiba-tiba memeluk wanita bercadar dan mendapat hadiah tamparan dari wanita itu.
Ada banyak rasa yang hinggap dihati Abraham ketika tidak bertemu dengan wanita bercadar. Ada rasa bingung, ada rasa aneh, merasa kehilangan, dan bahkan merasa kesepian. 'eh, wait! Merasa kehilangan dan kesepian? memang dia siapanya gue? pacar juga bukan, dan yang paling utama, dia bukan type cewek yang gue idamkan, pikir Abraham.
Sebisa mungkin Abraham akan menepis semua rasa yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Dia tidak mau berlarut-larut dalam pikiran yang ia sendiri pun tidak mau memikirkannya, nggk guna! batin Abraham.
Untuk urusan wawancara kalian tidak perlu khawatir, karena Abraham dan Samuel sudah menemukan target pengganti dari wanita bercadar, siapa lagi kalau bukan Seyra Angelina Pratama, alias adik dari Abraham Shandika Pratama.
Mereka terpaksa memilih Seyra sebagai pengganti target untuk diwawancarai karena beberapa alasan, diantaranya:
1. Seyra sendiri yang memaksa.
2. Tidak ada pilihan lain selain Seyra.
3. Karena waktu yang mepet.
4. Tidak mau ribet nyari orang lain.
5. Balik ke alasan nomor satu.
Tenang saja wawancaranya cukup memuaskan dan tidak seburuk yang dipikirkan Samuel, karena Seyra juga termasuk Mahasiswi yang pintar di jurusan kedokteran, walau masih menduduki nomor dua, sebab ada satu orang lagi yang sama pintarnya seperti Seyra di jurusan kedokteran, yang selalu menduduki nomor satu di kejurusannya.
---
"Woy, Sam! Kantin, kuy!" ajak Abraham penuh semangat dengan menepuk bahu Samuel.
"Widdih-widdih ... Bentar-bentar-- " ucap Samuel terjeda, karena menempelkan punggung tangannya di kening Abraham, yang membuat si empunya mengernyit bingung. "Kagak panas perasaan, ada angin apa, coba?" lanjutnya dengan kepala yang manggut-manggut seakan sedang memikirkan sesuatu.
Abraham yang mengerti maksud dari Samuel langsung menepis tangan sahabatnya yang masih berada di keningnya.
"Ellah, gue ngantin salah, gue ngurung di rofftop salah. Mau lu apa sih, Sam?" tanya Abraham geram.
"Ya, kali aja lo kerasukan penunggu ni kelas. Tumben-tumbenan lo ke, kantin. Biasanya juga nge-galau-in si do-i," ujar Samuel penuh penekanan di setiap kata ngegalauin si doi.
"Doi? Siapa? Gue kagak punya doi perasaan. Walaupun gue ganteng, tapi gue jomblo," ucap Abraham polos.
Nah, Abraham jomblo, tuh. Ada yang mau??
"Itu tuh, si wanita bercadar. Lo diem-diem jadi love secretnya dia, kan, hmm?" tanya Samuel sambil menaik nurunkan alisnya.
Pletak!!
Samuel meringis kesakitan, ketika keningnya diberi hadiah sebuah jitakan dari tangan mulus Abraham.
"Aww.. Sakit, b**o! ini kening udah gue rawat berabad-abad, dan loe seenak jidatnya main ngejitak? Ternoda sudah, kening suci guee!!" pekik Samuel yang awalnya serius, menjadi ngawur di akhir kata.
"Ellah, Lebay amat, lo! Baru juga jitakan bukan bogeman. Udah, ah, ayok mending ke kantin," ajak Abraham yang langsung menarik paksa tangan Samuel ke luar kelas menuju ke kantin tanpa menunggu persetujuan Samuel terlebih dahulu. Bodo amat, dah, orang lain mau ngira gue apaan! pikir Abraham.
Perlakuan Abraham yang menarik lengan sahabatnya itu menjadi perhatian orang-orang disekitar. Tiba-tiba saja muncul sebuah ide di pikiran Samuel.
Samuel langsung tersenyum penuh arti, merubah mimik wajah dan tingkahnya, seakan-akan dia sedang merasa sedih karena ditarik paksa oleh seseorang. Sontak saja, tingkah Samuel menjadi bahan tawaan dari semua orang yang berada di lorong kelas. Setelah sampai kantin, sahabatnya itu langsung mendudukkan dirinya di bangku.
"Iih, Babang kok tega sih narik-narik eneng kaya gitu? sakit ni tangan eneng," rengek Samuel yang dibuat-buat seperti perempuan.
Abraham hanya bergidik ngeri melihat tingkah laku sahabatnya, 'untung lo sahabat gue, Sam!' batin Abraham.
"Geli tau gak, sih? Biasa aja kali Sam ngomongnya, nggk usah kek gitu. Nggk malu apa, diliatin sama orang-orang?" tanya Abraham ketus.
"Ellah, Biarin napa! Enggak peduli gue, ini tuh udah jadi ciri khas gue. Lo juga betah kan sahabatan ama gue? Hah? Hah?" goda Samuel dengan menaik nurunkan alisnya.
