11. Siblings who get along

1064 Words
Begitu turun dari mobil, Ian langsung disambut ibunya yang keluar dari dalam rumah. “Bagaimana? Kenapa lama sekali pulangnya? Apa yang kalian bicarakan?” Belum sampai dia masuk ke dalam, Nadin sudah memberinya pertanyaan bertubi-tubi seraya membuka lebar tangannya. Ian melepaskan topi lalu membungkuk untuk memeluk tubuh ibunya yang mungil. “Kamu sudah makan siang, Nak? Ibu baru selesai masak dengan Maya.” “Maya kemari?” tanya Ian. “Hmm. Saat kamu pergi ke markas tadi pagi, Maya datang diantar Vincent. Cassie rewel sejak tadi malam. Jadi, dia membawa anaknya kemari. Tapi saat mereka sampai, Cassie malah tidur dan baru saja bangun.” Nadin mengalungkan lengannya di tangan besar dan keras Ian ketika mereka berdua masuk ke dalam rumah. Di dalam, Ian melihat Maya sedang menggendong anak perempuannya di ruang tengah. Ketika Maya melihat kedatangan kakaknya, dia segera lompat dari sofa mendekati Ian. “Aku sudah dengar tentang pernikahanmu sebentar lagi. Katakan jika itu semua bohong.” Ketika melihat Ian, Cassie di dalam gendongan Maya tersenyum lebar memperlihatkan satu gigi kecilnya yang baru saja tumbuh. Kedua tangan mungilnya terulur seperti ingin menggapai Ian. Sambil memberikan jadi kelingkingnya kepada Cassie, Ian menatap adiknya. “Kenapa kau berpikir itu bohong?” “Semua orang pun tahu bahwa kau tidak tertarik untuk menikah. Aku bahkan meragukan kejantananmu,” Ian seketika menatap Maya datar. “Maya, jangan bicara begitu,” tegur Nadin lembut hingga Maya terkekeh pelan. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada Ian. “Ganti baju dulu sana lalu makan bersama di sini.” Ian mengangguk singkat sebelum menuju kamarnya. Karena sudah menjadi kebiasaannya untuk disiplin di markas, Ian selalu menyusun dan meletakkan barang-barangnya dengan rapi dan terorganisir. Selesai mengganti pakaian yang lebih nyaman dan melepaskan sepatu boots yang berat, dia pun menyusul ibu dan adiknya di ruang makan. “Ibu dan Maya banyak memasak makanan kesukaan kalian hari ini karena kedua anak Ibu kemari.” “Rasanya sudah pasti lezat!” seru Maya. Ian tersenyum pendek kemudian mengisi piringnya penuh. “Ian akan menghabiskan semuanya.” Nadin pun tertawa bahagia. “Jadi, bagaimana?Apakah Minggu depan tidak masalah?” Ian menggeleng singkat. “Tidak sama sekali. Atasan juga sudah menyetujuinya. Tadi cukup lama karena komandan memberi beberapa wejangan.” “Begitu rupanya .... Lalu, kita bisa temui mereka malam ini untuk membahas gedung dan segala macamnya. Oh iya, Maya, kamu belum tahu wajah calon kakak iparmu, kan? Dia sangat cantik, lho!” Nadin membuka galeri di ponselnya sebelum menunjukkan satu foto wanita berambut panjang yang sangat cantik. Dan Maya yang melihat wajah wanita itu seketika raut wajahnya berubah horor. “Ada apa?” tanya Ian yang merasakan adanya keanehan dari adiknnya. Maya melirik kakaknya sebelum kembali pada ponsel ibunya. “Bu, wanita ini sungguh setuju ingin menikahi Kak Ian?” “Ya.” Mengembalikan ponsel Nadin, Maya berdecak. “Dia pasti terpaksa.” “Kenapa?” “Wanita secantik itu mana mungkin mau dengan Kak Ian, Bu.” Sambil menyuapi anaknya, Maya menatap remeh kakak ya. “Pria ini kasar, ringan tangan, garang, menakutkan, suram—” “Rupanya seburuk itu aku,” Ian berkomentar pelan. Maya berseru, “Hei, aku belum selesai! Dan dia juga pria yang tidak tahu malu sama sekali. Sangat suka memamerkan tubuh!” “Kenapa aku jadi pria yang tidak tahu malu? Kau yang selalu menggunakan pakaian terbuka jika pergi ke luar bersama temanmu.” “Kau selalu telanjang ketika teman-temanku datang dan juga menggoda mereka!” Ian mengerutkan dahinya. “Aku tidak pernah telanjang ketika teman-temanmu datang. Apalagi menggoda mereka.” “Oh? Perlu aku ingatkan pertama kali aku membawa Iris dan yang lainnya kemari? Kau bersantai di ruang tamu dengan singlet jelekmu yang robek sana sini dan celana pendek.” “... Lalu?” Jujur saja, Ian masih belum mengerti dari mana penjelasan itu berakhir menjadi dia menggoda teman-teman adiknya. “Ketika temanmu datang kemari, kau selalu menyuruhku untuk mengurung diri di dalam kamar. Dan ketika aku menyuruhmu melakukan hal yang serupa, kau malah menyuruhku balik untuk bermain di dalam kamarku bersama teman-temanku. Karena aku adik yang selalu mengalah pada kakaknya yang menyebalkan—” “Maya,” Nadin mengingatkan anaknya dengan suara yang pelan. “Dan karena kakakku tidak mau masuk ke kamarnya, aku menyuruhmu untuk setidaknya mengganti pakaianmu yang lebih nyaman. Dan apa yang kau lakukan setelah itu? Kau memamerkan dadamu yang telanjang sampai membuat mata teman-temanku melihat sebuah dosa menjijikan!” Maya tidak pernah bisa melupakan hari itu. Hari di mana Ian memamerkan otot tubuhnya yang besar, keras, berkeringat, dan tampak menakutkan. Kemudian semua temannya membeku di tengah jalan dan tidak berkedip sama sekali ketika melihat tetesan demi tetesan keringat mengalir di sepanjang abs-nya yang terlihat menggiurkan kata teman-teman Maya. Semenjak hari itu, Jane, Veronica, dan Ayumi selalu bersemangat ketika mampir kemari jika Ian pulang. Karena hari itulah, Maya selalu kesal dengan Ian. Sementara itu setelah Maya mengatakannya, Ian akhirnya mengingat hari tersebut. Cuaca saat itu sangat panas dan pendingin di kamarnya rusak. Ian ingin tidur di kamar Maya akan tetapi adiknya belum pulang dan mengunci kamarnya. Jadinya dia duduk bersandar di sofa ruang tamu sambil memejamkan matanya dengan singlet dan celana pendek. Saat cuaca panas, ia lebih memilih tidak menggunakan pakaian apa pun karena tubuhnya mudah sekali mengeluarkan keringat . Jadi, ketika Maya menyuruhnya menggunakan pakaian yang lebih nyaman, dia segera melepaskan singletnya dan kembali memejamkan mata. Itu merupakan hal yang sangat nyaman ketika cuaca panas. Melirik ke atas tanpa dosa, Ian berujar, “Aku tidak telanjang.” “Kau telanjang!” “Aku masih mengenakan celana.” “Celana dalam maksudmu?” “Aku berada di dalam rumah. Itu wajar. Tidak sepertimu yang keluar dengan kondisi telanjang.” Nadin berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Membiarkan kedua anaknya berdebat, dia makan secepat yang ia. Ia lalu mengambil Cassie dan pergi ke halaman belakang rumahnya kemudian menghubungi Lukman. “Halo, Lukman? Ini aku. Mengenai nanti malam .... Ya, benar. Kami akan ke sana. Kabari saja jam berapa kau pulang .... Oh sungguh? Kalau begitu, sore saja!” Kembali pada Ian dan Maya, wanita cantik itu berujar, “Itu namanya modis, bukan telanjang! Aku bahkan menutupi payudaraku dengan sempurna tidak seperti kau— Akh! Berhentilah mencengkeram leherku! Bu, Kak Ian mau bunuh Maya!” “Ian hanya memijat leher Maya. Dia bilang lehernya pegal,” kilah Ian tenang. “Kau itu ingin membunuhku! Hentikan itu, Kak! Anakku masih kecil! Aku tidak akan terima jika Vincent menikah lagi!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD