Naya memberanikan diri datang ke butik. Beberapa pelanggan yang terus saja menghubunginya, membuat Naya tidak bisa tinggal diam di rumah hanya karena masalah perceraian. Beberapa pakaian sudah jatuh tanggalnya, membuat Naya harus bergerak cepat mengeceknya agar tidak membuat semua pelanggan yang sudah percaya padanya, malah berujung kecewa.
Selain karena pelanggan, Naya juga sebenarnya harus ke butik untuk membereskan barang-barangnya. Niatannya untuk mengakhiri kerja sama dengan Narumi dan membangun butiknya sendiri, membuatnya harus bergerak cepat untuk memisahkan dirinya dari wanita yang sudah merebut kebahagiaannya. Walau pun Narumi sendiri adalah adik kandungnya.
Naya menghentikan mobilnya di parkiran butik. Menatap sedih ke butik yang sudah buka satu jam lalu. Ada perasaan sedih bukan main saat menyaksikan bangunan yang sudah bertahun-tahun dia kelola hingga memiliki nama di jejeran butik terkenal lainnya.
Naya tidak menyangka, semua usahanya berakhir sia-sia hanya karena perbuatan Narumi. Menjadi selingkuhan Rendra, membuat semua impian hancur seketika. Naya masih ingat saat pertama kali mendapati hasil gambar pakaiannya dibuat menjadi baju oleh Narumi. Keduanya bahagia, dan impian itu pun terucap.
"Kita harus bisa bangun butik besar, Mbak, sangat besar sampai semua artis bikin baju sama kita!" seru Narumi.
"Pasti, kita usaha bareng. Mbak ada uang tabungan sedikit, kamu ada kan?" Narumi mengangguk. "Kita nekat sewa ruko yuk, dan mulai usahanya."
"Boleh!"
Pembicaraan itu membuat Naya menghela napas berat. Semua hancur begitu saja. Naya meraih tasnya di kursi sebelahnya, lantas memutuskan ke luar dari mobil. Naya melangkah masuk dan seolah tidak terjadi apa-apa, Naya masuk menyapa semuanya.
Narumi yang tampak duduk di kursinya, menoleh ke Naya yang masuk dan langsung menghampiri salah satu pegawai yang langsung dengan sigap menunjukkan beberapa daftar pelanggan yang menghubunginya dari beberapa hari lalu.
Keduanya saling beradu pandang, namun dengan cepat Naya menarik tatapannya ke Cindy yang masih menjelaskan segala yang terjadi saat Naya izin tidak masuk.
"Tolong bawakan semua pakaian yang sudah selesai ke ruangan saya, saya akan periksa dulu sebelum kita menghubungi pelanggan yang memesannya."
"Baik, Mbak."
Naya kembali melangkah menaiki tangga tanpa menyapa Narumi. Narumi terus menjuruskan pandangan ke arahnya dengan ekspresi kesal. Narumi menyentuh perutnya, lantas tersenyum jahat seolah ide di kepalanya, menjadi alasannya hari ini bisa memulai pembicaraan dengan wanita yang sudah memberikannya hadiah besar berupa suaminya itu.
Di ruangan, Naya tampak sibuk memeriksa semua pakaian yang sudah dibawakan Cindy padanya. Dengan bantuan Cindy, Naya memeriksanya satu persatu. Semua pakaian di pakaikan ke patung, dan Naya dengan sikap teliti, memeriksanya satu persatu.
"Ini punya Sherly ya?" tanya Naya saat memeriksa gaun mewah berwarna merah bata.
"Iya, Mbak, ini yang mau dipakai Mbak Sherly untuk gak premier filmnya."
Naya mengangguk mengerti, memeriksa setiap detail gaun pesanan Sherly agar tidak ada kesalahan sedikit pun. Dia tahu, semua ini pasti hasil jahitan Narumi. Tak ingin berburuk sangka, namun sayangnya ada ketakutan di d**a Naya akan kejahatan Narumi yang bisa saja tega menjahitnya asal agar bisa membuat Sherly malu di depan semua orang, saat memakainya nanti.
"Ini hasil jahitan Narumi?" tanya Naya.
"Bukan, Mbak, ini hasil jahitan Linda."
Naya menarik tatapannya ke Cindy. Naya tampak kaget mendengarnya. Seingatnya Narumilah yang dia beri tanggung jawab atas pakaian Sherly. Dan seingat Naya pun, hanya Narumilah yang bisa menjahit serapi dan bagus seperti ini.
"Kok bisa Linda?" tanya Naya yang masih belum percaya.
"Mbak Narumi menolak di tengah pekerjaan, Mbak. Jadi karena takut Mbak Naya kecewa, kamu langsung meminta Linda mengerjakannya. Alhamdulillah jahitannya bagus kan, Mbak?"
Naya mengangguk takjub. Kembali melihat hasil jahitan Linda yang membuatnya merasa memiliki seseorang pengganti Narumi setelah kepindahannya nanti. Naya tersenyum puas, melangkah ke kursinya dan duduk sembari meminta Cindy untuk duduk di hadapannya. Cindy menurut.
"Cin, sebenarnya ada yang ingin saya bahas sama kamu, tapi tolong nanti beritahu sama yang lainnya ya. Saya gak sanggup ngasih taunya sekarang."
"Tentang apa itu, Mbak?"
Naya menarik napas dalam-dalam, lantas menghembuskannya perlahan. Naya menatap Cindy yang masih menanti ucapannya.
"Saya memutuskan untuk ke luar dari butik ini, Cin."
Cindy tampak kaget mendengarnya. "Maksud, Mbak??" Mbak mau ninggalin kami semua?"
"Saya gak bisa bekerja sama dengan Narumi lagi, Cin. Dan saya sebenarnya diam-diam sudah menyiapkan tempat baru untuk butik saya."
"Emangnya ada masalah apa, Mbak? Sampai Mbak dan Mbak Narumi gak bisa kerja sama lagi."
Naya mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan memberikannya ke Cindy. Cindy langsung membukanya dan kaget bukan main saat melihat surat putusan cerai. Cindy kembali menatap Naya dengan tatapan tajam percaya.
"Mbak dan Mas Rendra, bercerai?" tanya Cindy kaget.
Naya mengangguk. "Dan Narumilah penyebabnya, dia sudah menikah dengan Mas Rendra sejak dua tahun yang lalu, dan semua itu tanpa sepengetahuan saya. Bahkan tanpa sepengetahuan keluarga Mas Rendra sendiri."
"Astaghfirullah."
Naya menundukkan kepala sesaat, lantas kembali menatap Cindy yang masih tidak menyangka dengan semua yang terjadi.
"Soal kalian semua, terserah saja kalian mau ikut saya atau Narumi, saya tidak akan paksa. Yang pasti Minggu depan saya sudah tidak bekerja lagi di sini. Lebih tepatnya setelah semua pakaian pesanan pelanggan yang saya pegang, selesai diambil."
"Tapi butik Mbak tetap di kota ini, kan?" tanya Cindy.
Naya mengangguk. "Saya tetap di sini, Cin, karena meski pun hubungan saya sudah berakhir dengan Mas Rendra, kedua orang tuanya tetap akan saya jaga. Jadi saya putuskan untuk tetap di sini."
Tampak kelegaan hadir di wajah Cindy. Naya tersenyum melihatnya.
"Mbak, saya mau ikut Mbak Naya saja!" lontar Cindy tampak yakin yang membuat Naya tersenyum tipis.
"Kamu gak mau pikir-pikir dulu? Kerja sama saya tekanannya berat lho."
Cindy tertawa kecil. "Sudah sejak awal saya kerja sama Mbak Naya, dan saya gak terasa tertekan."
"Terserah kamu saja. Tapi tolong jangan sampai terdengar Narumi dulu ya. Saya tidak ingin ada masalah. Lagi pula, saya ingin memberi Narumi sedikit pelajaran. Bisa kan?"
"Pasti, Mbak, saya akan diam-diam memberitahu yang lain. Dan saya jamin, Mbak Narumi tidak akan tau. Karena saya sendiri tau, siapa orang-orang yang pro ke Mbak Narumi, dan siapa yang pro ke Mbak Naya."
Naya tersenyum lebar. Dia lega bukan main memiliki Cindy yang sejak awal memang lebih mendukungnya dari pada Narumi yang dia kenal, sebagai wanita ambisius yang cukup tak punya hati.