BAB 14 - AKU MASIH ORANG YANG SAMA

1139 Words
"Kamu yakin, Nay?" tanya Ferdi dengan ekspresi kaget bukan main. Ferdi yang sempat datang menjemput Naya ke butik dan mengajaknya makan siang, membuat Naya menceritakan segalanya tentang permintaan Narumi tadi pagi. Naya sebenarnya tidak ingin membahasnya, namun sesak di d**a membuat Naya tak lagi mampu menahannya sendirian. "Aku sudah janji, Fer, gak ada jalan lain lagi." Naya mengaduk s**u cokelatnya. "Dia bisa pakai designer lain!" Ferdi menekan nada suaranya. "Kenapa harus kamu, Nay." "Aku sudah pernah janji dulu bakalan buat gaun pengantin saat dia menikah, lagi pula aku kakaknya. Sudah selayaknya aku turut membantunya saat menikah." "Dia mau berpesta, Nay, bukan nikah. Dia sudah lama nikah sama Mas Rendra, dan pesta kali ini aku yakin cuma ingin buat kamu cemburu." "Aku gak cemburu, Fer. Aku sudah tidak peduli." Naya berusaha tersenyum walau tampak jelas di kedua mata Ferdi, senyumannya perih bukan main. Ferdi menghela napas kasar. Dia benar-benar kesal setengah mati pada dua sosok yang berhasil menghancurkan hidup wanita yang sampai saat ini masih dia cintai. Semula meyakini Naya akan bahagia bersama Rendra, namun kenyataannya Ferdi malah harus melihatnya terluka setelah pengorbanannya yang cukup besar untuk membuat Naya bahagia. "Aku benar-benar gak nyangka, Mas Rendra bisa setega itu," lanjut Ferdi. "delapan tahun pernikahan seperti cuma delapan hari buatnya. Dia sama sekali gak punya hati nurani sampai tega merencanakan pesta besar di atas penderitaan istri dan anaknya sendiri." "Mantan, Fer, aku bukan lagi istrinya." "Iya maaf," sesal Ferdi. "Jadi, kamu tetap menerimanya?" Naya mengangguk pelan yang membuat Ferdi menyerah dengan keputusan yang diambil Naya. Dia tahu, Naya pasti mampu melewatinya. Walau rasanya jika Ferdi berada di posisinya, Ferdi sendiri bisa pastikan dia tidak akan mampu melewatinya. "Lagian, ini aku anggap sebagai kerjaan terakhir aku di butik NaRum, setelah itu, aku resmi ke luar." "Kapan kamu ke luar dari sana, Nay?" "Rencananya Senin depan aku sudah mulai buka di tempat yang baru, dan hari Minggunya ada acara Kecil-kecilan di sana. Aku mau panggil anak panti untuk sekedar syukuran rumah sekaligus butik baru." "Kamu sudah dapat tempatnya?" Naya mengangguk. "Sherly yang carikan. Satu komplek dengannya." "Bukannya dia tinggal di apartemen?" "Sementara, selama kerja sama dengan perusahaan Rendra. Setelah selesai, dia langsung tempati rumahnya yang baru di sebelah butikku nanti." Ferdi menganggukkan kepala tanda mengerti dengan penjelasan Naya. Dia yakin, di tempat yang dipilihkan Sherly untuk Naya adalah tempat terbaik. Jarak dari rumah pun tidak terlalu jauh yang membuat Ferdi bisa sering datang sekedar memastikan Naya dan Aisha baik-baik saja. "Kamu gak berniat ngebalas perasaan Sherly, Fer?" goda Naya yang langsung membuat Ferdi tersenyum. "Udah lama dia jatuh cinta sama kamu, tapi kamu malah cuek-cuek aja. Dia cantik lho, Fer, baik lagi." "Aku belum berniat menikah, Nay," tolak halus Ferdi. "Mau sampai kapan?" tanya Naya lagi. "Kamu sudah tiga puluhan, mapan lagi, seorang dokter handal, masa gak berniat nikah." "Nantilah itu, masih banyak yang harus aku capai." "Kan bisa sambil nikah." Ferdi hanya tersenyum bersamaan dengan suara bel di pintu cafe terdengar tanda ada yang membuka. Naya yang langsung duduk menghadap ke arah pintu, spontan melirik. Ekspresinya yang semula mulai santai, kembali menegang yang membuat Ferdi curiga lantas menoleh ke belakang. Tampak Rendra hadir bersama Narumi. Keduanya malah dengan santai mendekati meja tempat Naya dan Ferdi berada. Naya menarik tatapannya ke arah lain, enggan beradu pandang dengan kedua sejoli itu. "Wah wah wah, ternyata adikku mau ngerasain serunya berhubungan sama iparnya sendiri," sindir Rendra yang langsung membuat Ferdi berdiri menantangnya. Naya yang melihat hal itu, langsung berdiri menenangkan Ferdi. Bahkan terdengar Naya mengajaknya pergi, namun Ferdi malah mengabaikannya. "Apa maksudmu, Mas?" "Benar kan?" tanya Rendra. "Aku baru bercerai, dan kamu kembali mencoba menerobos masuk. Kenapa? Masih berharap bisa menang dariku?" "Aku gak pernah merasa berlomba dari kamu, Mas, bukannya kamu yang selalu mengambil semua yang seharusnya jadi milikku sejak kecil?" tanya Ferdi dengan nada santai namun terasa menusuk untuk Rendra. Dan semua itu terlihat dari senyumannya yang memudar, tatapan tajam dan hembusan napas kasarnya. Narumi sendiri yang masih menggandeng Rendra, langsung menjuruskan tatapannya ke Naya yang berusaha mengajak Ferdi untuk menyudahi perdebatan. Narumi tersenyum sinis. "Hai, Mbak," sapa Narumi. "Aku pikir kamu izin ke luar buat makan siang untuk makan bersama Aisha, ternyata malah makan siang sama adik ipar sendiri?" Narumi menambah tekanan di antara ketiganya. "Wah, jangan-jangan ...." "Hapus pikiran kotormu itu, Rum!" bentak Naya yang malah membuat senyuman puas hadir di bibir Narumi. "Dia adik iparku, tepatnya mantan adik iparku sekarang. Dari awal sampai detik ini, aku dan Ferdi tidak ada hubungan lebih selain sahabat dan adik ipar! Seharusnya kamu sadar bahwa sekarang, kamulah kakak iparnya. Dan sikap seperti ini, gak kayak kamu tunjukkan di depan Ferdi." "Wanita seperti dia gak tau arti sebuah hubungan selain perselingkuhan!" tambah Ferdi. Narumi tampak kesal mendengarnya. Namun menyadari Rendra mengepal tangannya, membuat Narumi mengurungkan niatnya untuk membalas. Dia yakin, Rendra bisa lebih sadis membalas penghinaan keduanya. "Kamu benar-benar gak tau, atau memang bodoh sih, Nay?" tanya Rendra sembari tersenyum sinis. "Orang yang kamu anggap sahabat atau adik ipar, mantan ipar atau apalah ini, sejak awal punya rasa sama kakak iparnya sendiri." "Mas Rendra!" seru Ferdi, Naya tampak kaget mendengarnya. Entah mendengar pengakuan Rendra, atau mendengar suara teriakan Ferdi yang berhasil memancing minat pengunjung lainnya untuk menoleh ke arahnya. "Kenapa, bukannya perceraianku yang selama ini kamu tunggu?" tanya Rendra. "Ini kan yang kamu mau, agar bisa masuk ke kehidupan Naya lagi setelah dulu dengan mudahnya, kamu serahkan dia samaku?" Emosi membuat Ferdi gelap mata. Dia hampir saja menghadiahkan Rendra dengan pukulan dari tangannya. Namun gerakan tangannya kalah cepat dengan Naya yang langsung menahannya dan menarik tubuh Ferdi menjauh dari Rendra. Naya mengusap d**a Ferdi memintanya untuk tenang. Rendra terdiam. Usapan tangan Naya di d**a Ferdi mengingatkannya pada masa-masa indah bersama Naya saat mantan istrinya itu mencoba meredakan emosinya. Naya selalu melakukannya, dan alhasil selalu berhasil membuat emosinya yang melonjak ke permukaan, kembali ke dasar dirinya yang paling bawah. Rendra cemburu melihatnya. "Kita pulang sekarang ya, please?" pinta Naya dengan nada suara bergetar menahan tangis. Ferdi bisa melihat ketakutan hadir di kedua matanya. Tak tega melihatnya terus berhadapan dengan dua orang yang menorehkan luka cukup dalam itu, Ferdi mengabulkannya. Perlahan mengangguk, lantas mengajak Naya untuk pergi. Ferdi meraih tas Naya dan kunci mobil di atas meja, lantas meminta Naya untuk jalan lebih dulu menuju ke luar cafe. Cafe yang mengusung pembayaran dulu saat memesan makanan di meja pemesanan, membuat Ferdi lega karena setidaknya, tidak perlu berlama-lama di satu tempatnya yang sama dengan Rendra dan Narumi. Rendra hanya diam di tempat, memperhatikan keduanya melangkah pergi dan ke luar dari cafe. Rendra juga melihat, dengan sikap gentle-nya, Ferdi membukakan pintu cafe untuk Naya. Rendra kembali mengepal tangannya yang kali ini kembali terlihat oleh Narumi. Sadar sang suami dilanda rasa cemburu, Narumi langsung menggenggam kepalan tangan Rendra yang membuat pria itu sadar, ada Narumi bersamanya. "Kamu hebat, Sayang, mereka ketakutan," puji Narumi yang hanya dibalas Rendra dengan senyuman sesaat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD