"Aku tunggu kamu di kantor malam ini, Mas Rendra, aku merindukanmu,"
Isi pesan lewat laptop yang tidak sengaja terbaca oleh Naya, membuatnya terbelalak. Semula Naya hanya ingin meminjam laptop Rendra yang terletak di meja tepat di ruang kerja sang suami. Pekerjaan yang harus dia siapkan untuk dibawa meeting besok, membuat Naya harus menyelesaikan malam ini juga. Laptopnya tertinggal di butik yang membuatnya harus meminjam laptop milik sang suami yang kala itu, sedang mandi di kamar mandi di kamar tidurnya.
Naya yang masih tidak percaya dengan apa yang dia baca, langsung bergegas kembali ke kamar di lantai yang sama dengan ruang kerja Rendra. Naya memeriksa handphone Rendra yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur. Dengan cepat, Naya memeriksa pesan di handphone android itu. Namun anehnya tidak ada pesan siapa pun di sana. Pesan singkat di laptop dari nomor yang diberi nama Sayangku itu, tidak ada di handphone Rendra.
Suara pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka, membuat Naya dengan cepat mengembalikan handphonenya ke tempat semula. Lantas tersenyum seolah-oleh tidak terjadi apa-apa di hadapan Rendra yang tampak kaget melihatnya.
"Lho, gak jadi pinjam laptop?" tanya Rendra sembari menghampiri lemari pakaian. Handuk masih melingkar menutupi bagian pinggang hingga lututnya. Sedangkan bagian d**a dibiarkan terbuka menampilkan dadanya yang bidang dan tampak masih basah.
"Jadi kok, aku balik ke kamar niatnya mau nyediain pakaian kamu, tapi kamu malah keburu selesai." Naya berusaha tetap tenang walau sebenarnya hatinya tak karuan mengingat pesan singkat yang entah dari siapa itu.
"Gak perlu, aku bisa sendiri kok," jawab Rendra sembari mendekati Naya dan melingkarkan kedua tangannya di leher wanita cantik dengan hidung mancungnya itu. "Kamu kan lagi banyak kerjaan, jadi biar aku aja yang ambil pakaian sendiri. Udah gih cepat selesaikan, biar cepat istirahat. Jangan sampai kamunya begadang."
"Iya, aku balik dulu ya," ucap Naya lantas berlalu pergi meninggalkan Rendra yang tersenyum melihatnya.
Sementara itu, Naya kembali ke ruang kerja Rendra, mengecek kembali laptop Rendra yang masih menampilkan pesan singkat dari wanita itu. Ada balasan lagi darinya yang membuat jantung Naya berdegup kencang.
"Jangan mentang-mentang kamu menonaktifkan tanda sudah dibaca, aku gak tau kalau kamu belum baca pesanku, buruan ke kantor, aku nunggu kamu di sini. Bilang sama istrimu itu, kalau hari ini kamu lembur!"
Seketika udara seakan lenyap dari ruang kerja Rendra. Naya sesak, berusaha mengais-ngais udara dengan menghirupnya berulang kali. Dia tidak percaya semua ini akan dia baca satu hari sebelum tanggal anniversary dirinya dan Rendra yang ke delapan tahun. Sudah delapan tahun Naya merasakan kebahagiaan menjadi pasangan Rendra. Namun masalah seperti ini malah harus dia hadapi.
Sebuah suara kembali terdengar di laptop, dengan cepat Naya memeriksanya. Naya kembali dibuat kaget dengan pesan yang kembali dia baca. Namun kali ini bukan dari pemilik nomor 'Sayangku' itu, melainkan dari Rendra.
"Sudah aku bilang, jangan hubungi aku saat di rumah, kalau istriku tau, bisa gawat! Malam ini aku gak bisa, besok hari anniversary aku dan Naya, malam ini aku harus ngasih kejutan sama dia seperti tahun sebelumnya. Lagian besok kita jumpa pas makan siang, jadi gak perlu malam ini."
Air mata Naya jatuh begitu saja tanpa bisa dia cegah. Balasan pesan itu bisa dipastikan dari Rendra, karena ada namanya yang disebutkan di sana. Naya menggigit kuku jemarinya tanda bingung dan takut menyerangnya. Dia tidak menyangka, Rendra bisa tega mengkhianatinya.
"Kamu tidak mencintaiku?" Balasan selanjutnya kembali hadir dari sang w*************a itu.
"Ini bukan soal tidak cinta atau masih cinta, Sayang, ini soal kehancuran hubungan kita. Kamu gak mau kan kalau hubungan kita berakhir begitu saja hanya karena Naya mengetahuinya?"
"Aku gak mau tau, aku tunggu kamu di kantor kamu sekarang! Aku malas di apartemen, bosen. Aku akan tunggu sampai kamu datang!"
"Jangan kekanakan-kanakan, pulang sekarang atau kita gak usah ketemu lagi."
"Kalau gitu, aku akan kasih tau istrimu semuanya kalau sampai kamu gak datang dalam waktu satu jam!"
Hening, tidak ada lagi suara balasan atau pun pesan masuk ke laptop yang masih menyala. Naya benar-benar dibuat kaget bukan main dengan semua yang dia baca. suasana mencekam seketika memenuhi ruangan. Bayangan demi bayangan kehancuran berputar di kepalanya. semua sikap romantis Rendra, seakan kamuflase semata. Sekedar menutupi perselingkuhan yang kini terbuka sendiri langsung di kedua mata Naya.
Suara pintu tiba-tiba terdengar terbuka. Spontan Naya menutup layar pesan dengan mengklik icon minimalis di sudut kanan atas. Naya menoleh ke pintu yang terlihat Rendra hadir dengan pakaian rapi dan celana panjangnya seperti ingin ke luar. Naya berusaha menarik senyumannya walau hatinya masih hancur mendapati semua kenyataan yang sebenarnya masih belum bisa dia pastikan kebenarannya.
"Kamu sibuk?" tanya Rendra berbasa-basi sembari mendekat.
"Hampir selesai," bohong Naya. Rendra melihat ke layar laptop yang menunjukan tampilan design gambar gaun pengantin. Rendra tersenyum, mengusap kepala Naya.
"Aku ke luar bentar ya, gak lama kok."
DEG!!!
Jantung Naya seakan berhenti sepersekian detik mendengar ucapan Rendra yang sejalan dengan isi pesan yang Naya baca.
"Ada berkas ketinggalan di kantor yang harus aku baca malam ini, cuma sebentar kok, tapi kamu gak perlu nunggu aku ya, tidur aja duluan."
Naya mencengkram ujung pakaian Rendra. "Apa harus malam ini?" tanya Naya berusaha menahannya.
Rendra sontak melihat ke cengkraman tangan Naya. Untuk pertama kalinya Naya melakukan hal itu saat dirinya ingin ke luar. Biasanya Naya selalu mengizinkannya jika hal itu menyangkut pekerjaan.
"Jangan pergi," pinta Naya dengan nada suara bergetar. "Tinggallah di rumah."
"Tumben?" tanya Rendra. "Apa karena besok anniversary kita makanya kamu melarangku pergi?"
Naya hanya diam sembari menatap Rendra. Wajahnya tampak tidak ikhlas mengizinkan sang suami pergi. Rendra langsung memeluknya yang masih duduk di kursi.
"Tenang saja, aku akan pulang sebelum jam dua belas malam. Kita rayain sama-sama pergantian tanggalnya ya. Seperti biasanya, oke?"
Naya menggelengkan kepala. "Jangan pergi."
Rendra mendaratkan kecupan di puncak kepala Naya. "Aku segera kembali."
Seakan tidak peduli dengan permintaan Naya, Rendra pergi begitu saja meninggalkan Naya yang hanya bisa melihatnya ke luar dari ruangan. Detak jantung Naya berdegup cepat. Napasnya tersengal-sengal seperti baru saja lari maraton. Suara mesin mobil Rendra yang menyala, membuat Naya berlari ke jendela, melihatnya dari atas dengan perasaan sedih bukan main. Naya merasa semua akan berubah setelah malam ini. Entah apa yang akan terjadi, namun ada rasa seolah dirinya akan kehilangan Rendra setelah malam ini berlalu.
"Bunda." Seruan seseorang membuat Naya berbalik. Ada gadis kecil di sana, berdiri di dekat pintu sembari mengucek-ngucek mata kanannya dengan ekspresi mengantuk.
"Aisha, kok bangun?" tanya Naya berusaha menutupi kesedihannya dan merentangkan tangan meminta sang gadis cantik berusia hampir menginjak tujuh tahun itu mendekatinya. Benar saja, dia mendekat dan langsung duduk di sofa di dekat jendela bersama Naya.
"Ayah ke mana?" tanyanya yang membuat hati Naya perih.
"Ayah ... kerja, Sayang?"
"Malam-malam begini?" tanyanya lagi. "Apa ada klien malam-malam begini, Bund?"
Naya terdiam, menarik tatapannya ke laptop yang masih menyala sembari mengingat semua pesan yang sempat dia baca. Naya menarik napas dalam-dalam, lantas memgembuskannya perlahan.
"Ya, ada klien yang sudah nungguin Ayah di kantor malam ini," ucap Naya datar tanpa menoleh ke gadis kecilnya yang hanya diam sembari menatapnya bingung.