Bagian 24

1481 Words
"Salam, Raja, Ratu." Jake menunduk hormat kepada pasangan ini. Vele yang semula fokus dengan kegiatan membacanya di ruangan Easter pun menoleh. "Ada apa, Jake? Bukankah hari ini adalah jadwalmu latihan dengan Vale?" kata Easter. "Ya, Raja. Kami sedang latihan, dan ini waktu istirahat. Saya ke sini untuk menyampaikan amanah dari Vale," ungkap Jake jujur. Vele mengubah duduknya menjadi tegak. Segala apa yang berurusan dengan sang kembaran sangatlah penting baginya. "Apa itu?" "Vale ingin meminta ijin kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa barang," ungkap Jake kala itu. "Aku tidak mengijinkan," jawab Easter tegas. Tentu dia tak bisa menanggung resiko. Kepala Vele menoleh kepada pasangannya itu. Dia memandang Easter kurang suka. Dan yang ditatap hanya terlihat santai. "Tapi, Raja. Saya bisa menemaninya untuk mencegah hal yang tak diinginkan terjadi," sahut Jake. "Apakah kau bisa menjamin bahwa dia tak akan menggunakan kekuatannya untuk menarik mate pasangan lain, Jake? Apakah kau bisa menangani semua orang di luar sana?" cecar Easter. Jake terdiam, tentu dia tak memiliki jawaban pasti. "Raja, coba pertimbangkan usulan Jake saat ini. Sejak dulu Vale selalu hidup bersama ayah di wilayah werewolf. Tidak ada apa pun yang terjadi di sana. Ini artinya Vale tetaplah aman," sela Vele. "Aku tidak ingin mengambil resiko," jawab Easter lagi. "Ada Jake. Jika perlu, aku akan menjaganya juga," balas Vele. Easter menutup kedua matanya. Entah kenapa semua orang hendak memberi kebebasan pada Vale yang mana memiliki potensi besar sebagai ancaman di dunia ini. "Benda apa yang akan dia ambil? Jika kita mampu memberikannya, maka tak perlu kembali ke rumah. Dan ya, jika tidak mau, kita bisa mengambilkan barang itu di sana," ide Easter. "Raja. Sebagai pasanganmu, aku minta ijinkanlah Vale dan Jake pergi sebentar. Aku yakin ini tidak akan lama. Mereka pasti akan segera kembali," ucap Vele. Easter tersenyum tipis, Vele mulai menyuarakan pendapatnya sekarang. "Aku tidak tega melihatnya terkurung di kerajaan ini," balas Vele dengan nada sedihnya. "Kita tidak mengurungnya. Kita hanya berusaha agar tak terjadi sesuatu yang buruk pada Vale maupun orang lain. Jangan pernah anggap kita sedang menahannya di sini. Karena pada dasarnya kita semua sedang menjaga kedamaian di negeri ini." "Memang seberapa bahayanya diriku hingga kalian berdebat seperti ini?" Suara yang ketiganya kenali pun mampu membuat atmosfer di ruangan ini menjadi berbeda. Mata mereka berpusat pada satu titik. Sosok gadis yang sejak tadi mereka bicarakan tengah menatap ketiganya dengan tatapan yang sulit diartikan. Vele menutup kedua matanya, dia berharap sesuatu yang buruk tak terjadi hari ini. Dengan pandangan yang masih penuh misteri, Vale melangkahkan kakinya memasuki ruangan Easter. Sebenarnya dia mencari Jake di mana pria itu tak kunjung kembali setelah ijin pergi sebentar untuk menemui Easter. Tapi, belum juga dia memasuki ruangan itu, telinganya mendengar perdebatan kecil di dalam sana. Rasa keingintahuan Vale makin tinggi ketika namanya berkali-kali disebutkan. Vale menoleh kepada Vele. Dia cukup terkejut ketika diam-diam Vele mengetahui sesuatu mengenai apa yang terjadi pada dirinya. "Bisakah kamu menjawab pertanyaanku barusan, Vele?" tanya Vale seperti sebuah permintaan. Gadis itu terlihat gugup, tentu Vele tak yakin mengungkapkan semuanya adalah pilihan yang jelas. "Jika kamu benar-benar saudaraku, maka jelaskan kepadaku. Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, Vele. Itu pun jika memang kita masih memiliki ikatan saudara," lanjut Vale yang semakin mengintimidasi Vele di sini. Mendapat perkataan seperti itu membuat Vele sedikit tertekan. "Biar aku yang menjelaskan padamu, Vale," potong Easter. Dia tak tega melihat sang mate diperlakukan seperti ini. Vale menoleh, firasatnya mengatakan jika ada hal buruk yang ada pada dirinya. Bahkan Cesse pun juga mengatakan demikian. "Pertama, mari kita semua duduk," perintah Easter. Semuanya langsung menempati kursi masing-masing. Vele terus memainkan kedua jarinya di mana dia benar-benar gugup sekarang. Dia tak bisa memprediksi respon dari Vale setelah ini. Terlebih lagi Vale bisa saja membencinya sebentar lagi. "Baiklah, Vale. Biar aku ceritakan mengenai asal mula kenapa aku mengeluarkan peraturan larangan menikah dengan berbeda bangsa. Apakah mau mendengarnya lebih dulu?" tanya Easter pertama kali. Vale mengangguk sebagai jawabannya. Dan mulailah Easter menceritakan semuanya. Dimulai dari kematian orang tuanya hingga muncullah statement di mana dia mengeluarkan peraturan itu. Tentu yang menjadi dasar di sini adalah hasil dari keturunan yang tidak sempurna itu mampu membuat dunia ini goyah. "Gerry termasuk ke dalam keturunan itu, Vale. Apakah kamu sudah melihat apa saja tindakan buruk yang coba dia lakukan? Beginilah hasil dari konsekuensi pernikahan berbeda bangsa. Meskipun semuanya tidak begitu, tetapi ada saja yang cacat," terang Easter. "Dan, sangat disayangkan kamu pun ikut dalam keturunan ini juga," lanjut Easter yang mampu membuat gadis itu syok. "Kamu dan Vele adalah saudara kembar, tetapi aku mampu untuk merasakan jika Vele bukanlah keturunan yang cacat. Dalam hal ini terjadi pada dirimu, Vale. Aku tau ini benar-benar mengejutkanmu, tetapi itu kebenarannya." Vele pun tak tega melihat kembarannya terdiam seperti ini. Dia menggenggam satu tangan Vale, menatapnya dengan dalam. "Vale ... tidak peduli bagaimana dirimu, kamu tetaplah saudaraku. Aku sangatlah menyayangimu. Bagiku, kamu adalah saudara yang sempurna," jelas Vele. Vale masih tetap pada sikap diamnya. Dia kembali mengingat segala perkataan Gerry yang mana tak pernah ia percayai. Ternyata pria itu benar. "Apakah aku sangatlah berbahaya, Vele?" tanya Vale kepada sang kembaran. Vele menggeleng dengan cepat. Dia tak ingin membuat Vale kepikiran. "Bisa dibilang iya, Vale," sela Easter. Dia tahu jika sang mate tak berani jujur. Tetapi, jika mereka terus saja menyembunyikan faktar dari Vale, maka permasalahan ini tak akan pernah selesai. "Hal yang sangat berbahaya adalah kamu masuk dalam kategori pencuri," ungkap Easter langsung. "Pencuri. Sesuai dengan namanya. Kamu bisa mencuri mate orang lain yang sudah meninggal ataupun masih hidup. Kamu adalah ancaman bagi semua orang yang memiliki mate. Mereka tidak akan segan-segan membunuhmu jika mengetahui ini," terang Easter. Dengan berat hati dia harus menjelaskan semuanya. Dan terlihat jelas jika Vale semakin syok sekarang. "Dan ada beberapa lagi kecacatan yang kamu miliki, Vale. Kamu bisa bertanya semuanya pada Jake nanti. Tetapi yang menjadi sorotan saat ini adalah poin pencuri." "Jadi ... apakah Anda tidak memberikan saya ijin keluar istana karena ini?" Dengan berat hati, Easter pun mengangguk membenarkan. Vale tampak sedih, segala perkataan Gerry tampak benar dipikirannya. "Kami hanya ingin kamu aman, Vale. Sekalipun kami tidak berpikiran buruk tentangmu," sahut Vele. Vale memandang Vele sekali lagi. Bahkan dirinya tak percaya jika Vele mampu menyembunyikan fakta mengenai diri Vale sendiri. Bisa dibilang hanya Vele yang Vale paling percaya di istana ini. Tetapi, setelah hal ini baru dia dengar, dia sedikit meragukan. "Maafkan aku, Vele. Tetapi, aku benar-benar kecewa padamu. Kita adalah saudara kembar. Aku sangat mempercayaimu sebagai saudaraku. Ketika kamu tahu jika aku memiliki permasalahan dalam diriku, kamu menyembunyikannya dariku. Aku tau kamu melakukan ini karena raja, tapi kita saudara, kan?" lirih Vale yang sudah menahan tangisnya di sini. Dia merasa menjadi orang bodoh sekaligus terlalu polos dengan keadaan. Vele menggeleng. Dia menggenggam erat tangan Vale di sini. "Bukan maksudku menyembunyikan itu semua, Vale. Aku hanya tidak ingin kamu berpikir buruk mengenai dirimu sendiri. Aku tidak ingin kamu tertekan dan jatuh sakit. Kita adalah saudara kandung, dan aku sangatlah menyayangimu melebihi apa pun," terang Vele. Dengan pelan, Vale melepaskan genggaman tangan Vele. Vele tentu terkejut di mana Vale menolak dirinya. Vale berdiri dari tempat duduknya. Dia menunduk hormat pada Easter dan Vale. "Maaf, Raja dan Ratu. Saya permisi kembali ke kamar," pamit Vale yang bahkan memanggil Vele dengan nama kebesarannya. Tentu ini menjadi hal yang tak biasa, dan Vele tak suka mendengarnya. Kepergian Vale membuat Vele menjadi sedih. Jake ikut pamit untuk mengantar Vale. Easter langsung berpindah tempat di sebelah sang mate. Vele langsung memeluk pria ini dari samping, tangisnya pun pecah. "Aku sudah salah. Vale pasti membenciku," ujarnya dengan pilu dan tangis kesedihan di sini. "Sudahlah. Dia masih syok dan butuh waktu saja untuk memahami semuanya," kata Easter mencoba menenangkan Vele di sini. Namun, Vele masih sedih, dan sepanjang itu Easter mau tidak mau harus menemani mate nya yang dalam keadaan tidak baik-baik saja. "Vale," panggik Jake di mana mengurungkan gadis itu menutup pintu kamar. "Bolehkah aku bicara sebentar?" pintanya. Vale terdiam, kemudia dia mengangguk setuju. "Aku hanya ingin mengatakan jika ini bukanlah salah Ratu. Akulah yang memberitahu mengenai kejanggalan yang ada pada dirimu, kemudian Raja menyelidikinya. Ratu bahkan baru tau mengenai fakta itu sejak beberapa hari ini. Dia juga sama terkejutnya denganmu," terang Jake. Pria ini tak ingin Vale berpikiran kepada saudaranya sendiri. "Tenanglah, Jake. Aku tidak mungkin berani menyalahkan ratu penguasa negeri ini. Bukankah itu akan membuatku berakhir di penjara setelahnya?" Jujur, Jake kurang suka dengan nada bicara yang Vale keluarkan. Dia tahu jika Vale pasti kecewa, tetapi tidak seharusnya dia bersikap seperti ini, bukan? "Aku berharap kamu bisa menenangkan dirimu lebih dulu. Jika ada yang ingin kamu salahkan, salahkan saja aku. Karena akulah yang awal mula melapor pada Raja," kata Jake yang kembali melindungi Vele. Vale tak menanggapi apa pun, bahkan ekpresinya tampak datar. Bukan seperti Vale yang biasanya. "Jika tidak ada hal penting lagi yang ingin kamu katakan, aku mau tutup pintunya. Kepalaku pusing hari ini," kata Vale. Jake mengangguk. Pintu tertutup kemudian. Bahkan banyak orang yang membela Vele dari pada aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD