Dia?

1358 Words
Mungkin sekarang lo bilang nggk bakal jatuh Cinta karena tampilannya yang tertutup, kan? Tapi gue yakin, suatu saat lo bakal kagum sama wanita seperti itu, karena apa?! Karena ia mampu menjaga kecantikan yang ia miliki hanya untuk suaminya. °seyra° *** Abraham kini sedang berada di balkon kamar Apartementnya. Semilir angin malam menyapa wajahnya, menatap langit yang sangat indah dengan rembulan yang menyinari gelapnya malam, serta taburan bintang yang menghiasi pekatnya malam. Dalam pikirnya, Abraham masih memikirkan perkataan Seyra tadi, yang menurutnya ia terlalu berlebihan. 'tapi kenapa harus berlebihan? menurut gue itu biasa aja,' batin Abraham. Bahkan Abraham sendiri tidak terlalu menganggap semua taruhan itu serius, ia hanya ingin bermain-main saja. Untuk urusan cafe yang di Bandung, Abraham sangat yakin, bahwa cafe tersebut tidak akan sampai jatuh ke tangan Samuel. 'Toh! gue yakin, gue nggk akan pernah sampai jatuh cinta sama cewek yang ketutup kek gitu. Bahkan mungkin, dia yang bakal ngemis-ngemis cinta ke gue. Secara di kampus aja banyak cewek yang nempel ke gue,' pikir Abraham. Masalah cafe, cafe itu didirikan oleh Abraham sewaktu kelulusan SMA. Ia sering menyisihkan uang yang diberi oleh orang tuanya untuk membangun sebuah cafe. Caffe yang berada di Bandung pun termasuk cabangnya, karena cafe yang utama ada di daerah Jakarta dekat kampusnya. Cafe yang bertemakan elegant dengan bangunan yang diwarnai cat coklat hingga terkesan kalem, cafe yang diberi nama Bram's cafe kini sudah mempunyai beberapa cabang, salah satunya di Bandung. *** "Bang! bangun, Bang! Siap-siap kuliah, napa!" ucap Seyra membangunkan Abraham. "Hmm... Satu menit lagi," balas Abraham dengan suara serak khas bangun tidur. "Nanti telat loh, Bang. Bangun kek," ujar Seyra mengguncangkan tubuh Abraham. "Jam berapa emang sekarang, Dek? Kan pelajaran Abang nanti siang," elak Abraham yang masih di posisi tidurnya. "Jam sembilan, Bang. Ya, tapi kan Bang, siap-siap dulu napa! Biar nggk telat." "Hmm... Iya, ini gue bangun. Ya udah, sono, siapin sarapan buat gue!" titah Abraham seenak jidat. "Elllah, Bang. Baru juga beres ngepel, udah disuruh masak," rengek Seyra. "Ya udah, lo juga sana siap-siap. Nanti kalau gue udah beres, gue yang masak," ujar Abraham membuat Seyra jingkrak-jingkrak. "Nah, gitu, dong!! Masakan Abang, kan, enak. Sampe sekarang aja, Abang udah punya beberapa cafe di usia yang terbilang muda," puji Seyra pada Abraham. "Hmm... Ya udah, sana. Hush... hush..." Setelah selesai sarapan dan siap-siap, keduanya langsung bergegas untuk ke kampus menggunakan mobil milik Abraham. Di dalam mobil seperti biasa, hanya ada keheningan yang melanda. Abraham yang fokus menyetir, dan Seyra yang fokus membaca novel. "Bang!" ucap Seyra memecahkan keheningan. "Apa, Dek?" jawab Abraham lembut, namun tatapannya masih fokus menyetir. "Mmm... Yang tentang taruhan itu, Abang yakin? nggk mau dibatalin aja gitu, Bang?" tanya Seyra hati-hati. Abraham hanya mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa nanya itu? Tapi nggk papa, sih. Ya udah gue jawab. Ya... yakin, lah. Kenapa, emang?" tanya Abraham. "Nggk sih, nanya aja. Nggk ada niatan mau dibatalin gitu, Bang? Kasihan tahu, Bang. Kalau dia tau cuma dijadiin bahan taruhan gimana, coba? terus dia kan cewek alim, gue yakin bakal sulit untuk ditaklukin, dan gue takut, malah lo yang akhirnya jatuh Cinta sama itu cewek." "Hah? gue? jatuh Cinta sama dia?" ujar Abraham dengan terkekeh kecil. "Ya nggk mungkinlah, Dek. Lo tau sendiri kan, gue paling males kalau terlibat dalam masalah percintaan, terlalu rumit buat gue mikirin cinta. Dan untuk dia yang nggk bisa gue taklukin, itu sih bagi gue gampang, rata-rata kebanyakan cewek di kampus pada nempel sama Abang, dan gue yakin dia juga bakal luluh sama Abang," lanjut Abraham dengan percaya dirinya. "Ya... Ya... I know, seorang Abraham yang terkenal karena kegantengannya sehingga membuat dirinya populer di kampus, dan membuat kaum hawa meleleh bahkan sampe nempel-nempel ketika lo lewat. Tapi, apa lo pikir semua wanita begitu, Bang? Gini, Bang, dengerin nih! Kalau menurut gue, sih, yang sering nempel-nempel ke lo itu, wanita yang centil, pakaiannya ketat atau terbuka, dan yang dandannya pada menor-menor, iya, kan? Tapi, gue nggk pernah liat lo ditempelin atau bahkan disamperin sama wanita berhijab bahkan yang tertutup, bukan? Itu berarti, tidak semua wanita bakal mudah lo taklukin. Gini, Bang, gue juga punya temen sejurusan, dia berhijab