"Dan kamu diam aja, Mbak?!"
Narumi, gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun yang berstatus sebagai adik kandung Naya, tampak geram mendengar curhatan Naya siang itu. Sudah seminggu berlalu, dan Naya yang tidak sanggup menahannya seorang diri, akhirnya mencurahkan segalanya pada Narumi di waktu makan siang. Beruntung baginya, butik sedang sepi pengunjung. Keduanya bisa bersantai sembari menceritakan perselingkuhan Rendra di cafe tepat di samping butik.
Butik bernamakan NaRum Fashion memang milik keduanya. Sudah lima tahun butik itu beroperasi. Nara yang suka mendesign pakaian dan Narumi yang suka menjahit, membuat keduanya seakan klop menyatukan hobby masing-masing di satu gedung berlantai tiga dengan gudang di lantai paling atas.
Semua sesuai harapan. Butik keduanya bahkan tak pernah sepi pengunjung. Dengan mengusung semua model pakaian, Butik Narum memang tak pernah kehilangan pelanggan. Selalu saja ada pelanggan yang datang, entah itu memesan pakaian dengan design pilihan, atau malah membeli pakaian yang tersedia. Bahkan tak jarang ada artis papan atas yang datang memesan pakaian. Dan semuanya tampak puas dengan pelayanan yang diberikan, baik dari semua pegawai mau pun Nara dan Narumi sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan, Rum, aku belum siap buat pergoki Mas Rendra. Aku takut gak kuat melihat secara langsung."
Narumi menatap Naya yang tampak sedih dengan kepala tertunduk. "Mereka mau masuk hotel, Mbak."
Naya terdiam. Pesan singkat yang kembali dia temui di laptop milik Rendra saat pria itu ke luar kemarin malam, menemani Aisha yang merengek meminta ditemani ke mini market, membuat Naya kembali dihujam rasa sakit. Malam ini, begitulah janji keduanya. Dan rasanya Naya tidak siap melihat sang suami pulang menemuinya setelah bermesraan semalam suntuk dengan wanita yang masih belum diketahui siapa dia.
"Masih mau, Rum, belum terjadi," jawab Naya dengan nada suara merendah.
"Malam ini, Mbak, masa kamu diam aja."
"Terus, aku harus apa?" tanya Naya mulai terpancing emosi. "Harus ngelabrak, terus marah-marah sama Mas Rendra dan wanita itu, terus ngeviralkan mereka, gitu?"
"Ceraikan Mas Rendra, Mbak."
Bagai tersambar petir rasanya Naya mendengar ucapan Rumi yang spontan dia ucapkan. Tidak pernah terbayangkan sejak awal, perceraian akan terjadi dalam pernikahannya. Naya yang berniat membawa pernikahannya hingga menua bersama bahkan sampai akhir hayat, malah harus berhadapan dengan kata cerai yang cukup menyakitkan.
Semua kembali terulang jika kata cerai berhasil terlaksana. Masa-masa kelam akibat perceraian kedua orang tua, membuat Naya dan Narumi harus saling berpegangan saling menguatkan satu sama lain. Walau sempat harus memilih antara ikut dengan sang ayah atau sang ibu, namun keputusan bersama membuat Naya dan Narumi memilih hidup berdua tanpa naungan salah satunya yang sekarang entah di mana.
"Mbak, kok malah diam," tegur Narumi. "Emangnya kamu mau terus-terusan seperti ini? Hidup sama pria yang selingkuh di belakang kamu, Mbak. Dia sudah dipakai wanita lain, kamu masih mau menikmatinya?"
Naya menghela napas pelan. "Ini bukan masalah hubungan suami istri, Rum, tapi soal hubungan orang tua dan anak, hubungan antara Mas Rendra dan Aisha."
"Tapi Aisha pasti mengerti, Mbak."
"Aku gak bisa, Rum, Aisha butuh Ayahnya."
"Kamu pilih mana, Aisha menerima perceraian kedua orang tuanya, atau Aisha harus menerima ibu keduanya?"
Naya membesarkan kedua matanya ke Narumi. "Apa maksudmu?!"
"Kamu pasti tau maksud aku, Mbak."
Naya terdiam. Dadanya sakit bukan main. Napasnya sesak, seakan udara lenyap seketika. Seakan tak ada hati, Narumi mengatakan semua itu dengan lantangnya.
Wajah Rendra terbayang di ingatannya bersamaan dengan wajah polos Aisha. Senyuman bahagia Aisha tadi malam setelah dibelikan cokelat oleh Rendra, membuat Naya sedih bukan main. Andai Aisha mengetahui apa yang sudah terjadi, Naya tidak yakin Aisha bisa tersenyum selebar itu di hadapan Rendra. Kebencian pasti selalu melekat di kedua matanya, setiap kali sosok sang ayah menusuk ke kedua matanya.
Naya tidak menginginkan hal itu. Naya tidak ingin Aisha sampai membenci ayah kandungnya sendiri. Akan hancur masa depannya kalau sampai Naya kehilangan sosok ayah dalam tumbuh kembangnya. Naya dan Narumi masih beruntung, perceraian itu terjadi di masa-masa keduanya duduk di bangku SMA. Jika perceraian itu terjadi di usia Aisha, Naya yakin baik dirinya mau pun Narumi, pasti akan kehilangan harapan hingga besar kelak.
Narumi yang mendapati sang kakak hanya diam seribu bahasa, langsung menggenggam tangan Naya yang membuat wanita berparas cantik dengan hidung mancungnya itu, kembali menjuruskan pandangan ke arah sang adik.
"Putuskan, Mbak, kamu masih punya kesempatan untuk mengakhiri segalanya, sebelum wanita itu masuk ke duniamu dan Aisha." Narumi mencoba meyakinkannya. "Kamu harus melakukannya malam ini, kamu harus melabrak keduanya. Tunjukkan kalau kamu bukan istri yang bodoh!"
Darah Naya mendidih mendengar ucapan Narumi. Rasa cinta yang selalu besar di hatinya untuk Rendra, seakan hangus dibakar api kebencian atas apa yang Rendra lakukan padanya. Janji suci yang pria itu ucapkan, kini hanya akan menjadi janji busuk yang takkan lagi indah seperti sebelumnya. Kesakralan itu lenyap, berganti pengkhianatan yang diingkari sang pengucap janji itu sendiri.
"Aku bukan istri bodoh, Rumi, aku gak akan biarkan mereka berpesta tanpa aku malam ini."
Narumi tersenyum lebar. Ucapan Naya membuatnya puas bukan main. Dia berhasil memancing emosi Naya yang selama ini tertutupi rasa cinta yang malah dibodohi oleh suaminya sendiri. Narumi mengalihkan pandangannya ke arah lain, dengan senyuman yang masih lebar di bibirnya.