Bab 1. Skandal Suamiku
Pesta peresmian cabang baru perusahaan Diamond Real Estate berlangsung megah di ballroom hotel bintang lima, dipenuhi para tamu penting, rekan bisnis, serta wartawan. Agnes Charlotte melangkah anggun dengan gaun malam berwarna merah marun yang membalut tubuhnya. Senyum manisnya menghiasi wajah, terlebih ketika sang suami, Daniel Christopher, menggenggam tangannya erat.
Pasangan itu tampak begitu serasi, menimbulkan decak kagum dari orang-orang yang melihatnya.
“Kamu cantik sekali malam ini,” puji Daniel lembut.
“Jangan berlebihan, masih banyak yang lebih cantik dari aku,” ucap Agnes menyembunyikan kebahagiaannya.
Daniel menghentikan langkahnya, ia mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya dan memberikannya pada Agnes.
“Apa ini?” tanya Agnes terkejut. Matanya berkaca-kaca menahan haru saat Daniel membukannya dan menunjukkan sebuah kalung berlian yang mengkilau.
Jelas tepuk tangan para tamu undangan memenuhi ruangan. Menambah kebahagiaan yang Agnes rasakan hari itu.
“Kalung ini diperuntukan untuk wanita yang paling cantik malam ini, itu ... adalah kamu,” ucap Daniel manis dan melepaskan kalung itu dari kotaknya. Langkahnya berjalan ke belakang Agnes, lalu dengan hati-hati memasangkannya ke leher Agnes yang hanya bisa tersenyum, menahan tangis.
“Bagaimana? Kamu suka?” tanya Daniel menatap dengan lembut.
“Aku menyukainya, terimakasih sayang,” ucap Agnes dan memeluk Daniel dengan erat.
Daniel bahkan membalas pelukkan itu bahkan memberikan ciuman singkat pada bibir Agnes tak perduli pada tamu yang memperhatikan.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Saat Agnes sibuk menyapa beberapa tamu, ia tiba-tiba menyadari bahwa Daniel tidak lagi berada di sisinya. Rasa panik dan penasaran membuatnya berkeliling mencari, menelusuri sudut-sudut ruangan pesta.
“Permisi, apa kau melihat Danie?” tanya Agnes pada salah satu tamu.
“Sepertinya aku melihatnya berjalan ke balkon,” jawab tamu itu.
“Terima kasih,” ucap Agnes. Tamu itu menahan tangan Agnes dan memujinya.
“Kau sangat beruntung malam ini Agnes, bukan hanya memiliki suami yang sukses tapi juga memiliki suami yang sangat romantis, bagaimana bisa dia memberikan hadiah di depan para tamu? Terlebih kalung itu limited edition,” ucapnya dengan penuh kagum.
“Aku yang beruntung memiliki Daniel, karena dia adalah pria yang selalu bekerja keras.”
Setelah pembicaraan singkat itu, Agnes pun pergi menuju balkon. Tempat yang katanya Daniel datangi. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok Daniel di balkon lantai atas. Tapi bukan itu yang mengejutkannya, melainkan Daniel sedang berciuman mesra dengan seorang wanita cantik bernama Emma Haisley, salah satu rekan bisnisnya.
“Daniel?” suara Agnes tercekat, hatinya remuk seketika.
Daniel langsung melepaskan ciumannya dari Emma dengan panik. Sementara Emma tersenyum sinis, seolah bangga telah merebut sesuatu yang bukan miliknya.
Agnes yang dipenuhi amarah melangkah cepat, menarik tangan Emma dengan kasar. “Berani sekali kau mencium suamiku di tempat umum!”
Emma menyunggingkan senyumnya sambil melepaskan tangannya, “Lalu haruskah aku menyiumnya di kamar?” ucap Emma seolah menantang.
“Apa kau bilang?” tangan Agnes sudah melayang tinggi hendak menampar, tapi Emma menahannya dengan mencengkram tangan Agnes keras.
“Lepaskan tanganku!” ucap Agnes. Suaranya meninggi. Namun, musik yang melantun cukup keras hingga suaranya tak terdengar oleh siapa pun.
“Tidak akan, kecuali kau bersedia untuk memberikan Daniel untukku,” ucap Emma menantang.
“Kau gila!” maki Agnes dan berusaha untuk menarik tanganya.
Tapi Emma tidak melepaskannya. Daniel berusaha menengahi, tetapi situasi semakin panas. Tarikkan Agnes yang cukup keras membuat Agnes kehilangan keseimbangan saat tangan Emma terlepas dari tangannya. Tubuhnya oleng, langkahnya mundur hingga tumitnya menabrak pagar balkon yang rendah.
“Agnes!” teriak Daniel dengan wajah pucat.
Namun sudah terlambat. Dalam sekejap, tubuh Agnes terjatuh dari balkon. Suara teriakan tamu yang histeris memenuhi ruangan. Beberapa orang segera berlari menghampiri, sementara Daniel terpaku, wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan.
Daniel segera berlari ke bawah dengan wajah yang panik. Lalu langkahnya melambat saat melihat Agnes yang sudah berlumuran darah, tubuhnya menegang dan matanya yang menatap ke atas balkon. Dengan jelas Agnes melihat wajah Emma yang tersenyum menatapnya dari atas.
“Agnes! Bangunlah, jangan mati,” ucap Daniel bergetar dan memeluk tubuh Agnes. Dia menangis pilu memohon pertolongan.
Tak lama, Agnes dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat, dan dokter langsung membawanya ke ruang operasi darurat.
Daniel terus menunggu di luar ruang operasi dengan tangan gemetar, rasa sesal menghantam dirinya. Sedangkan Emma berdiri di sudut ruangan rumah sakit, wajahnya gelisah tapi matanya masih menyimpan bayangan kemenangan semu.
***
Suara mesin medis berirama monoton mengisi ruang VIP rumah sakit. Perlahan, kelopak mata Agnes terbuka. Pandangannya buram, cahaya lampu putih terasa menyilaukan, dan tubuhnya terasa begitu berat. Ia mencoba menggerakkan tangannya, kakinya, bahkan bibirnya untuk bersuara namun sia-sia. Hanya matanya yang bisa bergerak, menatap kosong langit-langit ruangan.
Beberapa menit kemudian, dokter masuk bersama perawat, lalu memeriksa kondisinya. Daniel yang duduk di kursi tepi ranjang segera berdiri. Penampilannya berantakan dengan wajah yang pucat seolah tak tidur semalaman.
“Dokter… bagaimana dengan istri saya? Apa ... dia bisa sembuh?” tanya Daniel dengan khawatir.
Dokter menatapnya serius, kemudian menghela napas berat. “Istri Anda mengalami kelumpuhan total. Cedera di tulang belakangnya sangat parah. Ia tidak bisa bergerak ataupun berbicara. Hanya fungsi matanya yang masih bertahan. Kondisinya ini kemungkinan… permanen.”
Kata-kata itu menghantam hati Daniel. Ia terduduk lemas, menutupi wajah dengan kedua tangan, air mata jatuh deras.
“Tidak! Tuhan… kenapa harus seperti ini? Kenapa kau membuat istriku menderita seperti ini?” tanya Daniel menangis pilu.
Daniel meraih tangan dokter dan memohon padanya, “Dokter saya mohon ... lakukan sesuatu, apa saja. Saya tidak peduli biayanya, asalkan istri saya bisa pulih kembali. Saya mohon ...”
“Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” ucap dokter buntu lalu pergi dari sana.
Di belakangnya, pengacara pribadi Agnes melihat semua itu dengan iba. Ia lalu mendekat dan memberikan surat kuasa.
“Ini adalah surat kuasa atas semua kekayaan yang dimiliki oleh Nyonya Agnes. Sesuai dengan isi surat wasiatnya, jika Nyonya Agnes tidak bisa lagi memenuhi kewajibannya ia akan mengalihkan semua kekayaan, bisnis dan rumah pada suaminya, Daniel Christopher,” ucapnya.
Daniel kembali menangis sedih, seolah tak percaya jika semua ini terjadi pada Agnes.
“Anda harus kuat Pak, demi Nyonya Agnes,” ucap pengacara lagi dan pergi dari sana.
Agnes menatapnya dengan air mata yang jatuh perlahan dari sudut matanya. Meski tak bisa bersuara, hatinya menangis mendengar kepedihan suaminya. Ia berpikir jika Daniel masih punya hati nurani meski sempat mengkhianatinya.
Namun, perlahan suara tangis itu berubah menjadi tawa yang samar. Semakin lama tawa itu semakin terdengar jelas.
Pintu kamar kembali terbuka, Daniel kembali berpura-pura menangis. Tapi sosok Emma yang melangkah masuk membuat Daniel berhenti menangis. Ia menatap Emma dengan mata yang berbinar bahagia.
“Emma ...lihat ini, akhirnya aku akan mengusai semua kekayaan Agnes,” ucapnya penuh kegembiraan.
“Benarkah? Selamat,” sorak Emma dan memeluk Daniel dengan erat. Daniel pun membalas pelukkan itu, lalu mencium bibir Emma tanpa takut.
Ciuman itu berlangsung di hadapan Agnes yang hanya bisa menyaksikan, tubuhnya kaku tak berdaya.