bahkan bercadar pula, makanya gue tahu mana wanita yang bener-bener, sama wanita yang nggk bener. Sekarang lo bilang, lo nggk bakal sampai jatuh Cinta sama wanita yang dijadiin taruhan sama, lo. Tapi, kita nggk akan tahu takdir Allah. Bisa saja suatu saat nanti, lo bener-bener jatuh Cinta, tapi dianya nggk? Bisa aja, kan? Mungkin, lo bilang nggk bakal jatuh Cinta sama dia karena pakaian tertutupnya, kan? Tapi gue yakin, suatu saat lo bakal kagum sama perempuan kek gitu. Karena apa? karena mereka mampu menjaga kecantikannya hanya untuk orang terkasihnya. Percayalah, Bang. Dibalik kain yang menutupi wajahnya, ia menyimpan kecantikan layaknya mutiara, kecantikan dari luar bahkan kecantikan dari dalam. Jujur, Bang, gue juga ingin suatu saat bisa seperti mereka yang menjaga kecantikannya, namun gue masih belum siap. Pikirin baik-baik lagi, ya, Bang. Ingat, penyesalan itu selalu datang di akhir. Ya, udah. Gue duluan, ya, Bang. Assalamu'alaikum," jelas Seyra panjang lebar, meski ia tidak tahu apakah sarannya akan diterima atau tidak, tapi yang pasti, dia sudah memberi tahu Abraham. "Wa'alaikumussalam," jawab Abraham pelan setelah Seyra sudah jauh dari pandangannya. *** Ketika masuk ke kelas, ternyata kelas sedang mengadakan free class, karena mereka diharuskan untuk mempersiapkan skripsi buat sidang nanti. Abraham hanya berdiam diri di dalam kelasnya, sambil memikirkan perkataan Seyra di dalam mobil tadi. Ada satu kalimat yang menjanggal dipikiran Abraham. 'Gue juga punya temen sejurusan yang berhijab bahkan bercadar. Apa itu dia? apa temennya Seyra itu yang gue jadiin taruhan?' batin Abraham. "Woy, Bro! Ngapain lo ngelamun mulu? Kek cewek aja," sapa Samuel tiba-tiba, sudah menjadi kebiasaan baginya selalu menyapa Abraham secara tiba-tiba. "Kagak, gue lagi mikirin skripsi, tinggal berapa lagi, sih?" dusta Abraham. "Oh gitu, kirain kenapa. Gue sih udah, tinggal di cek aja. Oh iya, lo mau lanjut S2, apa gimana?" tanya Samuel yang alhamdulillah, pertanyaannya kali ini sangat berfaedah. "Mmm... Nggk tau juga, sih. Kata bokap gue, gue harus ngelanjutin perusahaannya, terus gue juga kan punya beberapa cafe yang harus gue urus, lo sendiri gimana?" "Gue juga mau ngelajutin perusahaan bokap, sama ngurusin tempat gym gue," jawab Samuel yang hanya dijawab oh ria oleh Abraham. Tidak lama setelah itu, telephon Abraham berdering, asistent yang mengurus cafe dekat kampusnya menelpon, Abraham langsung mengangkat telephonenya. "Ya, hallo!" sapa Abraham. "Hallo, Pak Abraham. Bapak kapan mau cek ke cafe? ada beberapa hal yang harus Bapak cek sendiri." "Oh begitu, baik sekarang saya kesana." "Iya, Pak. Kalau begitu, terimakasih atas waktunya, Pak." Telephone sudah terputus, dan Abraham kembali memasukkan handphonenya kedalam saku jaketnya. "Kenapa, Bram?" tanya Samuel. "Sekarang free, kan? gue mau ke cafe deket kampus dulu, lagian ini udah mau beres jam pelajaran. Ok, gue kesana dulu ya, Sam!" pamit Abraham yang dijawab anggukan oleh Samuel. *** Abraham POV "Hah... Beres juga," ucap ku menghela nafas. Setelah selesai pengecekkan, aku langsung keluar dari ruangan dan duduk di tempat makan dekat ruangan ku. Karena merasa bosan, akhirnya aku hanya bermain game di gadget. Disaat lagi asik-asiknya main game, pintu cafe terbuka, pertanda ada pelanggan baru yang mau makan di cafe ku. Aku langsung mendongakkan kepala ku, melihat siapa yang datang, dan ketika aku melihat ke arah pintu, tepat di depan pintu terlihat sosok perempuan yang beberapa hari ini tidak bertemu. Dalam beberapa menit aku perhatiin dia, mengikuti dimana dia akan duduk, dan aku langsung memutuskan penglihatanku setelah tahu dimana posisi wanita itu berada. 'Dia? tapi apa itu dia? kalau dilihat dari matanya kayanya itu dia,' pikir gue. Karena penasaran aku pun langsung menuju kasir untuk menanyakan wanita itu ke karyawan ku yang menjabat sebagai kasir Bram's Cafe. End POV Abraham langsung menuju kasir sambil menutupi wajahnya dengan buku yang dia pegang tadi. "Dir, pelanggan yang berada di meja nomor 14, apa dia baru kali ini datang ke cafe atau memang sering kesini?" tanya Abraham to the point kepada Dira, kasir di cafe tersebut. Dira melihat ke arah pelanggan bernomor 14, dan tidak lama kemudian. "Oh yang pake cadar, Pak? Dia baru minggu-minggu ini kesini. Memangnya kenapa, Pak?" jawab Dira. "Oh nggk sih, cuma nanya aja. Ok! kalau gitu, gue kebelakang dulu, ya!" pamit Abraham yang hanya mendapat anggukan dari Dira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD