BAB 8 - RENCANA BUSUK RENDRA

962 Words
Mobil Ferdi berhenti tepat di depan gerbang sekolah Aisha yang sudah hampir di tutup oleh satpam. Naya bergegas turun, berlari mendekatinya dengan ekspresi panik. "Aisha, mana Isha, Pak!!!" seru Naya sembari melihat-lihat ke dalam. "Tenang, Bu, Isha sudah pulang." Ferdi yang baru ke luar dari mobil, langsung mendekati keduanya. Dia mencoba menenangkan Naya yang tampak semakin ketakutan mendengar ucapan satpam itu. "Pulang? Sama siapa? Kan Bapak tau kalau selalu saya yang jemput Isha!" bentak Naya yang membuat pria itu mundur selangkah. "Saya tau, Bu, tapi saya gak mungkin bisa cegah karena yang jemput Aisha, Pak Rendra." Naya terdiam. Perasaannya semakin kacau balau mendengar sosok yang menjemput Aisha. Ucapan Rendra kembali terngiang di telinga Naya. "Kalau ini yang kamu inginkan, aku akan kabulkan, tapi tidak dengan Aisha. Aisha akan ikut aku, dan akan diurus sama ibunya yang baru. Ini semua bukan karena aku jahat, tapi karena ibunya sendiri yang jahat karena tega meninggalkan ayahnya." Naya mundur beberapa langkah, lantas berbalik setengah berlari ke dalam mobil. Ferdi sendiri langsung berpamitan pada satpam itu yang tampak kebingungan, lantas menyusul Naya. Ferdi melihatnya yang sibuk menghubungi seseorang. Namun sang pemilik nomor sama sekali tidak menjawab. Naya menggigit jarinya, dia cemas, hal itu membuat Ferdi meraih tas ransel di belakang, lantas mengeluarkan botol mineral. "Minum dulu, Nay, tenang aja Aisha gak bakalan kenapa-kenapa." "Dia bukan Mas Rendra, Fer, dia bukan Mas Rendra!" resah Naya. "Dia bisa lakukan apa saja, Aisha gak boleh sama dia!" "Nay, kamu tenang dulu. Aku yakin Isha gak bakalan diapa-apain. Dia ayahnya, Aisha gak bakalan kenapa-kenapa. Percaya sama aku." Naya mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ucapan Ferdi membuatnya sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Baginya, Ferdi ada benarnya. Aisha akan baik-baik saja bersama Ayahnya sendiri. Rendra mungkin bisa menyakitinya, tapi tidak dengan Aisha. Naya yakin, Aisha pasti akan pulang kepadanya. *** Malam kian larut, namun Aisha belum pulang juga. Tampak Naya, Ferdi, Mirna dan juga Bahri menunggunya di rumah. Naya yang sudah tidak kuat lagi berdiri karena lemas bukan main, hanya bisa duduk dengan Mirna di sampingnya mencoba menenangkannya. Sedangkan Ferdi, menanti di teras rumah sembari berulang kali melihat ke jam tangan yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Bahri tak henti-hentinya beristighfar menahan emosi. Sudah berulang kali dia mencoba menghubungi Rendra, namun sang anak tetap saja tidak menjawab teleponnya. Dia melirik ke Naya yang masih saja meneteskan air mata. Wajahnya tampak cemas yang membuatnya semakin tak karuan. Namun tidak berapa lama, suara deru mobil dan klakson terdengar. Naya tanda suara klakson itu. Dia bergegas berdiri, menatap ke luar yang benar saja, ada mobil Rendra masuk ke pekarangan rumah dan berhenti di sana. Pintu mobil terbuka, tampak Aisha pulang dengan pakaian yang tidak lagi seragam sekolah, dengan ekspresi murung diikuti Rendra. Tanpa membalas sapaan Ferdi, Aisha langsung masuk melewatinya. Bukan hanya Ferdi, bahkan semua orang pun diperlakukan sama, termasuk Naya yang sempat memanggilnya. Aisha malah langsung naik ke lantai dua dan terdengar suara bantingan pintu dari atas yang bisa ditebak, bahwa itu adalah perbuatan Aisha. Bahri yang melihat sosok Rendra masih berdiri di hadapannya, langsung mendekatinya dan tanpa aba-aba, mencengkram kerah kemeja Rendra. Mirna dan Ferdi berusaha melerai, Rendra hanya diam saja seolah pasrah dengan apa yang sang ayah lakukan, sedangkan Naya masih berdiri terpaku memikirkan sikap Aisha yang tak biasa padanya. "Ke mana kau bawa cucuku seharian!!" bentak Bahri tidak lagi bisa menahan emosinya. "Beraninya kamu membawa Aisha tanpa pamit sama kami semua!!!" "Aku ayahnya, Pak!" balas Rendra sembari melepaskan kasar cengkraman Bahri. "Sejak kapan Rendra harus izin bawa anak Rendra sendiri!!" "Sejak kamu menganggap kami gak ada, Mas!!!" bentak Naya yang membuat semua orang menoleh padanya. Naya melangkah mendekat, lantas menamparnya keras. Rendra yang tidak terima, berniat menyerang Naya, namun dengan cepat Ferdi menghalanginya. "Apa yang sudah kamu katakan ke Aisha, Mas?!" tanya Naya lagi yang masih belum bisa terima sikap Aisha padanya. Rendra tersenyum sinis. "Aku gak bilang apa-apa, aku cuma bilang tentang fakta, itu saja." Rendra mundur beberapa langkah, ke luar dari kerumunan Bahri, Mirna dan juga Ferdi. Tatapannya masih tertuju ke Naya yang berada di belakang sang adik. "Fakta kalau Bundanya, sudah tega mencampakkan Ayahnya," lanjut Rendra. "Kurang ajar kamu, Mas!" teriak Naya. Naya berniat menyerang, namun dengan cepat Mirna menahannya. "Lihat Aisha saja, Nay, biar Ibu, Bapak dan Ferdi yang urus suamimu di sini," perintah Mirna yang langsung dilakukan Naya. Naya berlari menaiki tangga. Hatinya cemas bukan main memikirkan perubahan sikap Aisha. Rendra hanya melihatnya dengan tatapan tajam. Namun entah mengapa, Ferdi merasa masih ada cinta di kedua matanya untuk Naya. Aisha di sana, duduk memeluk lututnya di atas tempat tidur sembari menangis. Naya masuk ke dalam, menutup pintu dari dalam dan mendekati sang anak. Dia terisak, dan hati Naya sebagai seorang ibu teriris mendengarnya. "Isha?" panggil Naya sembari memegang kepala sang anak. Namun hal tak terduga terjadi, Aisha malah menepis tangannya. "Bunda jahat!!!" bentaknya. "Kenapa Bunda jahat sama Ayah dan Aisha. Kenapa Bunda tega sama Aisha! Bunda udah gak cinta sama Ayah, Bunda jahat!! Isha gak mau lihat Bunda. Pergi!!!" Aisha mendorong tubuh Naya yang membuat Naya spontan berdiri menjaga jarak. Naya menangis melihatnya. Entah apa yang dikatakan Rendra hingga berhasil mencuci otak sang anak. Aisha bahkan tidak mau melihatnya. "Apa yang Isha dengar dari Ayah? Ayo bilang sama Bunda, Nak. Bunda bisa jelaskan semuanya." "Aisha bilang pergi!!!" teriak Aisha yang membuat Naya mundur perlahan, lantas berbalik dan berniat pergi meninggalkan sang anak sendiri. "Aisha benci sama Bunda!!!" bentak Aisha lagi yang membuat Naya terisak mendengarnya. Dia mencengkram erat gagang pintu, perlahan melangkah ke luar lantas menutupnya dari luar. Naya bersandar di pintu kamar sang anak, perlahan menjatuhkan tubuhnya dan duduk memeluk kedua lutut persis seperti yang dilakukan Aisha di dalam, saat kesedihan melandanya. Entah apa yang sudah dikatakan Rendra, yang pasti harapan Naya untuk bisa mendapatkan hak asuh Aisha, mulai pupus seiring sikap Aisha malam ini padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD