^^
Mimpikah ini?
Tapi kalau boleh jujur, aku sangat senang bisa bersamamu.
Karena caraku mencintaimu, dengan cara mencari ulah denganmu.
°seyra°
***
CHAPTER SPESIAL SEYRA
"Pagi, Mom, Dad, and Bang!" sapa Seyra dengan senyum yang merekah. Mencium kedua pipi Vino, Sharma, dan Abraham sudah menjadi kebiasaannya.
"Pagi juga, Eyra!" jawab mereka serempak dan membalas cium Seyra.
Eyra, panggilan tersayang dari orang tuanya, termasuk Abraham. Sedangkan Abraham sendiri sering dipanggil Bram/Shandi oleh orang tuanya, adiknya, dan Samuel.
Seyra langsung duduk di tempat makannya, mengambil dua potong roti lalu diolesi dengan selai coklat, dan memakannya sedikit demi sedikit.
"Nanti, abis dari kampus kamu langsung pulang ya, Ey!" ujar Vino tiba-tiba, membuat Seyra memberhentikan aktivitas makannya.
"Loh, tumben. Ada apa, Dad?" tanya Seyra bingung.
"Sudah, pokoknya nanti langsung pulang, dan kamu Bram, langsung anterin adekmu pulang ke rumah, ya! Tidak ada tapi-tapian dan tidak menerima penolakan!!" ucap Vino tegas yang langsung di angguki oleh Seyra dan Abraham.
"Ya sudah, Mom, Dad, Bram sama Seyra, pamit dulu. Assalamu'alaikum," pamit Abraham yang langsung mencium punggung tangan orang tuanya, disusul oleh Seyra.
Keduanya langsung memasuki mobil milik Abraham. Sebenarnya, Seyra juga memiliki mobil, hanya saja dia selalu disuruh berangkat bareng dengan Abraham oleh kedua orang tuanya, alasannya hanya khawatir.
Di dalam mobil Seyra terus saja memikirkan perkataan Vino tadi pagi, 'ada apa?' pikirnya.
"Bang, kira-kira ada apaan, ya? Keknya serius banget. Abang, tahu?" tanya Seyra memecahkan keheningan.
"Nggk tau, coba aja tunggu nanti pas pulang kuliah," ujar Abraham.
***
Mobil Abraham yang sudah terparkir di kampus, membuat Seyra langsung bergegas masuk ke dalam kelas, mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Dosen, tentang jurusan kedokteran. Alasan Seyra memilih jurusan kedokteran karena sedari kecil, ia mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter, yang kelak bisa mengobati orang-orang yang sedang sakit.
Walaupun matanya memperhatikan Dosen di depan, tapi pikirannya tidak menangkap apa yang Dosen sampaikan. Sampai akhirnya Dosen telah selesai menerangkan penjelasannya, ia masih melamun.
Tiba-tiba saja, ada yang menyenggol lengan Seyra, dan itu sukses membuyarkan lamunannya.
"Eeh ... Kok ini kelas udah sepi aja? pada kemana ini? Eh, ini pada kemana?" tanya Seyra kepada teman sebelahnya, sekaligus sahabatnya, dan orang itulah yang mampu menduduki nomor satu untuk kepintaran di jurusan Kedokteran ini. Sedangkan sahabatnya itu hanya menjawab dengan mengendikkan bahunya.
Ting!
Handphone Seyra berbunyi, dan mendapatkan notif chat w******p dari Vino.
Daddy♥
Ey, nanti pas pulang langsung pakai baju yang disediain dikamar, ya, terus dandan yang cantik, setelah itu langsung ke cafe yang tertera di kertas yang Daddy simpan di meja riasmu.
Jangan dibales, Daddy lagi ada meeting, dan tidak ada penolakan.
Isi pesan tersebut membuat Seyra mengerutkan keningnya bingung,
'Ini tuh sebenarnya ada apa, sih? terus ini lagi, kok Daddy lebih cerewet dari Mommy, sih? Hadehh, penasaran gue, asli!' batin Seyra.
***
Setelah pelajaran selesai, Seyra ke tempat parkiran, untuk menuruti perintah orang tuanya, bahwa setelah pulang dari kampus ia harus berangkat ke cafe. Ternyata, setelah sampai di tempat parkiran, kakaknya sudah bersender santai di samping mobil miliknya
"Bang, ayok!" ajak Seyra yang langsung diangguki oleh Abraham.
"Oh iya, Bang. Gue disuruh Daddy buat ke cafe. Terus nih ya, gue disuruh dandan coba!" kesal Seyra ketika mereka sudah keluar dari daerah kampusnya.
"Masa, Dek? Tadi, Daddy nge chat ke Abang, nyuruh nganterin lo. Katanya, nanti juga alamatnya bakal dikasih tahu sama Seyra," jawab Abraham.
Mobil Abraham terus berjalan dari kampus sampai pelataran rumahnya. Keduanya langsung turun dari mobil dan menuju ke kamarnya masing-masing.
Di saat Seyra sudah sampai kamarnya, dia menemukan sebuah dress yang sederhana namun sopan, dan tidak terlihat sexy.
Seyra langsung memakai dress yang disediakan oleh Vino dan Sharma. Setelah selesai memakai dress, ia sedikit memoles wajahnya, sangat-sangat natural dan tidak berlebihan.
Setelah dirasa semuanya beres, Seyra akhirnya turun ke bawah, yang ternyata sudah ada Abraham yang terlihat sangat rapi.
'Wih, Abang gue ganteng banget,' batin Seyra.
"Ini, lo, Dek? Gue baru sadar, ternyata adek gue cantik!" ucap Abraham ketika Seyra sudah berada di depannya.
"Lah, iya, dong! Lo kira gue siapa, Bang? Oh iya, gue emang udah cantik kali dari lahir, lo nya aja yang baru nyadar. Gue juga baru nyadar kalau lo ganteng, Bang. Udah lah, ayok! Takut telat. Oh iya, nih alamatnya!" ujar Seyra menyerahkan secarik kertas yang berisi alamat cafe ke Abraham.
***
Seyra POV
Setelah sampai di cafe yang alamatnya tertulis di kertas tadi, aku dan Abraham pun langsung masuk ke dalam cafe dan mencari keberadaan kedua orang tua ku.
Tidak menunggu waktu lama akhirnya aku menemukan posisi kedua orang tua ku duduk, tapi kaya ada yang janggal.
"Itu siapa? kok ada pasutri bareng bonyok gue? wah jangan-jangan—" pikir ku yang sudah melebar kemana-mana tiba-tiba terpotong karena Abraham yang menarik lengan ku untuk segera ke meja orang tua kita.
"Hallo, Dad, Mom, Tente, dan Om!" sapa ku dengan sopan, diikuti oleh Abraham.
"Hallo, juga!" serempak mereka menjawab sapaan dari kita.
"Loh! Om, Tante, kok ada disini?" tanya Abraham aneh yang sepertinya ia mengenali sepasang suami istri di depan.
"Loh! Abraham, kamu anaknya Vino sama Sharma?" tanya seorang Ibu itu yang ternyata mengenali Abraham.
"Iya, Tante," jawab Abraham yang ... eu... Agak sopan lah. Tumben-tumbenan juga nih abang gue sopan.
"Kamu kenal sama mereka, Bram?" tanya Daddy ku.
Ini, kenapa jadi sesi pertanyaan begini, atau emang ini lagi acara sesi tanya jawab?
"Lah, ini kan orang tua Samuel, Dad. Itu loh sahabat Bram yang di kampus," jawab Abang gue santai.
What the—?!! Aku pun terkejut ternyata pasutri ini orang tuanya Kak Sam? Wah-wah harus hati-hati, nih!
Seyra end POV
Sedari tadi Seyra hanya duduk dan menyimak percakapan mereka. Hingga akhirnya, tidak lama setelah itu, datanglah seorang lelaki yang memakai celana jeans hitam, kemeja warna navy yang tangannya di gulung sampai tiga perempat tangan, di pergelangan tangannya terdapat jam hitam, memakai sepatu adidas putih, dan rambut yang wah, jambulnya... pikir Seyra kagum.
'Eh, wait! kok gue kaya kenal sama ni orang, ya? Anjir!! Ini, kan, Kak Sam! Gila!!! kok sekarang kelihatan ganteng, ya? dan nggk segila kaya di kampus, dan tam—' batin Seyra yang terpotong karena Abraham menyenggol lengan Seyra.
'Selalu cantik,' batin Samuel kagum.
"Udah kali, Dek, mandangin Samuelnya gitu amat. Biasanya, kalau di kampus selalu berantem, heran deh gue!" celetuk Abraham yang langsung mendapat tatapan tajam dari Seyra.
'Sinting nih emang abang gue, bisa-bisanya dia ngomong gitu tanpa mikirin perasaan gue sekarang. anjirlah!!' Jerit Seyra dalam hati.
"Oh, iya, kita berkumpul disini karena ada yang mau Daddy bicarain sama kamu, Seyra. Jadi gini, Daddy, Mommy, dan kedua orang tua Samuel, berniat menjodohkan kalian berdua," ucap Vino serius, membuat Samuel, Seyra, dan Abraham terkejut.
"WHAAT?!!" ucap Seyra dan Samuel berbarengan, sedangkan Abraham, ia tersedak minumannya sendiri.
"Iya, nak, kami berniat menjodohkan kalian. Saya dan Vino ini, sebenarnya sahabatan sewaktu kuliah, dan kami sempat berencana jika diantara kami mempunyai sepasang anak yang berbeda jenis, maka kami akan menjodohkannya. Jadi, ya gitu, kita mau menjodohkan kalian berdua." jelas Ayah Samuel.
"Iya, mungkin ini terlalu terburu-buru. Tapi, Daddy mau setelah nak Samuel sidang skripsi, dua hari setelahnya kalian menikah," ucap Vino.
"Tapi apa ini tidak terlalu cepat, Dad?" tanya Abraham yang sedari tadi hanya menyimak.
"Begini saja, Om, Tante, Ayah, Bunda, izinkan kami berdua berbicara terlebih dulu untuk masalah ini. Jika kami sudah mempunyai keputusan, maka kami akan kembali ke cafe ini, apa boleh?" tanya Samuel serius.
'Tumben ni anak bijak, nggk petakilan kek di kampus,' batin Abraham.
"Ya sudah, kalau seperti itu. Kalian berdua bicarakan dulu tentang ini," suruh Daddy,
"Gue ikut, Sam!" ucap Abraham yang di angguki oleh Samuel.
***
Kini, Seyra, Samuel, dan Abraham sedang berada di rooftop cafe, untuk membicarakan tentang perjodohan.
Sebenarnya, sudah lima belas menit mereka berada di rooftop ini, tapi hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka. Tidak seperti biasanya, Seyra dan Samuel yang biasanya berantem seperti Tom and Jerry, sekarang saling bungkam satu sama lain.
"Ellah, Mau sampai kapan kalian bungkam? Biasanya juga, kalian suka adu mulut kek Tom and Jerry. Kenapa sekarang pada diem, kagak bosen, apa?" tanya Abraham yang sudah bosan dengan suasana yang hening.
"Mmm... Sey, gimana pendapat kamu tentang perjodohan ini? apa kamu mau menerimanya?" tanya Samuel gugup, membuat Abraham tidak kuasa menahan tawanya, hingga tawa Abraham yang ngakak begitu nyaring di telinga Samuel dan Seyra.
"Sejak kapan lo jadi pendiem gini, Sam? Biasanya juga, lo petakilan di kampus, terus sekarang pake aku-kamu. Kocak asli, Sam!!!" ucap Abraham tidak tahu malu merusak suasana romantis Samuel. Tawanya langsung terhenti ketika mendapat tatapan tajam dari Seyra dan Samuel.
"Iya-iya, sorry. Lanjut aja sana ngobrolnya, gue disini merhatiin kalian aja, takutnya lo khilaf, Sam!" ujar Abraham setelah tawanya reda.
"Kalau aku sendiri, aku akan menerima perjodohan ini, selain ingin menuruti kemauan orang tua, sebenarnya... Mmm... Gimana, yaa... Sebenernya, aku itu ada rasa sama kamu, Sey. Maka dari itu, aku selalu mencari cara supaya bisa dekat sama kamu. Contohnya aja, aku selalu ngajak kamu ribut, karena itulah cara aku supaya bisa dekat dengan kamu. Pertama kali aku bertemu kamu di rumah Abraham, disitulah aku mulai menyukaimu, Sey!" ujar Samuel yang langsung membuat Seyra maupun Abraham terkejut, namun sebisa mungkin Seyra mengontrol keterkejutannya itu.
"Mmm... Kak, sebenarnya... Seyra juga mempunyai perasaan sama Kak Sam. Ketika Kak Sam selalu mencari ulah dengan Seyra, seyra selalu berusaha sekuat mungkin untuk menetralkan kegugupanku dengan mulut cerewetku. Mmm... Dan sepertinya, aku juga akan menerima perjodohan ini," ucap Seyra agak gugup, tapi mantap.
"Anjir... Ternyata kalian berdua diam-diam punya perasaan? Kok gue nggk sadar, yaa?" ujar Abraham tidak percaya jika sahabat dan adiknya ini mempunyai perasaan yang sama. Sedangkan Samuel dan Seyra hanya mengedikkan bahunya.
"Kan-kan, yang jomblo mah ngenes, gue jadi nyamuk dah disini!" ucap Abraham mendramatisir.
"Ah, lu mah, ganggu suasana romantis tahu, nggk? Makanya cari cewe, sana! Perjuangin juga tuh wanita bercadar, jangan dimain-mainnin!" ucap Samuel yang kembali menjadi dirinya sendiri.
"Eh! Apaan, sih?" elak Abraham.
"Eh tapi, Sam, kayanya gue nyerah aja, deh. Gue kasih aja, cafe gue yang di Bandung, mmm... Gue mulai suka keknya, sama wanita itu. Karena gue merasa kek ada yang hilang kalau dia nggk ada," ucap Abraham serius, membuat Samuel dan Seyra terkejut.
"Serius, Bang? Lo, suka sama wanita itu? Kok, bisa?" tanya Seyra beruntun.
"Oh iya, Bram. Tentang taruhan itu, udah, lo lupain aja. Gue cuma main-main dan nggk pernah nganggep serius, gue cuma pengen liat, apa lo bener suka sama tu cewek atau nggk? Untuk cafe lo, gue nggk bakal ambil, masa gue ambil usaha yang lo bangun sejak SMA," ucap Samuel panjang.
"Serius, lo? Uuh... makasih adik ipar kuh! Mmmmuah..." ujar Abraham kelewat lebay, sambil meluk Samuel dari pinggir.
"Jijay gue sama, lo! Eh btw, lo nerima gue jadi adik ipar, nih?" tanya Samuel menaik turunkan alisnya.
"Iya, lah. Kalau Seyra bahagia, gue juga bahagia, yang terpenting jaga dia baik-baik, Sam. Walaupun dia sudah besar, gue tetep nganggep dia anak kecil yang harus gue jaga, dan gue harap, lo juga bisa jaga dia baik-baik adek gue. Kalau sampai gue tau, lo nyakitin dia, lo berhadapan sama gue langsung!!" ujar Abraham.
"Mau ngapain ngadepin, lo?" tanya Samuel.
"Mau main pentak umpet!! Udahlah, ayok balik ke cafe. Soalnya kan udah ada nih keputusannya. Lagian ini udah sejam lebih loh, kita disini. Ayok balik adek-adekku!"ujar Abraham yang langsung menggandeng tangan Samuel dan Seyra di sebelah kanan dan kirinya.