Marisa mondar-mandir ke sana kemari. Mengapa ia bisa melupakan di mana benda penting tersebut disimpan? Peluh pun kini membanjiri keningnya. Percuma, ternyata mencarinya ke sana kemari pun tidak kunjung ketemu. Indra juga membantu, tapi hasilnya nihil. Apa Marisa harus pasrah saja? Masa iya tidak ada alat tersebut, tidak melakukan hubungan suami istri? Mana tahan, ya kan! Masih ada jalan lain menuju Roma. Toh tanpa alat kontrasepsi juga bisa dengan jalan lain. “Itu isinya alat kontrasepsi kondom, Sayang. Kan A’a izinkan aku menunda kehamilan asalkan menggunakan alat kontrasepsi itu, jangan yang lainnya. Duh di mana, ya? Perasaan aku simpan di sini kemarin.” Marisa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Ia kebingungan mencari ke setiap celah dan sudut koper yang ia bawa.

