Pagi itu, seperti biasa, Rania bangun lebih dulu. Sedangkan Andra, masih terlelap dalam mimpinya dengan posisi membelakangi sang istri. Rumah mereka terasa sepi, jauh dari kebisingan yang dulu sering mereka buat bersama.
Rania duduk di tepi tempat tidur, menatap foto pernikahan yang terletak di meja samping tempat tidur. Wajah mereka tampak begitu muda dan penuh harapan, tepatnya tiga tahun yang lalu dengan senyum yang lebar dan penuh cinta. Namun, kini senyum itu hanya menjadi bayangan yang semakin memudar, tertelan oleh rutinitas dan ketegangan yang semakin mendalam.
Rania tahu bahwa Andra sibuk, dan ia tidak pernah mengeluh tentang itu. Akan tetapi, setiap kali ia mencoba mendekat, Andra selalu menjauh. Seperti hari ini, saat ia menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sekali lagi, Andra akan datang hanya untuk makan, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya yang tak pernah selesai. Rania merasa dirinya hanya menjadi bagian dari latar belakang hidup suaminya—ada, tetapi tidak berarti.
Dengan langkah perlahan, Rania berjalan menuju dapur. Ia menyiapkan sarapan sederhana—roti bakar dengan selai strawberry dan secangkir kopi. Tidak ada yang spesial, tidak ada yang berubah. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas ini. Menyiapkan makan pagi, merapikan rumah, dan kemudian menunggu Andra pulang. Menunggu. Menunggu kehadiran yang semakin sulit didapat.
Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat dengan suara deheman yang sangat familiar. Rania menoleh, berharap melihat wajah yang dulu selalu menyapanya dengan senyum hangat. Namun, yang muncul adalah wajah datar suaminya dengan ekspresi yang sama sekali tidak mengundang kehangatan. Tidak ada pelukan, tidak ada sapaan. Hanya langkah kaki yang terburu-buru, seolah ingin segera menghindar dari percakapan yang sudah lama tertunda.
"Selamat pagi," ucap Rania pelan, mencoba menyapa meski hatinya terasa berat.
Andra mengangkat alis sekilas, lalu menunduk ke arah meja makan.
"Pagi," jawabnya singkat, tanpa menatap Rania.
Wanita itu menelan ludah, merasa semakin terasingkan. Tidak ada percakapan manis seperti dulu, tidak ada tanya kabar atau obrolan ringan tentang hari. Hanya keheningan yang semakin dalam.
"Kenapa kamu terlambat, Bang? Tumben-tumbenan" tanya Rania, mencoba membuka percakapan.
Andra hanya menggeleng dengan pelan tanpa menoleh.
"Ada rapat," jawabnya singkat, "aku harus pergi sekarang."
Rania mengangguk, mencoba menerima kenyataan bahwa Andra tidak ingin berbicara lebih jauh. Ia merasa seperti terjebak dalam rutinitas yang sama setiap hari, tanpa ada perubahan yang berarti. Andra selalu sibuk, selalu menghindar, dan Rania merasa dirinya semakin tidak penting dalam hidup suaminya.
"Tapi, Bang," kata Rania, suaranya sedikit gemetar, "aku merasa ... kamu semakin menjauh. Apa aku sudah tidak berarti lagi buatmu?"
Andra berhenti sejenak, matanya menatapnya dengan ekspresi kosong.
"Rania, jangan mulai lagi," jawabnya. Nada suaranya lebih keras dari yang diinginkan. "Aku punya banyak urusan. Kita bicara nanti!"
Dengan cepat, Andra bangkit dari kursinya dan meninggalkan meja makan. Rania hanya bisa menatapnya pergi, merasakan keheningan yang semakin dalam. Ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan. Andra tidak akan pernah mendengarnya. Tidak akan pernah peduli. Setiap kali ia berusaha menggapai, ia merasa semakin terjatuh.
Rania kembali duduk di meja makan, menatap sarapan yang sudah ia siapkan dengan tidak ada selera. Ia merasa lelah—bukan karena fisik, tetapi karena perasaan yang semakin kosong. Setiap hari ia menghadapinya, berusaha untuk bertahan, tetapi setiap hari juga ia merasa lebih jauh dari Andra. Cinta itu, yang dulu begitu nyata, kini terasa seperti bayangan samar yang hilang di balik awan gelap.
"/
Kenapa kamu berubah, Bang?" Rania bergumam pelan dengan suara yang hanya bergema di ruang kosong.
Di luar jendela, hujan mulai turun perlahan, menyapu jalanan yang basah. Rania menatapnya tanpa berpaling, membiarkan air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh. Ia tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Namun, satu hal yang ia tahu, ia tidak ingin menyerah begitu saja.
Jika cinta sejati tidak pernah meminta, mungkin sudah saatnya ia berhenti memberi—dan mulai meminta. Mungkin inilah saatnya untuk memperjuangkan kebahagiaannya sendiri.
---
Hari beranjak begitu cepat hingga tak terasa sore pun datang menyapa. Rania merasa tubuhnya lelah sekali, padahal seharian ia hanya tidur dan meringkuk di dalam selimut kesayangannya. Selimut yang menyimpan banyak kenangan indah di dalamnya.
Lamat-lamat, terdengar suara sepeda motor Andra yang semakin mendekat.
"Rania, buka pintunya!!" teriak Andra dari luar dengan suara yang cukup keras.
Rania yang masih merasakan sakit di bagian kepalanya memaksakan diri untuk bangkit menuju ke depan dan membukakan pintu untuk sang suami.
"Iya, Mas. Sebentar," ucapnya meringis menahan sakit.
"Dari mana aja, sih? Lama banget bukain pintu?" tanya Andra sedikit ketus.
"Maaf, Mas, aku lagi nggak enak badan, jadi aku tadi tidur seharian."
Andra yang baru masuk ke rumah seketika menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap istrinya dengan tajam.
"Jadi, kamu belum menyiapkan makanan?" tanyanya kecewa.
"Be–belum, Mas, maaf," jawab Rania merasa bersalah.
Brakhh.
Andra berbalik, berjalan menuju ke kamar dan menendang pintunya dengan keras sehingga menimbulkan suara gebrakan. Sedangkan Rania terjingkat kaget mendapati perlakuan kasar suaminya.
'Kenapa sekarang kamu kasar sekali, Bang? Apa yang terjadi padamu?' gumamnya dalam hati.
Sore itu, Rania berdiri mematung di ruang tamu. Tubuhnya lelah, bukan hanya karena sakit kepala yang belum juga reda, tetapi juga karena beban emosional yang terus-menerus menghimpit. Suara gebrakan pintu kamar masih terngiang di telinga, membuat hatinya semakin perih. Namun, di tengah rasa sakit itu, ia bertekad untuk tidak menyerah.
Dengan langkah tertatih, Rania menuju dapur. Ia membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan yang tersisa, dan mulai memasak dengan sisa tenaga yang ia miliki. Meskipun tubuhnya lemah, hatinya tetap ingin memberikan yang terbaik untuk Andra. Ia berharap, makanan hangat ini bisa sedikit melunakkan hati suaminya yang dingin.
Satu jam kemudian, aroma nasi goreng dan sup ayam memenuhi rumah. Rania menata makanan itu di meja makan dengan hati-hati, lalu mengetuk pintu kamar perlahan.
"Bang, makan malam sudah siap," ucapnya pelan.
Tidak ada jawaban. Rania mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras.
"Bang Andra, aku sudah siapkan makan malam. Kamu pasti lapar, kan?"
Dari dalam kamar, terdengar suara langkah kaki mendekat. Pintu terbuka dan Andra berdiri di sana dengan wajah lelah dan tatapan datar. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan menuju meja makan.
Rania mengikuti dari belakang, berharap kali ini akan ada percakapan yang bisa mencairkan suasana. Namun, seperti biasa, Andra hanya makan dalam diam. Rania mencoba membuka obrolan, meskipun ia tahu risikonya.
"Bang, aku minta maaf kalau akhir-akhir ini ...."
***
Bersambung.