"Ternyata benar, kamu sangat mencintaiku. Terima kasih atas malam ini, Mas, aku tunggu malam-malam selanjutnya."
Pesan dari wanita itu kembali membuat kedua mata Naya memanas. Naya yang dengan sengaja membukanya di ruang kerja pribadinya di butik, langsung mendapati ucapan terima kasih dari wanita yang entah siapa itu. Belum ada balasan dari Rendra. Namun Naya berharap, suaminya itu tidak akan membalasnya walau sudah berpesta dengan w*************a itu tadi malam, yang seharusnya berpesta dengannya di rumah merayakan anniversary ke delapan tahun.
Naya yang merasa napasnya mulai tidak karuan, langsung meraih gelas berisikan air mineral dan meneguknya cepat. Namun Naya tersedak tiba-tiba saat mendapati kenyataan bahwa Rendra membalasnya.
"Permainanmu sungguh membuatku lupa segalanya, Sayang. Bahkan kamu berhasil membuatku lupa akan Naya yang menungguku di rumah untuk merayakan anniversary kami. Kamu yang terbaik."
Air mata Naya jatuh seketika. Gelas yang dia pegang, perlahan dia letakkan ke tempat semula. Menjijikkan, itulah kata makian yang berhasil Naya ucapkan di dalam hatinya.
"Kamu bisa memintanya kapan saja, aku selalu siap." Balasan wanita itu kembali hadir.
"Di tempat berbeda?" balas Rendra.
"Wow, kamu menantangku?"
"Tentu saja, pikirkanlah tempatnya, aku akan menurutinya."
Naya menutup kasar laptop. Dia tidak tahan lagi membaca semua pesan mesra antara suami dan pelakor itu. Naya menghapus air matanya yang meluncur tanpa dia bisa cegah, lantas menyandarkan tubuhnya di kursi.
Pintu terbuka tiba-tiba, tampak Narumi hadir tanpa permisi. Naya tersentak kaget, lantas menghembuskan napasnya kasar.
"Kenapa batalin meeting, Mbak?" seru Narumi sembari duduk di hadapan Naya.
"Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk, belajar sopan santun!" tegur Naya.
"Iya maaf," jawab Narumi sembari menjuruskan pandangan ke laptop di atas meja Naya. "I-itu laptop Mas Rendra?" Naya menarik tatapannya, lantas mengangguk pelan. "Kok ada di sini?"
"Aku pinjam bentar, tadi malam aku selesaikan kerjaan di sini, gak sempat pindahin ke flashdisk. Kenapa? Ada masalah?"
Narumi menggelengkan kepala cepat "Gak, cuma aneh aja, Mbak kan ada laptop, kok pinjam punya Mas Rendra."
"Kalau gak ada yang mau kamu bahas, sebaiknya ke luar aja, selesaikan pakaian yang kamu jahit, salah satunya punya Tante Nining, kan? Mau diambilnya besok."
Belum sempat Narumi menjawab, suara pintu diketuk terdengar. Naya berseru meminta sang pengetuk masuk. Terlihat Cindy hadir, sekertaris pribadi Naya.
"Maaf, Mbak, ada Mbak Sherly di depan mau ketemu."
"Minta dia masuk," perintah Naya yang langsung dilaksanakan Cindy.
Narumi beranjak dari kursinya. "A-aku ke luar dulu, Mbak!" Narumi berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita cantik dengan tubuh langsing dan rambut panjang ikalnya masuk. Penampilannya modis, namun tatapannya tajam saat mendapati sosok Narumi ada di hadapannya.
Narumi menunduk, melangkah melewatinya yang terus saja diikuti tatapan tajam dari Sherly sampai pintu ditutup Narumi dari luar. Naya yang melihat sahabatnya datang, langsung mengajaknya duduk di sofa tamu yang terletak di sudut ruangan.
"Tumben datang, ada apa?" tanya Naya sembari memberikan sebotol mineral yang baru saja dia ambil dari lemari es berukuran kecil di atas lemari.
"Kamu baik-baik aja, Nay?" tanya Sherly yang berhasil membuat Naya heran mendengarnya. Naya sesaat tertawa, mencoba menutupi luka di hatinya akibat ulah sang suami yang bermain di belakangnya. Sherly semakin menatapnya aneh melihatnya malah tertawa seperti itu.
"Aku baik, emang ada apa?" tanya Naya dengan senyuman lucu mendengar pertanyaan Sherly.
Sherly menghela napas. "Sebenarnya aku gak mau ngasih tau kamu, Nay, aku yakin kamu pasti gak percaya sama ucapanku. Tapi aku gak mau kalau kamu terus-terusan dibohongi seperti ini."
"Maksudnya?"
Sherly menggenggam tangan Naya. "Kamu tau kan, kalau aku ada kerja sama dengan perusahaan Rendra?"
Naya mengangguk. Sherly memang seorang artis ibu kota. Perusahaan Rendra yang bergerak di bidang Production House itu, selalu menjadikan artis ibu kota yang cukup memiliki nama teratas menjadi talent dalam setiap film baru. Dan kali ini, Sherlylah yang menjadi tokoh utama dalam film produksi perusahaan tempat Rendra bekerja.
"Aku kemarin lakuin pemotretan di perusahan itu untuk film terbaruku, dan saat sampai rumah, ternyata aku baru sadar handphoneku ketinggalan. Bareng asistenku dan satpam perusahaan, aku kembali ke ruang pemotretan dan harus melewati ruangan Rendra. Dan kamu tau apa yang aku lihat?" tanya Sherly yang membuat Naya mulai panik. "A-aku melihat Rendra bermesraan bersama seorang wanita."
Bagai tersambar petir Naya mendengarnya. Tubuh Naya seakan bergetar hebat. Napasnya sesak. Sherly berusaha menenangkannya, mengurungkan diri untuk melanjutkan ceritanya, namun Naya menolak. Dia malah terus meminta Sherly menceritakan segalanya.
"Kamu yakin?"
"Aku yakin, lanjutkan."
Sherly mengangguk. "Pas aku tanya sama satpam itu, dia bilang kalau Pak Rendra sudah biasa melakukan hal itu di perusahaan. Dia mau mengadukan perbuatan keji itu ke pemilik perusahaan, namun Rendra mengancam akan menyakiti seluruh keluarga bapak itu kalau sampai mengadukannya. Rendra malah juga menyogoknya dengan uang yang cukup besar."
Naya mempererat genggaman tangan Sherly. "Kamu tau siapa wanita itu?"
Sherly terdiam. Dia berusaha seperti seseorang yang menutupi rahasia besar. Naya berusaha memaksanya, namun Sherly malah menggelengkan kepala.
"Aku gak lihat wajahnya," jawab Sherly. "Maaf, Nay, Akuaku gak ada maksud untuk buat kamu dan Rendra bertengkar. Aku gak ada maksud ngerusak hubungan kamu dengan suamimu."
"Tenang saja, aku sudah tau segalanya sebelum kamu memberitahuku."
Sherly terbelalak. "Kamu sudah tau? Dari mana?"
Naya mengarahkan telunjuknya ke laptop Rendra. Sherly mengikuti arah tunjuk Naya. Ekspresi bingung hadir di wajahnya.
"Mas Rendra mengaktifkan pesan w******p di sana, tapi bukan dari handphone yang selama ini dia bawa ke mana-mana. Tapi ada handphone lain yang tidak aku ketahui."
Sherly menatap Naya iba. Naya berusaha tersenyum, mencoba menunjukkan ketegaran walau Sherly bisa lihat langsung di kedua matanya, kesedihan yang teramat sangat dia rasakan saat ini. Sherly ikut sedih melihatnya.
"Apa yang harus aku lakukan, Sher. Apa harus cerai? Atau aku berpura-pura tidak tau semua yang dia lakukan?"
"Kamu harus bertindak, Nay, apa kamu mau berbagi suami dengan orang lain?"
Naya menggelengkan kepala. "Tapi, Aisha?"
"Aisha pasti akan mengerti."
Naya terdiam. Mencoba memikirkan langkah apa yang harus dia ambil untuk hidupnya. Naya juga tidak ingin perilaku Rendra, mengguncang kehidupan Aisha yang begitu percaya pada ayahnya sendiri. Naya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Apa tetap bertahan? Atau harus mengajukan surat terakhir untuk suami yang selama ini, sempurna di kedua matanya. Naya menghela napas kasar.