Bagian 12

1398 Words
Easter beserta Jake sudah berada di penjara bawah tanah. Sebelum sampai ke tempat pun Easter sudah mendengar teriakan kesakitan dari tawanannya. Penjara bawah tanah identik dengan kegelapan. Tak terlalu gelap memang, tapi pencahayaan memang dibuat temaram. Easter melihat satu vampir pria yang sedang tak terkontrol di sana. "Sebenarnya kami menemukan tiga vampir, Raja. Dua di antaranya sudah kami bunuh, sedangkan pria ini tidak karena dia masih memiliki kesadaran meski hanya sedikit," jelas Jake. Easter mengangguk paham. Keduanya berada di luar sel karena bisa saja vampir itu langsung menyerang mereka jika dibiarkan satu ruangan. "Hei, kau. Katakan siapa yang menyuruhmu melakukan kebrutalan ini?" tanya Easter. "GGGRRRR." Geraman terdengar di sana. "Ijinkan saya yang bertanya, Raja," usul Jake yang diangguki oleh Easter. "Jawablah pertanyaan raja. Siapa tuanmu?" "Grrrr ... Gerry." Keduanya mengernyit mendengar satu nama keluar di sana. Siapa Gerry? "Di mana dia?" Vampir brutal itu menggeleng, terdengar suara teriakan kesakitan di sana. Easter tak mengerti apa yang terjadi. "Mungkin sebentar lagi dia akan benar-benar berubah menjadi vampir brutal sepenuhnya, Raja," jelas Jake yang tak begitu yakin sebenarnya. "Kau awasi dia terus. Bila sempat tanyakan siapa Gerry dan di mana dia bersembunyi sekarang," titah Easter yanh diangguki oleh Jake. "Dan satu lagi, jangan coba-coba mengetuk pintu kamarku lagi kali ini," peringatnya kemudian. Jake sekali lagi mengangguk dengan sedikit ragu. Easter pergi meninggalkan sel bawah tanah itu. Dia butuh Vele sekarang. Vampir-vampir itu membuatnya tak tenang jika belum menemukan dalang dibalik itu semua. Namun, jika ada Vele, setidaknya itu mengurangi kekhawatiran pria ini. Easter masuk ke dalam kamar, pria ini mengernyit karena tak melihat keberadaan sang mate, namun aroma Vele masih berada di dalam kamar. Suara gemericik air membuat Easter sadar jika gadis itu ada di dalam kamar mandi. Easter pun memilih menunggu di sofa. Vele lega setelah mengeluarkan isi perutnya. Sebenarnya ia masih mengkhawatirkan Vale, namun mendengar jika Vale sudah bangun, itu membuat hatinya lega. Hal pertama yang Vele lihat saat keluar dari kamar mandi adalah tatapan penuh dari Easter. Vele tak tahu jika pria itu sudah kembali. Ia pikir Easter akan pergi lama. "Berapa lama lagi kamu akan terus berdiri di sana?" Pertanyaan Easter menyadarkan Vele jika dia masih berada di depan pintu kamar mandi. Gadis ini pun berjalan menuju ke tempat tidur, namun interupsi dari Easter membuat ia mengurungkan niatnya ke sana. "Apakah kamu akan tidur sekarang?" Vele menoleh, mengigit pipi bagian dalam mulutnya. "I-iya, mungkin," jawabnya yang benar-benar tak yakin. Easter berdiri dari tempatnya menuju ke ranjang. "Ayo, sudah malam memang lebih baik kita tidur," putus Easter. Vele naik ke tempat tidur, memberi jarak sedikit dengan pria yang satu ranjang dengannya. "Em ... kamu habis dari mana?" tanya Vele ragu. Mungkinkah Easter dari tempat Vale? Pria itu menoleh. "Hanya menyelesaikan beberapa masalah." "Masalah? Masalah apa?" lanjut Vele memulai interogasinya. Easter tersenyum tipis. "Ayo tidur," ucap pria ini mengalihkan pembicaraan. Vele merebahkan dirinya begitu juga dengan Easter. Keduanya masih dalam satu selimut yang sama dan dengan keadaan yang saling diam juga. "Saudaramu baik-baik saja," ucap Easter kemudian. Mungkin saja itu sedikit membantu. "Besok aku ingin bertemu dengan Vale," kata gadis ini. Semoga Easter mengijinkan dirinya. "Kita menemuinya bersama," putus Easter. Ia tak ingin melihat mate nya kembali pingsan apalagi melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan diri. "Itu tidak perlu. Kamu pasti banyak pekerjaan di sini," tolak Vele. "Bersamaku atau kamu akan tetap aku kurung di sini?" kata Easter yang mengundang pelototan dari gadis ini. Ini benar-benar tak adil untuk Vele di mana ia malah tak bisa terlepas dari Easter. "Aku perlu ruang dengan keluargaku," kata Vele yang terus saja membantah. Easter sudah hapal dengan sifat-sifat dari mate nya. "Setelah menikah, hidupmu hanya terpaku kepadaku dan anak kita saja," seloroh Easter. "Kita tidak akan menikah." "Kita pasti menikah," kata Easter penuh keyakinan. Vele memilih memungguni Easter, dia lelah berdebat hari ini. Mungkin besok saja ia akan melanjutkan perdebatan mereka. "Jika sekali saja kamu bisa mengerti perasaanku, mungkin kamu akan paham, Vele," bisik Easter sebelum akhirnya ia ikut memunggungi Vele. Vele yang mendengarnya pun sedikit tersentuh. Apa mungkin ia terlihat egois sekali sekarang? *** Keesokan harinya Vele sudah tak menemukan keberadaan Easter di sebelahnya. Mungkin pria itu sudah bangun lebih dulu. Vele merenggangkan tubuhnya, kemudia dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Easter sendiri sedang berada di ruangannya. Kali ini ia tak sendirian. Di sana sudah ada Albus, Cale, dan Vale. Dia perlu bicara dengan keluarga dari mate nya. Tentu saja ia tak memberitahukan hal ini kepada Vele. Mengenai kesehatan Vale, gadis itu sudah sembuh sekarang. Energi yang Vele berikan benar-benar mampu membuat tubuh gadis ini kembali sehat. "Aku tidak perlu menjelaskan lagi apa kesalahan kalian, bukan?" Albus dan Cale sama-sama menunduk. "Maafkan kami Raja karena sudah melanggar peraturan. Kami menyadari kesalahan itu dan kami siap menanggung hukumannya," balas Albus mewakili sang istri juga. Keduanya sepakat untuk menerima hukuman dari sang raja. Vale terlihat benar-benar sedih. Ia takut jika kedua orang tuanya akan benar-benar mendapat hukuman mati. "Karena kalian adalah orang tua dari Vele, maka aku memberi keringanan di mana hukuman mati tak akan aku berikan kepada kalian," jelas Easter. Kelegaan hadir di wajah Albus, Cale beserta Vale. "Dan ya, aku ingin mengatakan lebih dulu jika aku dan Vele adalah sepasang mate," ungkap Easter kemudian. Tak ada raut keterkejutan di wajah orang tua Vele, itu artinya mereka sudah tahu mengenai ini. "Sepertinya kalian sudah tahu mengenai ini. Baguslah," lanjutnya tanpa perlu repot-repot menjelaskan lagi. "Ada dua pilihan yang harus kalian ambil. Pertama, kalian akan dipisahkan lagi hanya hingga Vale dan Vele menikah. Jika keduanya sudah menikah, maka kalian aku perbolehkan bersatu kembali," ungkap Easter. Ide itu tak terlalu buruk memang. Tapi, Vale ragu karena hingga saat ini pun dia masih belum tau di mana belahan jiwanya. "Pilihan kedua mungkin bisa menyelamatkan kalian. Kalian hanya cukup meyakinkan Vele untuk menikah denganku secepatnya." Katakanlah Easter egois dan mengambil keuntungan di sini. Tetapi, menurutnya ini lumrah, toh dia memberikan kehidupan juga bagi mereka yang sudah melanggar peraturan miliknya. Albus dan Cale saling tatap seperti sedang berdiskusi di dalam pikiran mereka. Easter memberikan waktu bagi keduanya. Vale tak yakin dengan pilihan kedua di mana dia sangat tahu bagaimana tidak sukanya Vele terhadap Easter. Dan pilihan pertama juga cukup sulit. "Kami akan mempertimbangkannya lebih dulu, Raja," putus Albus kemudian. "Baiklah. Selama kalian belum memutuskan pilihan, kalian aku tempatkan di ruang bawah tanah dulu. Tentu aku tak akan membuat kalian berada  dalam satu ruangan," putusnya lagi. Sekali lagi Albus dan Cale pasrah saja dengan keputusan raja mereka. Vale bernapas lega. Meskipun di tempatkan di ruang bawah tanah, setidaknya kedua orang tuanya tak dihukum mati. Pintu ruangan Easter tiba-tiba terbuka lebar membuat orang-orang yang ada di dalamnya kompak menoleh. "Ibu, Ayah, Vale," seru Vele gembira ketika melihat keluarganya di sini terutama Vale yang sudah sadar. Vale tersenyum hangat. Kedua saudara ini saling memeluk satu sama lain. Vele merindukan saudaranya ini. "Aku senang kamu sudah sehat," ucap Vele tersenyum cerah. Dari sini Easter bisa melihat jika mate nya tengah bahagia. "Ini semua berkatmu, Vele. Terima kasih dan maaf karena sudah membuatmu pingsan," balas Vale. "Tidak apa-apa. Yang terpenting kita semua baik-baik saja sekarang." Kemudian Vele beralih kepada kedua orang tuanya. Dia juga ikut memeluk mereka. Rasanya keluarganya benar-benar utuh sekarang. "Maaf mengganggu acara keluarga kalian, tapi dua di antara kalian harus segera menuju ke bawah tanah." Vele menoleh ketika mendengar interupsi dari Easter ditambah lagi sudah ada dua prajurit di dekat mereka. "Apa maksudmu?" tanya Vele menuntut kepada pria itu. "Vele," panggil Vale yang mencoba menjelaskan. "Ibu dan Ayah akan ditempatkan di bawah tanah sementara waktu," jelasnya. "Apa?! Kenapa begitu?" sembur Vele. "Ini keputusan Raja. Dan kita harus melaksanakannya," lanjut Vale. "Hei! Kenapa kamu jahat sekali? Bagaimana bisa kamu menempatkan orang tuaku di bawah sana?" protes Vele berani. "Nak, sudah cukup. Hormati keputusan Raja," potong Cale. "Ibu, ini tidak adil untuk keluarga kita. Kenapa Ibu dan Ayah harus dibawa ke sana? Kalau begitu, biar aku ikut dengan kalian," putus Vele cepat. Dia tak ingin jauh dari keluarganya lagi. "Apakah kamu tidak mendengar perintahku, Vele? Hanya dua orang saja di antara kalian," tegur Easter yang kembali mendapat pandangan permusuhan dari sang mate. Hari sudah berganti, tetapi keduanya masih saja tak akur di sini. "Vele ... sudahlah. Jangan buat hukuman Ibu dan Ayah semakin berat. Ini menurutku hukuman yang ringan dari pada mereka dihukum mati," seloroh Vale. Vele tersenyum kecut mendengar betapa pasrah dan patuhnya Vale. Andai saja Vale bisa seperti dirinya, mungkin mereka berdua bisa mempertahankan ayah dan ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD