4. Hukuman Untuk Fiona

1010 Words
If you are caught, you cannot escape. Situasi yang benar-benar membuat Fiona tidak dapat melarikan diri sedikit pun dari Alexis, pria itu sangat mendominasi dirinya. Alexis membaringkan Fiona secara perlahan tanpa melepaskan tatapannya dari gadis itu, Fiona sendiri yang melihat lantas bergidik ngeri. Gadis itu memejamkan kedua matanya saat jemari kanan Alexis dengan lihai menyentuh wajahnya, mengelusnya dengan lembut menuju leher, secara perlahan semakin turun menuju area dadanya, lantas lengannya. "Sexy." Alexis mendekatkan wajahnya pada area d**a Fiona, hembusan napas hangatnya terasa di kulit Fiona. Membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya, tubuhnya bergidik. Bahkan area bawahnya terasa berkedut. "Apakah milikmu berkedut, Baby?" Holy s**t! Bisikan itu terdengar menggoda di telinga Fiona, apalagi suara berat dan serak Alexis yang semakin membuat bagian inti bawahnya berkedut. Fiona membuka pejaman matanya, ia menatap Alexis dengan tatapan sayu. "Berhenti menggodaku, Alex!" Alexis tersenyum smirk, pria itu melepaskan dasinya dengan gerakan kasar, yang sialnya terlihat sangat sexy di mata Fiona. Hingga tidak menyadari, jika dasi itu dipergunakan Alexis untuk mengikat kedua tangannya di atas kepala. "Alex ... apa yang kau lakukan?" Fiona memberontak, ia ingin melepaskan ikatan itu. Tetapi seakan-akan semuanya sia-sia. Alexis terkekeh. "Menghukummu." Pria itu menuruni ranjang, menuju lemari pendingin dan mengambil ice cube yang ada di dalam gelas berukuran kecil. Lantas ia kembali lagi menuju ranjang membawa ice cube tersebut, mengambil salah satunya, dan ia masukkan ke dalam mulut, di apit dengan bibir atas-bawahnya. Fiona yang melihat lantas meronta, namun semuanya sia-sia saat ice cube tersebut sudah terasa di kulitnya. "Alex!" Fiona mendongak, rasa dingin menjalar di sekitar lehernya. Alexis sangat gila, lebih gila ketika pria itu merobek gaunnya, dan menampakkan gundukan sintalnya. Tidak berhenti di sana, Alexis menunduk, membawa ice cube tersebut menyinggahi kulit halus gundukan sintal Fiona. Bahkan dua puncak gundukan sintalnya pun turut merasakan ice cube tersebut. "Oh s**t! Alex ..." Fiona tersiksa, gadis itu hanya bisa bergerak resah tertahan, kedua tangannya terikat, dan kedua kakinya di kunci oleh Alexis dengan sempurna. Rasanya dia benar-benar frustasi, rasa dingin dan nikmat menjalar menjadi satu, dia menginginkan Alexis menyentuhnya. Menuntaskan semuanya, namun terasa sia-sia. Sebab, Alexis masih bermain-main dengan ice cube itu. "Alex ... please, aku tidak tahan. Aku mohon stop mempermainkanku." Fiona menatap Alexis dengan memohon. gairah menyelimutinya. Alexis melepaskan ice cube dari bibirnya, pria itu tersenyum. "Apakah kau sangat b*******h, Baby?" "Tentu saja! Kau membuatku sangat tersiksa, Alex! Dan kau harus bertanggung jawab akan hal itu." Alexis mengangguk. "Aku akan bertanggung jawab." Pria itu melepaskan underwear milik Fiona, melebarkan kedua kaki Fiona dan membenamkan wajahnya pada milik Fiona. Tidak ingin berlama-lama, Alexis memainkan milik Fiona dengan lidahnya. Sementara kedua tangannya bergerak meremas dua gundukan sintal milik Fiona, membuat gadis itu kelonjotan. Rasa panas menjalar dari kedua telapak kakinya, hasratnya semakin menggebu-gebu. Suara desahan, dan erangan terdengar dari bibir Fiona. Alexis yang tahu jika Fiona sangat berhasrat, dan akan mencapai puncak lantas semakin mempercepat gerakan lidah dan jemarinya. "Alex, aku akan sampai ... oh f**k!" Fiona menatap Alexis dengan heran. "Apa yang kau lakukann? Kenapa kau berhenti, Alex!" tatapannya berubah menjadi kesal, dia sangat tidak mengerti dengan Alexis. Alexis tertawa kecil, pria itu menjilat bibir bawahnya dan menuruni ranjang. "That's your punishment, Princess." Pria itu melepaskan ikatan pada kedua tangan Fiona, sebelum akhirnya ia melangkah menuju kamar mandi. Fiona yang tersadar lantas duduk. "f*****g s**t! Duda gila! Kau sangat gila,Rumanov!" Gadis itu mengacak-acak rambutnya sendiri, dia sangat frustasi. Bagaimana bisa Alexis membiarkannya saat dia benar-benar ingin mencapai puncaknya? "Sinting! Awas saja kau, Rumanov. Aku akan membalas perbuatanmu, dasar duda posesif! Duda gila! Duda karatan!" Fiona menuruni ranjang, segala umpatan untuk Alexis masih terdengar dari bibir gadis itu. Dia melangkah menuju walk in closet untuk mengambil jubah mandinya, sebelum akhirnya gadis itu menuju kamar tamu. Sedangkan Alexis, pria itu sedang menuntaskan miliknya yang berdiri tegak akibat Fiona. Sesungguhnya Alexis ingin sekali menghujam Fiona dengan keras, memberikan hukuman yang nikmat untuk gadis itu. Namun, Alexis merasa jika itu akan menguntungkan Fiona. Alhasil, hukuman seperti ini yang diberikan oleh Alexis untuk Fiona. "f**k! Kau membuatku gila, Fiona." Alexis mengerang, memuncratkan semua cairannya ke lantai. Beberapa saat kemudian, Alexis mencari Fiona. Setelah menyelesaikan dirinya di kamar mandi, Alexis mendapati kamar utama kosong. Pria itu memijit pangkal hidungnya, rasa bersalah sedikit menyelinap di hatinya. Bagaimanapun, dia tidak benar-benar berniat menyiksa Fiona secara emosional. Ia tahu, gadis itu mungkin merasa sangat frustrasi dengan hukuman yang diberikannya. "Apakah kalian melihat Fiona?" Alexis menatap dua maid di depannya. Dua maid tersebut mengangguk, salah satu di antarnya menjawab pertanyaan Alexis. "Nona ada di kamar tamu, Tuan." Alexis mengangguk, dan memberikan isyarat agar dua maid tersebut pergi meninggalkannya. Lantas, langkahnya membawanya menuju kamar tamu. Saat membuka pintu kamar tamu, di sana dia bisa melihat, Fiona tertidur dengan posisi meringkuk, wajahnya masih sedikit cemberut. Alexis mendekat perlahan, menatap gadis itu dalam diam. "Kau terlihat begitu damai saat tidur, Baby," gumamnya dengan suara rendah, tangan kanannya bergerak merapikan helaian rambut Fiona. Ia membungkuk, menggendong Fiona dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Gadis itu hanya bergerak sedikit, tapi tidak membuka matanya. Alexis membawanya kembali ke kamar utama, lalu membaringkan tubuh mungil Fiona di atas ranjang. Dia menarik selimut, menyelimuti tubuh Fiona hingga sebatas dadanya. Alexis duduk di tepi ranjang, matanya menatap Fiona dengan penuh kelembutan. Perlahan, ia menunduk dan mengecup kening Fiona. "Tidurlah yang nyenyak, Baby," bisiknya lembut. Setelah memastikan gadis itu nyaman, Alexis berdiri. Dia menatap Fiona sejenak. "Kau pasti sangat kesal denganku, bahkan bisa jadi kau akan ngambek." sudut bibirnya terangkat, pria itu ingin tertawa. Apalagi saat mengingat bagaimana jika Fiona kesal dengannya. Alexis menggelengkan kepalanya, lantas melangkah keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Pikiran tentang Fiona terus memenuhi benaknya, membuatnya tersenyum tipis. Namun, jauh di lubuk hati, dia tahu hukuman seperti tadi hanyalah permulaan. Alexis sadar, Fiona pasti akan membalasnya dengan cara yang tak terduga. Dan ketika saat itu tiba, ia siap untuk menghadapi semua kejutan dari gadis yang telah berhasil membuat dunianya jungkir balik. Alexis menghela napas panjang, mengusir bayangan Fiona sejenak, lalu mulai berkonsentrasi pada dokumen-dokumen di mejanya. Tapi tetap saja, senyuman itu tidak sepenuhnya hilang dari wajahnya. "Dasar gadis keras kepala. Kau membuatku semakin jatuh terlalu jauh, Fiona."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD