Bab 3. Mimpi Buruk

1027 Words
Rania mengikuti dari belakang, berharap kali ini akan ada percakapan yang bisa mencairkan suasana. Namun, seperti biasa, Andra hanya makan dalam diam. Rania mencoba membuka obrolan, meskipun ia tahu risikonya. "Bang, aku minta maaf kalau akhir-akhir ini kurang perhatian. Aku tahu kamu sibuk, tapi aku benar-benar ingin kita kembali seperti dulu. Apa kamu masih ingat, waktu kita sering masak bareng di dapur ini?" tanyanya dengan suara gemetar. Andra berhenti mengunyah sejenak, lalu menatap Rania. "Itu sudah lama, Rania. Sekarang aku punya banyak tanggung jawab. Jangan ganggu aku dengan hal-hal seperti ini," jawabnya dengan nada dingin. Rania tersentak mendengar jawabannya, tetapi ia tidak menyerah. "Bang, aku bukan mau ganggu. Aku cuma ingin tahu apa yang bisa aku lakukan supaya kamu nggak merasa terbebani. Aku ingin jadi istri yang mendukungmu," ucapnya, matanya mulai berkaca-kaca. Namun, Andra hanya mendengus kecil. Ia menyelesaikan makan malamnya tanpa sepatah kata lagi, lalu bangkit dari kursinya. "Terima kasih makanannya," katanya singkat sebelum pergi meninggalkan meja. Rania duduk diam di sana, menatap piring kosong di depannya. Air mata yang sudah ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia merasa gagal lagi, seperti semua usahanya tidak pernah cukup. Namun, di dalam hatinya, ia berjanji untuk terus mencoba. --- Hari-hari berikutnya, Rania mencoba berbagai cara untuk mendekati Andra. Ia mulai bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan yang lebih istimewa, mengirim pesan-pesan kecil berisi dukungan selama Andra bekerja, bahkan mencoba berdandan lebih cantik seperti dulu. Namun, Andra tetap dingin. Hingga suatu malam, Rania tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang ia pendam. Setelah Andra pulang kerja, ia memutuskan untuk berbicara dengan serius. "Bang, aku butuh bicara," kata Rania tegas saat Andra baru saja duduk di sofa. "Aku capek, Rania. Besok aja, ya," jawab Andra tanpa menoleh. "Nggak, Bang. Aku udah nunggu terlalu lama. Aku nggak tahu apa yang salah, tapi aku ngerasa kita tambah jauh. Tolong, katakan apa yang sebenarnya terjadi," desaknya dengan suaranya yang mulai bergetar. Andra menghela napas panjang. Ia menatap Rania dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kamu mau tahu kenapa aku berubah?" tanyanya dingin. Rania mengangguk, meskipun hatinya berdebar kencang. "Aku merasa terjebak, Rania. Hidup kita monoton. Aku lelah dengan semua ini," ucapnya tanpa belas kasihan. Kata-kata itu menghantam Rania seperti palu godam. Namun, ia tidak ingin menyerah begitu saja. "Kalau begitu, mari kita ubah, Bang. Aku akan lakukan apa saja untuk membuatmu bahagia lagi," jawabnya. Suaranya dipenuhi harapan. Andra menggeleng pelan. "Aku nggak tahu, Rania. Aku butuh waktu. Jangan terlalu berharap," katanya sebelum pergi ke kamar, meninggalkan Rania dalam keheningan yang menyakitkan. --- Rania masih duduk di tempatnya saat Andra keluar untuk ke kamar mandi, dan segera kembali ke kamar tanpa mempedulikan Rania yang masih terisak dalam tangisnya. "Setidakpeduli itu kamu sama aku, Bang. Apa rasa cinta itu benar-benar sudah hilang? Apakah hubungan antara kita sudah tidak bisa diperbaiki? Apakah rumah tangga ini akan berakhir secepat ini? Nggak, aku nggak akan biarin pengorbananku selama ini berakhir sia-sia," lirihnya dalam tangis. 'tapi sampai kapan kamu akan mengemis untuk sesuatu yang sudah menjadi hakmu?' gumamnya dalam hati. "Entahlah, mungkin sampai hatiku mati akan segala rasa. Mungkin sampai fisikku letih tuk terus berjuang. Mungkin sampai aku sadar, bahwa rumah tangga ini tak lagi dapat dipertahankan. Mungkin sampai ia berkata, 'pergilah!' maka aku akan segera pergi dari kehidupannya. Karena aku sadar, aku bukanlah wanita spesial yang pantas untuk dipertahankan dan diperjuangkan." Rania kembali larut dalam tangisnya yang sangat menyayat hati. "Tak pantaskah aku merasakan arti dari kebahagiaan, Tuhan? Haruskah aku menderita sampai akhir hayatku?" Rania berteriak dalam diam. ___ "Pergi kamu dari sini! Aku nggak butuh istri macam kamu! Nggak guna! Nggak tahu diri pula! Kembalilah pada orang tuamu, dan jangan berharap aku akan menerimamu dan memaafkan kamu!" sarkas seorang pria kepada wanita yang ada dihadapannya. "Tapi kenapa, Bang? Apa salahku?" tanya wanita itu dengan linangan air mata di pipinya. Wajahnya kelihatan kacau sekali. Rambut berantakan, baju lusuh, dan wajah yang dipenuhi oleh air mata. Namun, pria itu seolah tuli dan tak peduli dengan Isak tangis sang istri. "Aku muak denganmu! Aku bosan, Rania! Bosan karena selalu kau tuntut ini dan itu! Kamu ngerti nggak, aku kerja juga buat kebahagiaan kamu! Aku capek, Rania, capek!!" teriaknya tepat di depan wajah Rania, sang istri. Rania yang mendengar bentakan dan teriakan dari suaminya hanya bisa menangis dan menangis. 'Benarkah aku terlalu berlebihan dalam menuntut hakku? Benarkah selama ini aku begitu mengganggunya? Bukankah wajar jika aku ingin dimanja oleh suamiku sendiri?' gumamnya dalam diam. "Tapi aku nggak bermaksud begitu, Bang. A–aku ... Aku cuma pengen dimanja sama kamu, suamiku!" Akhirnya yang selama ini ia tahan, keluar juga walau tanpa disengaja. Ya, ucapan itu keluar begitu saja dari bibir mungilnya. "Halah! Kamu itu nggak bersyukur banget jadi orang! Yang penting, kan, nafkah aku terus tiap bulannya!" bentak Andra tanpa peduli rasa sakit yang dirasakan sang istri. "Ta–tapi, Bang ...." "Sekali lagi kamu menjawab, aku tampar wajahmu!" Rania tersentak dari tidurnya. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya berkeringat dingin. Ia mendapati dirinya masih berada di ruang makan, tidur dengan kepala bersandar di atas meja, sendirian. Jantungnya berdegup kencang, rasa sakit dari mimpi tadi masih terasa nyata di hatinya. "Ini ... mimpi?" bisiknya pada diri sendiri sambil memegang dadanya yang terasa sesak. "Ternyata aku ketiduran di sini, tapi ... kenapa Bang Andra nggak bangunin dan nyuruh aku tidur di kamar? Setidak peduli itukah dirimu padaku?" Rania meratapi nasibnya yang begitu malang. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.45. Suasana sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak pelan. Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun, rasa gelisah yang tersisa dari mimpi itu sulit untuk dihilangkan. Ia bangkit dan berjalan sebentar. Segelas air dingin mungkin bisa membantunya menenangkan diri. Saat meneguk air, pikirannya kembali pada mimpi tadi. Wajah Andra yang dingin, bentakannya, dan rasa tidak berharga yang ia rasakan—semuanya terasa begitu nyata. "Ya Allah, apa artinya semua ini?" gumamnya, memandang kosong ke luar jendela. Suasana di luar terasa begitu dingin, tapi entah mengapa tubuhnya begitu berkeringat. 'Mungkin karena mimpi tadi,' lirihnya. Saat ia masih fokus menikmati suasana malam, tiba-tiba terdengar suara seseorang mencoba membuka kunci pintu rumahnya dari luar. Rania yang terkejut segera mencari tempat untuk bersembunyi agar bisa melihat siapa orang itu. Setelah pintu terbuka, ternyata orang itu adalah .... *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD