CHAPTER 05

2042 Words
Pagi harinya Lily dibangunkan oleh kicauan burung yang sayup-sayup terdengar. Cahaya matahari yang menembus jendela kamarnya juga ikut menganggu tidurnya yang tadinya sangat pulas. Rasanya Lily harus berterima kasih sekali lagi kepada Emily karena telah memperbolehkan dirinya untuk bermalam disini. Kasur beserta selimutnya yang selembut sutra telah berhasil membuat Lily tidur dengan begitu nyenyaknya. Belum lagi dengan fasilitas kamar mandi di dalam kamar ini yang terdapat bathup di dalamnya―membuat Lily puas berendam disana semalaman, sehingga hari ini Lily bisa bangun dengan kondisi tubuh yang segar bugar. Lily kemudian mulai menatap jam yang terletak di nakas samping tempat tidurnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, maka Lily pun segera bergegas menuju dapur―tentu setelah ia selesai dengan urusan mencuci muka serta menyikat giginya. Dia sudah diberikan tempat menginap gratis oleh si tuan rumah, maka untuk menunjukkan rasa terima kasihnya tentu Lily harus bangun pagi dan ikut membantu menyiapkan sarapan. Namun Lily dibuat keheranan begitu mendapati suasana dapur yang sepi. Emily bilang disini ada asisten rumah tangga yang bertugas mengurusi dapur, kalau tidak salah namanya Bibi Martha. Tapi kenapa tidak ada satu orang pun disini? Apa mungkin karena ini masih terlalu pagi? Tidak mau ambil pusing, Lily pun mulai mencari bahan-bahan yang ada. Lebih baik dia mulai menyiapkan sarapannya sekarang, setidaknya dengan begitu ia bisa meringankan pekerjaan Bibi Martha. Dengan hati riang Lily pun mulai membuka kulkas yang tak jauh darinya. Dia mulai melihat-lihat bahan yang ada sembari mulai memikirkan apa yang ingin ia masak untuk hari ini. Dan karena dia tidak menemukan banyak bahan disini, maka dia memutuskan untuk membuat sandwich sederhana saja―dengan isian sayur serta bacon di dalamnya. Tangannya saat ini tengah sigap mengiris berbagai macam sayuran. Rotinya pun sudah selesai ia keluarkan dari dalam toaster. Selesai dengan sayuran, kini Lily beralih memanggang bacon. Dan disaat ia sibuk membolak-balik bacon miliknya, ia dikagetkan dengan suara laki-laki yang terdengar dari balik punggungnya. “Siapa kau?” tanya laki-laki itu dengan suara seraknya. Seketika Lily menoleh ke sumber suara. Gadis itu sangat terkejut sampai-sampai ia menjatuhkan spatula di tangannya. “Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan di dapurku?” tanya laki-laki itu lagi. Lily masih terdiam di tempatnya. Tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Dia terlalu terkejut mendapati sesosok pria asing yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. “Hei, apa kau bisu?!” kata pria itu lagi yang kali ini terdengar lebih tegas dibanding sebelumnya. Lily langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Saat ini ia pasti terlihat seperti orang bodoh!―pikir Lily kesal. Padahal bukan keinginan Lily untuk terus diam seperti ini. Dia juga sangat ingin menjawab pertanyaan pria asing itu dengan tak kalah lantangnya. Namun ini di luar kendalinya. Lidahnya tiba-tiba kelu entah karena apa. Mungkin karena terlalu terkejut, atau mungkin juga karena aura pria itu yang cukup menyeramkan bagi Lily. Belum lagi dengan tatapan mata pria itu yang seolah ingin memakannya hidup-hidup. Tiba-tiba Lily jadi merinding. “Kalau kau masih tidak mau bicara, aku akan menelepon polisi.” “A-apa? tidak, jangan!” cegah Lily berseru panik. “Ternyata kau bisa bicara,” kata pria tersebut sambil tersenyum sinis. Lily terlihat semakin panik. Lily tau dirinya tidak bersalah tapi entah kenapa dia jadi takut sendiri. “Jadi, apa yang kau lakukan disini? Siapa kau dan apa yang kau lakukan di rumahku?” tanya pria itu tanpa jeda. Lily merasa semakin terpojok. Jari-jemarinya terlihat saling bertaut, dia merasa takut dan bingung di saat yang bersamaan. “Kenapa? Mendadak bisu lagi?” kata pria itu sambil menampilkan smirk menyebalkannya. “Baiklah, sepertinya aku harus benar-benar menelepon polisi.” Lily melirik ke arah tangan pria itu yang kini terlihat sedang meraih ponsel di saku belakangnya. “Tu-tunggu....” Pria itu menghentikan pergerakannya dan mulai menatap ke arah gadis di depannya dengan sebelah alis yang terangkat. “Jangan hubungi polisi, aku bisa jelaskan semuanya,” kata Lily dengan tatapan memohon. “Kalau begitu cepat jelaskan.” Lily terlihat mengambil nafas dalam-dalam, kemudian mulai menghelanya perlahan. Saat ini dia sedang mencoba untuk mengumpulkan keberanian. “A-aku berada di sini karena―” “Dengan siapa kau bicara? Lantai?” tanya pria itu begitu sarkas. “Jika sedang berbicara, tatap mata lawan bicaramu.” Dengan perlahan Lily mulai mengangkat kepalanya dan kemudian mulai menatap pria di depannya takut-takut. Lily mencoba untuk menuruti kemauan pria asing itu, namun sulit rasanya bagi Lily untuk bisa menatap mata lawan bicaranya saat ini. Pria di depannya ini terlalu mengintimidasi. “Aku berada disini karena Emily yang membawaku,” ucap Lily yang masih berusaha keras untuk menatap mata lawan bicaranya. “Emily?” “Ya, dia adalah pemilik rumah ini. Dan aku sendiri tidak tau apa hubunganmu dengan Emily, tapi aku minta maaf karena telah mengejutkanmu. Aku tidak tau kalau ada orang lain disini selain Emily dan para pekerja yang lainnya.” “Emily? Si pemilik rumah ini? Apa kau sedang mengigau?” kata pria tersebut dengan memasang wajah tidak senang. Lily menatap pria itu tidak mengerti. Dia sudah mengatakan yang sebenar-benarnya, tapi kenapa tanggapannya justru seperti itu? “Begini saja, apa kau teman Emily?” “Y-ya, bisa dibilang begitu,” kata Lily tidak yakin. Entahlah, mereka baru bertemu kemarin, itupun karena ketidaksengajaan. Apa dengan itu mereka sudah bisa dikatakan berteman? “Dan kau menginap disini atas izin Emily?” Lily pun kemudian mengangguk mengiyakan. “Jadi, gadis itu mengatakan kepadamu kalau rumah ini adalah miliknya?” tanyanya lagi. Lagi-lagi Lily menganggukan kepalanya tanpa suara. Lily semakin tidak mengerti dengan situasi saat ini. Dia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa laki-laki asing di depannya ini? Seingatnya Emily tidak pernah bilang ada sosok lain selain para pekerjanya disini, tapi kenapa tiba-tiba laki-laki ini muncul? Apa jangan-jangan dia kekasih Emily? Rasanya kepala Lily sudah ingin pecah memikirkan segala kemungkinan yang ada. “Kalau boleh aku tau kau siapa?” tanya Lily hati-hati. Dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. “Aku Aaron Smith―kakak dari Emily, sekaligus pemilik dari rumah ini.” “Pe-pemilik?” ucap Lily yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. “Ya. Rumah ini millikku, bukan milik Emily,” tegas pria itu sekali lagi. “Dan semalam kau menginap di rumahku, tanpa sepengetahuan si pemilik rumah.” Seketika Lily dilanda panik, “Ma-maaf… tapi aku disini atas izin Emily, dan aku benar-benar tidak tau jika ternyata rumah ini bukanlah miliknya.” “Kau tau, aku bisa saja melaporkanmu ke kantor polisi atas dugaan masuk ke rumah orang lain tanpa izin.” “Apa?! Sudah kubilang aku disini atas izin Emily―adikmu. Aku teman dari adikmu, bukan penyusup!” ujar Lily yang mulai kesal. Tapi Aaron masih terlihat tidak peduli. Aaron memang tidak pernah suka jika ada orang asing yang memasuki kediamannya, meskipun itu teman dari adiknya sendiri. “Aku benar-benar teman Emily, jika kau tidak percaya kau bisa bertanya langsung kepadanya,” ujar Lily yang masih berusaha untuk meyakinkan Aaron. Dia takut pria itu akan benar-benar nekat melaporkannya ke kantor polisi. Saat ini Lily sedang tidak ingin terlibat masalah―apalagi di negeri orang seperti ini. Aaron masih diam, namun matanya terus memperhatikan Lily. Hal itu membuat Lily semakin gelisah di tempatnya. Lily ingin sekali berlari mencari Emily saat ini juga. Dia ingin menyeret wanita itu ke depan Aaron, dan kemudian memintanya untuk meyakinkan kakaknya yang keras kepala ini. Mata Lily bergerak-gerak gelisah. Matanya saat ini tengah sibuk mencari-cari keberadaan wanita yang kemarin membawanya kemari. “Mencari Emily?” tebak Aaron yang sayangnya memang benar. “Kau bilang kau temannya, kenapa kau tidak meneleponnya dan memintanya untuk segera menemuiku sekarang juga?” Lily tidak mungkin bisa melakukan itu. Selain karena saat ini dia memang sudah tidak memiliki ponsel lagi, dia juga tidak tau nomor Emily. Dia baru saja bertemu dan mengenal Emily kemarin, jadi wajar saja jika mereka tidak saling mengetahui nomor satu sama lain. “Emily bilang dia ada di lantai atas. Aku akan kesana dan memanggilnya untukmu.” “Kau yakin kau teman Emily?” ujar Aaron sembari tersenyum miring. Dahi Lily terlihat berkerut dalam, “Apa maksudmu?” “Emily tidak ada di rumah ini, aku sudah mengeceknya. Kau bilang kalian berteman, tapi bagaimana mungkin seorang teman tidak mengetahui jika temannya pergi meninggalkan rumah?” Lily terlihat termenung di tempatnya. Dia tidak punya pembelaan apapun mengenai hal itu, dia merasa semakin terpojok. “Sepertinya kalian memang tidak sedekat itu. Tapi jika memang tidak sedekat itu, kenapa Emily harus membiarkanmu untuk menginap disini?” tanya laki-laki itu heran. “Padahal dia tau kalau aku paling tidak suka jika ada orang asing yang memasuki rumahku,” gumam Aaron pelan. Namun sayangnya kalimat terakhir Aaron masih bisa didengar Lily dengan begitu jelas. Hal itu semakin membuat Lily tidak enak. “Tetap disini. Aku akan coba menghubungi Emily, dan jika yang kau ucapkan sedari tadi adalah bohong, maka aku tidak akan segan-segan untuk melaporkanmu ke kantor polisi,” ucap Aaron yang membuat bulu kuduk Lily seketika merinding. Pria itu kemudian terlihat berjalan menjauh dari Lily. Aaron memang sengaja ingin membuat jarak sejauh mungkin dari Lily, dia hanya tidak ingin gadis itu mencuri dengar percakapannya di telepon. “Kau dimana?” ujarnya ketika panggilannya berhasil tersambung dengan adiknya. Ini memang typical Aaron sekali, selalu to the point dan tidak suka berbasa-basi. Emily yang memang sudah hafal dengan sifat kakaknya tentu tidak lagi merasa heran. “Aku baru saja sampai di New York. Leo kecelakaan semalam, jadi aku langsung buru-buru mengambil penerbangan malam itu juga. Maaf karena tidak sempat mengabarimu,” ujar Emily dari seberang sana. “Leo kecelakaan?” tanya Aaron sedikit terkejut. Leo adalah tunangan dari adiknya. Emily dan Leo memang sudah lama bertunangan dan saat ini sudah mulai mempersiapkan pernikahan mereka. “Lalu bagaimana keadaannya?” tanya pria itu lagi. “Untungnya tidak ada luka yang serius. Aku sangat panik ketika mendengar kabar Leo kecelakaan, aku bahkan sampai tidak sempat membawa barang-barangku di rumahmu. ” Jadi itulah alasan kenapa Emily langsung pergi begitu saja bahkan tanpa mengabari Aaron terlebih dahulu. Aaron paham bagaimana paniknya Emily saat itu, adiknya itu memang sangat mencintai tunangannya. Mendengar hal itu sudah pasti membuat hatinya tidak karuan. “Baguslah kalau tidak ada luka yang serius, aku ikut lega mendengarnya.” “Oh ya, aku ingin menanyakan mengenai wanita asing yang kau bawa dengan sembarangan ke rumahku,” kata Aaron yang ingat dengan alasan utamanya menghubungi Emily. “Lily? Kau sudah bertemu dengannya?” “Kenapa kau membawa wanita asing ini ke rumahku?” ucap Aaron yang terdengar begitu dingin. “Dia temanku, Aaron!” balas Emily tidak suka. Emily tau kakaknya memang tidak menyukai keberadaan orang asing di rumahnya, tapi Lily adalah temannya, dia tidak menyangka kakaknya akan seperhitungan ini. “Dan ini adalah rumahku, jadi jangan sembarangan membawa orang masuk ke dalam sini!” Terdengar helaan napas Emily dari seberang sana. “Ayolah, jangan terlalu perhitungan dengan adikmu,” bujuk Emily kepada kakaknya. “Suruh temanmu itu pergi sekarang juga,” ucap Aaron yang masih teguh pada pendiriannya. Dan Aaron tetaplah Aaron, si manusia berhati dingin yang tidak pernah mempedulikan siapapun. Pria itu memang tidak mudah mengasihani orang lain. Hatinya sedingin es yang entah siapa nanti yang bisa meruntuhkan gunung es di hatinya. “Jangan begitu, saat ini dia sedang kesusahan. Dia berasal dari tempat yang jauh dan kemarin tasnya baru saja diambil orang, dia tidak punya siapapun disini. Tolong kasihani dia sedikit saja, beri dia tempat untuk bermalam. Dia temanku Aaron, tidak maukah kau melakukannya untuk adikmu ini?” “Kau pikir aku peduli?” ujar Aaron dengan wajah dinginnya. Tangan kirinya terlihat naik memijat pangkal hidungya perlahan, berharap hal itu bisa mengurangi pening di kepalanya. “Suruh dia pergi atau aku sendiri yang akan mengusirnya dari sini.” “Aaron, beri dia setidaknya satu malam lagi untuk menginap di rumahmu,” bujuk Emily yang masih belum menyerah. “Baiklah. Biar aku sendiri yang mengusirnya dari sini.” “Aaron, kumohon―” “Aku tutup teleponnya,” potong Aaron cepat. “Kau benar-benar tidak punya hati!!” maki Emily tepat sebelum Aaron menutup panggilan mereka. Dan Aaron tidak peduli, keputusannya akan tetap sama dan tidak ada yang bisa membuatnya merubah keputusannya ini. Emily sudah mengenalnya dengan sangat baik, dia juga tau jika Aaron sangat membenci keberadaan orang asing di rumahnya, seharusnya adiknya itu berpikir dua kali jika ingin membawa temannya kemari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD