Maggie dan Sam memutuskan pulang setelah menghabiskan banyak waktu di restoran. Maggie merasa sangat beruntung memiliki pria seperti Sam. Lelaki yang sangat baik hati dan pengertian. Ferrari mewah mengantar kepulangan mereka. Tak hentinya Maggie mengukir senyum di bibirnya. Kehadiran Sam membuatnya berbunga-bunga layaknya abg yang baru pertama kali jatuh cinta. "Ada apa? Kenapa tersenyum?" Tanya Sam pada Maggie. "Tidak apa-apa, aku hanya senyum. Ada yang salah?" Tanya Maggie. Sam terdiam sebentar, mencari kalimat yang cocok untuk diucapkan. Dia melirik Maggie dan mendapati wanita itu sibuk dengan ponselnya.
"Tidak ada. Kau boleh tersenyum kapanpun. Aku hanya ingin tahu alasan di balik senyum manismu itu," kata Sam sambil tersenyum simpul. Maggie membuatnya memahami banyak hal tentang cinta. Perpisahan kedua orang tua di masa kecilnya menjadikan dirinya pria dingin nan misterius. Namun kehadiran Maggie membuat hidup hitam putihnya berubah. Kini ia mengenal lebih banyak warna di hidupnya. "Aku bahagia bersamamu,Sam," ucap Maggie beberapa saat. Seolah waktu berhenti untuk Sam. Perkataan Maggie bagaikan percikan-percikan ganja yang membuatnya merasakan efek senang. Rasanya ia sedang terbang di langit biru Amerika. "Aku juga." Balas Sam. Ada banyak kata yang muncul di kepalanya, namun hanya dua kata itu yang mampu ia ucapkan. Rasanya ia sedang berada di depan dewi afrodit yang cantik, atau mungkin Cleopatra dari Mesir. Dia sangat memuja kecantikan dari wanita itu.
Mobil dihentikan tiba-tiba oleh Sam. Mereka berada di gunung yang pernah menjadi tempat mendaki mereka. Maggie memandang Sam penuh tanda tanya. "Apa yang kita lakukan disini?" Tanya Maggie pada Sam. Dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan lelaki itu. "Ini rahasia." Balas Sam membuat Maggie sumringah. Jawaban Sam terasa lucu baginya. Selain disleksianya, dia dianggap gila karena sering menertawakan sesuatu yang tidak lucu sama sekali. Sam mengacak rambutnya seperti orang tua yang bangga pada anaknya. "Ketahuilah bahwa kau seperti remaja, Sam." Sindir Maggie. Sam mengabaikan ucapannya itu. Dia menarik tangan Maggie keluar dari dalam mobil mewahnya. Perlahan ia mengecup kening wanita itu.
"Aku menjadi remaja saat aku jatuh cinta," balas Sam beberapa saat. Dia memandangi Maggie yang tertawa lalu ikut tertawa bersama. "Ikutlah bersamaku!" Pinta Sam sambil menarik tangan Maggie ke suatu tempat. Dalam perjalanan, Sam menyalakan musik dengan earphone mode. Satu earphone di telinganya dan satu lagi di telinga Maggie. Tingkah Sam membuat Maggie menjadi terenyuh, rasanya ia kembali mengenang cinta masa SMA-nya. Ini sangat mengagumkan baginya. Sam seorang kaya raya yang datang bagaikan pangeran di dunia dongeng. Hadir di hidupnya dan mendirikan istana cinta di hatinya.
Tangan Sam menggenggam tangan Maggie dan menuntun wanita itu ke suatu tempat. "Aku akan menunjukkan apa yang disebut awesome," ucap Sam dan Maggie lagi dan lagi tertawa. Bersama Sam tidak akan membuatnya menua. Setiap detiknya ia merasa semakin muda. "Aku penasaran dengan awesome yang kau maksud itu," balas Maggie. Pandangan mata keduanya bertemu. Genggaman tangan Sam bagaikan borgol yang mengikat Maggie. Tangan itu sangat posesif. Tangan itu tak membiarkan Maggie kemana-mana. Maggie bersyukur telah memiliki Sam. Kebahagiaannya sekarang ini adalah Sam. Dia tak menginginkan apapun lagi, kehadiran Sam sudah membuat hidupnya berwarna. Ada warna cinta yang tumbuh menjalar dalam dirinya. Sam bagaikan virus yang merasukinya dan menguasai tubuhnya.
Lima menit berjalan, mereka sampai di sebuah air terjun yang cantik. "Wow, aku tidak pernah tahu, disini ada air terjun," kata Maggie tanpa sadar. Tumpahan air di depannya begitu indah, dia nyaris tak mengenal alam. Dulunya ia hanya tahu tentang fashion dan teknologi. Tak ada sedikitpun ketertarikannya dengan alam. Dan sekarang? Semua berubah saat Sam hadir di hidupnya. "Kau tak berniat mandi disana?" Tanya Sam sambil berkedip. Itu sangat menjijikkan tapi Maggie sangat suka dengan hal itu. Dia memang aneh, segala sesuatu tentang Sam ia sukai. Maggie tentusaja menggeleng, dia tidak mungkin mandi di tempat itu. Dia bukanlah anak SMA yang baru mengenal cowok.
"Aku sudah dewasa,Sam. Mana mungkin aku mandi disana," ucap Maggie dengan tawa geli. Di matanya Sam sangat lucu dan aneh. Bagaimana bisa lelaki itu mengajaknya mandi di tempat itu. Dia mengangkat bahunya. "Apa orang dewasa tidak boleh melakukannya? Bahkan pria yang memiliki istri saja masih menyusu. Kita makhluk bebas. Tak ada batas antara dewasa ataupun remaja." Jelas Sam membuat Maggie memukulnya dengan kedua tangan kecilnya. Dia tidak suka membahas hal vulgar. Sam tertawa karena pukulan Maggie. "Dasar lelaki m***m! Pria aneh!" Umpat Maggie. Wanita itu tak hentinya memukuli pria di depannya. Sam tidak tahan lagi. Dia mengangkat tubuh Maggie dan menggiringnya ke air terjun yang terus mengalir. Maggie merontah seolah ditangkap penjahat.
"Lepaskan, Sam. Lepaskan aku," teriak Maggie. Sam sama sekali tak berhenti. Dia tetap kukuh bermain air bersama Maggie. Hari ini ia ingin bersenang-senang, melupakan pengap hidupnya. Sam menghempaskan tubuh Maggie dalam air. Wanita itu basah bersama dengan dirinya yang ikut terguyur air. Maggie dan Sam bermain air, saling menghukum satu sama lain. "Rasakan ini. Dasar Sam Jail,"Umpat Maggie sambil menyirami Sam air dengan menggunakan tangannya. Rasa kesalnya berubah menjadi kesenangan. Ternyata Sam benar. Berada di air terjun membuatnya merasa tenang. Dinginnya air menghangatkan tubuhnya. Dia sangat bahagia. Kata itu adalah kata pertama dalam kamus hidup Maggie. Ada perbedaan antara senang dan bahagia.
Sam membalas Maggie. Dia melakukan hal yang sama pada wanita itu. Keduanya tertawa lepas. Mereka sangat bahagia. Peristiwa memalukan tadi siang membuat dirinya lupa saat itu juga. "Ayo siram aku kalau kau bisa, Maggie," seru Sam. Maggie merasa tak kuat lagi untuk tertawa. Perutnya terasa sakit. Dia berhenti menghujani Sam dengan air. "Sudah, Sam. Aku tak kuat lagi," ucap Maggie sambil memegangi perutnya. Sam menghentikan aktifitasnya. Dia yang berada di jarak lima meter dari Maggie mendekati wanita itu. Jalannya terhalangi oleh genangan air. Dia mempercepat langkahnya sampai dia berada tepat di depan mata Maggie. Dia berdiri di depan wanita itu. Kedua tangannya memegangi leher Maggie. Perlahan ia menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu. Maggie terdiam karena serangan tiba-tiba Sam. Matanya membulat, namun ia juga menyukai tindakan pria itu. Perlahan ia memejamkan mata karena sentuhan pria itu. "Aku mencintaimu, Maggie." Bisik Sam pada wanita. Kalimat ajaib yang selalu ia ucapkan. Maggie tertawa saat mendengarnya. Getaran-getaran cinta timbul karena kalimat pendek itu. "Sayangnya aku sudah bosan mendengarnya, Sam." Balas Maggie bercanda.