Palu hakim diketuk tiga kali, tanda bahwa hubungan antara Rendra dan Naya berakhir. Naya menundukkan kepala, mengucapkan syukur karena semua proses bisa dengan mudah dia lewati, seolah Tuhan sendiri sudah mendukung keputusannya untuk mengakhiri segalanya, sebelum keadaan semakin bertambah buruk. Entah menyangkut mentalnya, atau hubungannya dengan Narumi, adik kandungnya sendiri.
Naya berjalan ke luar dari ruang persidangan bersama Rendra. Tampak kedua mertuanya dan juga Ferdi yang memang lebih memilih menanti di luar, menatap kedua ya dengan ekspresi datar. Rendra yang merasa semua orang datang mendukungnya, melangkah mendekati Mirna, namun wanita berhijab itu malah melangkah melewatinya dan langsung memeluk Naya yang tampak kaget mendapati keadaan itu.
"Semua sudah selesai kan, Nak? Kita pulang sekarang ya?"
Bahri mendekati Naya dan mengusap kepala sang menantu dengan tatapan kasih sayang. "Kamu anak Bapak yang hebat, Bapak bangga sama kamu. Kita jemput Aisha di sekolah ya?"
Rendra yang melihat hal itu, sesaat menundukkan kepala, namun berusaha tetap baik-baik saja sembari menghela napas pelan.
"Aisha biar Rendra yang jemput, Pak, Naya sepertinya sedang tidak enak badan, istirahat saja." Rendra berusaha menunjukkan kepeduliannya. Ucapannya malah membuat Ferdi singkat lucu tanpa suara. Seolah menyepelekan apa yang dia putuskan.
"Gak perlu repot-repot, urus saja istri dan calon anakmu itu." Bapak terdengar tegas menolak yang membuat Rendra mengernyitkan dahinya.
"Calon anak?" Rendra tampak panik.
"Kenapa, apa gak mau kamu akui juga?" tanya Bahri sembari berbalik menghadap ke Rendra. Sesaat tatapan Bahri tertuju ke Narumi yang menanti di dekat mobil Rendra. Dia bersandar di mobil dengan tangan kanan mengelus perutnya seolah memberikan isyarat tentang kehamilannya. Bahri kembali teringat kejadian kemarin, saat Narumi datang menemui Naya di rumah dan mengatakan segalanya, termasuk tentang kehamilannya.
"Selain istri keduamu yang tidak kamu akui, apa sekarang calon anakmu di rahimnya juga gak mau diakui?" tanya Bahri dengan nada suara ditekan. Dia tampak mencoba menahan emosi yang malah disambut Bahri dengan ekspresi yang seolah-olah tidak mengerti apa-apa.
"Anak siapa, Pak?"
"Gak usah berbohong lagi, Rendra, kami semua udah capek nerima semua kebohonganmu," balas Bapak dengan helaan lelah. "Istri keduamu, eh maksudnya, istri satu-satunya kamu itu semalam datang ke rumah dan mengatakan segalanya. Termasuk tentang kehamilannya. Sudahlah, apa gak capek berakting terus?" tanya Bahri lagi yang membuat Rendra mulai terpancing emosi mengetahui Narumi datang tanpa izinnya, namun Rendra berusaha menahan amarahnya. "Saya cuma mau minta dua hal saja sama kamu, yang pertama bilang sama istrimu itu, jangan usik lagi kehidupan kami, entah itu Naya, Aisha, atau kami semua. Hubungan dia hanya sama anda, bukan sama kami. Dan yang kedua, tolong jangan dipersulit soal hak asuh anak. Biarkan Aisha bersama Naya, jangan karena ingin membuat Naya terluka, kamu tega memaksakan kehendak untuk mendapatkan hak asuh anak tanpa memikirkan perasaan Aisha yang harus bersama ibu barunya itu! Permisi."
Bahri kembali berbalik, mengajak Naya dan Mirna untuk pergi menuju mobil. Rendra berusaha mendekati ketiganya, namun tangan Ferdi yang menempel di dadanya seolah menghalanginya, membuat Rendra menatap Ferdi tajam. Seolah marah padanya.
"Udahlah, Mas, cukup," pinta Ferdi. "Mau sampai kapan sih berakting jadi anak dan suami sempurna? Udahlah, apa yang Mas harapkan, udah didapat bukan? Nikmati aja hubungan barumu bersama wanita pilihan kamu itu, jangan usik lagi Naya. Kali ini, aku gak akan izinkan lagi kamu dekati Naya."
Rendra menepis tangan Ferdi yang masih memegang dadanya. Ferdi hanya tertawa melihatnya. Belum sempat Ferdi kembali melontarkan kalimat, tiba-tiba Narumi datang dan langsung menyelipkan tangannya d sela tangan Rendra.
"Ayo, Mas, kita pulang."
Ferdi mendengus lucu melihat sikap manja Narumi. "Udah sana, rayakan keberhasilan kalian. Sekalian buat resepsi pernikahan. Bukannya saat nikah kalian cuma di KUA ya? Masa gak ada pestanya, seorang manajer perusahaan buat malu aja nikah gak ada pestanya. Yang pertama aja ada, besar-besaran lagi, masa yang kedua kalah," sindir Ferdi lantas pergi meninggalkan keduanya sembari tertawa.
Ucapan Ferdi berhasil memancing kecemburuan di hati Narumi. Dia langsung mempererat menggaet tangan Rendra yang membuat Rendra risih melihatnya.
"Dia benar, Mas, kita harus buat pesta!"
"Apaan sih!" bentak Rendra dengan suara tertahan. "Ngapain kamu datang ke rumahku? Buat kacau aja taunya!" Rendra langsung melangkah pergi meninggalkan Narumi yang terus memanggilnya sembari melangkah mengikutinya dengan perasaan kesal. Tanpa keduanya sadari, hakim yang menangani kasus keduanya berdiri di belakang Rendra dan juga Narumi. Dia mendengar semuanya, dan memutuskan masuk kembali ke dalam tanpa berkata apapun.
***
Naya masuk ke dapur, melihat seorang wanita setengah baya terlihat sibuk menyiapkan makan. Siang sendirian. Dia adalah Bik Yuyun, pembantu di rumah Mirna yang sudah dua puluh tahun bekerja bersamanya.
Naya mendekatinya, dan menyapanya sesaat. Yuyun tampak santun, menegur Naya balik lantas kembali melanjutkan memotong bawang yang sejak tadi dia kerjakan. Naya memperhatikannya, lantas mengambil alih pisau di tangan Yuyun yang membuat wanita itu kaget.
"Mbak Naya mau apa?" tanya Yuyun.
"Biar saya ya yang masak, Bibi nyapu rumah aja dulu, saya lihat ruang tamu masih kotor."
"Eh, jangan, Mbak. Mbak Naya kan masih sakit, baru pulang juga, istirahat saja."
Mirna yang mendengar keributan di dapur, langsung masuk dan melihat keduanya. Mirna tersenyum sembari mendekati Naya dan mengusap punggung sang menantu.
"Kamu ngapain di dapur?"
"Ibu, Naya mau masak. Bosen kalau harus diam aja."
"Jangan, Mbak, biar bibik aja."
"Bik, tolong ya?" pinta Naya dengan ekspresi penuh harap dan tatapan sedih. Yuyun menoleh ke Mirna. Anggukan kepala Mirna membuat Yuyun menyerah dan berpamitan pergi meninggalkan dapur. Mirna kembali tersenyum ke sang menantu.
"Ibu ngerti, kamu lagi nyari kesibukan untuk lupain semuanya kan?" Naya mengangguk pelan. "ya sudah, masaklah. Sekalian buatkan nasi goreng kesukaan Aisha. Tadi dia minta nasi goreng karena melihat temannya bawa nasi goreng ke sekolah. Biar Ibu urus Aisha di kamar, dia lagi belajar sama Ferdi."
"Makasih ya, Bu."
"Sama-sama, Nak."
Mirna melangkah pergi. Naya melihat kembali semua bumbu dapur di hadapannya. Naya menghela napas pelan, lantas memulai memasak apa pun yang dia bisa. Berharap kesedihan yang dia rasakan akan lenyap berganti perasaan baru untuk statusnya yang baru.
Beberapa jam kemudian, Naya membuka panci sup ayamnya. Aromanya mulai tercium membuatnya tersenyum lebar. Sup ayam, ikan teri kacang sambal, dan ayam goreng untuk Aisha sudah terpampang di meja dapur. Naya beralih ke kuali yang di dalamnya ada nasi goreng. Dengan cekatan Naya mengaduknya dengan sendok goreng, lantas beralih ke rak piring mengambil sebuah piring untuk Aisha.
"Naya!" Sebuah panggilan terdengar di telinga Naya.
"Iya, Mas Rendra, bentar ya, masakannya sudah siap!" balas Naya tanpa berbalik. Namun tiba-tiba, Naya terdiam. Gerakan sendok goreng di tangannya terhenti. Naya menyadari sesuatu, lantas menoleh ke asal suara yang ternyata ada Ferdi di saat, berdiri sembari menggenggam tangan Aisha yang tampak menatapnya sedih.
