“Kau yakin akan pergi?”
Saat ini Lily tengah sibuk merapikan barang bawaannya ke dalam koper. Keputusannya sudah bulat, dia akan pergi ke Paris untuk berlibur. Ini merupakan kali pertama Lily berlibur seorang diri, jadi wajar saja jika ibunya sekhawatir ini.
“Yes!” jawab Lily begitu yakin.
“Kau tau, sepertinya Mama berubah pikiran. Tiba-tiba Mama tidak ingin mengizinkanmu untuk pergi.”
“Tidak bisa begitu! Mama sudah janji akan membiarkanku pergi kali ini,” ucap Lily menyuarakan protesnya.
Selama 25 tahun hidupnya, Lily belum pernah sekalipun berlibur seorang diri. Jadi, selama masih ada kesempatan, maka Lily akan melakukannya.
“Kenapa harus Paris? Itu tempat yang jauh, Lily. Dan bagaimana dengan kondisi kesehatanmu? Apa kau sudah mengonsultasikan hal ini dengan Dave?”
Dave? Keputusannya untuk pergi ke Paris justru untuk menghindari pria itu…
“Aku baik-baik saja, Ma. Kumohon percayalah kepadaku,” kata Lily mencoba membujuk ibunya.
“Kau belum memberitahu Dave mengenai rencana liburanmu ini?” tanya Helena―ibu Lily, dengan tatapan penuh curiga.
“Untuk apa aku memberitahunya?” ucap Lily sambil menggerutu pelan.
Ini adalah hidupnya, jadi kenapa dia harus memberitahu Dave terlebih dahulu? Dan mengenai kondisinya, Lily yakin dirinya saat ini baik-baik saja. Justru keberadaan Dave di sekitarnya hanya akan memperparah penyakitnya. Jantungnya masih sering sakit setiap kali dia mengingat kejadian hari itu―hari dimana Lily mendengar pengakuan Dave yang ternyata tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.
“Dia kekasihmu sekaligus doktermu, tentu saja kau harus memberitahunya!”
“Kenapa? Apa kalian bertengkar?” tanya Helena sambil memicingkan matanya curiga.
Lily diam tidak merespon ucapan ibunya. Hal itu membuat Helena semakin yakin, ada yang tidak beres dengan hubungan keduanya.
“Pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah hal yang biasa. Semua pasangan juga merasakan itu. Kau harus menyikapinya dengan lebih dewasa, Lily. Segera bicarakan dengan Dave dan jangan kabur dari masalah seperti ini.”
Dan Lily masih diam tidak merespon ucapan ibunya. Andai saja ibunya tau yang sebenarnya…
“Mama tidak mengerti…” ucap Lily pelan.
“Kalau begitu tolong jelaskan kepada Mama. Ingat apa yang selalu Mama katakan kepadamu? Selalu ceritakan apapun kepada Mama, jangan menyimpan masalahmu sendiri. Kau mengerti Lily?”
Tentu Lily masih mengingat itu. Tapi menceritakan hal ini kepada Helena sepertinya bukanlah keputusan yang tepat. Lily tau bagaimana percayanya Helena kepada Dave. Ibunya sudah menganggap Dave seperti putranya sendiri. Jika dia tau jika selama ini pria itu hanya mempermainkan perasaan putrinya saja, Lily yakin hati ibunya juga pasti akan ikut hancur.
“Ma, tolong biarkan aku pergi ke Paris…” rengek Lily.
“Kau sungguh tidak ingin menceritakannya kepada Mama?”
“Aku akan menceritakannya setelah aku pulang dari Paris,” ucap Lily mencoba merayu Helena.
“Kau pikir kau akan benar-benar pergi kesana?” ujar Helena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Tiba-tiba Lily merasakan adanya firasat buruk.
“Mama tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau menceritakan semuanya.”
Dan kini firasat buruknya menjadi kenyataan…
“Ma, aku punya alasan yang kuat kenapa aku harus pergi. Tapi aku tidak bisa memberitahukan hal itu sekarang.”
“Selain itu aku memang benar-benar ingin pergi berlibur. Selama ini aku tidak pernah bisa melakukan hal yang ingin sekali aku lakukan, aku hanya ingin pergi berlibur seperti anak seusiaku, apakah itu hal yang salah?”
Helana menatap anak gadisnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Usia Lily memang sudah 25 tahun. Namun sifatnya masih jauh dari kata dewasa. Helena takut melepas Lily ke negara orang, apalagi dengan kondisi kesehatannya saat ini.
“Kenapa harus Paris? Kau bisa pergi ke Manchester ataupun Birmingham, kenapa harus sampai ke luar negeri?” ucap Helena menyuarakan ketidaksetujuannya.
“Aku ingin mencari suasana baru. Aku bosan berada di Inggris, aku ingin mencari suasana yang berbeda.”
“Hanya satu minggu…” bujuk Lily sekali lagi.
Helena menatap Lily yang masih terlihat begitu bersikeras. Selama ini putrinya itu tidak pernah meminta apapun darinya, Lily gadis yang pintar dan penurut. Ini adalah satu-satunya hal yang diminta oleh Lily, Helena merasa buruk jika sampai melarang satu-satunya hal yang diinginkan oleh putri semata wayangnya.
“Baiklah. Tapi ingat, hanya untuk satu minggu.”
Lily langsung melompat kegirangan begitu mendengarnya. “Terima kasih, aku janji akan menjaga diriku dengan baik selama disana nanti,” ucap Lily sambil memeluk erat ibunya.
“Jangan lupa bawa obatmu,” kata Helena mengingatkan, yang kemudian dibalas Lily dengan anggukan penuh semangat.
Akhirnya Lily akan pergi ke Paris. Keinginannya untuk menghidar dari Dave akhirnya bisa terwujud. Lily berharap semoga semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Semoga saja rencana 7 harinya untuk melupakan Dave dapat terlaksana dengan sebaik mungkin. Bibir Lily terlihat melengkung membentuk senyuman tipis, dalam hati dia sangat berharap semoga Paris akan benar-benar mampu menyembuhkan luka hatinya. Ya, semoga saja.
***
Dan hari itu pun tiba, hari dimana Lily bisa segera menjauh dari negara kelahirannya―Inggris. Lily menatap orang-orang yang terlihat sibuk di sekitarnya. Bandara hari ini terlihat begitu ramai. Lily merasa kagum dengan pemandangan di depannya, rasanya sudah lama sekali dirinya tidak melihat keramaian seperti ini. Tiba-tiba Lily merasa menjadi begitu bersemangat.
Dengan langkah kaki yang masih berjalan, Lily terus memusatkan perhatiannya pada keramaian di sekitar bandara, dia tidak bisa berhenti berdecak kagum.
Dan di tengah rasa kagumnya, Lily merasakan lengannya ditarik oleh seseorang di sampingnya yang ternyata adalah Mamanya sendiri. Ternyata dia hampir menabrak seseorang di depan sana yang untungnya segera dicegah oleh Helena.
“Lily, perhatikan langkahmu!” ucap Helena menegur anaknya yang tidak hati-hati.
“Lihat? Kau begitu ceroboh, Mama bahkan tidak yakin kau bisa sampai ke Paris dengan selamat,” kata Helena sambil memijat pangkal hidungnya perlahan. Lily benar-benar membuatnya pusing. Ini sudah seperti dia sedang membiarkan anak usia lima tahun pergi ke luar negeri seorang diri.
“Mama tenang saja, aku pasti bisa menjaga diriku sendiri.”
Helena menatap putrinya dengan pandangan skeptis, “Entahlah, sekarang Mama jadi ragu.”
“Kita sudah berada di bandara, Mama tidak akan berubah pikiran ‘kan?” ucap Lily dengan bibir cemberut. Lily berharap Mamanya tidak akan benar-benar melakukan itu. Saat ini dia sudah berada di bandara dengan tiket pesawat di tangannya, pintu keberangkatan bahkan sudah berada tepat di depannya.
“Kalau begitu berhentilah membuat Mama khawatir.”
Lily pun diam tidak membantah. Dalam hati dia mengiyakan permintaan Mamanya, dia sudah berjanji untuk menjaga dirinya dengan baik selama berada di Paris nanti. Jadi, dia harus menepatinya dan mulai berusaha untuk berhenti membuat Mamanya khawatir. Dia harus membuktikan kepada Mamanya bahwa kini dia sudah dewasa dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai penyakitnya. Sejujurnya Lily benci dengan dirinya yang selalu membuat Mamanya khawatir.
“Aku janji tidak akan membuat Mama khawatir,” ucap Lily pelan.
“Pergilah, waktu keberangkatanmu sudah tiba,” kata Helena ketika dilihatnya pintu keberangkatan sudah mulai dibuka.
Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Lily pun akhirnya tiba. Dia senang karena setelah sekian lama akhirnya dia bisa merasakan pergi berlibur seorang diri. Namun di satu sisi dia juga merasa berat. Dia berat meninggalkan Mamanya sendirian di kota ini.
Selama ini Mamanya hanya memiliki dirinya seorang. Ayah Lily sudah meninggal sejak usia Lily sepuluh tahun. Sejak saat itu mereka hanya hidup berdua. Dan sebelumnya mereka tidak pernah terpisah jauh, dan hari ini Lily akan pergi meninggalkan Mamanya di London seorang diri. Tiba-tiba Lily jadi merasa sedih.
“Hei, kenapa kau menangis?” tanya Helena sembari mengusap air mata Lily yang sudah mulai keluar.
“Aku janji tidak akan pergi lama,” ucap Lily dengan suara serak.
Helena kemudian mulai menarik Lily kedalam pelukannya. Putrinya ini memang berhati lembut. Helena bahkan sudah bisa menebak kalau Lily pasti akan menangis di hari keberangkatannya.
“Jika Mama kesepian, Mama bisa pergi ke tempat Bibi Kelly…” ucap Lily di sela-sela tangisannya.
“Sudah, jangan menangis lagi…” ujar Helena sambil mengusap punggung putrinya naik turun.
“Bersenang-senanglah selama di Paris nanti dan berhentilah mengkhawatirkan Mama. Kau mengerti?”
Lily terlihat mengaggukkan kepalanya naik turun―tanda bahwa ia mengiyakan perintah Mamanya.
“Aku akan sering-sering menelepon Mama…”
“Iya, Mama mengerti. Sekarang berhenti menangis dan cepatlah masuk,” ucap Helena sembari mencoba melepaskan pelukan mereka.
“Cepat masuk…” kata Helena ketika dilihatnya Lily yang masih berdiri di tempatnya. Tatapannya masih terlihat sendu.
“Kau akan benar-benar terlambat jika tidak segera masuk,” katanya lagi.
“Kalau begitu aku pergi dulu…” ucap Lily sembari mulai berjalan menuju pintu keberangkatan.
Helena melihat putri semata wayangnya yang kini mulai berjalan menjauh. Dilihatnya Lily yang terlihat membalikkan tubuhnya kembali hanya untuk sekedar melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan untuknya. Helena pun tersenyum melihatnya. Tangannya kemudian terangkat membalas lambaian tangan Lily. Dia baru menurunkan tangannya begitu dilihatnya Lily sudah benar-benar menghilang dari pandangannya.
“Mama harap kau akan benar-benar menjaga dirimu disana…” ucap Helena dengan tetesan air mata yang jatuh dari sudut matanya. Namun dengan cepat ia menghapusnya. Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengangis. Lagipula, Lily tidak akan suka jika melihatnya seperti ini.
***
Ternyata penerbangan dari London ke Paris tidaklah se-lama yang Lily bayangkan. Waktu penerbangannya hanya memakan waktu dua jam. Tadinya Lily sempat merasa gugup karena mau bagaimanapun ini merupakan penerbangan pertamanya setelah sekian lama. Terakhir kali Lily naik pesawat terbang mungkin ketika dirinya masih berusia 14 tahun―itu sudah lama sekali, sampai-sampai Lily sudah lupa bagaimana rasanya.
Selesai dengan penerbangan, kini Lily disibukkan dengan mencari penginapan yang nyaman di sekitar sini. Lily mulai mengotak-atik ponsel di tangannya, jarinya mulai men-scroll layar ponselnya―mencoba mencari informasi mengenai penginapan di area sekitar sini. Seharusnya dia sudah memikirkan masalah penginapan dari jauh-jauh hari, bukannya mendadak seperti ini.
Sembari mencari informasi mengenai penginapan, Lily pun tetap melanjutkan langkahnya untuk keluar dari area bandara. Saat ini dia juga perlu mencari taksi.
Tidak lama setelah itu bibirnya membentuk lengkungan senyum begitu mendapati informasi penginapan yang sesuai dengan keinginannya. Lily segera menyimpan ponselnya ke dalam handbag miliknya dan kemudian mulai mempercepat langkah kakinya. Sejujurnya sulit bagi Lily untuk berjalan sembari menyeret koper baby pink-nya yang cukup berat. Apalagi dengan kondisi jantungnya yang tidak normal membuatnya mudah sekali terengah-engah. Alhasil dia harus berhenti sejenak untuk beristirahat, baru kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Dan hal ini cukup menghambat mobilitas Lily.
Setelah sempat berhenti beberapa kali demi menormalkan detak jantungnya, Lily pun akhirnya berhasil menemukan taksi yang tak jauh dari area bandara. Dan kabar baiknya lagi si supir taksi ternyata juga paham dengan bahasanya, sehingga memudahkan Lily dalam berkomunikasi. Sejujurnya ketika Lily memutuskan untuk pergi ke Paris, ia sempat khawatir terkendala bahasa. Dia takut merasa kesulitan karena tadinya ia pikir akan banyak warga lokal yang tidak mengerti dengan bahasanya. Namun ternyata kekhawatiranya tidak terjadi, sejauh ini semuanya berjalan dengan baik sesuai dengan harapan Lily.
“Selamat pagi, Miss…” sapa sang supir begitu Lily masuk ke dalam taksi dan mulai mendudukkan dirinya di kursi penumpang.
“Selamat pagi. Tolong antarkan saya ke Shangri-La Hotel.”
“Sure.”
Setelah pencarian yang cukup membingungkan, akhirnya Lily memutuskan untuk menginap di hotel yang tak jauh dari Menara Eiffel. Tujuan utamanya datang ke Paris adalah untuk bisa melihat Menara Eiffel secara langsung. Selama ini dia hanya bisa memandanginya melalui gambar ataupun video saja. Dan karena sekarang dia sudah berada di Paris, maka dia tidak akan melewatkannya.
“Apakah Anda kemari untuk berlibur?” tanya sang supir taksi di sela-sela perjalanan mereka.
“Ya, saya memang kemari untuk berlibur,” ucap Lily membenarkan.
Sang supir taksi terlihat mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, “Ya, Paris memang selalu menjadi destinasi utama bagi para wisatawan.”
Dan hal itu memang benar. Lily juga menyetujui hal itu. Paris memang selalu berhasil membius para wisatawan dengan segala keindahannya.
“Namun Anda harus selalu berhati-hati, di sini sangat rawan kejahatan,” ucap si supir taksi mengingatkan.
Lily menganggukkan kepalanya mengerti. Lily memang tidak menampik jika dibalik keindahan kota Paris tersimpan juga keburukan di dalamnya. Ya, di dunia ini memang tidak ada yang sempurna.
“Here is the hotel, Miss…”
Lily pun menatap sekelilingnya dengan bingung, dia tidak menyangka akan sampai secepat ini.
Dengan segera ia mengambil lembaran uang miliknya di dalam dompet lalu mulai mengansurkan lembaran uang tersebut kepada si supir taksi di depannya. “Keep the change,” kata Lily kemudian.
Si supir taksi pun menerimanya dengan senang hati, “Terima kasih, Miss. Semoga liburan Anda di kota ini menyenangkan.”