“Dan untung saja Papa tidak memakan rumor itu mentah-mentah.”
Ucapan Lukman membuat Lucia mengerutkan dahinya.
Lukman mendongak dan berkata serius, “Cia, seburuk apa pun rumor tentangnya, kamu tidak perlu khawatir. Papa sudah mencari tahu mengenai calon suamimu ini, dan Papa yakin dia merupakan pilihan yang baik untukmu.”
***
Kembali ke kamarnya, Lucia melihat Milda baru saja keluar dari kamar mandi.
“Tepat waktu. Saya sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi, Cia.”
Bersandar di dalam bathtub, Lucia memejamkan matanya mencoba mengistirahatkan pikirannya yang penat.
“Cia, orang seperti apa dia? Apa kamu tetap ingin melanjutkan perjodohan ini?” tanya Milda dari luar kamar mandi. Ada jejak kekhawatiran dalam nada bicaranya.
Tanpa membuka mata, Lucia menjawab malas, “Aku belum bisa menilainya. Dan pernikahan akan diadakan Minggu depan.”
Hening merajalela untuk beberapa saat. Lucia tahu, Milda saat ini pasti terkejut dengan berita tersebut.
“... Lalu, bagaimana dengan rumor itu?” tanyanya setelah keheningan yang panjang.
Lucia membuka matanya perlahan. Perkataan ayahnya tadi terus Lucia pikirkan. Kenapa Lukman berkata demikian? Apa dia yakin bahwa Ian tidak seperti rumor yang beredar? Sekarang sudah ada dua kubu. Adeline yang sangat percaya diri dengan rumor tersebut, dan Lukman yang percaya jika rumor itu tidak benar.
Pilihan yang baik untuknya, ya?
Entah kenapa sejak pertemuan pertamanya dengan Ian, dia merasa pria itu memang baik-baik saja. Dia pikir dia sudah gila hanya karena melihat satu dua hal baik yang pria itu tunjukkan, dia langsung melihat pria itu dengan sangat positif. Dan berkat ucapan Lukman tadi membuatnya sedikit tidak menyesal dengan apa yang dia pilih.
Selang beberapa menit membisu, barulah dia menjawab, “Setidaknya dia bukan gay.”
“Sungguh?” tanya Milda cepat.
Saat pria itu memeluknya dari belakang malam ini, Lucia bisa merasakan sesuatu walau samar yang mengganggu bagian atas bokongnya. Pria itu terangsang. Pria itu adalah pria yang normal.
Menyadari bahwa sudah lama dia berendam, Lucia akhirnya beranjak dari bathtub. Dia membersihkan dirinya di bawah shower sebelum menggunakan bathrobe. Keluar dari kamar mandi, dia melihat gaun tidurnya yang tebal sudah ada di atas tempat tidur. Lucia kemudian mendekati nakas di samping ranjangnya. Di sana sudah ada sebotol obat tidur. Dia mengambilnya seraya berkata, “Mulai besok tidak perlu menyiapkan semua keperluanku, Milda. Aku harus belajar mandiri sebelum menjadi seorang istri.”
Milda yang masih berdiri di tempatnya menatap Lucia yang menelan pil tersebut dengan sedih. “Cia, sebenarnya apa alasanmu mau menerima perjodohan ini? Kamu bahkan tidak mengenali pria itu.”
Menoleh ke belakang menatap Milda, dia kemudian balik bertanya, “Milda, apa kamu tahu hari yang tenang dan normal itu seperti apa?”
Untuk satu ini, Milda terdiam dan dadanya terasa sakit. Anak tuannya ini hanya ingin keluar dari rumah ini. Dan dia sadar betapa lemahnya dia di dalam rumah yang besar ini. Dia tidak bisa membantu akan hal itu.
“Lalu, kenapa harus menikahinya? Bagaimana jika dia memang pria yang kasar juga? Bukankah percuma saja?”
Ada dua alasan kenapa Lucia setuju mau mengikuti perjodohan.
Pertama, karena mimpi-mimpi mengerikan itu. Hanya mimpi saja membuatnya takut. Bagaimana jika itu menjadi nyata? Dia tidak bisa membayangkan akan seberapa besar ketakutannya pada hari tersebut.
Dan kedua, berkat yang pertama tadi, dia ingin cepat-cepat keluar dari rumah besar ini. Lucia sangat frustasi di dalam rumah. Semakin lama dia di sana, semakin cemas dia. Dia hanya ingin hidup tenang tanpa Zion dan Adeline.
Karena perjodohan ini dilakukan bukan dengan koneksi Adeline, membuat Lucia mengambil langkah buru-buru setelah tetap diam di tempat selama ini
“Entahlah, Milda, aku pikir dia tidak begitu ...,” jawab Lucia pelan.
