Happy Reading ~
-
Ayana merebahkan tubuhnya di atas Sofa ruang tamu setelah ia membersihkan tubuhnya. Ia lelah karena sudah berjalan untuk membagikan masakannya pada tetangga di dekat rumanya. Menurutnya masakan itu akan terbuang sia-sia, dan perjuangannya untuk memasak tidak akan ada nilainya.
Ayana kini tampak fokus dengan buku tebal yang ia pegang. Ujian untuk masuk Universitas semakin dekat, dan ia harus bisa lolos seleksi untuk melanjutkan kuliah di Universitas impiannya.
Suara dering telepon rumah kini memecah hening suasananya. Ia pun mendekat dan kini mengangkatnya.
“Halo,” sapa Ayana sopan.
“Na ini Papa Rajendra,”
Ayana sempat terkejut saat mertuanya kini menelponnya melalui telepon rumah. Ia pun segera membenarkan posisi duduknya menjadi tegap.
“Ada apa Pa?”
“Adira dirumah kan? Soalnya Papa telepon dari tadi dianya ngga angkat. Papa takut dia tinggalin kamu dirumah sendirian, ini kan hari pertama kalian menikah. Awas aja kalau dia sampai berangkat ke kantor bakalan Papa kasih Punishment,”
Ayana terdiam mendengar perkataan mertuanya itu. Ia tersenyum miris pada dirinya sendiri.
“Pak Adira ada di rumah kok Pa,” jawab Ayana bohong.
Terdengar helaan napas lega di sebrang sana.
“Syukurlah. Bisa Papa bicara sama Adira?”
Ayana terkejut mendengar permintaan Rajendra. Kini ia berusaha memutar otak untuk mecari sebuah alasan yang bisa digunakan untuk menutupi kebohongannya.
“Pak Adiranya lagi tidur Pa. Iya lagi tidur, belum bangun,” jawab Ayana dengan nada suara yang terdengar gugup.
“Padahal ini udah siang. Yaudah deh biar nanti malam Papa telepon lagi,” ucap Rajendra sebelum mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Ayana menghela napas lega. Kini pikirannya berkelibat pada kemana perginya Adira. Ia pun meraih ponselnya yang ia letakkan diatas nakas. Ia mencari nama orang yang bisa membantunya untuk mencari keberadaan Adira.
“Halo bang, lo dikantor?” tanya Ayana saat panggilannya sudah terhubung.
“Iya kenapa Na?”
Ayana tampak menggigit bibir bawahnya, memikirkan ulang apakah pertanyaan yang akan ia lontarkan sudah cukup untuk membuat hatinya kuat saat mendengarkan jawabannya.
“Adira dikantor ngga sekarang?” tanya Ayana sedikit ragu.
“Engga lah, kan dia dapat Approve cuti selama satu minggu setelah kalian nikah kemarin,”
Hati Ayana rasanya mencelos saat mendengar jawaban dari orang yang memberikan informasi mengenai Adira saat ini.
“Dia dirumah kan?”
Ayana menggeleng mendengar pertanyaan temannya ini.
“Engga,” jawab Ayana lirih.
“Astaga Adira,” umpat temannya disebrang sana.
“Lo tenang dulu ya Ay, biar gue cari tahu dia dimana,” lanjutnya.
“Ngga usah deh bang,” potong Ayana cepat.
“Kenapa? Lo ngga ingin tahu?”
Ayana menghela napas beratnya seraya menggeleng.
“Masih terlalu dini buat sakit hati bang. Udah ya, Thank you.” Ucap Ayana setelahnya memotong sambungan telepon secara sepihak.
-
Ayana duduk di ruang makan sembari menunggu kepulangan Adira. Ia sudah selesai masak sejak dua jam yang lalu, tapi Adira tidak kunjung kembali kerumahnya setelah bilang bahwa ia akan pergi bekerja tadi pagi.
Sorot mata Ayana gelisah melihat jam yang terus berputar. Semakin lama, malam semakin larut. Begitu juga dengan masakan Ayana yang kini sudah dingin.
Ayana bangkit saat mendengar suara pintu terbuka. Ia pun segera melangkah mendekati suara tersebut, dan terdapat Adira yang masih utuh dengan seragam yang ia kenakan pagi tadi. Ayana tersenyum menyambut kedatangan suaminya pulang.
“Bapak kok pulangnya malam dari kantor?” tanya Ayana berbasa-basi untuk menyambut Adira.
“Udah deh jangan ikut campur urusan pribadi saya,” balas Adira menghiraukan keberadaan Ayana yang kini berdiri di dekatnya.
“Bapak sudah makan? Saya sudah ma--”
Adira berdiri tegap menghadap Ayana. Ia menatap Ayana dengan tatapan dingin.
“Saya sudah makan. Sekarang buang itu masakan kamu, karena ngga akan saya makan.” Sarkas Adira dengan tegas.
d**a Ayana kembali sesak setelah mendapat ucapan Adira yang mampu menyayat hatinya. Bahkan perjuangannya memasak tiada harga dimatanya.
Ayana memandang lemah punggung Adira yang kini meninggalkannya di depan pintu rumah sendirian. Gelinang air matanya kini luruh tanpa bisa ditahan lagi. Ini baru satu hari, tapi rumah tangganya sudah membuat ia merasa buruk menjadi seorang istri.
Ayana pun kembali menuju dapur dengan isakan yang ia pendam. Ia membungkus semua makanannya dan berniat untuk membagikannya pada orang yang membutuhkan diluar sana.
Ayana kini sudah bersiap dengan beberapa kotak nasi yang sudah ia masak. Ia pun tampak mengetuk pintu kamar Adira yang tertutup rapat untuk berpamitan. Beberapa kali ia mengetuk, akhirnya Adira keluar untuk membukakan pintu kamarnya.
“Pak saya mau izin keluar sebentar,” ucap Ayana dengan suara seraknya sehabis menangis.
Adira mengangguk, “Jalan sama pacar?” tanya Adira.
“Untuk bagikan masakan saya yang tidak bapak makan. Sayang jika harus dibuang,” ucap Ayana cepat.
“Udah deh buang aja. Ngga akan ada yang mau juga,” timpal Adira yang kembali membuat hati Ayana sakit.
Ayana tampak tersenyum kearah Adira setelah mendengarkan ucapan kasarnya. “Setidaknya kucing dijalanan masih mau memakannya Pak. Permisi,” ucap Ayana lalu pergi meninggalkan Adira.
-
Ayana berjalan menuju jalan raya di dekat rumahnya. Ia menghabiskan waktu sepuluh menit untuk sampai disana. Ia tidak menggunakan mobil ataupun sepeda motor, karena ia tidak bisa mengendarainya sama sekali. Ayana memang termasuk gadis yang mandiri, meskipun ia tidak bisa menaiki kendaraan, tetapi ia tidak pernah merepotkan orang untuk mengantarnya kemanapun ia pergi. Kecuali orang itu memang sudah menawarkannya.
Ayana mendekati seorang wanita paruh baya yang duduk di tepi jalan raya untuk beristirahat. Ayana tersenyum kearah wanita itu, ia pun memberikan sekotak nasi yang sudah ia masak tadi.
“Ibu sudah makan? Ini ada rezeki untuk Ibu makan,” ucap Ayana lembut.
Wanita tersebut tampak menerima pemberiaannya dengan senang hati.
“Terima kasih banyak Nak. Ibu sudah menahan lapar sejak tadi pagi,” sahut wanita tersebut dengan suaranya yang bergetar.
Ayana tersenyum tulus. “Kalau begitu ibu makan yang banyak ya,” ucap Ayana sopan saat melihat sang wanita kini melahap masakannya dengan penuh kenikmatan.
Senyumnya kini terulastipis, ia membayangkan bagaimana jika Adira memakan masakannya kini. Apa ia bisa menikmatinya seperti wanita ini menikmati masakannya?
“Masakannya enak Nak. Kamu masak sendiri?” tanya sang wanita di sela-sela ia mengunyah makanannya.
Ayana mengangguk, membenarkan pertanyaan wanita tersebut.
“Hebat ya kamu. Masih muda sudah pintar masak, suami mu kelak akan sangat beruntung bisa mendapatkan istri seperti mu,”
Ayana menatap wanita itu nanar. “Sepertinya tidak Bu. Karena dia sangat menyia-nyiakan keberadaan ku saat ini,” balas Ayana.
Wanita itu menghentikan aksinya, kini ia mendongak untuk dapat melihat wajah Ayana dalam gelapnya malam. Tangan wanita itu kini terulur untuk mengusap lembut punggung tangan milik Ayana.
“Apa kamu sudah menikah Nak?” tanya wanita itu lembut.
Ayana mengangguk, membernarkannya.
“Jika memang suami mu tidak mengharapkan keberadaanmu, pasti dia akan menyesal suatu saat ini. Kamu boleh menanggung semua beban ini sendiri untuk saat ini, tapi pastikan kamu menemukan kebahagiaan untuk hidupmu kelak. Karena kamu perempuan baik Nak.” Ucap wanita tersebut tulus.
Ayana kini kembali mengulas senyum. Hatinya merasa tenang karena ada yang mendukungnya saat ini.
“Apa Ibu tetap ditempat ini?” tanya Ayana.
Wanita tersebut mengangguk. “Kalau begitu besok saya akan datang dan membawa makanan lagi untuk Ibu,” lanjut Ayana.
-
Ayana melangkah masuk kedalam rumahnya. Suasana sepi kini menyelimutinya lagi, bahkan dijalanan membuatnya lebih nyaman daripada berada ditempat ini.
Ayana menghentikan langkah kakinya saat mendengar saura tawa yang keluar dari ruang kerja Adira. Ayana pun melangkah perlahan mendekati pintu yang setengah terbuka itu. Ia tampak menempelkan telinganya pada pintu tersebut dan mendengarkan suara tawa Adira yang menggelegar.
Tersirat rasa iri dengan orang yang kini ikut tertawa bersama Adira di panggilannya. Karena ini adalah pertama kalinya mendengar tawa Adira secara langsung.
“Iya besok aku akan temenin kamu belanja lagi sayang.” ucap Adira.
Hati Ayana serasa ditusuk benda tajam saat mendengar kata sayang. Ini adalah hari pertama mereka menikah, tetapi Adira bahkan sudah berselingkuh darinya. Ayana pun segera berlari menuju kamarnya, tidak memperdulikan derap langkahnya yang akan terdengar oleh Adira atau tidak.
Ayana kini mengunci pintu kamarnya, agar tidak ada orang yang bisa membukanya. Ia terduduk tepat dibalik pintu kamarnya. Ia memeluk kedua lututnya sembari berusaha menyembunyikan isakannya.
Air matanya kembali luruh. Ia lelah hanya untuk satu hari ini tuhan.
Ayana terkejut saat mendengar suara ketukan pintu. Ia kini membungkam mulutnya sekuat mungkin agar isakannya tidak sampai terdengar diluar.
“Ayana kamu sudah pulang?” tanya Adira.
Ayana mengangguk kuat, tapi percuma Adira tidak bisa melihatnya. Ia pun menarik napas panjang dan menghapus air matanya.
“Sudah Pak.” Jawab Ayana cepat dengan suara serak.
Ayana merasa lega saat langkahan kaki Adira kini mulai menjauhi kamarnya. Kini ia bisa menghabiskan malamnya dengan air mata lagi.