Naya yang menyadari kekhilafannya, langsung berpura-pura menyibukkan diri sembari mematikan kompor. Berbalik membelakangi keduanya saat merasa air matanya melesat jatuh.
"Eh, kalian rupanya. Udah pada laper ya, bentar y?" ucap Naya tanpa menoleh. "Nasi goreng Isha juga udah selesai, entar Bunda buatkan di piring ya sama ayam gorengnya. Aduh, Bunda lupa buatkan telur ceplok setengah matang kesukaan Isha, bentar ya, Nak."
Mendengar semua ucapan Naya, secara tiba-tiba Aisha melepaskan genggamannya dari tangan Ferdi. Ferdi menoleh ke arahnya, terlihat Aisha melangkah mendekati Naya dan berhenti tepat di belakang sang bunda. Naya yang masih saja terus berbicara, langsung berhenti saat merasakan ada tarikan di celana panjang yang dia gunakan. Naya menoleh, dan melihat Aisha menatapnya sedih. Naya membersihkan tangannya dengan kain, lantas berlutut di hadapan sang anak.
"Kenapa, Sayang?" tanya Naya dengan suara lembut.
Tanpa membalas ucapan Naya, Aisha menghapus sisa lintasan air mata di pipi Naya, lantas memeluknya sembari menangis. Tangisannya tumpah seakan Aisha sengaja meluapkan emosinya yang selama ini dia pendam sendirian.
Sakit rasanya hati Naya mendengar tangisannya. Naya hanya bisa menepuk pelan punggung Aisha tanpa memintanya untuk berhenti. Naya hanya ingin Aisha menumpahkan semuanya. Kesedihan dan rasa sakit yang beberapa hari belakangan ini dia masih pendam sendiri tanpa berniat bercerita sama siapa siapa pun.
"Maafin Aisha, Bunda," ucapnya setelah tangisannya mulai mereda. "Isha udah buat Bunda sakit, Isha udah buat Bunda sedih."
Naya meneteskan air mata mendengarnya, dengan cepat Naya menghapusnya lantas menolak pelan tubuh Aisha agar terlepas dari pelukannya. Naya tersenyum tulus melihat sang putri. Perlahan, Naya mengusap air mata Aisha yang masih saja jatuh melintas pipinya.
"Isha gak salah apa-apa kok, Isha juga gak buat Bunda sedih atau pun sakit." Naya tersenyum tulus. "Naya anak baiknya bunda, bunda yang seharusnya minta maaf sama Isha. Maafin bunda ya?"
Aisha menundukkan kepala lantas mengangguk pelan yang membuat Naya lega melihatnya.
"Isha gak benci bunda kan?" Aisha menggeleng. "Sama Ayah juga Isha gak benci kan?"
Aisha kembali menatap Naya, lantas menundukkan kepala. Gelengan kepala dia lakukan. Namun terlihat berat. Menyadari sikap sedih Aisha, Naya tidak ingin terus menyakitinya dengan semua pembicaraan berat kali ini. Naya mencoba tersenyum lebar, menunjukkan wajah ceria di hadapan Aisha.
"Aisha udah laper belum? Bunda udah masakkan nasi goreng plus ayam goreng kesukaan Isha. Ayam goreng crispy. Isha mau bunda suapin atau makan sendiri?"
"Suapin," jawab Aisha.
"Oke, kalah gitu Aisha tunggu bunda di ruang makan, biar bunda siapkan dulu ya."
Aisha mengangguk lantas pergi meninggalkan Naya dan Ferdi di dapur. Naya kembali berdiri menatap Ferdi yang tersenyum melihatnya.
"Kamu hebat, Nay," pujinya yang membuat Naya tersenyum tipis.
"Terima kasih," balas Naya.
Naya berbalik, kembali menyelesaikan semua kerjaannya, sedangkan Ferdi langsung menyusul Aisha yang sudah duduk di kursi makannya. Naya menghela napas berat. Semua ini cukup berat baginya. Perceraian ditambah mental Aisha yang harus dia jaga, membuat Naya merasa bahwa dunianya sudah tidak bisa bersantai seperti dulu. Kini, dirinya sudah menjadi orang tua tunggal untuk Aisha. Meski pun masih ada Rendra, namun mengingat ada Narumi di belakangnya, membuat Naya tidak bisa menggantungkan segalanya lagi padanya.