Bagian 20

2039 Words
"Vale? Sedang apa kamu di sini?" Detak jantung Vale berpacu lebih cepat ketika mendengar suara yang ia kenali. Itu adalah suara Jake. Vale menutup kedua matanya, berharap ia tak mendapat masalah kali ini. Gadis itu berbalik. Tatapan Jake penuh dengan kecurigaan. Tidak. Vale tak ingin menjadi seperti Gerry. Lagi pula dia yakin dirinya bukanah keturunan yang gagal. Dia tidak pernah melukai siapa pun hingga detik ini. Jake melangkah lebih dekat kepada gadis itu. Vale mengatur napasnya dengan baik. "Aku mencarimu di istana sejak tadi, tapi kamu tidak ada. Dan aku mendengar dari para penjaga jika kamu keluar untuk mengambil bunga," ungkap Jake. Vale memandang bunga yang ia ambil tadi. Bunganya sedikit layu. "Aku sedang mengambil bunga untuk Vele, dan sepertinya aku berjalan terlalu jauh hingga aku lupa jalan ke istana," jawab Vale setenang mungkin. Tak lupa juga ia memperlihatkan bunga yang dipegangnya. "Tetapi bunganya sudah layu sekarang," lanjutnya dengan nada prihatin. Jake mencoba bersabar. Ketidakberadaan Vale di istana benar-benar membuatnya kelimpungan dan khawatir ditambah lagi Easter sedang tak ada di tempat sekarang. "Jika kamu ingin pergi, katakan kepadaku. Lagi pula kenapa kamu mencari bunga hingga keluar istana? Di dalam istana sudah ada kebun yang tumbuh berbagai bunga." "Ya ... aku tau. Tapi bunga ini tidak ada di dalam, jadi aku mengambilnya," jawab Vale. Tentu saja Jake tak langung percaya. Lagi pula  bagaimana bisa Vale tahu jika bunga di luar istana lebih bagus dari pada di dalam? Gadis itu tak pernah keluar istana sebelumnya. "Ayo. Aku memiliki tugas untuk menjaga kerajaan selagi Raja dan Ratu tidak ada di tempat. Sebaiknya kita segera kembali," putus Jake. Vale mengangguk dan keduanya berjalan bersama menuju ke gerbang istana. Dari jauh Gerry melihat interaksi keduanya, dan tangannya mengepal dengan kuat. *** Vele dan Easter baru tiba di kerajaan. Vele masih tetap pada diamnya, padahal Easter sudah mencoba menghibur gadis ini dengan membawanya pergi keluar istana. "Bolehkah aku ke tempat Vale?" tanyanya. Easter mengangguk. Sepertinya yang Vele butuhkan saat ini adalah suadarinya. Maka, dia pun membiarkan sang mate pergi selagi dirinya berdiskusi dengan Jake. Vele mengetuk pintu kamar sang kembaran. Vale dengan sigap membukanya. Keduanya duduk di atas tempat tidur milik Vale. "Bagaimana harimu?" tanya Vale. Yang dia tahu saudaranya ini memiliki kesempatan berkunjung ke wilayah wizard, tempat Vele dan Cale tinggal. "Biasa saja. Kami hanya melakukan kunjungan ke kerajaan. Dan aku sepanjang obrolan mereka hanya diam saja," cerita Vele. Ini bukanlah seperti Vele. Vale tau ada yang tak beres di sini. "Lalu, bagaimana dengan harimu, Vale?" Kali ini Vele yang bertanya. Vale terdiam. Dia bingung antara menceritakan perihal Gerry atau tidak. Jika ia memberitahu Easter tempat Gerry bersembunyi, pasti pria itu akan segera tertangkap. "Biasa juga. Aku dan Jake hanya melakukan latihan sebentar karena dia mendapat tugas dari Raja," jawab Vale akhirnya. Vele pun mengangguk paham. Kemudian, tanpa sengaja mata gadis itu melirik satu buku yang berada di meja. Itu adalah buku yang Vale pinjam dan baca kemarin. "Vale. Aku butuh pendapatmu," kata Vele dengan tatapan serius. Memang hanya Vale satu-satunya orang yang bisa di jadikan tempat berkeluh kesah. "Ada apa, Vele?" Vele mengambil napas dan mengeluarkannya beberapa kali. "Apakah menurutmu aku harus menerima Easter?" Vale tersenyum hangat. "Tentu itu harus, Vele. Dia adalah mate mu, kamu pun juga sama." "Kemarin Ibu mengatakan banyak hal kepadaku," ungkap Vele dengan menunduk. "Dan aku memikirkan kata-kata Ibu. Menerima Easter sungguh berat untukku, Vele. Aku ingin sebuah keadilan dan penghapusan peraturan itu juga keinginanku. Tidak hanya untuk Ibu dan Ayah, tetapi untuk semuanya. Lagi pula, jika aku tetap bersamanya, maka orang berpikir apa tentang raja dan ratu mereka yang melanggar peraturan?" Yang Vele katakan tidaklah salah. Ada banyak hal yang benar-benar gadis ini pikirkan. Bukan tentang semata keluarganya saja, ini juga menyangkut martabat keluarga kerajaan terutama Easter sendiri. "Kamu bicarakan baik-baik dengan Easter. Hanya kalianlah yang bisa mencari jalan keluar ini, Vele. Aku berharap kalian bisa segera berbaikan dan menikah hingga akhirnya saling hidup bahagia." Vele tersenyum, dia memeluk Vale sebentar untuk menenangkan hatinya. Vale pun juga ikut menyamangati kembarannya ini. "Aku juga akan berbicara dengan Easter mengenai dirimu, Vale," kata gadis itu. "Aku? Ada apa denganku?" "Kamu juga tidak selamanya harus hidup sendiri, bukan? Maka dari itu aku akan membujuk dia untuk mengijinkanmu kembali ke wilayah werewolf. Jika kamu tetap berada di sini, maka mate mu akan sulit menemukan dirimu." Pernyataan Vele mengingatkan Vale akan hal itu. Dia lupa, jika dirinya tak keluar istana, maka mate nya tak akan pernah menemukan dirinya. Vele benar. "Terima kasih, Vele," ucap Vale akhirnya. Sedikit bantuan dari sang kembaran sangat bermanfaat untuknya. Vele pun kembali ke tempatnya. Dia melewati beberapa lorong untuk sampai ke kamarnya dan Easter. Maklum, kamar Vale sedikit jauh dari tempatnya. "Ratu." Panggilan dari arah belakangnya membuat gadis ini refleks menoleh. Seorang prajurit menghampirinya dan tak lupa menunduk hormat. "Ratu. Anda dipanggil Raja ke ruangannya," kata prajurit ini. Vele mengangguk dan prajurit itu kembali bertugas. Tujuan Vele kali ini bukanlah kamar, melainkan ruangan Easter. Easter sendiri sedang bersama Jake di dalam ruangannya. "Bagaimana? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Easter. "Saya ingin minta maaf, Raja. Sekali lagi saya kecolongan." Tatapan tajam langsung Easter berikan kepada Jake. Apa lagi sekarang? "Saya menemukan Vale di sisi barat istana, Raja. Lebih tepatnya di dalam hutan. Dia beralasan ke sana memetik bunga untuk Ratu. Tetapi, saya tidak langsung mempercayainya." "Kenapa kau begitu lalai, Jake? Sudah dua kali kau kehilangan dia. Kita masih beruntung dia tak pergi melarikan diri. Bagaimana jika dia lari dan tak kita temukan? Masalah seperti Gerry akan kembali terjadi setelahnya," omel Easter. Jake menunduk, dia mengaku salah. "Aku tidak mau tau. Kau harus lebih ekstra menjaganya. Jangan biarkan Vale pergi sendirian. Jangan biarkan dia sendirian. Apalagi membiarkannya keluar dari istana. Saat ini dia adalah ancaman bagi dunia kita." "Apa yang kamu maksud itu, Raja?" Pertanyaan penuh dengan ketegasan itu berasal dari arah pintu. Kedua pria itu menoleh, Easter memijit pangkal hidungnya. Kenapa Vele datang di saat yang tidak tepat sekarang? Apa yang harus ia jadikan alasan setelah ini? Vele langsung melangkah mendekati keduanya. Dia datang dan tak sengaja mencuri dengar obrolan mereka. Dan sungguh mengejutkan keduanya membicarakan Vale. Ditambah lagi Easter mengatakan jika kembaran Vele itu adalah ancaman. "Jelaskan kepadaku apa maksud dari ancaman yang kalian katakan?" desak Vele. Tentu dia tidak tuli. Jelas-jelas Easter menyebut Vale di obrolan mereka. "Ini bukanlah urusanmu," jawab Easter cepat yang membuat Vele merasa tersinggung di sini. "Kenapa ini bukan urusanku? Kalian sedang membicarakan Vale. Vale adalah sudaraku. Tentu dia menjadi urusanku juga," sahut gadis itu. "Jake!" panggil gadis itu. Jake menunduk hormat. "Jelaskan kepadaku apa yang sedang kalian bicarakan," perintahnya. Kali ini Vele menggunakan kekuasaannya sebagai calon ratu. "Maafkan saya, Ratu. Hanya Raja yang bisa menjelaskan semuanya." Kesetiaan Jake hanya pada Easter. Vele mendengkus kesal. "Pergilah, Jake. Biar aku yang urus ini," titah Easter. Jake mengangguk, dan tak lupa menunduk hormat kepada keduanya. "Jangan lupa untuk menutup pintu," peringat Easter yang langsung dilaksanakan oleh bawahannya itu. Pandangan Vele masih tertuju pada Easter. Dia butuh banyak penjelasan di sini. "Aku akan menjelaskannya, tetapi berjanjilah padaku untuk tidak marah dan tetap menutup mulut. Aku tidak ingin kamu menceritakan ini ke orang lain terutama Vale. Bisakah?" Ini terdengar seperti sebuah persyaratan. "Jika yang kamu bicarakan adalah hal buruk, maka aku berhak untuk marah. Yang aku tau adalah Vale bukanlah ancaman. Dia adalah saudariku," jawab Vele tegas. "Iya aku tau. Tapi, itulah persyaratannya jika kamu ingin mendengar penjelasanku," balas Easter. "Baiklah. Aku menerima persyaratannya," putus Vele cepat. Tentu dia tak sabar mendengar semuanya. Easter mengangguk paham. "Apakah kamu masih ingat ceritaku tentang asal muasal kenapa aku membuat peraturan pelarangan pernikahan berbeda bangsa?" Vele mengangguk. Dia sangat ingat betul cerita itu. "Itu artinya kamu ingat jika pernikahan berbeda bangsa akan melahirkan keturunan yang gagal alias tidak sempurna seperti keturunan lainnya. Sangat disayangkan Vale masuk ke dalam kategori itu. Bahkan bisa dibilang dia berada pada kategori ancama paling tinggi." "Apa alasanmu mengatakan ini semua? Yang aku tau, Vale tetaplah baik-baik saja. Dia tidak pernah melukai atau berniat melukaiku. Dia sangatlah baik, begitu juga dengan Cesse." Easter tersenyum. Ikatan saudara memang tidak bisa diragukan. Tetapi, dia perlu menjelaskan secara tuntas kepada mate nya. "Aku memiliki tiga bukti jika dia masuk ke dalam keturunan yang gagal dan ancama paling tinggi. Pertama, kita semua tahu jika werewolf memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan cepat. Itulah gift yang pencipta berikan kepada mereka. Tetapi apa yang terjadi pada Vale? Saat dia terluka, wolf nya sulit untuk menyembuhkan diri, dan berakhir dengan dirimu yang harus mentransfer energi untuknya." "Saat itu dia terkena racun hitam. Itulah alasan dia sulit untuk sadar." "Tabib sudah menyedot racunnya, Vele. Tentu itu akan memudahkan wolf nya untuk menyembuhkan Vale," jelas Easter lagi. Vele diam. "Bukti kedua adalah dari Jake. Jake dan Vale berlatih setiap hari. Itu membuat keduanya saling bertemu. Tetapi, ada suatu waktu di mana Jake merasakan ada yang berbeda dari diri Vale. Dia mencium aroma mate dari sosok Vale. Tentu ini tidaklah benar bukan? Mate Jake sudah tiada lama. Dan juga kalau memang mereka adalah pasangan mate, bukankah sejak awal keduanya sudah bisa merasakan itu? Terlebih lagi Vale adalah seorang werewolf." Vele tak tahu harus membantah hal ini seperti apa karena pada dasarnya dia juga tak mengerti bagaimana merasakan kehadiran seorang mate. "Apakah kamu tau apa istilah untuk Vale?" tanya Easter. Vele menggeleng pelan. "Pencuri. Ini benar-benar berbahaya bagi semua makhluk. Dia bisa mencuri mate seseorang yang telah menemukan mate nya ataupun belum. Bisa dikatakan, dia bisa mempengaruhi pikiran orang lain untuk menganggap dirinya adalah mate." Vele benar-benar syok dibuatnya. Pencuri? Tidak mungkin. "Bukti ketiga adalah yang mungkin berbahaya untukku," lanjut Easter dengan tatapan sendu. "Jake merasa jika dalam beberapa waktu Vale bisa merubah aroma dirinya menjadi seperti wizard." Boom! Benar-benar mengejutkan dan tak pernah Vele sangka. "Kamu dan Vale memiliki wajah yang mirip. Aku tau dia tidak mungkin sejahat itu berpura-pura menjadi dirimu. Tetapi, masa depan tidak ada yang tahu," kata Easter. Itulah yang Easter gelisahkan dan waspadai. Di sini Vele dapat mencerna semuanya. Easter yang melihat bisunya sang mate pun juga gelisah. Bisa saja Vele mengira dirinya mengada-ngada kali ini. Pria itu memberanikan diri untuk mendekati Vele. Kemudian, dia tarik pelan pinggang gadis ini di mana tubuh Vele bertubrukan dengan tubuhnya. Easter menenangkan sang mate dengan pelukan hangat. "Mari kita bersama-sama berusaha. Jika hal buruk di masa depan terjadi, aku akan berusaha untuk tak terkecoh. Walau bagaimanapun, kita adalah sepasang mate. Kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini." Kata-kata penenang itu mampu membuat Vele terlena. Gadis itu membalas pelukan Easter, menenggalamkan wajahnya di dadaa bidang pria itu. Ini nyaman. Menerima balasan yang positif membuat Easter senang. Hubungan keduanya semakin baik sekarang. "Sebenarnya aku bisa saja mencegah bukti yang ketiga terjadi padaku," ujarnya membuat Vele menatap wajah Easter dari bawah. Pria itu menunduk, mendaratkan kecupan singkat di dahi Vele. "Kita harus segera menikah dan aku melakukan klaim padamu. Dengan begitu, aku akan sulit terkecoh oleh pencuri karena ikatan kita benar-benar kuat." Sederet kata yang benar-benar mengganggu untuk Vele sendiri. Dia sendiri masih penuh kebimbangan memikirkan perkataan sang ibu. Sekarang, masalahnya bertambah lagi. Easter menunggu reaksi dari mate nya. Vele yang masih dalam bisunya kemudian kembali menenggelamkan wajahnya di dadaa Easter, memeluk pria itu semakin erat seolah tak ingin kehilangan. Easter membalas pelukan yang Vele berikan kepadanya. Untung saja Jake sudah menutup pintu tadi. "Aku takut." Satu kalimat itu meski teredam oleh dadanya, tetapi Easter masih mampu untuk mendengar. "Aku bingung." Lagi. Vele menyuarakan isi hatinya. "Dan aku gelisah sekarang." Takut, bingung, dan gelisah menjadi satu. Sebenarnya yang Easter rasakan juga hal yang sama. Vele menarik kepalanya, menatap manik mata Easter yang tajam secara langsung. Easter pun menunggu apa yang akan gadisnya lakukan. "Aku takut kehilanganmu dan perasaanku sendiri. Meskipun berkali-kali aku menolak hubungan ini, tetapi aku tidak bisa. Pada akhirnya, aku kembali berpikir untuk bersamamu. Dan pada akhirnya juga aku tak ingin kita saling berjauhan," tutur Vele. Yang Easter simpulkan adalah Vele tengah membalas perasaannya sekarang, tetapi gadis ini masih bimbang. "Apakah kamu tau jika aku rela menunggumu? Bahkan aku tidak peduli sesering apa kamu menolakku, aku akan tetap menunggu. Aku tidak pernah membenci penolakanmu karena aku tau ada alasan dibalik itu semua." "Maafkan aku, Easter." Pertama kali Vele memanggil pria itu dengan nama, bukan dengan gelarnya. Easter mengangguk dan mencoba menampilkan senyum terbaik miliknya. _____ Huwaaa. Semoga kalian cepet nikah ^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD