Bagian 25

1665 Words
Di meja makan ketika semua orang menikmati sarapan mereka, sama sekali tak terdengar suara obrolan. Semuanya masih dalam keadaan diam. Diam-diam Vele melirik Vale yang tenang makan di salah satu kursi. Easter melirik sang mate yang pandangannya tertuju pada si kembaran. Vele mengembuskan napas lelahnya. Vale masih mode diam terhadapnya. Tentu saja, gadis itu pasti kecewa pada dirinya karena sudah berbohong. Selepas sarapan, Vele hendak mengejar Vale. Membujuk gadis itu dan menjelaskan segalanya. Tetapi, lagi-lagi Vale menghindar dan memilih segera pergi ke tempat latihan. Easter dan Jake yang melihat sang ratu pun menjadi tidak tega. Vele memilih kembali ke kamar dan tak jadi ikut Easter ke ruangannya. "Ada apa?" tanya pria ini yang mengikuti sang mate menuju ke kamar. Vele yang sedang duduk di atas tempat tidur pun melirik pria yang baru melewati pintu kamar. Ini semua gara-gara Easter. Coba saja Vele tak mengikuti permainan pria itu, pasti hubungannya dengan Vale tak akan seperti ini. "Hei, maafkan aku jika membuatmu seperti ini," ucap Easter memilih mengalah. Dia juga tak sanggup terus terusan bermusuhan dengan Vele. "Percuma saja sekarang. Vale sudah membenciku," kata Vele yang kemudian menutupi wajahnya dan terdengar suara tangis di sana. Easter tak suka jika sang mate menangis. Dengan cepat dia langsung memeluk Vele dari samping agar gadis itu sedikit tenang. "Aku tidak ingin hubunganku dan Vale buruk. Aku takut dia terus membenciku. Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu," cicit Vele. Easter mengangguk paham. "Aku akan bicara dengannya nanti." "Tidak usah. Kalau keadaannya semakin buruk, itu semakin akan membuatku sedih," sahut Vele cepat. Easter melepaskan pelukannya dan menatap gadis ini penuh. "Jika kamu tidak mau aku bicara dengannya, maka berhentilah bersikap seperti ini, Vele. Ini benar-benar menyiksaku." Vele pun mengerucut sebal. Padahal dia sedang dalam keadaan sedih. Di lapangan tempat biasa Jake dan Vale berlatih pun terdengar intruksi dari Jake untuk Cesse. Cesse berlarian ke sana ke mari. Melewati berbagai rintangan yang telah Jake siapkan dengan mudah. "Kamu belajar dengan sangat cepat, Cesse," puji Jake. "Baiklah, sesi latihan untukmu sudah selesai hari ini. Sekarang giliran Vale," sambungnya. Werewolf itu mengaum sebentar, kemudian menjilat wajah Jake membuat si pria menjadi geli di sana. Cesse berjalan mundur untuk merubah wujudnya kembali menjadi manusia. Jake membawakan minuman untuk Vale. Vale menerimanya dan langsung menenggak minuman itu. Padahal yang lelah pasti Cesse bukan Vale. "Duel satu lawan satu aku rasa tidaklah buruk, Vale," usul Jake kala itu. Vale terdiam, dia mengangguk dengan semangat. Sudah lama mereka tidak duel, di mana dulunya Jake mendominasi duel itu. Namun, Vale optimis dia pasti bisa mengalahkan Jake. Vale dan Jake memberi jarak satu sama lain. Keduanya saling tatap dengan pandangan waspada. "Jangan mengalihkan tatapanmu dari musuhmu, Vale. Ini sangatlah penting. Kamu tetap harus waspada di segala kondisi," intruksi Jake. Vale mengangguk paham. Jake melakukan serangan pertama. Vale mampu menghindari. "Serangan lawan bisa datang dari mana saja. Dan jangan selalu mengandalkan teknik menghindar. Di keadaan tertentu kamu harus menyerang lawanmu juga," kata Jake Sepanjang setengah hari itu keduanya habiskan untuk berduel. Vale terlihat bersemangat di latihan kali ini. Tentu dia melampiaskan kekesalan serta kecewaannya pada latihan tersebut. Dan Jake mau tidak mau harus meladeninya. Dadanya naik turun. Vale mengatur pernapasannya, menghirup oksigen banyak-banyak di sana. Jake memberikan minuman sekali lagi. Gadis itu menenggaknya hingga tandas. Jake hanya mampu menggelengkan kepala. "Bukankah melampiaskan kekesalan kepada kegiatan seperti ini sungguh menyenangkan? Bagaimana perasaanmu sekarang?" Seloroh Jake santai. Maklum, dia adalah seorang vampir di mana tak mudah untuk kelelahan. "Cukup lega, tetapi masih saja ada sesuatu yang mengganjal di hati," jawabnya. Jake mengangguk paham. Memang tak mudah untuk menerima keadaan. "Jake, bolehkah aku bertanya?" Pria itu mengangguk. Dia sudah mengira jika Vale pasti akan bertanya mengenai dirinya sendiri. "Bukti-bukti apa yang membuat dirimu dan Raja yakin jika aku termasuk ke dalam keturunan yang cacat?" "Awalnya rajalah yang menyadarinya, tetapi aku mencoba menambah beberapa bukti," kata Jake mengawali. "Pertama, wolf mu tidak bisa menyembuhkan dirimu dengan cepat di saat terluka. Kita semua tahu apa kelebihan yang dimiliki oleh bangsa werewolf," lanjutnya. "Bukti selanjutnya adalah aku yang membawanya. Aku mengira kamu adalah pencuri karena dalam beberapa waktu aku mencium aroma mate pada dirimu, Vale. Kita ssmua tau jika mate ku telah tiada. Dan jika memang kita adalah sepasang mate, bukankah harusnya kita merasakannya sejak pertama kali bertemu? Aku yakin wolf mu pun tak mungkin merasakan aroma mate pada diriku." Vale mengangguk membenarkan. Cesse baru saja menjawabnya di dalam kepala Vale. "Fakta selanjutnya adalah aku bisa mencium aroma wizard pada dirimu. Mungkin ini karena kamu berasal dari keturunan bangsa wizard juga yakni ibumu." Vale terkejut. Dia tak tahu jika dirinya bisa merubah aromanya menjadi bangsa wizard. "Aku dan Raja sudah mendiskusikan ini sebelumnya, Vale. Kami memutuskan untuk menjagamu. Raja menempatkanku di sisimu agar aku bisa lebih ketat menjagamu. Bukan tanpa alasan. Entah ini kelebihan atau kekuranganmu, yang pasti akan ada orang-orang yang menentang keberadaanmu. Untuk itulah sebisa mungkin kita tak membiarkan kamu bepergian sendirian." Jadi, untuk itulah Jake selalu menemani Vale sepanjang hari bahkan repot-repot mengantarnya ke depan kamar. "Maafkan aku karena membuat semua orang khawatir. Aku benar-benar tak mengerti kenapa semua ini terjadi padaku. Setelah ini aku mungkin tak akan bisa hidup normal lagi," ujar gadis ini terlihat sangat sedih. Jake mencoba memakluminya. "Meskipun demikian, tidak seharusnya kamu mendimai Ratu. Walau bagaimanapun, kami semua ingin yang terbaik untukmu, Vale. Ratulah yang membelamu di depan Raja. Ratu bahkan meyakinkan Raja jika kamu bukanlah ancaman bagi semua orang." Vale menatap Jake serius. Sekarang dirinya benar-benar terlihat seperti gadis bodoh dan tak tahu diri. Keputusannya untuk mendiami Vele nyatanya mampu semua orang deteksi. Dan itu semakin menguatkan citra buruk dalam diri Vale. Gadis itu tiba-tiba berdiri dari duduknya, Jake ikut berdiri. "Jake. Bisakah kita sudahi latihannya hari ini?" tanya Vale tiba-tiba. Jake mengangguk. Vale pasti butuh banyak istirahat. "Aku akan langsung kembali ke kamar," sambungnya, "tidak usah mengantarku, Jake. Aku bisa kembali sendiri. Aku yakinkan padamu jika aku akan benar-benar kamarku," kata Vale mencegah langkah Jake yang ingin mengantarnya ke kamar. Gadis itu berbalik dan langsung pergi menuju lorong yang bisa membawanya ke kamar miliknya. Jake memandang kepergian Vale dengan prihatin. Ya, gadis itu butuh waktu sendiri sekarang. Di dalam kamarnya, Vale langsung melampiaskan hal yang ia pendam sejak kemarin. Cesse meraung juga di dalam kepalanya. Hidup keduanya benar-benar hancur. Terlebih lagi Cesse yang sejak kemarin mendengar fakta itu sudah berpikiran buruk tentang mate. Mereka pasti akan sulit atau tidak akan pernah bertemu dengan mate. Vale menangis, dia menatap isi kamar yang sudah ia obrak-abrik. Biarlah, dia butuh pelampiasan. Latihan dengan Jake tidaklah cukup. "Bagaimana ini, Cesse? Aku takut terus hidup sendirian. Apalagi kita tidak diijinkan pergi dari kerajaan ini. Bagaimana jika mate kita mati karena terlalu lama tak menemukan kita?" ucap Vale yang ia tujukan kepada wolf miliknya. "Kita pergi saja dari sini, Vale. Aku sudah lelah. Sejak awal aku sudah curiga kenapa kita tak diijinkan keluar kerajaan. Aku benar-benar kesal ketika mengetahui alasannya," balas Cesse di dalam pikiran gadis ini. Vale mengangguk, dia sedikit setuju dengan Cesse. Namun, di sini masih ada Vele, Albus, dan Cale. Mereka adalah keluarga Vale  dan juga Cesse. "Bagaimana dengan Vele, Ayah, dan Ibu? Kita tidak bisa meninggalkan mereka di sini." Cesse terdiam, dia baru mengingatnya. "Raja tak mungkin berani menyakiti mereka. Apakah kamu lupa jika Vele adalah mate sejati Raja?" Vale mengangguk membenarkan perkataan Cesse sekarang. Tentu Easter tak akan berani melukai Vele. Di mata Easter, saudara kembar Vale itu adalah yang utama. "Kamu benar, Cesse. Seharusnya sejak lama kita pergi. Di sini yang Raja butuhkan hanyalah Vele. Kita tak memiliki tempat di sini," lirih Vale. Dia menyadari posisinya. Cesse dan Vale masih bergelut di dalam pemikiran mereka di mana tanpa mereka sadari, kamar Vale kedatangan tamu yang tak diundang. Gerry tersenyum tipis memandang Vale dari pintu jendela balkon. Dia sudah menebak keadaan yang ada dari ekspresi gadis itu. Pria itu mengetuk jendela sebanyak tiga kali. Ya, kali ini dia mencoba bertamu dengan keadaan baik-baik. Vale refleks menoleh, kemudian gadis itu mengembuskan napas berat melihat kedatangan Gerry yang selalu seenaknya menuju ke kamarnya. "Bolehkah aku masuk?" tanya Gerry. "Biasanya kau tidak ijin dulu kepadaku, bukan?" sindir Vale langsung. Gerry tertawa di tempatnya, dia membuka jendela besar seperti sebuah pintu itu dengan lebar. Kemudian dia menarik kursi yang tersedia di dalam kamar Vale. "Kenapa dengan wajahmu itu? Sepertinya suasana hatimu kurang baik saat ini," kata Gerry. Vale berdecak kesal. Ini bukanlah seperti dirinya yang dulu. Fakta-fakta baru beberapa hari ini yang baru ia ketahui mampu mengubah hidupnya. "Bolehkah aku bertanya?" ujar Vale. Gerry langsung mengangguk. "Apa yang kau lakukan ketika pertama kali mengetahui jika dirimu berada di garis keturunan yang cacat?" "Kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah sekarang kau tau apa yang sebenarnya terjadi?" Vale mau tidak mau pun mengangguk. "Baiklah. Aku tau ini pasti sangatlah mengejutkan untukmu. Aku pun dulu juga sama. Awalnya aku uring-uringan dan mencoba menentang takdir. Tapi, lambat laun aku pun paham dan menganggap jika diriku ini istimewa. Kita adalah makhluk istimewa yang memiliki kekuatan di mana makhluk lainnya tidak." "Seisitimewa apa pun itu, pembunuhan dan penyalahgunaan hak hidup tidak dibenarkan." "Kau tidak tau saja apa yang dilakukan Raja ketika mendapatkan orang-orang seperti kita. Kematian. Raja akan membunuh orang seperti kita atau bahkan kita akan diasingkan ke tempat yang benar-benar gelap." "Itu tidak mungkin. Bahkan hingga saat ini Raja masih membiarkan aku hidup." Gerry tertawa di tempatnya, Vale tak suka mendengarnya. "Salah satu alasan dia membiarkan kau hidup adalah karena Ratu. Wajah kalian sangatlah mirip. Jika Raja membunuhmu, maka dia seperti membunuh mate nya sendiri. Lagi pula, dia memiliki cara lain untuk membunuhmu secara perlahan," jelas Gerry dengan senyum aneh di wajahnya. "Apa?" "Dia memenjarakanmu di kerajaan ini. Dengan begitu kau tidak akan bisa bertemu dengan mate mu. Mate mu pun sama, dia tak akan bisa menemukanmu. Dengan begitu perlahan kau pun akan mati," jawab Gerry yang mana membuat gadis itu terlihat syok. "Vale. Aku tidak ingin hidup seperti ini. Jika apa yang dikatakan pria ini adalah benar, sebaiknya kita segera kabur," kata Cesse. Gerry meneliti ekspresi wajah gadis ini, dia menduga Vale sedang bicara dengan wolf nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD