Awan kebahagiaan menghiasi kisah cinta Maggie dan Sam. Dua pasangan itu serasa Romeo dan Juliet. Hari ini mereka sangat senang dengan petualangan baru mereka. Kini mereka basah kuyup karena aktifitas mereka di air terjun. Hawa ke bahagiaan menyapa kisah cinta mereka. "Aku bahagia, hari ini, Sam!" Seru Maggie di depan Sam. Pria itu merasakan hal yang sama seperti Maggie. "Aku juga. Ini lebih membahagiakan dari hari natal," balas Sam disertai senyum mengembang. Dia menarik tangan Maggie dan berjalan meninggalkan air terjun itu. Mereka berdua memilih pulang setelah puas bermain-main dengan air. Maggie berjalan beriringan dengan Sam. Pandangan matanya tak lepas dari sosok Sam Nicholas. Benih cinta yang selama ini tumbuh kini bertambah subur, membesar dan terus berkembang.
Suasana Sore hari sangat mendukung, matahari bersinar cerah, namun panasnya tak menyengat sama sekali. Sinarnya cukup menghangatkan tubuh mereka yang basah. Pohon-pohon bergoyang, burung-burung beterbangan. Kicaun sang burung terdengar begitu merdu, seolah sedang bernyanyi riang bersama Maggie dan Sam. "Habis ini kita kemana?" Tanya Maggie pada Sam. Sorotan mata tajam menelusuri mata Maggie. Wanita itu sama sekali tak bisa menebak makna dari tatapan mata Sam. Dia sungguh tak mengerti. "Mungkin pulang. Bagaimana menurutmu?" Tanya Sam kembali. Maggie mengangguk setuju. Senyum bahagia masih terpancar di wajahnya yang putih. Sam sangat menyukai senyum milik Maggie. Sangat menenangkan dirinya. Dia begitu bahagia bersama wanita itu sampai rela kehilangan pekerjaannya.
Mereka sampai di apartemen, pukul delapan malam. Sepulang dari tempat mereka, Sam mengajak Maggie berbelanja sebentar. Planning mereka berubah. Awalnya mereka berniat pulang, tapi pakaian mereka basah. Alhasil Sam mengajak wanitanya itu menghabiskan uangnya. Maggie duduk di sofa ruang tamu mereka. "Hari ini aku sangat lelah, Sam," ucap Maggie dengan nafas tak beraturan. Sam ikut duduk disamping Maggie. Tangannya mengacak rambut wanita itu membuatnya sukses mendapat jitakan. "Aku bukan anak kecil, Sam," kata Maggie kesal. Sam malah tertawa. Dia merasa aneh dengan tingkah manusia yang suka membatasi kebebasan orang lain. Dia tidak setuju dengan adanya pemikiran, itu untuk orang dewasa, itu untuk anak kecil, itu untuk remaja dan lainnya. Menurutnya manusia bebas melakukan apapun selagi hal itu membuatnya bahagia dan nyaman.
"Mengacak rambut pirang palsumu bukan berarti kau anak kecil," balas Sam. Raut wajah Maggie berubah, dia memandangi Sam dengan mimik tidak setuju. Tangannya mengambil remote AC yang ada di meja dan menyetelnya dengan suhu paling dingin. Rasanya tubuhnya terasa panas. Sam kembali tertawa dengan aksi Maggie. Wanita itu seolah sedang ingin marah karena ucapan datarnya tadi. "Dari dulu aku memang berambut pirang. Hanya saja aku mengecatnya agar warnanya lebih cerah. Aku adalah wanita berambut blonde asli. Aku adalah Amerika asli," tegas Maggie. Sam kembali mengacak rambutnya karena gemas. Maggie mengerucutkan bibirnya lalu bangkit mengejar Sam.
"Dasar Sam bodoh! Aku yakin kau tidak lulus tata bahasa saat SMA! Dasar pria menyebalkan!" Teriak Maggie. Mereka sekarang bagaikan tom and jerry yang saling mengejar satu sama lain. Sam tertawa dan Maggie cemberut. Mereka adalah pasangan dualisme yang tak bisa terpisahkan. Mereka pasangan abnormal yang unik. Saling menjaili namun saling mencintai. Itulah prinsip dasar dalam hubungan mereka berdua. Aktifitas lari mereka berlangsung sangat lama. Sampai Maggie tak kuat lagi. Habis dari mall membuat tubuhnya kelelahan. Belum lagi aktifitas bodohnya yang mengejar Sam. Lelaki yang jelas-jelas perkasa dan tidak akan kalah dengan kekuatan larinya. Sam sudah terbiasa lari di sekitar gunung sedangkan dia? Waktunya habis di dalam salon untuk membersihkan kuku dan rambutnya. Dia lebih tertarik memperindah tubuhnya daripada berteman dengan siapapun. Prinsipnya adalah mempercantik diri sendiri lebih baik dari pada berteman dengan orang yang munafik.
Maggie menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Wanita itu memejamkan matanya. Tiba-tiba Sam datang dan merebahkan tubuhnya di atas tubuh Maggie. "Menyingkirlah, Sam. Aku tidak ingin melakukannya," kata Maggie sambil berusaha mendorong tubuh Sam. Sialnya, ia tidak bisa. Ponsel Maggie berdering, Cristhoper meneleponnya. "Halo, ada apa Ch..?" Tanya Maggie. Dia hampir saja menyebut nama musuh bebuyutan Sam. Keberadaan lelaki itu diatasnya membuat dirinya gelap mata. Adegan provokatif itu sedikit menyalakan hasratnya. Bagaimanapun dia wanita normal. Sam menyernyit memandangnya.
"Bagaimana kabarmu? Terakhir kali aku senang bertemu denganmu. Lain kali, aku ingin kita jalan-jalan," ucap Cristhoper di balik sambunganl telepon. Maggie mulai tidak nyaman dengan Sam di atasnya. Dia berusaha mendorong tubuh Sam. Dan lagi lagi ia gagal. "Itu... aku.. baik-baik saja. Emm .. kurasa aku harus mematikan panggilanmu. Aku senang mendapat telpon darimu, hanya saja waktunya tidak tepat," kata Maggie gugup. Sam benar-benar membuat otaknya menggelap dan tidak bisa berpikir. Sam mengamati Maggie, dan mulai menebak siapa yang berani menelepon wanitanya.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Christ. Belum sempat menjawab, Sam merebut ponsel Maggie. Dia sangat penasaran sampai tak bisa tahan lagi. Dia bukannya ingin posestif, dia hanya ingin tahu aktifitas wanitanya. "Christoper? Kenapa dia memanggilmu?" Tanya Sam memastikan. Dia penasaran dengan apa yang dilihatnya. Apakah Maggie selingkuh darinya? Bukannya menjawab, Maggie justru berusaha merebut ponselnya. Sam menaikkan tangan panjangnya agar Maggie tak bisa meraih ponselnya. Karena kesal dia mendorong tubuh Sam ke samping. Dia putus asa.
Sam mematikan panggilan Christ, sedangkan Maggie mendengus kesal. Dia tidak suka tingkah Sam. Pria itu mendekat pada Maggie, pandangan matanya menerawang mencari alasan di wajah wanitanya. Dengan frustasi, Maggie menempelkan bibirnya dengan bibir Sam. Mungkin dengan tingkahnya seperti itu Sam mengerti akan cintanya. "Aku mencintaimu, Sam. Aku butuh kau percaya padaku. Kumohon jangan posesif dan mengekangku. Aku punya kebebasan dan aku mau kita menjalani hubungan kita secara dewasa. Aku mau kau mengerti keadaanku, Sam. Aku juga punya kehidupan sosial, aku butuh jarak denganmu," Jelas Maggie. Sam terdiam, perkataan Maggie membuatnya bingung. Dia tidak pernah mengekang wanita itu, posesifpun tidak. Dia sudah berusaha bertindak biasa saja dan nyatanya Maggie masih memprotesnya.
"Bukankah aku sudah bertingkah sewajarnya? Lalu aku harus seperti apa? Tidak memperdulikanmu seminggu? Sebulan? Aku tidak mengerti, Elsa," tukas Sam. Cara dia memanggil Maggie dengan Elsa menjelaskan bahwa ia sedang marah pada Maggie. Sam merasa dia tidak salah dan Maggie terlalu serius dengan hal sepele mereka. "Dua bulan pun aku tidak masalah, Sam. Aku ingin bebas sekarang," balas Maggie sedikit membentak. Emosinya naik sampai ia lupa dengan apa yang sedang ia ucapkan. Sam diam seribu bahasa. Perkataan Maggie bagaikan penolakan nyata baginya. "Baiklah, meski berat aku akan melakukan apa yang kau inginkan." Balas Sam pasrah. Tubuhnya bagai tak bertulang. Dia bangkit lalu meninggalkan Maggie dengan wajah sendu.