Bagian 18

1815 Words
Gerakan Vale sungguh tak beraturan. Gadis itu seakan ingin menghabisi musuhnya. Namun, siapa yang tahu jika hatinya sedang bergejolak. Itu semua karena mimpi yang ia alami semalam. Vale terbangun dengan keadaan yang benar-benar terkejut. Jantungnya berpacu lebih cepat. Jake yang baru datang di lapangan biasa keduanya berlatih pun terkejut menemukan gadis yang ia cari sejak pagi tadi ternyata berada di sana. Dan tambah terkejut ketika melihat Vale yang berlatih lebih keras. Jake mengernyit melihat gerakan-gerakan yang Vale buat. "Vale," panggil pria itu. Vale seakan tuli dan tak mendengar. Jake berdecak, padahal dia memiliki tugas untuk membawa Albus dan Cale pagi ini. Jake bergerak mendekati gadis itu, dan dengan cepat dia menghentikan gerakan Vale yang brutal. "Sudah cukup, Vale," ujarnya dengan penuh ketegasan. Vale yang sudah memenuhi kesadarannya pun nampak berhenti. Dadaa gadis ini naik turun. Dia berkali-kali mengambil oksigen di sekitar. Jake memberikan minuman untuk gadis ini. Vale menerimanya dan langsung menenggak minuman itu. Jake memperhatikan gadis itu. Menunggu hingga Vale merasa tenang. "Ada apa?" tanyanya dengan lembut. Vale menggeleng. Hatinya sedang tak tenang sekarang. Jake mengembuskan napas beratnya. "Ke marikan tanganmu," titahnya. Vale menengadahkan kedua tangannya. Di sana jelas keduanya nampak merah karena saking kuat dan lamanya ia berlatih menggunakan pedang. "Tanganmu harus diobati," ucap Jake. Vale menarik kedua tangannya, menolak saran dari pria ini. "Tidak perlu. Cesse pasti bisa menyembuhkan luka ini," jawab Vale. Jake merasa ada yang berbeda dengan gadis ini. Biasanya Vale tak pernah bersikap secuek itu, bahkan jawabannya terasa sedikit lebih dingin. Ada apa sebenarnya? "Hari ini aku akan membawa ayah dan ibumu keluar dari ruang bawah tanah. Sebaiknya kamu membersihkan diri dan bersiap. Semuanya akan ikut sarapan," ungkap Jake yang mengundang atensi gadis itu. Vale sepertinya baru mengingat jika raja memberinya ijin untuk bertemu dengan Albus dan Cale. Vale berdiri dari duduknya diikuti oleh Jake. "Maaf karena sudah merepotkanmu, Jake. Aku tidak akan melakukan ini lagi ke depannya," kata Vale yang merasa bersalah karena membuat pria itu khawatir. Jake mengangguk paham. Keduanya pun bergegas masuk di mana Jake lagi dan lagi mengantarkan Vale ke kamar. Di kamar Easter dan Vele sendiri kedua orang itu sedang saling memeluk. Menghangatkan tubuh keduanya di dalam selimut. Vele terlihat sangat nyenyak sekali, begitu juga dengan Easter. Pria itu merasa waktu istirahatnya beberapa minggu ini benar-benar baik semenjak kedatangan Vele. Vele menggerakkan tubuhnya, Easter merasa terganggu. Pria itu mengusap pelan kepala sang mate agar kembali tidur. Namun, Vele sepertinya sudah menemukan kesadarannya, ditambah lagi sinar matahari masuk melalui jendela di dalam kamar. "Selamat pagi," sapa Easter lebih dulu. Vele menguap sebentar dengan menutup mulutnya menggunakan tangan. Gadis itu terlihat lucu di mata Easter sendiri. Vele mengubah posisinya menjadi duduk. "Aku duluan yang mandi atau kamu duluan?" tanyanya. Vele ingat jika ia akan menghabiskan waktu bersama keluarganya seharian ini. Easter ikut duduk. "Bukankah akan lebih cepat jika kita mandi bersama?" jawabnya asal. Vele berdecak mendengar penuturan pria ini. "Ini masih terlalu pagi untuk kita berdebat. Tolong jangan buat suasana hatiku menjadi buruk ketika aku memiliki kesempatan untuk bersama keluargaku," jawab Vele. Easter terkekeh. "Kamu pakai saja kamar mandinya. Aku akan mandi di kolam," kata Easter. Kolam yang ia maksud adalah kolam di mana dulunya ia membawa Vele mandi di sana. Vele mengangguk dan langsung berdiri. Kemudian tubuhnya hilang di balik pintu kamar mandi. Ekspresi Easter seketika berubah. Pria itu ikut beranjak dari tempat tidur, kali ini tujuannya adalah bertemu Jake lebih dulu. Suatu kebetulan kedua pria itu bertemu di lorong istana. Jake menunduk hormat. Easter tak melihat Vale di sekitar Jake. "Dia sedang membersihkan diri, Raja. Sebelumnya saya mohon maaf