CHAPTER 04

2055 Words
Shangri-La Hotel, Paris ternyata benar-benar dekat dengan Menara Eiffel. Letaknya persis berada di seberang hotel ini. Saat ini Lily sudah berada tepat di depan Shangri-La Hotel. Seharusnya sekarang ini dia langsung masuk dan kemudian mulai memesan kamar, namun keindahan Menara Eiffel di seberang sana menggodanya seolah meminta untuk segera dihampiri. Tanpa pikir panjang Lily pun langsung menarik kopernya menjauh dari hotel. Tujuannya kali ini berubah menuju ke arah Menara Eiffel yang sedari tadi sudah menarik perhatiannya, sepertinya tidak masalah untuk mampir sebentar. Nanti setelah Lily sudah selesai dengan rasa penasarannya, maka dia akan segera kembali ke hotel dan memesan kamar. Paris memang seindah yang digambarkan oleh orang-orang. Lily merasa seperti pergi ke dimensi yang berbeda. Suasana dan visual dari setiap sudut kota terasa sangat vintage sekali―dan Lily menyukainya. Lily merasa seperti sedang berada di dalam film disney. She feels like a princess! Dan mata Lily semakin berbinar-binar begitu melihat Menara Eiffel yang kini semakin dekat. “Ini benar-benar indah…” gumamnya tanpa sadar. Bahkan aslinya lebih indah dibandingkan dengan foto maupun video yang biasa Lily lihat. Ternyata pilihannya untuk melarikan diri ke Paris memanglah pilihan yang tepat. Paris memang cocok menjadi penyembuh luka hatinya. Suasana di sekitar kawasan Champ de Mars―tempat dimana Menara Eiffel dibangun saat ini memang sedang ramai. Namun hal itu tak menyurutkan niat Lily untuk semakin berjalan mendekat. Meskipun cukup sulit untuk menembus keramaian―mengingat saat ini dia memang sedang menarik koper di tangan kanannya, namun Lily yakin dia bisa. Kuncinya hanyalah satu, yaitu kesabaran. Tanpa patah semangat, Lily terus berjalan maju mencoba menembus keramaian. Lily heran kenapa hari ini terlihat begitu ramai? Apakah disini sedang ada festival? Atau memang suasananya selalu seperti ini? Terlalu fokus menembus keramaian membuat Lily tidak sadar jika handbag yang tadinya berada di bahu kirinya kini sudah hilang entah kemana. Begitu sadar, Lily pun mulai panik. Dia mencoba untuk memisah dari kerumunan, namun tidak bisa. “Permisi,” ucapnya sambil mencoba untuk keluar, namun orang-orang itu tidak mau mendengarkan dan masih saling mendorong. “Kumohon, biarkan aku lewat sebentar…” kata Lily lagi dengan memasang wajah memohon. Namun lagi dan lagi tidak ada yang mau mendengarkan. Lily mulai frustasi, dengan sekuat tenaga dia berusaha mendorong demi bisa keluar dari kerumunan. Dan entah mendapat kekuatan darimana, Lily pun akhirnya berhasil keluar dari sana. Matanya kini mulai melihat-lihat sekitaran mencoba mencari dimana tasnya sekarang. Dia curiga tasnya terjatuh, tapi Lily agak ragu. Tasnya cukup besar dan berat, jika terjatuh orang di sekitarnya pasti menyadarinya dan akan langsung mengingatkan. Tiba-tiba Lily teringat dengan pesan si supir taksi yang beberapa menit lalu sempat ia tumpangi―”Namun Anda harus selalu berhati-hati, di sini sangat rawan kejahatan.” Seketika Lily pun menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Belum genap sehari dia berada di Paris dan sudah mendapatkan musibah seperti ini. Nasibnya benar-benar sangat buruk. Lily masih setia duduk beralaskan tanah. Orang-orang di sekitarnya kini mulai memandanginya dengan tatapan aneh, namun tidak ada satu orang pun yang mencoba untuk menanyai keadaannya, Lily jadi merasa semakin menyedihkan. Sekarang Lily bingung harus bagaimana. Semua uangnya berada di dalam sana begitupun dengan ponselnya. Kini yang tersisa hanyalah kopernya saja yang tentu isinya hanyalah baju-bajunya saja. Otaknya buntu, dia tidak harus apa. Setelah bermenit-menit tenggelam dalam rasa kalut. Lily pun akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke kantor polisi terdekat. Namun sekarang masalahnya dia tidak tau dimana letak kontor polisi yang dekat dari sini. Lily pun berdiri, kemudian mulai menepuk-nepuk skinny jeans bagian belakangnya untuk menghilangkan debu-debu yang menempel. Dia lalu mulai melihat-lihat sekitarnya, mencari siapa yang sekiranya bisa ia mintai tolong. “Excuse me. Can you tell me where is the police station?” kata Lily mencoba bertanya pada seseorang disana. Tapi orang itu tidak menghiraukan Lily dan malah pergi begitu saja. Lily mencoba bertanya lagi dan lagi kepada yang lain, hingga ada salah satu orang yang meresponnya menggunakan bahasa yang tidak Lily mengerti. “Désolé, je ne parle pas anglais,” kata orang tersebut dan kemudian ikut pergi seperti yang lainnya. Lily kemudian mulai terdiam di tempatnya. Sepertinya orang-orang disini tidak ada yang mengerti bahasanya. Padahal tempat ini merupakan destinasi wisata paling terkenal di manca negara. Pasti juga banyak para wisatawan asing di sini. Tapi kenapa tidak ada satu orang pun yang paham dengan bahasanya? “Do you need some help, Miss?” Disaat Lily sudah mulai hilang harapan, datanglah sosok cantik di depannya yang saat ini tengah menawarkannya bantuan. Sepertinya orang ini memanglah seorang malaikat yang sangaja tuhan kirim untuk membantu dirinya. “Ya, bisakah Anda memberitahu saya letak kantor polisi terdekat?” ujar Lily penuh harap. “Jaraknya tidak jauh dari sini, tapi rutenya agak membingungkan. Kalau Anda mau saya bisa mengantar.” “Yes, please.” Lily pun akhirnya diantarkan oleh sosok wanita itu untuk pergi ke kantor polisi terdekat. Ternyata letaknya memang tidak jauh, hanya sekitar 10 meter dari sini. Namun memang benar ucapan wanita itu, rutenya memang agak membingungkan. Mereka pun akhirnya tiba. Disana Lily dibantu oleh wanita itu untuk membuat laporan, dan Lily sangat bersyukur karenanya. Jika tidak ada wanita itu, mungkin Lily sudah kebingungan sendiri karena para polisi disini lebih sering menggunakan bahasa Perancis. Proses pembuatan laporan yang cukup melelahkan pun akhirnya selesai. Wanita itu benar-benar menemani Lily dari awal hingga akhir. Lily sangat berterima kasih sekali, namun di satu sisi dia juga merasa tidak enak karena telah menyita waktu wanita itu. “Terima kasih atas bantuannya,” kata Lily menyampaikan rasa terima kasihnya. “Bukan masalah besar. Ngomong-ngomong bolehkah aku berbicara dengan santai? Lagipula kelihatannya kita seumuran.” “Tentu,” kata Lily mengiyakan. “Oh ya, kita belum sempat berkenalan. Namaku Lily Winter,” ucap Lily sembari menyodorkan tangan kanannya. Sebelah alis wanita di depannya terlihat menukik. “Winter? Nama yang unik,” respon wanita itu. Namun tak lama setelahnya, wanita itu pun membalas uluran tangan Lily. “Emily Smith. Kau bisa memanggilku Emma,” ujarnya lagi. Tanpa sadar senyum Lily pun terukir. Rasanya seperti mempunyai teman baru. Setelah sekian lama akhirnya dia mempunyai teman selain Dave, tiba-tiba Lily jadi merasa begitu bersemangat. “Kau berasal darimana?” tanya Emily sembari melirik ke arah koper baby pink milik Lily. “Aku dari London.” “Kau kesini untuk berlibur?” tanyanya lagi. “Ya, dan aku baru sampai pagi ini.” Lily bisa merasakan jika saat ini Emily tengah menatapnya dengan sorot kasihan. Sejujurnya dia benci dengan tatapan seperti itu, tapi mengingat keadaannya saat ini, wajar saja jika orang menatapnya demikian. “Jadi, karena pencuri itu sudah membawa lari tasmu, saat ini kau tidak memiliki uang sepeserpun?” “Ya, begitulah. Semua barang berhargaku ada di dalam sana,” jawab Lily sendu. Di satu sisi Lily tidak mau Emily merasa kasihan kepadanya, namun di sisi lain Lily juga tidak mampu untuk menyembunyikan rasa sedihnya di hadapan Emily. “Bagaimana kalau malam ini kau menginap di tempatku? Kau juga belum ada rencana ingin bermalam dimana ‘kan?” Lily menatap perempuan di depannya dengan sorot tidak percaya. Tuhan telah benar-benar mengirimkan sesosok malaikat untuknya. “Bagaimana?” tanya Emily sekali lagi. “Iya, aku mau,” jawab Lily tanpa ragu. Lily memang belum pernah bertemu dengan Emily sebelumnya, namun entah kenapa feeling-nya seolah mengatakan bahwa Emily memanglah orang yang baik―itulah sebabnya Lily langsung mengiyakan tawaran Emily tanpa pikir panjang. “Baiklah, kau tunggu di sini sebentar. Aku ambil mobilku dulu,” ucap Emily yang disambut Lily dengan anggukan penuh semangat. Sekarang Lily sudah bisa bernafas dengan sedikit lega karena setidaknya hari ini dia sudah punya tempat untuk bermalam. Dan untuk malam selanjutnya mungkin dia akan memikirkannya nanti. *** Saat ini Lily sedang berada di dalam mobil bersama dengan Emily. Mereka tengah berada di perjalanan menuju rumah gadis itu. Jalanan kota Paris di balik jendela mobil memanglah indah, namun sayangnya hal itu masih belum mampu untuk menyita perhatian Lily. Saat ini mata Lily lebih fokus pada interior mobil milik Emily. Interior di dalamnya berhasil menyita perhatian Lily karena ini bukanlah mobil yang biasa Lily lihat di jalanan. Mobil yang saat ini ia tumpangi merupakan Ferarri putih yang terkenal dengan harganya yang selangit. “Mobilmu keren,” komentar Lily. “Terima kasih. Tapi sayangnya mobil ini bukan milikku,” balas Emily sembari memasang wajah murung. “Ah, maaf,” ucap Lily tidak enak. Lily menyesal sudah bertanya, seharusnya dia bisa lebih menahan diri dan tidak banyak bicara. “Mobil ini milik kakakku. Bukankah ini keren? Kau tau Lily, aku sangat menginginkan mobil ini dari dulu. Tapi sayangnya tabunganku masih belum cukup,” kata Emily yang terdengar begitu santai. Gadis itu bercerita dengan begitu santai seolah mereka teman lama. “Maaf, aku membuatmu tidak nyaman ya?” “Ti-tidak, tidak sama sekali,” ucap Lily buru-buru. Lily justru senang karena merasa sudah dianggap seperti teman lama oleh Emily. Suatu kehormatan bagi Lily bisa berteman dengan orang sekeren Emily. Pertama kali melihat Emily, Lily benar-benar dibuat kagum dengan penampilannya. Gadis itu terlihat begitu luar biasa. Gaya pakaiannya benar-benar keren―persis seperti fashionista. Dan Lily merasa bahwa Emily memang ditakdirkan untuk lahir di kota ini―Paris, ‘kota mode’. Selain itu Lily juga sangat mengagumi kepribadian Emily. Lily sangat menyukai kepribadian Emily yang humble dan penuh semangat, dan ia sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan gadis itu, bisa dibilang bertemu dengan Emily adalah satu-satunya hal yang Lily syukuri selama ia tiba di Paris. “Aku minta maaf karena terlalu banyak bicara, kau pasti menganggapku cerewet,” ucap Emily sekali lagi. “Tidak sama sekali. Aku justru senang mendengar ceritamu, aku merasa seperti punya teman baru.” “Tentu, kita memang teman ‘kan?” kata Emily sambil mengerlingkan matanya ke arah Lily. Hal itu membuat Lily tak sanggup menahan tawanya. Emily benar-benar gadis berkepribadian menarik, dan Lily sangat bersyukur karena telah mengenalnya. Perjalanan menuju ke rumah Emily memang cukup panjang, namun terasa singkat karena diselingi dengan obrolan yang menarik. Belum lagi dengan Emily yang selalu bisa menghidupkan suasana, membuat Lily semakin betah untuk berlama-lama. Dan Lily sangat berterima kasih kepada Emily, karena berkatnya ia bisa sangat menikmati perjalanan panjangnya kali ini. Dan Lily tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya begitu mereka sampai di halaman rumah Emily. Rumahnya benar-benar besar. Bahkan halamannya juga sangat luas, hingga butuh kira-kira 8 meter lagi bagi Emily agar mobilnya benar-benar sampai di depan rumah. “Kita sampai,” ujar Emily yang kini sudah mulai melepas seatbelt-nya. Lily pun ikut melepas seatbelt miliknya sama seperti yang dilakukan Emily. Mereka pun kemudian masuk dan disana mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang Emily sebut sebagai Bibi Martha―Asisten Rumah Tangga di rumah ini. “Ayo, akan aku tunjukkan kamar untukmu tidur malam ini.” Lily pun mengangguk tanda mengiyakan. Ia kemudian mengikuti langkah Emily yang semakin berjalan ke dalam. Mereka pun akhirnya sampai di depan pintu kayu dengan cat berwarna putih―yang Lily tebak merupakan kamar untuknya. “Ini kamarmu. Beristirahatlah, aku tau hari ini cukup melelahkan untukmu,” ujar Emily sembari tersenyum simpul. “Terima kasih dan maaf telah banyak merepotkanmu.” “Bukan masalah. Kalau begitu aku pergi dulu, jika butuh sesuatu kau bisa mencariku di lantai atas,” ucap Emily yang kemudian mulai berlalu pergi. Setelah kepergian Emily, Lily pun langsung memasuki kamarnya. Lagi-lagi ia dibuat kagum dan kali ini isi dari kamarnya lah yang membuatnya terkagum-kagum. Kamar ini sama sekali tidak terlihat seperti kamar tamu. Menurutnya ini terlalu berlebihan untuk sebuah kamar tamu. Jika untuk ukuran kamar tamu saja semewah ini, bagaimana dengan kamar utama? Kira-kira akan sebesar dan semewah apa? Mata Lily menelusuri setiap sudut kamar. Kesan pertama yang ia dapat adalah ‘kemewahan’. Sebenarnya kesan itu sudah ia dapat begitu ia memasuki halaman rumah Emily. Dan kesan mewah semakin terasa begitu ia melihat bagian dalam rumah Emily. Mungkin karena konsep yang diusung oleh rumah ini lebih mengarah ke gaya victoria, sehingga kesan mewah menjadi lebih terasa. Rumah ini didominasi oleh warna putih dan gold. Belum lagi dengan bangunannya yang memang besar menyerupai kastil serta banyaknya furniture-furniture bergaya clasic yang semakin menambah kesan mewah dari rumah ini. Sejujurnya Lily ragu jika rumah sebesar ini memanglah milik Emily pribadi. Usia Emily terlihat tidak jauh dari usianya, mustahil jika orang seusia dirinya menghasilkan rumah sebesar ini. Mungkin akan lebih masuk akal jika rumah ini merupakan milik keluarga Emily. Ya, begitu lebih masuk akal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD