Sherly memberikan beberapa kunci yang disatukan dengan gantungan boneka ke atas meja, tepat ke hadapan Naya. Sherly tersenyum, walau bisa dia lihat sang sahabat tampak kacau. Semalaman dia tidak bisa tidur akibat memikirkan Aisha. Sikapnya tadi malam membuat Naya menantinya di luar kamar. Namun Aisha masih saja enggan ke luar, dan hanya mau makan bersama Mirna di kamar.
Sherly berpindah tempat duduk di samping Naya, menggenggamnya erat seolah mencoba mengirimkan kekuatan pada ibu satu anak itu. Naya hanya bisa menghela napas sembari menundukkan kepala.
"Jangan khawatir, Nay, semua akan baik-baik saja."
"Gak ada yang baik-baik saja, Sher, selagi Isha masih tetap seperti ini, duniaku akan terus hancur."
"Pelan-pelan, biarkan Aisha tenang dulu, setelah lebih tenang, ajak dia bicara. Atau kamu bisa minta tolong lewat Tante Mirna, Aisha pasti mau cerita."
"Entahlah, aku masih gak habis pikir Mas Rendra bisa melakukan semua ini." Naya menepis pikirannya tentang Rendra, meraih kunci dan melihatnya sembari tersenyum tipis. "Semua sudah beres, Sher?"
"Sudah, dan kamu sudah bisa membukanya kapan pun kamu siap, semua surat rumah dan barang-barang sudah aku siapkan, kapan kamu mau mulai tinggal telepon toko perabotannya, dan mereka akan mengantarnya segera."
"Terima kasih ya, Sher, aku gak tau tanpa kamu, aku bisa apa."
"Iya sama-sama, kamu sudah siap buat persidangan kan?" tanya Sherly lagi, Naya hanya menganggukkan kepala. "Mas Rangga sudah menyiapkan semuanya, dari mulai berkas, alat bukti dan saksi, gue yakin Lo akan terbebas dari Rendra dan mendapatkan hak asuh Aisha."
"Mudah-mudahan. Terima kasih," ucap Naya setengah berbisik yang hanya dibalas anggukan dan senyuman tulus oleh Sherly.
***
Narumi menuangkan air ke dalam gelas, membawanya ke kamar dan memberikannya ke Rendra yang tampak duduk di pinggir sofa sembari melihat-lihat handphonenya. Rendra menerimanya sembari mengucapkan terima kasih. Narumi yang saat itu menggunakan jumpsuit, langsung tersenyum dan duduk di sampingnya.
"Kamu, sudah tanda tangani surat itu, Mas?" tanya Narumi tampak hati-hati. Dia takut emosi Rendra masih tersisa hingga membuatnya marah besar. Narumi tidak ingin menjadi tempat pelampiasan Rendra akibat perceraiannya.
"Belum," jawab Rendra singkat yang langsung membuat Narumi cemberut.
"Kenapa belum sih, apa lagi coba yang kamu tunggu?"
Rendra menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya kasar yang membuat Narumi meyakini, emosi Rendra mulai terpancing. Dia tampak takut, namun di sisi lain Narumi ingin tahu apa yang menjadi alasan Rendra memperlama proses perceraiannya.
"Rum, apa kamu mencintai Mas?"
Narumi mengerutkan kening, lantas tertawa kecil. "Apaan sih pertanyaannya, gak perlu ditanya juga Mas juga udah tau jawabannya."
"Jawab saja, Sayang, Mas mau dengar."
Narumi tersenyum manja. "Ya jelaslah aku cinta sama Maa. Cinta banget malah, gak perlu diragukan lagi."
Rendra mengusap kepala Narumi lembut. "Kalau Mas minta sesuatu, kamu mau kabulkan gak?"
"Apa pun, bilang saja," desah Narumi di telinga Rendra.
"Kita cerai saja ya?"
Betapa terkejutnya Narumi mendengar permintaan Rendra. Tak pernah dia bayangkan sebelumnya, kalau Rendra akan meminta hal seperti itu padanya. Narumi yang awalnya menggenggam salah satu tangan Rendra, perlahan melepaskannya dan menatap Rendra tajam.
"Kamu becanda kan, Mas?" tanya Narumi yang masih mencoba berpikir positif. Dia meyakini, Rendra hanya sekedar menggodanya.
"Mas serius," ucap Rendra yang kali ini benar-benar tampak serius. Tak ada senyuman atau kerlingan matanya setiap kali dia mencoba menggoda Narumi. Rendra malah terus menatapnya tajam.
"Mas sadar, apa yang kita lakukan ini salah besar, Mas ingin kembali ke keluarga Mas. Mas gak bisa pisah dari Naya."
"Tega kamu ya, Mas!" bentak Narumi. "Segampang itu kamu lepasin aku setelah memakaiku? Kamu pikir aku perempuan apa?!"
"Aku menikahimu secara sah, bukan seperti yang kamu katakan barusan." Rendra berdiri lantas melangkah menuju jendela.
Narumi yang tidak terima, langsung mendekati Rendra dan menarik tangannya untuk kembali menghadap ke arahnya.
"Katakan samaku, Mas mencintaiku kan? Mas lebih cinta samaku dari pada Naya!"
"Mas cinta sama kamu, tapi Mas juga gak bisa bohongi hati Mas, kalau Mas juga cinta sama Naya."
"Ya udah, selesai kan? Kalau kamu gak mau cerai dari Naya, aku gak masalah. Kamu mau cerai juga gak masalah. Tapi aku gak mau kita yang bercerai, Mas!" sunggut Narumi, lantas mencengkram kerah baju Rendra. "Aku benar-benar mencintai kamu, Mas, aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku rela jadi istri kedua asal bisa terus bersama kamu."
Narumi berniat mendaratkan bibirnya di bibir Rendra, namun dengan cepat Rendra menolaknya pelan dengan melepaskan cengkraman Narumi.
"Tapi Naya gak mau dimadu, Rum. Mas yakin dia akan batalkan gugatan cerai ini setelah Mas cerai sama kamu."
"AKU GAK MAU!!! AKU LEBIH BAIK MATI DARI PADA CERAI SAMA KAMU!" Narumi mengancam yang membuat Rendra naik pitam. Berniat membalas, namun tiba-tiba Rendra melihat Narumi memegangi kepalanya sembari merintih kesakitan. Belum sempat Rendra bertanya, tubuh Narumi secara tiba-tiba ambruk dan tak sadarkan diri.
"Narumi! Kamu kenapa, bangun!" pekik Rendra namun tak ada balasan sama sekali dari Narumi. Tanpa pikir panjang, Rendra langsung mengangkat tubuh Narumi dan membawanya ke luar dari kamar dan apartemen menuju ke mobilnya di lantai parkiran di luar.