Baik di luar, buruk di dalam.

1696 Words
Happy Reading ~ Hope you like it ^^ - Adira membuka pintu rumahnya, tubuhnya sangat lelah hari ini karena sudah menemani Zayna sepanjang hari untuk menyenangkan hatinya. Adira mengernyit saat lampu di ruang tamu mati, karena Adira selalu menyalakannya sepanjang hari.             Ia pun bergerak untuk menuju saklar lampu dan menekannya. Ia terkejut begitu lampu menyala, kini dihadapannya ada sosok gadis yang ia yakini adalah Ayana. Ayana duduk menghadap tv berada, dan menatap lurus dalam diam. “Kok kamu belum tidur?” tanya Adira sembari berjalan mendekat kearah Ayana             Ayana menoleh kearah Adira, kini mata mereka saling bertemu tatap. “Saya nunggu suami pulang,” jawab Ayana. “Saya sudah pulang, sekarang kamu tidur.” Ucap Adira tegas.             Adira pun melangkah untuk meninggalkan Ayana yang masih diam di ruang tamu. “Saya ngga bisa tidur Pak,” sahut Ayana cepat.             Adira terus melangkah menghiraukan Ayana yang kini menatap punggungnya dalam. “Saya tadi lihat Bapak bersama wanita sedang berbelanja. Saya kepikiran,” lanjut Ayana.             Langkah kaki Adira kini terhenti. Ia memutar badan dan melihat Ayana dalam jarak yang cukup jauh untuk mereka. “Saya harap kamu tidak lupa dengan perjanjian yang sudah kita sepakati.” Jawab Adira tegas lalu melenggang meninggalkan Ayana dengan luka dalam dihatinya.   -                 Ayana sudah siap dengan Apron yang melekat pada tubuhnya. Ia tahu bahwa kemarin masakannya tidak dimakan sama sekali oleh Adira, sampai ia membuangnya sendiri ke dalam tong sampah karena sudah basi. Tapi ia tidak boleh menyerah, karena ini masih awal dari perjuangan seorang Ayana.             Ia mengepalkan kedua tangannya ke udara, tersenyum lebar untuk menyemangati dirinya sendiri. “Ayana lo harus semangat. Lupain semua hal semalam yang bikin lo down dan sakit hati. Mulai sekarang balik ke Ayana yang periang, semangat.” Ucapnya lagi pada dirinya sendiri.             Kini ia mulai menata seluruh bahan sebelum memulai memasak dengan mencampurkan seluruh bahan sesuai takaran. Sudah tiga puluh menit berlalu, mata Ayana kini tertuju pada jam dinding yang tergantung disana.             Sudah siang tetapi Adira tidak kunjung bangun. Ayana pun berniat untuk membangunkannya, namun gagal saat Adira sudah terlihat berjalan keluar dari kamarnya menggunakan baju tidur. “Selamat pagi Pak Adira. Saya sudah memasak untuk Bapak, apa Bapak mau sarapan sekarang?” tanya Ayana.             Adira menggeleng tanpa menatap Ayana sekalipun sejak ia melangkah keluar kamar. Adira kini melenggang untuk membukakan pintu karena ada yang mengetuk pagi-pagi sekali.             Ayana dapat melihat kedua tangan Adira yang penuh membawa kantong keresek berisikan makanan cepat saji yang baru saja ia beli. Ayana tersenyum tipis saat Adira kini membalas tatapannya dengan memamerkan dua kantong yang sedang ia bawa. “Saya sudah pesan makanan untuk sarapan, jadi saya akan memakannya di dalam kamar. Kamu bisa menikmati makanan mu sendirian,” ucap Adira lalu melenggang pergi meninggalkan Ayana.             Lagi dan lagi. Entah kapan Adira bisa menghargai Ayana sebagai istrinya yang sah.             Ayana menatap masakannya nanar, tidak ada yang ingin memakannya saat ini. Termasuk dirinya yang tidak pernah memiliki nafsu makan jika tidak ada orang yang menemaninya saat makan. “Nanti sore kita pergi kerumah Papa ku karena ada perayaan ulang tahun Mama,” ucap Adira mengingatkan bahwa hari ini mereka akan melakukan adegan peran dihadapan kedua orang tua Adira, oleh karena itu Ayana harus menyiapkan mental dan hatinya mulai sekarang.   -               Ayana kini sudah cantik dengan balutan Dress putih V-neck yang memamerkan bagian pundaknya. Ia tampak menata rambutnya agar terlihat rapi dan anggun saat dipandang, karena ia sudah menjadi istri seorang pejabat tinggi di negaranya.             Ayana keluar setalah ia siap dengan tampilannya, ia pun berjalan menuju Adira yang kini sudah menunggunya di ruang tamu. “Saya sudah siap Pak,” ucap Ayana saat Adira tidak memperhatikan keberadaannya.             Adira yang sedari tadi bermain ponsel kini menegadah dan melihat Ayana yang sedang tersenyum kearahnya. Adira terdiam melihat tampilan Ayana yang berubah saat ingin menghadriri suatu acara dengannya. Ia tampak lebih dewasa sekarang. “Bisa kita berangkat sekarang?” tanya Ayana saat Adira tidak kunjung bangkit dari tempat duduknya. Adira tergagap saat Ayana menyadari bahwa ia sedang melamun dengan melihat tampilan barunya. Dengan cepat Adira merubah mimik wajahnya menjadi biasa saja, lalu bangkit dan berjalan menuju halaman rumah, dimana mobilnya terparkir. Di dalam hatinya, Ayana tampak puas dengan reaksi Adira yang seolah kagum padanya. Tapi itu tidaklah berlangsung lama, karena ia tahu sampai kapanpun Adira tidak akan menganggap keberadaannya.   -               Ayana menggandeng lengan Adira dengan romantis, mereka memasuki halaman rumah belakang Rajendra dimana tempat diadakan pesta untuk merayakan ulang tahun Sarah Nefertari Rajendra, istrinya.             Ayana berhambur kedalam pelukan ibu mertuanya saat Sarah menyambutnya dengan hangat. Mereka berpelukan layaknya ibu dan anak. “Selamat ulang tahun, Ma.” Ucap Ayana di dalam pelukan Sarah. “Terima kasih,” jawab Sarah. “Kamu apa kabar sayang?” tanya Sarah pada Ayana setelah mereka melepaskan pelukan.             Ayana tersenyum sembari mengangguk. “Baik kok Ma. Mama apa kabar? Sehat kan?” tanya Ayana kembali.             Sarah mengangguk menanggapi pertanyaan sang menantu. Kini Adira yang bergerak maju untuk memeluk sang ibu. “Kalian bawa kado special ngga untuk mama?” tanya Sarah saat melihat menggoda anak dan menantunya.             Ayana dan Adira merasa bingung dengan kata special yang dimaksud sang Mama. Sedetik kemudian Adira mengeluarkan kotak dalam saku jasnya dan memberikannya kepada Sarah.             Sarah menerimanya dengan senang hati. Ia pun membuka langsung dengan wajah sumringah. Saat ia tahu isi di dalamnya adalah kalung berlian, kini senyumnya pudar. Ia menatap anak dan menantunya secara bergantian. “Mama bukan minta ini,” ucap Sarah dengan raut wajah sedih. “Tapi Mama suka sama berlian kan?” ucap Adira meyakinkan dugaannya.             Sarah mengangguk, “Mama suka, tapi sudah punya banyak,” ucap Sarah.             Ayana tersenyum, sorot matanya menatap wajah Sarah lembut. “Mama minta apa? Nanti Ayana kasih?” tanya Ayana dengan lembut.             Sarah tersenyum lebar mendengar tawaran sang menantu. “Mama minta cucu yang lucu,” jawab Sarah cepat.             Ayana dan Adira terdiam tanpa bisa mengatakan apapun. Bahkan untuk saling pandang mereka tidak bisa. Sarah mengerutkan dahi melihat tingkah kedua anaknya itu. “Kenapa? Kalian ada masalah?” tanya Sarah saat melihat keduanya tidak berkutik. “Mama apa sih, biarin mereka kenal lebih dekat dulu,” sahut Jayantaka yang kini ikut bergabung kedalam pembicaraan mereka.             Ayana mengangguk dengan cepat menyetujui ucapan Jayantaka yang menyelamatkan mereka. “Kita ngga ada masalah kok Ma,” jawab Ayana cepat dengan wajah yang menunjukkan senyum manisnya.             Sarah menghela napas lega, ia menepuk lengan Ayana lembut. “Mama kira kalian akan ada jarak. Tapi syukurlah semua baik-baik aja,” ucap Sarah dengan tawa diakhir.             Ayana ikut tertawa palsu bersama Sarah. Andai saja Sarah tahu jika anaknya tidak mengharapkan keberadaannya sama sekali, apa Ayana akan mendapatkan dukungan untuk menjadi lebih kuat?             Tapi ia tidak bisa memberitahukannya pada siapapun, karena ia tidak ingin Adira mendapatkan masalah atas perlakuan buruknya pada Ayana.   -               Suasana canggung dan dingin kini terasa melekat pada dua insan yang dihadapkan di dalam satu ruangan. Ya, saat ingin berpamitan untuk pulang Ayana dan Adira di cegah oleh Sarah dan menyuruh mereka untuk menginap di rumah Rajendra.             Ayana menghela napas berat sembari matanya memutari kamar besar bernuansa black and white ini. Ayana duduk di tepi ranjang menunggu Adira keluar dari kamar mandi.             Ayana terpaku saat melihat keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Sisi dewasa Adira sangat kentara malam ini, mulai dari pakaian yang ia kenakan untuk pesta hingga malam ini saat ia membiarkan rambutnya setengah basah. “Kamu tidur di Sofa, soalnya saya ngga bisa tidur selain di kasur,” ucap Adira pada Ayana yang sedari tadi memandangnya.             Ayana mengangguk pelan, ia tersenyum tipis sembari berjalan menuju sofa yang akan ia tempati untuk tidur malam ini. “Selamat malam Pak,” ucap Ayana lembut.             Ayana pun menata dirinya senyaman mungkin diatas Sofa sebelum ia tidur. Ayana tampak mengeluarkan earphone dan ponsel yang ia bawa untuk menemaninya tidur.             Ayana tidak bisa tidur sendiri jika ia tidak mendengarkan musik, karena musik bisa menemani setiap malamnya yang kalbu.             Ayana tampak menyalakan aplikasi spotify miliknya untuk memutar draft lagu yang biasa ia dengarkan setiap saat. Kini ia menyalakan lagu cover milik Raisa-Bahasa Kalbu. Ayana perlahan menutup matanya saat musik mulai mengalun dengan indah.             Adira mengawasi Ayana dari jauh. Sebenarnya Adira memiliki rasa bersalah karena memperlakukan wanita buruk seperti ini, tapi ia harus melakukannya agar ia dan Ayana tidak memiliki perasaan apapun nantinya.             Adira terkejut saat lampu kamar tiba-tiba saja mati. Kini ruangan kamarnya menjadi gelap pekat, tanpa adanya cahaya atau sinar yang masuk menerangi ruangan mereka.             Adira tersentak saat mendengar suara tangis tertahan di dalam ruangannya. Adira tampak meraba sekelilingnya untuk mencari ponselnya. Ia pun menyalakan senter pada ponselnya dan mendapati Ayana yang kini duduk dengan memeluk kedua kakinya.             Adira melangkah cepat mendekati Ayana yang tampak ketakutan, “Kamu nyctophobia?” tanya Adira pada Ayana yang terlihat takut dengan sekitarnya.             Ayana tidak menjawab, ia terus menutupi telinganya dengan kedua telapak tangannya. Kedua matanya terus tertutup rapat dan mengeluarkan air mata tanpa henti. Badannya juga bergetar karena ia merasa takut.             Adira pun mendekat dan memeluk tubuh mungil Ayana. Ia mendekapnya hangat dan erat, mencoba menenangkan tubuh Ayana yang terus bergetar. Tak henti tangannya menepuk halus punggung Ayana agar rasa takutnya sirna sembari menunggu lampu menyala kembali. “Ana takut Ma,” lirih Ayana dengan suara bergetar dalam pelukan Adira.             Adira terus menepuk punggung Ayana pelan, “Ada aku disini Na,” bisik Adira lembut pada telinga Ayana. “Ana takut Ma,” lirihnya lagi.             Tidak ada cara lain selain memeluk tubuh Ayana, dan perlahan Adira merasa nyaman memeluk tubuh Ayana yang pas dengan tubuhnya. Ia pun tidak henti berucap akan menemani malam Ayana hari ini agar ia tidak lagi merasa takut             Tangis Ayana perlahan reda seiring berjalannya waktu. Kata-kata takut yang sedari tadi keluar dari mulutnya perlahan sudah tidak terdengar lagi.             Lampu kini sudah menyala, Adira menghela napas lega. “Na lampunya udah nyala,” bisik Adira.             Beberapa kali Adira berucap memberitahu Ayana namun tidak ada pergerakan. Adira pun tampak melonggarkan pelukan mereka sedikit, Adira kini melihat Ayana yang tampak nyaman tidur di dalam pelukannya.             Adira menghela napas, ia pun memutuskan untuk menggendong Ayana dan membawanya untuk tidur di ranjang bersama dengannya malam ini. Ia menempatkan kepala Ayana pada lengan kirinya agar ia bisa terus menjaganya dalam dekapannya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menepuk lembut pundak Ayana hingga mereka benar-benar tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD