Alexis berusaha mengabaikan perasaan tak nyaman yang tiba-tiba menyeruak di dadanya, mencoba kembali fokus pada presentasi yang sedang berlangsung. Namun, semakin lama, semakin sulit baginya untuk mengusir pikiran itu.
"Tuan Alexis?" tanya salah satu eksekutif, nada suaranya penuh kehati-hatian. "Apakah ada sesuatu yang perlu kami revisi?"
Alexis menatap pria itu sejenak sebelum akhirnya berdiri, sikapnya dingin dan tak terbaca. "Lanjutkan tanpa saya. Gerald, kau pimpin rapat ini."
Ia meninggalkan ruangan dengan langkah cepat, tanpa memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bertanya lebih lanjut.
Dengan satu panggilan cepat, ia memerintahkan sopirnya untuk menyiapkan mobil dan langsung menuju mal tempat Fiona berada.
Selama perjalanan, tangannya mencengkeram ponsel dengan erat, rahangnya mengeras, sementara pikirannya dipenuhi spekulasi.
Setibanya di mal, Alexis berjalan dengan langkah cepat dan penuh keyakinan. Meski mengenakan pakaian formal, kehadirannya yang dominan menarik perhatian banyak orang.
Dia menemukan Fiona dengan mudah melalui informasi anak buahnya. Gadis itu baru saja selesai makan bersama teman-temannya dan terlihat menuju kamar mandi.
Alexis mengikuti dari kejauhan, memastikan ia tak terlihat. Setelah Fiona masuk ke dalam, ia menunggu dengan sabar di luar, tubuhnya bersandar di dinding dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
Begitu Fiona muncul, ia langsung berdiri tegak dan dengan satu langkah panjang, tubuhnya sudah memerangkap Fiona di antara dinding dan tubuhnya.
"Alex?!" Fiona terkejut, matanya melebar. Tapi sebelum ia sempat melanjutkan, Alexis sudah menutup jarak di antara mereka.
Bibirnya menangkap bibir Fiona dengan brutal, penuh gairah yang tak terbendung. Fiona mencoba melawan sejenak, mendorong d**a Alexis dengan tangan kecilnya, tapi pria itu terlalu kuat.
Napasnya memburu, sementara Alexis terus memperdalam ciumannya, menguasai Fiona tanpa memberi kesempatan sedikit pun.
Ketika akhirnya Alexis melepaskan ciumannya, Fiona terengah-engah, wajahnya merah padam oleh kejutan dan malu. "Alex, apa-apaan-" katanya dengan suara pelan, tapi Alexis memotongnya.
"Tutup mulutmu," kata Alexis, suaranya rendah dan berbahaya. Ia menunduk, menempelkan bibirnya di leher Fiona, meninggalkan tanda merah yang langsung mencolok di kulitnya yang putih.
Fiona terkesiap, tangannya mencengkeram bahu Alexis dengan erat.
"Kau milikku, Fiona. Aku tak peduli siapa pun yang ada di sekitarmu. Kau hanya milikku."
"Alex, kau keterlaluan!" bisik Fiona, mencoba menjaga suaranya agar tak menarik perhatian. Matanya membelalak saat menyadari apa yang telah dilakukan Alexis. "Bagaimana kalau orang lain melihat—"
"Mereka tidak berani melihat," potong Alexis lagi, nadanya dominan, tatapannya menusuk. "Dan kau, Fiona ... Jangan pernah mencoba membuatku gila seperti ini lagi. Aku mempercayaimu, tapi bukan mereka."
Fiona menelan salivanya dengan gugup, tak mampu berkata apa-apa. Alexis adalah pria yang dingin dan keras di dunia bisnis, tapi ketika menyangkut dirinya, ia berubah menjadi seseorang yang posesif dan mendominasi.
Meski bagian kecil dalam dirinya merasa marah, ada bagian lain yang tak bisa menyangkal betapa ia menyukai perhatian yang intens dari Alexis.
"Aku hanya bertemu teman lama," akhirnya Fiona berbisik, matanya menatap Alexis dengan lembut, berharap meredakan emosinya.
Alexis menghela napas, tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Fiona dengan lembut. "Apapun itu, aku tidak peduli. Sekarang pulang bersamaku, karena kau perlu di berikan hukuman."
Fiona membelalakkan matanya, terkejut mendengar kata-kata Alexis. "Hukuman? Alex, kau tidak bisa seenaknya!" protesnya dengan nada frustrasi, mencoba melepaskan diri dari tatapan tajam pria itu.
Namun sebelum ia sempat melangkah mundur, Alexis dengan cepat membungkuk dan mengangkat tubuh Fiona ke bahunya seperti mengangkat karung beras.
Fiona terkesiap, tangan dan kakinya bergerak panik. "Alexis! Turunkan aku sekarang juga!" teriaknya pelan, berusaha menjaga agar suaranya tak menarik perhatian orang sekitar.
Alexis tetap melangkah dengan santai, tak peduli dengan protes Fiona. "Diamlah," ucapnya dingin. "Semakin kau melawan, semakin aku ingin menghukummu lebih keras."
'Dasar pria gila! Kau benar-benar ... dasar duda posesif!' batin Fiona sambil menggigit bibirnya untuk menahan amarah. Ia mencoba memukul punggung Alexis, tapi usahanya sia-sia. Tubuh pria itu terlalu kokoh, dan Alexis sama sekali tak terganggu.
"Berhenti meronta, Fiona. Atau kau ingin aku mencium dan membuat tanda lagi di sini?" Alexis berbisik tajam, nada suaranya rendah tapi penuh ancaman yang membuat wajah Fiona memerah seketika.
"Alexis, kau keterlaluan!" bisik Fiona marah, tapi kali ini nadanya lebih tenang karena ia tahu melawan tidak ada gunanya.
"Aku memang keterlaluan, Baby. Kau seharusnya tahu itu." Alexis membawa Fiona keluar mal, melewati beberapa orang yang menatap mereka dengan penasaran.
Namun dengan kehadiran Alexis yang dominan dan tatapan dinginnya, tak satu pun berani bertanya atau menghentikan mereka. Ia memasukkan Fiona ke dalam mobilnya, lalu duduk di kursi pengemudi.
Fiona menatap Alexis dengan tatapan kesal, tangannya menyilangkan d**a. "Apa yang kau rencanakan sekarang, Alex?" tanyanya tajam.
Alexis meliriknya sekilas sebelum menyalakan mesin mobil. "Kita pulang. Dan kau akan belajar untuk tidak membuatku kehilangan akal lagi," jawabnya tanpa nada basa-basi.
Fiona menggertakkan giginya, frustrasi dengan pria di sebelahnya. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa posesif Alexis adalah wujud dari betapa ia peduli dan mencintainya.
"Aku tidak akan mempermudah hukumanmu, Alex," gumam Fiona dalam hati, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil penuh rencana.
Sementara Alexis, pria tersebut melirik Fiona. Bibirnya membentuk seringai.
'Dasar kelinci kecil nakal.' batin Alexis, pria tersebut menambah kecepatan lajunya agar segera sampai di mansionnya.
Setibanya di mansion, mobil Alexis berhenti dengan halus di depan pintu utama. Tanpa membuang waktu, pria itu keluar dari mobil dan berjalan ke sisi Fiona.
Sebelum Fiona sempat berpikir untuk melarikan diri, Alexis sudah membuka pintu dan meraih lengannya.
"Alex, aku bisa jalan sendiri," gerutu Fiona, mencoba menahan diri agar tidak terlihat panik.
Namun Alexis hanya menatapnya dengan seringai penuh kemenangan.
"Kau pikir aku akan memberimu kesempatan kabur?" jawabnya sambil membungkuk, lalu mengangkat tubuh Fiona dalam gendongan bridal style.
"Alexis! Turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri, dasar pria gila!" teriak Fiona, tubuhnya meronta kecil.
Tapi Alexis tetap berjalan masuk ke mansion, langkahnya mantap tanpa mengindahkan protes Fiona.
Setibanya di kamar utama, Alexis menendang pintu hingga terbuka lebar, lalu menutupnya dengan satu gerakan cepat menggunakan kakinya.
Fiona yang masih berada di gendongannya semakin gelisah, tangannya mencoba menekan bahu Alexis.
"Aku serius, Alex! Kalau kau tidak menurunkanku, aku akan—"
"Kau akan apa, Fiona?" potong Alexis dengan nada tajam. "Mengeluh? Berteriak? Itu tidak akan membuatku melepaskanmu, Baby."
Pria itu menurunkan Fiona ke tempat tidur dengan hati-hati, tapi tetap mendominasi.
Fiona segera berusaha bangkit, namun Alexis sudah berada di atasnya, kedua tangannya menahan tubuh Fiona agar tak bisa bergerak.
"Alexis! Apa yang kau—"
"Sstt." Alexis menempelkan telunjuknya di bibir Fiona, membuat gadis itu terdiam. Tatapannya dalam dan intens, cukup untuk membuat Fiona menelan ludah dengan gugup.
"Kau ingin kabur dariku, Fiona? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Alexis menunduk, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Fiona. "Kau milikku, dan aku akan memastikan kau mengerti itu."
"Alex, aku—"
Alexis tak memberi Fiona kesempatan berbicara. Dengan gerakan cepat, ia menangkap bibir Fiona sekali lagi, tapi kali ini lebih lembut, meski tetap penuh otoritas. Fiona yang tadinya melawan, perlahan mulai menyerah pada ciuman itu.
Namun, saat Alexis melepaskan ciumannya, Fiona mengambil kesempatan untuk mendorong pria itu dengan sekuat tenaga. Ia berhasil membuat Alexis sedikit terhuyung dan langsung melompat turun dari tempat tidur.
"Jangan kira kau bisa seenaknya memperlakukanku seperti ini, Alexis!" seru Fiona, wajahnya merah karena marah dan malu. Ia berlari menuju pintu, tapi Alexis, dengan refleks cepatnya, berhasil menariknya kembali ke dalam pelukannya.
"Kau mau bermain keras, Fiona?" bisik Alexis di telinganya, suaranya rendah dan menggoda. "Baiklah. Kita lihat siapa yang menang di akhir permainan ini."
"Dasar pria menyebalkan!" Fiona memukul bahu Alexis dengan frustrasi, tapi Alexis hanya tertawa kecil.
"Dan kau, dasar kelinci kecil nakal," balas Alexis, menggendong Fiona kembali ke tempat tidur.
Wajah Fiona semakin merah, bukan hanya karena marah, tetapi juga karena tatapan Alexis yang intens.
"Alex, kalau kau tidak berhenti—"
"Kau tahu aku tidak akan berhenti, Fiona. Jadi, terimalah hukumanmu dengan baik," potong Alexis dengan senyuman penuh arti.
Fiona hanya bisa menggigit bibir, mencoba mencari cara untuk melarikan diri dari situasi ini, sementara Alexis terus menikmati posisinya sebagai pria yang mendominasi. Di balik amarahnya, ada kehangatan kecil yang merayap di hati Fiona, meski ia tak mau mengakuinya.