Sedangkan Abraham hanya memutar bola matanya jengah, melihat tingkah laku sahabatnya ini. Abraham berpikir, 'kenapa juga gue mau sahabatan sama makhluk yang kek gini.'
---
Akhirnya, jam kuliah telah selesai. Abraham langsung pulang, tapi bukan ke rumahnya melainkan ke apartement miliknya bersama Samuel dan juga Seyra.
Abraham merasa bosan jika terus berada di rumahnya. Hingga akhirnya, dia memilih untuk pulang ke apartementnya, mengajak sahabat dan juga adiknya.
Apartnya terlihat luas, bersih, rapi, dan nyaman. Abraham termasuk orang yang suka kerapihan dan kebersihan, ia tidak suka jika ada sedikit pun tempat yang berantakan atau terlihat kotor.
"Tumben lo ke apart?" tanya Samuel yang diangguki oleh Seyra.
"Lagi males gue di rumah," ucap Abraham acuh.
"Kenapa, bang?" tanya Seyra yang aneh dengan tingkah laku Abraham.
"Paling juga lagi galau tuh, udah seminggu nggk ketemu sama si doi," celetuk Samuel.
"Abang punya doi? Siapa, Bang? Kuliah apa masih sekolah? Terus jurusan apa? Terus dia tinggal dimana? Ter--" heboh Seyra dengan pertanyaan yang beruntun, namun belum sempat cerocosnya selesai, mulutnya sudah disumpel duluan pake remot oleh Abraham.
"Berisik tahu nggk, Dek? Lagian lu Sam, orang gue enggak punya doi, sembarangan kalau ngomong," ucap Abraham, sedangkan Samuel hanya terkikik saja.
"Alah, pura-pura nggk tahu. Itu tuh, si wanita bercadar, yang seminggu lalu lo main peluk-peluk aja, yang sekarang malah ngilang entah kemana," jawab Samuel yang masih dengan tawanya.
"Paan sih, lo? Sorry ya, dia bukan type gue. Ogah gue sama cewek yang kek begituan, tertutup semuanya. Gimana kalau wajahnya jelek? Yaa walaupun matanya indah," ucap Abraham ragu, ia tidak bisa mengelak jika kedua bola mata wanita bercadar itu sangat Indah di pandang.
"Jelek-jelek! nanti jatuh cinta tahu rasa, lo!"
Sedangkan Seyra hanya manggut-manggut menyimak kedua makhluk hidup itu saling berbicara.
"Sorry nih, ya. Gue ingetin sekali lagi ama lo ya, Sam. Enggak akan pernah gue jatuh Cinta ama yang begituan!" bantah Abraham tegas.
"Ok! Kita liat nanti. Mau taruhan? Kalau lo berhasil buat dia jatuh cinta sama lo, lo boleh ambil tempat gym gue yang di Bogor. Tapi, kalau lo yang malah jatuh cinta sama dia, cafe lo yang di Bandung jadi milik gue. Gimana? Deal?" tantang Samuel menjulurkan tangannya di hadapan Abraham.
"OK! Deal!" jawab Abraham penuh semangat dan membalas juluran tangan Samuel.
Bugh!!
Bugh!!
Seyra memukul kepala Abraham dan Samuel dengan tas yang dari tadi berada di tangannya, ia yang hanya menyimak saja kini ikut berkomentar.
Sedangkan kedua lelaki itu hanya mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit akibat pukulannya.
"Apa, sih, Dek? Sakit tahu, nggk? maen pukul-pukul aja lo ma Abang sendiri!" ketus Abraham tak terima.
"Ya, lagian lo, Bang. Seorang cewek lo jadiin bahan taruhan? Mana cewek ini cewek alim lagi. Gue aja, yang bukan cewek alim ogah banget dijadiin bahan taruhan, Bang! Lo juga Sam, main nantang Abang gue taruhan. Tega bener, lo berdua. Punya perasaan, kagak, sih?!!" bentak Seyra, ia tidak terima jika Abraham dan Samuel saling taruhan, apalagi ini menyangkut seorang perempuan.
Hey!! Dia juga perempuan, dia bisa merasakan sakitnya di jadiin taruhan.
"Elah, Ini hanya main-main, Dek!" elak Abraham. Sedangkan Samuel, ia hanya cuek-cuek saja.
Seyra hanya memutar bola matanya malas. "Serah lo, deh, Bang! Tapi jangan nyesel aja, jika akhirnya lo yang jatuh cinta sama dia. Terus dia tahu kalau dia cuman dijadiin bahan taruhan sama lo, terus dia ninggalin lo disaat lo bener-bener sayang sama dia. Inget, Bang! Penyesalan itu datang diakhir bukan diawal!!" ucap Seyra yang langsung bergegas pergi ke kamar, karena kesal dengan tingkah kakaknya. Meninggalkan Abraham yang masih memikirkan perkataan darinya, 'apa ini terlalu berlebihan? Ini kan cuman main-main aja,' pikir Abraham.