Easter terlihat mengernyit bingung ketika memperhatikan sikap diam yang Vele lakukan sejak makan siang tadi. Bahkan malam telah tiba, tetapi gadis itu tetap pada ekspresi yang sama. Kurang bersemangat.
Vele membuka lembaran bukunya. Dia membaca buku, tetapi pikirannya bukanlah pada buku yang ia pegang. Tentu pikirannya masih tertuju kepada perkataan Cale tadi di perpustakaan.
"Buku apa yang kamu baca?"
Easter mencoba membuka obrolan lebih dulu. Keduanya sedang berada di dalam kamar mereka.
"Hanya buku biasa," jawab gadis ini seadanya dan langsung menutup buku tersebut dan menyimpannya di meja. Easter yakin ada yang tak beres di sini.
Vele menarik selimutnya hingga sedada, dan tak lupa ia membelakangi Easter dalam tidur. Easter tentu gelisah dan tak suka dengan situasi ini. Pria itu menarik pelan lengan Vele di mana membuat gadis itu berbalik.
"Apa yang terjadi?" tanya Easter kepada mate nya.
Vele diam, kemudian dia menggeleng di sana. Easter mengembuskan napas beratnya. Dia tak suka dengan Vele yang lebih banyak diam. Dia lebih suka melihat mate nya marah, mengomel dan kesal. Itu menurutnya lebih baik, dari pada diam seperti sekarang.
"Katakan kepadaku. Cobalah untuk terbuka sedikit demi sedikit. Kita adalah sepasang mate. Aku bisa merasakan sesuatu yang kamu rasakan saat ini," ujarnya.
Vele terdiam. Gadis ini kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangan kecil miliknya. Dan Easter mendengar seperti suara tangisan kecil di sana. Dengan sigap pria ini merapatkan diri dan memeluk mate nya dari samping.
"Hei. Aku minta maaf jika terlalu memaksamu. Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi," putus Easter. Dan tangisan Vele malah semakin terdengar. Jujur, Easter merasa ia tak berguna menjadi mate dari Vele.
Easter tetap berusaha menenangkan Vele saat ini. Berkali-kali ia mengusap pelan punggung gadis itu dan mengecup kepalanya. Sesenggukan yang Vele buat perlahan mengecil. Hingga terdengar suara dengkuran ringan. Easter tersenyum, mate nya sudah tidur ternyata.
Pria itu membenarkan letak selimutnya dan tidurnya. Dia menyusul Vele ke dunia mimpi.
Di dalam kamar Vale, terlihat gadis itu masih membuka kedua matanya. Matanya bergerak mengikuti huruf-huruf yang tercetak di dalam buku. Buku yang membuatnya bertanya-tanya apakah benar yang dikatakan oleh seorang pria misterius kemarin.
"Hei, Nona. Kau seharusnya tidak berada di sini," ucap pria yang tiba-tiba memasuki kamar Vale diam-diam.
Vale yang baru menyelesaikan merias dirinya terlihat terkejut. Cesse yang ada dalam dirinya sudah bersiaga sejak tadi.
"Tenanglah. Aku tidak akan menyerangmu atau menyakitimu, Nona."
"Siapa kau?" tanya Vale dengan sikap waspadanya.
Pria itu tertawa ringan. "Kau tidak perlu tau aku siapa. Yang harus perlu kau tau adalah, kau harus pergi dari tempat ini secepatnya. Kita adalah satu bangsa, dan kita memiliki keistimewaan. Sayangnya Raja tak menginginkan kita," katanya.
"Apa maksudmu? Jangan mencoba mempengaruhiku," seru Vale.
"Haha. Kau salah kira mengenai Raja. Baiklah, aku akan bertanya satu hal. Apakah kau tau hal besar apa yang tersembunyi bagi makhluk yang lahir dari orang tua yang berbeda bangsa?"
Gadis itu menggeleng. Sekali lagi pria misterius ini tertawa di tempatnya. "Banyak penjelasan yang harus katakan padamu, tetapi kita tak memiliki waktu banyak, Nona. Jika kau ingin mendengar lebih, berjalanlah ke sisi barat istana. Aku akan menunggumu di gerbang belakang," katanya yang langsung bergerak cepat menuju ke balkon dan terjun.
Vale menganga. Dia langsung mengecek ke balkon. Sepi. Tak ada siapa pun. Pria aneh. Kemudian, suara ketukan pintu yang berasal dari Jake menyadarkan gadis ini.
Itu terjadi tepat ketika pagi hari di mana dia akan menuju ke ruang makan tadi. Dalam membacanya, Vale menyimpulkan jika anak dari kelahiran campuran biasanya terlahir tidak sempurna. Tidak semua memang, hanya beberapa. Tapi, apakah yang pria misterius itu maksud dirinya masuk kepada kategori tidak sempurna itu?
***
"Selamat pagi," sapa Easter seperti biasa. Vele hanya mengangguk. Sepertinya sikap diam gadis ini masih berlangsung. Padahal Easter sudah berusaha semampunya.
"Hari ini aku akan mengunjungi bangsa wizard. Apakah kamu mau ikut?"
Ini adalah kali pertama Easter mengajak Vele. Dan pertama kali juga Vele berkesempatan kembali ke bangsanya.
"Bagaimana dengan Vale?"
"Dia akan bersama dengan Jake di istana."
"Aku akan bersiap," putus Vele yang bergerak ke kamar mandi. Easter juga bergerak keluar kamar untuk bertemu dengan Jake lebih dulu.
Jake yang mendengar dirinya dipanggil oleh Easter pun langsung menuju ke ruangan rajanya.
"Jake. Aku dan Vele akan ke bangsa wizard untuk mengecek keadaan di sana. Bisakah sementara kau menjaga istana ketika aku tidak ada?"
"Baik, Raja. Saya akan berada di istana ini," jawab Jake.
"Jangan lupa untuk terus mengawasi gadis itu."
Yang Easter maksud adalah Vale di sini. Jake mengangguk paham. Tadi dia sudah mengecek, Vale masih berada di dalam kamarnya.
Hanya butuh waktu satu jam, Easter dan Vele sudah berada di wilayah wizard. Vele seperti kembali pulang jika berada di sana. Tetapi, keberadaan Easter bersamanya membuat dirinya menjadi sedikit perhatian orang-orang. Tak banyak yang menduga-duga kenapa Vele berada di samping pria itu.
Easter sendiri nampak santai berjalan di tengah keramaian bersama Vele. Dia sengaja membawa gadis itu ke sini untuk menunjukkan pada semua orang jika dirinya telah menemukan pasangannya, yakni Vele.
Kemudian, Vele dibawa menuju ke kerajaan wizard. Ini adalah kali pertama bagi gadis itu bertemu dengan rajanya sendiri termasuk keluarga istana ini.
Raja dan ratu yang sangat Vele hormati menyambut keduanya. Dan tak lupa juga seorang gadis cantik dengan pakaian kerajaan yang sangat pas melekat di tubuhnya.
"Saya sangat senang Anda berkunjung ke sini, Raja," kata raja wizard kepada Easter. Vele hanya diam saja, dan sesekali menimpali dengan senyuman. "Dan siapa gerangan gadis ini?" Lanjutnya. Yang raja wizard maksud di sini adalah Vele.
Vele menunduk, memberi hormat kepada rajanya itu. Meskipun Easter sempat melarangnya, tetapi dia tetap melakukan tata krama miliknya di sini.
"Dia Vele. Dia adalah pasanganku," ungkap Easter secara gamblang yang membuat orang-orang di depannya terkejut bukan main. "Dia salah satu rakyatmu," sambungnya kembali memperjelas status Vele.
Gadis itu terlihat gugup sekarang, ditambah lagi dia mendapat pandangan aneh dari putri dari kerajaan wizard ini.
"Oh. Ini adalah kabar baik, Raja. Kami turut senang mendengarnya," sahut raja wizard yang diangguki oleh ratunya. "Baiklah, mari kita masuk ke dalam. Saya akan menjamu kalian," lanjutnya.
Easter mengangguk. Bersama dengan Vele, sang penguasa ini mengikuti langkah kaki keluarga kerajaan wizard.
Vale sesekali menoleh ke belakang, hanya untuk memastikan jika tak ada orang yang mengikutinya. Gadis ini sudah mengecek Jake di mana pria itu tampak sibuk menggantikan Easter di tempatnya. Ini adalah kesempatan baik untuk Vale pergi ke sisi barat istana. Ditambah lagi Easter sedang tak berada di tempat.
"Berhenti!"
Suara penuh dengan intimidasi itu membuat tubuh gadis ini tak bergerak bak patung. Ditambah lagi dirinya menyelinap diam-diam ke sini. Vale berbalik. Ada satu orang prajurit yang mendekatinya. Vale mencoba untuk tak terlihat gugup.
Ketika melihat sosok Vale, prajurit itu langsung menunduk. "Maafkan saya," ujarnya tiba-tiba. Sosok Vale sebagai kembaran dari Vele tentu saja dikenal oleh para penghuni kerjaaan ini. Dan dia juga sama dihormatinya seperti keluarga kerajaan yang lain.
"Tidak apa-apa. Aku ke sini hanya untuk memenuhi perintah Ratu. Dia ingin aku mengambil beberapa bunga di bagian barat istana," jawab Vale yang tentu penuh kebohongan.
Meskipun sempat bingung, tetapi prajurit itu mengangguk. "Bisakah aku pergi sekarang?" tanya Vale. Prajurit itu mengangguk. Vale berbalik dan melanjutkan jalannya. Sebisa mungkin dia terlihat tak mencurigakan.
Ternyata sisi barat istana dijaga oleh penjaga. Vale lagi-lagi menggunakan statusnya sebagai saudara dari Vele. "Bisakah kau membukakan pintu itu untukku?" tanyanya. Dua penjaga yang ada di sana pun saling pandang.
"Aku ke sini untuk memenuhi perintah Ratu. Dia ingin aku membawakannya beberapa bunga yang ada di bagian barat istana. Apakah kalian keberatan untuk mengijinkanku pergi ke sana sebentar?"
Keduanya pun menunduk. Salah satu dari mereka membukakan pintu gerbang, Vale bersorak senang dalam hati.
Gadis itu berjalan keluar melalui gerbang itu. "Aku tidak akan lama," paparnya kepada kedua penjaga tadi. Keduanya hanya mengangguk saja dan membiarkan Vale pergi.
Tentu hal pertama yang Vale lihat adalah hutan. Karena takut dicurigai, gadis ini pun bergerak seolah mencari bunga yang Vele perintahkan. Dia berjalan sedikit jauh, dan sesekali melirik ke arah gerbang. Sepertinya dua penjaga tadi sudah tak menaruh curiga pada dirinya.
Vale tak tahu bagaimana cara menemukan pria misterius itu. Dia juga tak sempat bertanya siapa namanya. Vale berhenti di pohon besar dengan beberapa akar yang menyembul ke permukaan. Di tangannya juga sudah ada beberapa bunga. Berjaga-jaga agar dia tak dikira mencurigakan.
"Akhirnya kau datang juga, Nona."
Vale refleks menoleh ketika mendengar suara pria misterius itu. Pria itu ternyata duduk di dahan pohon yang sempat Vale jadikan tempat berteduh. Pria yang tak ia ketahui namanya pun meloncat dan mendarat tepat di depan Vale.
"Apakah kau tidak takut ditangkap dan dianggap mengkhianati Raja?" tanya pria itu lagi.
"Aku ke sini hanya untuk memastikan. Sudahlah. Waktuku tidak banyak sebelum Jake menemukanku di sini. Cepat lanjutkan penjelasanmu kemarin," desak Vale.
Pria itu tersenyum aneh, dan Vale tak menyadari itu. "Jika kau takut tertangkap lebih cepat, ayo ikut denganku. Aku punya tempat bagus yang mungkin akan sulit untuk mereka jelajahi," ungkap pria tadi.
Vale menoleh ke belakang. Gerbang masih terbuka, namun pintunya sedikit tak terlihat karena terhalang oleh pohon-pohon. Vale bimbang, tetapi dia ingin lebih tahu kejelasan tentang perihal kelahirannya.
Dan tak disangka, Vale memilih pilihan yang buruk. Dia memilih ikut dengan pria misterius tadi. Pria itu tentu senang ketika Vale mau menurut dengannya.
Keduanya berjalan menyusuri hutan. Vale tak mengerti kenapa pria itu belum berhenti ke tujuan mereka. Sebenarnya dia khawatir tak bisa kembali ke kerajaan jika berjalan terlalu jauh.
"Di sini," katanya. Pria itu berhenti di pohon yang sangat besar. Bahkan besar batangnya melebihi tubuh kecil mereka.
Pria misterius itu menutup kedua matanya, didekatkan telapak tangan miliknya di pohon itu dan beberapa kali mengucapkan mantra ini. Siapa pria ini? Seorang wizard kah?
Keajaiban pun terjadi. Dari pohon itu terbuka jalan seperti pintu. Vale tak bisa menebak apa yang ada di dalam sana, tetapi pria tadi seperti mengisyaratkan dirinya untuk masuk. Dengan ragu, Vale pun masuk diikuti oleh pria misterius itu.
Awalnya hanya kegelalapan, ditambah lagi pria itu menutup pintu yang mereka pakai. Namun, cahaya tiba-tiba memenuhi sekitar mereka. Dan Vale bisa melihat jika ini bukanlah seperti pohon. Ini terlihat seperti rumah. Lebih tepatnya bagian dalam rumah dengan kursi dari kayu.
"Duduklah," kata pria itu. Vale duduk di kursinya sembari memperhatikan tingkah pria tadi. Keduanya saling berhadapan dengan pandangan penuh waspada dari Vale sendiri. Entah kenapa dia terlalu percaya dengan pria ini, padahal Cesse sudah memperingatkannya untuk hal ini.
"Aku tebak kau sudah mencari tahu tentang status kita?" katanya yang tepat sasaran. Sebenarnya Vale hanya mendapat info sedikit dari buku. Dan dia berharap mendapat lebih lagi penjelasan dari pria ini.
"Apa yang ditulis di buku, tidak semuanya menjabarkan diri kita. Apakah kau tau alasan Raja membuat peraturan untuk tidak adanya pernikahan antara bangsa yang berbeda?"
"Itu semua untuk menghindari terjadinya keturunan seperti kita. Apakah kau tau seberapa istimewa kita?"
Lagi-lagi Vale menggeleng untuk mengungkapkan jawabannya. "Kita sangatlah istimewa, Nona. Sayangnya Raja tak menganggap demikian. Dia menganggap kita adalah musuh, pembawa bencana, aib, ancaman dan tak diharapkan di dunia ini."
Bukankah ini terdengar sedikit berlebihan?
"Sepertinya apa yang kau katakan tidaklah benar," sahut Vale. "Dan ya. Kau terus saja berbicara tentang kita, tetapi kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu kepadaku?"
Pria itu terkekeh. Dia lupa memperkenalkan diri secara resmi kepada gadis ini. "Pasti kau tau tentangku, lebih tepatnya mungkin Raja memberitahumu. Aku adalah orang yang dicari oleh raja vampir. Gerry. Itulah namaku."
Bola mata Vale membulat sempurna, bahkan gadis ini reflek berdiri sembari menujuk Gerry dengan jari telunjuknya. "Ka ... u?"
Gerry terkekeh. "Tenanglah, Nona. Aku tidak akan menyakitimu. Karena kita adalah satu bangsa dan nasib kita sama, maka aku anggap kau adalah kawan."
"Tidak! Jangan pernah menganggapku kawan, karena aku pun tak akan pernah menganggapmu kawan. Tidak ada yang lebih keji dari pada menjadikan orang-orang di dunia ini sebagai vampir brutal dan membunuh yang tak berdosa," sarkas Vale.
Gadis itu hendak melangkah pergi, namun Gerry kembali memberikan penawaran kepadanya. "Hei, Nona. Bergabunglah bersamaku, maka aku akan berikan apa yang kau minta. Ingatlah, tempat kita bukan bersama mereka, tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk membangun dunia kita sendiri. Dengan langkah pertama adalah menyingkirkan Raja."
Vale menoleh dan lagsung menatap Gerry nyalang. Tentu pria itu sama sekali tak terintimidasi. "Aku tidak akan pernah bergabung dengan pengkhianat sepertimu," kata Vale penuh ketegasan.
"Kau terlalu terburu-buru mengambil jawaban. Ingatlah. Cepat atau lambat kau akan tau posisimu sebagai apa di sana. Kau tidak hanya dijadikan sebagai tahanan, kau akan disiksa secara perlahan," ungkap Gerry yang terus saja membual.
Vale sudah tak tahan. Dia memang bodoh mempercayai Gerry yang jelas-jelas adalah musuh bagi dunia immortal.
Pintu yang tadinya tertutup oleh Gerry dibuka lebar. Dia mempersilakan Vale untuk pergi kali ini. Tapi sebelum itu, dia kembali mengucapkan sederet kata penawaran lagi.
"Jika kau berubah pikiran, datanglah ke tempat yang sama, Nona. Aku akan dengan senang hati menerimu di pihakku."
Vale melengos dan langsung pergi dari sana. Berubah pikiran? Big no. Vale berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan setia kepada Easter dan Vele. Tidak mungkin dia mengkhianati keluarganya sendiri.
"Vale? Sedang apa kamu di sini?"
___
Jeng jeng jeng
Jangan lupa komen dan love nya