Happy Reading ~
Hope u like it ^^
-
Adira terkejut dengan suara Alarm nyaring yang menembus gendang telinganya. Ia tampak menyesuaikan cahaya lampu yang masuk menembus retinaya. Jam sudah menunjukkan pukul 07:00 AM. Ia pun segera bangun dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kini Adira sudah siap dengan pakaian kantornya. Ia menghadap kearah cermin, melihat bagaimana gagahnya ia saat ini. Setelah semuanya rapi, kini ia mengambil tas kantornya dan melenggang meninggalkan kamarnya.
Adira mengernyit heran saat tidak mendengar suara bising karena tingkah Ayana pagi ini. Ia pun melangkah menuju dapur, dan mendapati makanan yang sudah siap disana. Adira mendekat saat ada sepucuk surat di dekat makanan tersebut.
Selamat pagi, Pak.
Saya pergi pagi-pagi sekali hari ini karena ada test untuk masuk perguruan tinggi. Saya sudah mencoba membangungkan Bapak dengan mengetuk pintu berkali-kali, tapi Bapak tidak kunjung bangun jadi saya memutuskan untuk menulis surat ini, hehehee.
Saya sudah memasak untuk Bapak. Semoga Bapak suka dan menikmatinya J . Doakan saya juga supaya bisa mengerjakan semua test dengan lancar hari ini.
Ayana your little wife.
Adira meremas surat yang Ayana berikan untuknya, ia pun membuangnya ke sembarang arah dan memilih untuk pergi meninggalkan masakan Ayana yang kedinginan.
Sampai kapan pun, Adira tidak akan pernah memakan masakan Ayana. Ia pun tidak akan menganggapnya sebagai istri kecilnya, bahkan istri sahnya. Karena mereka menikah bukanlah atas dasar cinta.
-
Ayana menghela napas lega setelah ia keluar dari ruang test. Ia tampak merenggangkan tubuhnya yang pegal karena sudah duduk berjam-jam dan berfokus pada soal-soal yang berhasil menguras tenaganya.
“Ayana apa kabar lo?”
Ayana terkejut saat ada yang merangkul pundaknya tiba-tiba. Ia tertawa sesaat setelah melihat adanya Tasya Gunawan, sahabatnya sejak ia duduk dibangku SMP.
“Baik kok,” jawab Ayana dengan senyumnya.
“Kok lo ngga undang gue sih di pernikahan lo,” ucap Tasya kesal.
“Sorry, itu memang bukan acara gue. Semua yang datang pun Cuma teman Bapaknya Adira sama teman Papa gue,” jelas Ayana dengan suara lirih agar tidak ada yang bisa mendengarnya.
Tasya mengangguk paham, ia tidak bisa menghakimi sahabatnya ini hanya karena tidak mengundangnya untuk menghadiri pernikahannya.
“Gue kira lo ngga akan lanjut kuliah,” ucap Tasya senang karena dugaannya ternyata salah.
“Kalau gue ngga kuliah, gimana sama hidup gue nanti,” balas Ayana.
“Kenapa lo merendah sih? Suami lo kan anak orang berpengaruh di Korea Selatan. Hidup lo udah pasti terjamin Ay,” sahut Tasya dengan menatap Ayana.
Ayana tersenyum tipis. “Hanya untuk saat ini.” lirih Ayana.
-
“Dir lo dimana? Ini Zayna udah seminggu ngga masuk kerja, dan semua kerjaan berantakan karena ngga ada yang handle,” ucap Arsen disebrang sana.
“Zayna lagi sama gue, kan ada sekretaris dua buat gantiin peran Zayna selama libur,” ucap Adira pada teman dan rekan kerjanya.
“Lo gila? Tugas Rissa itu buat bantuin Zayna, bukan gantiin dia. Lagian dia ngga ada jadwal untuk cuti lagi tahun ini,” ucap Arsen dengan nada sedikit tinggi karena ia merasa kesal pada Adira yang tidak bersikap profesional terhadap Zayna.
“Gue bosnya, dan gue berhak kasih apapun ke Zayna. Udah deh lo lanjut kerja aja jangan banyak protes kayak gini,” sahut Adira dengan nada yang tidak kalah tinggi.
“Lo lupa kalau sekarang lo udah punya istri? Dan lo berniat untuk selingkuhin Ayana secepat ini?”
Adira menghela napas kesal. Ia tampak menjauhkan ponselnya dari telinganya sesaat, sebelum ia mengambil napas panjang.
“Lo dengar ya, gue sama Ayana akan berpisah dalam satu tahun. Gue gak peduli apapun tentang dia,” sarkas Adira.
“Lo ingat ucapan gue. Lo akan menyesal setelah kehilangan Ayana nanti.” tegas Arsen dengan suara lantang.
Adira mengernyit, ia tampak menjauhkan ponselnya itu dari telinganya dan memeriksa sambungan teleponnya. Ternyata Arsen sudah mematikannya secara sepihak, dan itu berhasil membuat Adira kesal.
“Dasar ngga sopan, seenaknya sendiri nutup panggilan bos,” kesal Adira.
Zayna yang sedari tadi melihat dan mendengarkan kini melangkah mendekat kearah Adira yang sedang berada di balkon Apartemennya. Ia tampak memeluk tubuh Adira belakang.
“Biarin aja ya sayang, kan Arsen orangnya emang ngga suka kalau lihat kita berduaan,” ucap Zayna lembut karena ia ingin meredam emosi Adira.
Adira menatap lurus berusaha mengontrol emosinya, kini ia pun berbalik dan menatap lembut Zayna. Perempuan yang ia cintai.
“Kamu sudah siap? Mau pergi shopping sekarang?” ajak Adira yang kini mendapatkan anggukan senang oleh Zayna.
-
Ayana kini tampak berdiri di salah satu toko fashion yang ia datangi dengan Tasya. Tasya sedari tadi sudah memaksanya untuk ikut dengannya dengan alasan ingin menghabiskan waktu bersama dengannya. Ayana pun tidak ingin menolaknya, dan kini ia ikut dengan Tasya sesudah ia mengirimkan pesan pada Adira untuk meminta izin keluar.
Ayana terus memandangi ponselnya yang menampilkan pesan antara ia dengan Adira. Ia tidak ingin menjadi istri durhaka pada suaminya hanya karena tidak mendapatkan izin keluar.
“Ay setelah ini kita makan Sushi biasanya ya,” ajak Tasya dengan senang.
Ayana mengangguk, karena ia juga sudah lama tidak memakan makanan yang ia sukai.
“Sya lo tinggal bayar kan? Gue tunggu di depan ya,” ucap Ayana sebelum ia melenggang untuk pergi meninggalkan Tasya yang sedang mengantre untuk membayar pakaiannya.
Sebenarnya Ayana tidak suka belanja berlama-lama, ia lebih suka menghabiskan waktu ditaman bermain dengan menaiki seluruh wahan dibandingkan dengan berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan.
Ayana kini sudah diluar, ia merasa lega karena tidak melihat baju-baju yang dipajang secara berhimpitan yang membuatnya terasa sesak.
Ayana tampak mengitari seluruh pemandangan pusat perbelanjaan dengan kedua sorot matanya. Sudah lama ia tidak mengunjungi tempat ini. Tapi kini sorot matanya berhenti pada sosok lelaki yang tidak asing baginya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap, serta cara berjalannya yang tidak asing membuatnya merasa penasaran.
Perlahan langkah kaki Ayana mengikuti sosok lelaki itu berjalan, hingga akhirnya lelaki itu berbalik saat ada wanita yang memanggilnya.
“Sayang bawain belanjaan ku dong,” ucap wanita itu dengan nada gemas.
Ayana bisa melihat dengan jelas senyum manis yang tercetak diwajah Adira saat ini. Adira pun mengambil seluruh tas belanjaan milik wanita itu, dan kini tangannya sebelah kanan ia gunakan untuk memeluk tubuhnya.
Hati Ayana terasa sakit kembali, ia kini hanya bisa melihatnya dari belakang saat Adira sedang berselingkuh tanpa bisa menegurnya. Ayana memang tidak memiliki rasa pada Adira, tapi status yang ia punya sebagai istri sahnya membuat Ayana ingin memilik Adira sepenuhnya hingga batas waktu mereka habis.
Ayana berusaha mengatur napasnya agar tangisnya tidak pecah dikeramaian seperti ini. ia memukul dadanya berkali-kali, mencoba membuatnya semangat.
“Lo bisa Na. Lo bahkan sudah biasa di situasi menyakitkan seperti ini.” ucapnya pada dirinya sendiri agar bisa kuat dan melupakan apa yang ia lihat baru saja.
Ayana terkejut saat ada yang menepuk pundaknya tiba-tiba. Tentu saja itu adalah Tasya, ia pun tersenyum lebar kearah Tasya dan menyembunyikan lukanya di lubuk hati yang paling dalam.
“Gue sudah selesai, mau makan sekarang?” tanya Tasya yang langsung mendapatkan anggukan dari Ayana.
Ayana tidak ingin mengeluarkan suara apapun untuk saat ini, karena ia tahu jika ia mengeluarkan suara, pasti terdengar bergetar. Ia tidak ingin membuat Tasya curiga dan mencari tahu lebih dalam untuk masalahnya.
-
Arsen kini duduk dikursinya dengan perasaan bingung. Ia merasa kesal dengan Adira yang tidak bertanggu jawab, dan disisi lain ia juga merasa memikirkan keadaan Ayana yang terjerat oleh status palsu dengan Adira.
Sorot mata Arsen terus mengarah pada ponselnya, dimana terlihat ia mengirim banyak pesan kepada Ayana tetapi tidak kunjung mendapatkan balasan satupun.
“Sen bantuin gue dong buat rapihin semua berkas,” ucap Rissa diujung pintu.
Arsen menghela napas, ia pun bangkit karena merasa kasihan pada Rissa yang harus lembur setiap hari selama satu minggu karena Zayna yang tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Arsen pun duduk disamping Rissa yang kini kembali fokus pada layar komputer dihadapannya. Sedangkan Arsen membantunya dengan menata rapi semua dokumen sesuai berdasarkan kelompok yang sudah dijelaskan oleh Rissa beberapa hari yang lalu.
“Gue tahu kalau selama ini lo yang kerjain tugasnya,” ucap Arsen di sela-sela keheningan antara mereka.
Rissa hanya berdehem, sorot matanya tampak fokus mengerjakan laporan untuk minggu ini sebelum dikirim kepada Penyaji untuk di diskusikan pada rapat yang akan datang.
“Lo kenapa mau sih?” tanya Arsen kemudian.
Jemari Rissa berhenti menari diatas keyboard, kini ia menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Ia merubah arah pandangnya untuk menatap Arsen yang sangat terlihat kesal malam ini.
“Terus apa kabar lo? Kenapa lo lakuin semua perintah konyol Pak Adira?” tanya Rissa kembali tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan Arsen padanya.
Arsen diam tanpa bisa berkata-kata. Sorot matanya terus mengunci pandangan Rissa yang terlihat mencari jawaban padanya.
“Gue tahu Sen lo kelihatan banget capeknya selama kerja sama Pak Adira. Tapi lo sama sekali ngga pernah mengeluh sedikit pun, saat dia kasih perintah konyolnya itu ke lo,” lanjut Rissa dengan suara lembutnya namun mendalam.
Arsen menghela, kini ia tersenyum tipis menanggapi ucapan Rissa.
“Adira Cuma punya gue yang bisa dia andalkan, gue satu-satunya teman yang selalu ada buat dia. Lo tahu ngga semua orang bisa cocok sama kelakuan Adira,” jawab Arsen jujur.
Sebenarnya Arsen adalah lulusan Hukum, ia sempat bekerja di Firma Hukum perusahaan milik Rajendra, namun ia dipindah alihkan oleh Rajendra dengan alasan untuk membantu anaknya karena mereka sudah kenal dekat.
Rajendra pun menceritakan semuanya pada Arsen, dan ia pun memahaminya karena ia sudah mengenal Adira sejak kecil. Ia pun mengalah dan memilih untuk membantu Adira, dan Rajendra pun memberikan tunjangan tua untuknya berupa rumah dan transportasi mobil untuk rasa terima kasihnya.
“Lo juga capek Sa,” lirih Arsen setelah mereka berdua terdiam.
Rissa menarik napas dalam. Ia mengangguk, menyetujui pernyataan Arsen yang menggambarkan dirinya saat ini.
“Capek banget Sen. Tapi gue ngga bisa apa-apa,” jawab Rissa lirih.
Ia tampak tersenyum miris pada dirinya saat ini. “Gue yang topang semua kebutuhan keluarga dirumah, tapi di tempat kerja gue bahkan melakukan hal yang sama. Apa yang seharusnya bukan tugas gue, tapi gue lakuin hanya semata ngga ingin di pecat,” lanjut Rissa.
Arsen tersentuh mendengar bagaimana perjuangan Rissa yang menghidupi keluarganya untuk menaikkan perekonomian keluarganya. Arsen menepuk lembut pundak Rissa, menenangkannya agar tidak larut dalam kesedihan.