Dan seandainya Ian Andreas memang seorang tirani, hanya satu tugas Lucia agar bisa terlepas dari kekangan ibu dan kakak tirinya lalu hidup dengan tenang. Yaitu, menjinakkannya.
***
“Apa?! Kau akan menikah, Capt? Sejak kapan kau punya pacar? Kenapa kau tidak memberi tahu aku?” Kevin berteriak saking kagetnya di dalam barak. “Pria mana yang berhasil menaklukkanmu?”
“Aku juga baru tahu.” Arthur menambahkan walau dia masih bisa bersikap tenang.
Ian yang sedang membaca pesan di ponselnya berkata, “Itu perjodohan antar orang tua.”
“Perjodohan?” Kevin dan Arthur saling melirik. “Bukannya aku ingin mengguruimu atau apa, tapi sebuah pernikahan yang diawali perjodohan tidak akan bisa bertahan lama. Rasa suka dan tidak saling mengenal termasuk salah satu faktor utamanya, Capt.”
Arthur mengangguk sambil menambahkan, “Tidak tahu sifat dan kebiasaan satu sama lain bisa menjadi boomerang. Bagaimana jika dia pembangkang atau individualis? Bisa-bisa kau hanya mendapatkan sakit kepala hebat. Orang yang berpacaran beberapa bulan saja masih bisa putus apalagi yang tidak saling kenal tapi berani mengambil langkah ke hubungan yang lebih dalam.”
Ian membayangkan Lucia. Wanita itu cantik, pintar, lemah lembut, suaranya juga indah. Apakah sikap baiknya hanya ditunjukkan di awal saja? Dia mengedikkan bahunya tidak peduli.
“Kenapa harus perjodohan, Letnan?” tanya Arthur karena Ian diam saja. “Jujur, begitu tahu jika ibumu bahkan yang mengatur perjodohan ini sungguh luar biasa. Tante Nadin benar-benar ibu yang berhati mulia.”
Pertama, gara-gara Kevin yang terlalu dekat dengannya, Nadin sampai mengira orientasi seksualnya menyimpang. Lalu kedua, Ian menoleh ke samping kepada Arthur. “Ini sangat praktis.”
Baik Arthur maupun Kevin mengerjapkan matanya. “... Hah?”
Membiarkan kedua orang itu menatapnya dengan aneh, dia mengunci lokernya sebelum berjalan keluar barak. Tapi, tepat di depan pintu, dia berhenti.
“Ahh hampir saja lupa .... Tadi aku mendengar pria mana yang berhasil menaklukkanku ....” Ian melirik ke belakang ke arah Kevin yang dengan polosnya mengedipkan mata. “Kenapa kau berpikir jika aku akan menikahi pria?”
Arthur tersentak kemudian berceletuk, “Bukannya kau suka dengan sesama jenis?”
Setelah bagian yang sangat jelas itu, akhirnya Ian mulai sadar kenapa perkataan Kevin sebelumnya terasa mengganjal. Dia berbalik, menatap kedua pria berseragam itu, lalu berkata sangat dingin, “Siapa yang bilang begitu?”
Mereka sudah bertahun-tahun bersama Ian. Begitu mendengar nada bicara yang membuat mereka bergidik, secara refleks mereka berdiri tegap dan kaku.
“Maaf, tidak tahu!”
“Tidak tahu, Capt!”
Kevin mulai berkeringat dingin. Untung saja Arthur juga menolongnya. Tetapi ... kenapa Ian menatapnya seolah ingin membunuhnya?!
“Kevin, ada yang ingin kau katakan kepadaku?”
Mengepalkan tangannya, Kevin menjadi gugup. “Ti-tidak.”
“Kau yakin?” Mata Ian makin menyipit membuat Kevin berdesis.
“Bukan aku, Capt, percayalah! Arthur saja tidak bilang itu aku!”
“Lalu kenapa dia menunjukmu?”
“Apa?” Sontak saja Kevin menoleh ke sampingnya. Arthur, teman karibnya masih berdiri kaku menghadap Ian. Tangannya pun tidak bergerak ke atas ....
Kevin seketika menunduk dan melihat jari telunjuk pria itu yang berada di sisi tubuhnya mengarah ke dia.
Berdesis kesal, dia menatap marah Arthur. Pria ini sangat mudah menusuknya dari belakang jika ada Ian. “Berengsek ....”
“Lari lapangan dua puluh putaran.”
Dengan perintah tenang itu, Ian meninggalkan mereka.
Dan Kevin merengek nyaring, “Sialan! Kau sungguh b******n, Arthur!”
Dia segera memiting leher Arthur tetap merengek, tidak peduli jika Arthur terbatuk-batuk karena tidak siap.