karena lalai hingga kehilangan dia pagi ini." Easter mengernyit mendengar laporan pria itu. "Ada apa, Jake? Ceritakan kepadaku," desak sang raja. "Tadi pagi saya tidak menemukan gadis itu di tempat. Setelah saya telusuri, dia sedang berada di lapangan. Ini masih terlalu pagi untuk berlatih. Dan juga saya melihat jika sepertinya ada yang mengganggu gadis itu, Raja. Dia berlatih sangat keras hingga tak terkendali, tetapi saya berhasil menghentikannya," terang Jake. "Awasi teru dia, Jake. Jangan sampai lalai lagi." "Baik, Raja." "Bagaimana dengan Albus dan Cale?" "Saya akan membawa mereka sekarang, Raja. Seperti perintah Anda, mereka akan berada di ruang makan untuk sarapan bersama," jawab Jake. "Bagus. Lakukan tugasmu, Jake. Aku akan membersihkan diri dulu." "Baik, Raja." Kedua pria itu berjalan berlainan arah. Tanpa keduanya sadari, ada sosok yang bersembunyi yang mendengar percakapan keduanya. Dan sosok itu nampak senang mendengar apa yang baru saja ia dapatkan. Setelah selesai mandi dan merias diri, Vele pun menuju ke ruang makan. Bau makanan sudah tercium sebelum dia sampai. Ketika masuk ke ruangan itu, matanya berbinar bahagia ketika melihat dua orang dewasa yang sangat ia rindukan. Easter yang menyadari kedatangan sang mate pun menoleh. Gadis itu berlari kecil dan langsung memeluk Albus serta Cale secara bergantian. Di sini sosok Vale belumlah kelihatan. "Ayah, Ibu. Aku merindukan kalian," ucap Vele. "Kami juga merindukanmu, Nak," jawab Cale yang diangguki oleh Albus. "Ayo duduk, kita sarapan bersama," lanjut wanita paruh baya ini. Vele mengangguk dan langsung mengambil duduk di sebelah Easter. Ini adalah kesepakatan yang mereka lakukan semalam. Easter memberi Vele dan Vale waktu seharian bersama kedua orang tua mereka. Tetapi, ada syarat yang pria ini ajukan di mana Vele harus menuruti segala perintahnya dan tak keras kepala lagi. Vele setuju, tetapi pengecualian untuk soal pernikahan. Easter pun mau tidak mau pun setuju. Tujuannya pertama kali adalah menghilangkan sikap keras kepala mate nya lebih dulu. Lagi pula seiring berjalannya waktu di mana keduanya sering bertemu dan bersama, Easter yakin suatu hari Vele pasti akan menerima dirinya. "Vale ke mana?" bisik Vele kepada Easter. Di sana juga tidak ada Jake. Apakah mungkin keduanya sedang berlatih dan lupa jika hari ini Albus dan Cale datang? "Sedang dalam perjalanan ke sini bersama Jake," jawab Easter tenang. Vele mengangguk. "Ibu, Ayah. Hari ini Raja memberi aku dan Vale ijin untuk bersama dengan kalian seharian," ungkap gadis itu memberitahu kebaikan sang raja. Easter masih dalam mode diam dan tenangnya. "Terima kasih, Raja," ucap Albus mewakili sang istri juga. Easter hanya mengangguk. Sikap pria ini membuat Vele tak suka. Bahkan Easter tak mengeluarkan sepatah kata pun. "Ingat janjimu. Jangan berbuat aneh," bisik pria itu memperingati. Ini juga ada dalam kesepakatan keduanya semalam. Tetapi, Easter sendiri sudah memberikan Jake tugas untuk mengawasi Vele dan keluarganya secara diam-diam. Vale baru saja keluar dari kamar. Tentu dia semakin terlihat berbeda di mata Jake sendiri. "Ada apa?" tanya pria ini. Dia melihat Vale seperti menyembunyikan sesuatu darinya di mana itu terlihat jelas di wajah tegang gadis ini. Vale menggeleng. Dia mulai berjalan menuju ke ruang makan diikuti oleh Jake di sampingnya. "Hari ini kita libur berlatih?" tanya Vale. "Ya. Raja mengatakan jika kamu dan Ratu akan bersama ayah dan ibu kalian seharian ini," terang Jake. Vale mengangguk paham. Sepertinya sang kembaran mampu meyakinkan raja. Betapa beruntungnya Vele yang memiliki mate seorang raja. "Jake, bolehkah aku bertanya?" tanya Vale. Perjalanan menuju ke ruang makan dari kamarnya memang sedikit memakan waktu. Hal ini ia manfaatkan untuk mengobrol bersama pria ini. "Boleh." "Apakah boleh jika kita berlatih di luar istana? Aku rasa daerah hutan tidaklah buruk." Jake tak serta merta langsung menjawab. Pria itu mempercepat langkah kakinya berharap cepat sampai di ruang makan. Vale pun mau tidak mau ikut menyamakan langkah kaki pria ini. "Jika kita berlatih di luar, kamu harus ijin kepada Raja lebih dulu." Mungkin itu jawaban yang tepat untuk Jake katakan. Tidak mungkin dia menjawab jujur jika Easter tak mengijinkan Vale pergi dari istana. "Lagi pula di luar istana tidak aman, Vale. Vampir brutal yang pernah menyerangmu dan Ratu masih berkeliaran di luar sana. Tempat paling aman adalah di dalam istana ini," lanjut Jake. Ini bisa menjadi kalimat pendukung agar Vale tak curiga. "Baiklah. Kamu benar, di luar sangatlah berbahaya." Tepat saat itu keduanya telah sampai di ruang meja makan. Berbeda dengan Vele yang langsung berlari kecil menuju ke tempat Albus dan Cale berada, Vale nampak lebih tenang. Gadis itu melangkah mendekati kedua orang tuanya dan memeluk mereka satu per satu. "Ayah, Ibu. Aku merindukan kalian." Sederet kalimat yang sama sepert Vele katakan tadi. "Kami juga, Nak." Vale pun duduk di sebelah Cale saat itu. Vele tersenyum kecut di mana betapa leluasanya Vale dalam bertindak. Sedangkan dirinya harus dalam persetujuan Easter dalam segala hal. *** Vele membawa kedua orang tuanya menuju ke perpustakaan milik ibu dari Easter. Dia sudah ijin kepada mate nya itu jika akan membawa keluarganya ke sana. "Ibu lihatlah. Aku membaca beberapa buku bagus di sini. Tempat ini benar-benar luar biasa," ungkap Vele. Albus, Cale, dan Vale terlihat menganga melihat banyaknya buku-buku yang tertata rapi di ruangan itu. Vale berjalan menuju ke rak meneliti beberapa buku di sana. Hal yang sama dilakukan oleh Albus dan Cale juga. Vele mengingat jika Cale sangatlah suka membaca buku, jadi dia sengaja membawa mereka ke sini. "Vele. Bolehkah aku meminjam salah satu buku di sini?" pinta Vale. Vele pun mengangguk, toh membaca adalah kegiatan yang bagus. Ketika Albus dan Vale sibuk mencari buku mereka, Cale mengalihkan atensi Vele hanya kepada dirinya. Wanita itu membawa putri yang ia rawat selama dua puluh tahun itu di kursi yang tersedia di sana. "Nak ... Ibu ingin berbicara penting," ucap Cale serius. Vele pun mengangguk, dia memasang telinganya baik-baik. "Bagaimana hubunganmu dengan Raja? Apakah kalian baik-baik saja?" Vele tersenyum kecut. Ini adalah kali pertama Cale bertanya. Dan dia sebenarnya tak memiliki jawaban untuk pertanyaan ini. Karena pada dasarnya hubungan keduanya terbilang aneh. Yang mana perdebatan kadang terjadi, dan keakuran juga sering mereka lakukan. "Semuanya baik, Bu." "Kamu yakin? Apakah ini artinya kamu setuju untuk menikah dengan Raja?" Bola mata gadis itu membulat sempurna. Dengan cepat dia menggeleng. Baik-baik saja yang ia katakan bukan berarti dirinya siap menikah dengan vampir itu. Bukan. "Aku masih tetap pada pendirianku, Bu. Kalau peraturan itu tidak dihapus, maka aku tidak akan menikah dengannya." Cale mengembuskan napas beratnya. Vele masihlah sama, keras kepala yang tak pernah hilang. "Ibu ingin bercerita," kata Cale sembari membawa satu tangan putriya ke pangkuannya. "Ibu dan Ayah berpisah selama dua puluh tahun lamanya. Ini tidaklah mudah, Nak. Ibu tidak hanya harus menahan kerinduan, tetapi Ibu juga menahan perasaan dan keinginan Ibu untuk bertemu dengan Ayahmu." "Pada dasarmya, ketika kedua mate sudah saling bertemu, maka ikatan mereka akan semakin kuat. Ditambah lagi jika sudah menikah dan melakukan klaim, semakin kuatlah ikatannya." Vele terlihat menyimak wejangan dari sang ibu. "Jika kamu dan Raja tidak menikah, maka kalian akan sama-sama tersiksa. Apakah kamu ingat jika setiap hari Ibu selalu memanggil nama Ayah? Itu salah satunya. Belum lagi yang lainnya, Nak." Vele menunduk. Kini dia bimbang. Memang dia menyaksikan sendiri bagaimana Cale terus menyebut nama Albus. Cale mengusap pipi putrinya dengan lembut. Vele menatap sang ibu yang tersenyum hangat pada dirinya. "Ibu sangatlah ingin melihatmu bahagia bersama mate mu. Bukan kamu saja, kepada Vale pun Ibu juga sama." Dan Vele pun benar-benar bimbang sekarang. _____ Jangan lupa komen dan tap love biar ngetiknya semangat. Dan jangan lupa mampir ke ceritaku yang lainnya ya ^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD