Marisa balik mengisap da-da bidang Indra dengan lembut. Mengulum puncak gunung yang terasa tegang dan berbentuk bidang itu. Meninggalkan jejak tanda kepemilikannya juga di sana. Ia tersadar akan sesuatu yang dibelikan Rosa waktu itu. Marisa membuka laci meja, mengambil sesuatu alat dari dalam sana yang belum pernah ia gunakan bersama Indra. “Yank, cobain pake ini, ya,” ajaknya, menunjukkan sebuah benda yang dibungkus dan isinya berwarna cokelat. “Hah, serius?” tanyanya sambil menatap Marisa. “Ya serius lah, Sayang. Kan A’a udah janji mau nunda dulu. Aku juga jangan pake kontrasepsi, kan? Jadi kita pakai kondom aja, Sayang.” Marisa membuka plastiknya dan mencoba memasangkan pada Indra. Indra sedikit merasa kecewa, padahal tadi siang mengobrolkan tentang anak. Saat di Spanyol, mereka j

