Saron beranjak dari pintu. Dia bergegas duduk di meja, lalu mengeluarkan laptop berukuran tujuh inci dari dalam ransel. Dia menyalakan benda elektronik itu. Saron menanti sambil mengecek pesan yang baru saja masuk chatroom.
'Thanks', isi pesan yang dikirim oleh akun F3, salah satu anggota Ailux, pada pukul 05.30.
Saron tersenyum. Pesan itu menyatakan bahwa, F3 telah menerima emailnya.
Ketika Saron menyelipkan ponsel ke saku, laptop telah menyala sempurna. Cepat-cepat Saron membobol CCTV gedung Hayes Group. Dia telusuri rekaman CCTV di lift, serta jejaknya sebelum dan sesudah menaiki box besi itu. Selang beberapa saat, rekaman yang diinginkan unjuk gigi di monitor. Saron segera menghapus dirinya dalam video berdurasi singkat di depan lift lantai satu dan dua puluh tiga. Tinggal satu rekaman yang ….
"Oh, Tuhan, apa ini?" Wajah Saron serasa dilempari setumpuk kotoran ayam. Bagaimana tidak, dia terkejut melihat Faza sudah di sana sesaat setelah aksi liarnya merayapi tubuh sendiri. Dia bagai penari skriptis yang sedang mempertontonkan tubuh di depan p****************g.
Entah apa yang dipikirkan Faza saat itu. Mungkinkah dia menikmati tontonan gratisnya, atau malah bergidik dan menganggap Saron sebagai wanita gila? Sayang, air muka Faza tak tampak olehnya. Kamera lift hanya menyoroti punggung pria itu dan rupa sintingnya.
"Sial-sial-sial!" Saron menghapus rekaman itu dengan kesal. Sekaligus geli. "Ah, memalukan. Berengsek kamu Saron! Pria itu pasti senang melihat kegilaanku. Ya, jelas sekali. Secara tubuhku seksi dan menggiurkan. Matanya pasti melotot melihat dadaku, sementara air liur bercucuran dari mulutnya. Lihat saja apa yang dia lakukan tadi! Nyaris dia menyentuh dadaku. Untung saja, mata ini segera terbuka. Idih, menjijikkan. Dasar pria m***m!"
Saron menutup laptop setelah mengalihkan tampilan CCTV pada rekaman palsu buatannya. Jam kantor sebentar lagi dimulai. Dia harus bergerak cepat dan hati-hati.
Kantor memang masih sepi. Namun, sekuriti bisa memergoki aksinya kapan saja. Saron berjalan cepat seraya berdoa agar orang-orang itu masih asyik dengan permainan di ponsel hingga tugasnya rampung.
Saron duduk di meja salah satu karyawan. Meja itu milik seorang wanita menyebalkan yang selalu memerintahnya seenak hati dan terkesan dibuat-buat. Hari ini, wanita itu akan menerima balasan. Saron meletakkan flashdisk berkepala hello kitty di laci wanita itu, lalu pergi.
***
Andai rasa malu tidak meninggalkan jejak, Saron pasti bekerja tanpa rasa waswas akan terlibat pertemuan kedua dengan Faza. Jika saja dia tidak mengenakan kacamata sialan itu dan membiarkan rambutnya tergerai seperti biasa, Faza mungkin tidak akan mengenali penampilannya sekarang. Pengandaian yang percuma.
Penyesalan tak pernah menghadang di depan. Pria itu nyaris menangkapnya di depan lift. Syukurlah pintu lift memberi pengertian. Mereka menutup tanpa perlu dipinta.
Saron melewati ruangan Louis dengan gerobak penuh peralatan kebersihan. Kedatangannya ialah untuk memenuhi permintaan Louis semalam, menemui pria itu pagi-pagi sekali. Namun, ketika hendak mengetuk pintu, Saron mendengar Louis sedang mengobrol dengan seseorang via telepon.
Tak ingin mengganggu, Saron menunda pertemuan mereka. Dia berpindah dan berhenti tepat di jendela kaca berukuran besar. Saron mengambil lap dan semprotan berisi sabun pembersih kaca. Sambil membersihkan jendela, dia menguping.
"Maaf, Pak. Saya akan mencarinya dan menyerahkannya secepat mungkin kepada Anda. Iya, Pak. Maaf. Saya mohon, beri kesempatan lagi. Tapi …."
Sepertinya, sesuatu berjalan di luar rencana.
"Ada apa? Mungkinkah sebab flashdisk itu? Keisenganku sedikit berlebihan. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Saron sambil melirik ke dalam ruang Louis dan meja si wanita menyebalkan.
Mati-matian dia menghindari wanita bernama Fani itu, mana mungkin mau mengambil jebakan sendiri. Apalagi ini masih pagi. Waktu di mana semua orang menginginkan kopi atau teh di meja mereka.
Saron mengamati gerak-gerik Fani di balik tempat persembunyiannya. Jarak di antara mereka sekitar sepuluh langkah dengan dinding tripleks sebagai penghalang. Saron membenarkan letak kacamata sambil merapatkan tubuh ke dinding. Dia seperti kucing yang mengincar tulang anjing.
Fani tidak mengetahui keberadaannya. Wanita berambut pirang itu sedang menelepon. Ketika tangan Fani membuka laci, Saron bergegas menghampiri. Dia berlagak seolah-olah sibuk mengelap meja.
"Flashdisk hello kitty?" celetuk Saron sambil menengok ke dalam laci.
Fani menoleh. "Flash … sedang apa kamu di sini Silvia? Bawakan aku teh jasmine dengan sedikit gula. Jangan terlalu panas atau dingin! Dan ingat! Aku lebih suka gelas besar. Oke?"
Saron menyengih, lalu cepat-cepat menyembunyikan cibiran itu dengan senyum palsu. "Itu, Miss. Ada flashdisk warna pink di laci. Kalau nggak salah, Mr. Louis kehilangan flashdisk dengan model seperti itu kemarin," kata Saron sambil menunjuk-nunjuk ke laci.
Laci ditutup dengan keras. Agaknya, Fani tidak suka dengan tuduhan Saron. Wanita itu mengakhiri panggilan, kemudian bertolak dari kursi. Dia berkacak pinggan dengan angkuhnya seraya melempar tatapan jijik ke arah Saron.
"Apa maksud kamu nuduh-nuduh gitu? Kalau nggak mau buatin teh, ngomong aja. Biar saya langsung komplain ke atasan tentang kinerjamu yang buruk," ucap Fani bersungut-sungut.
"Sorry, Miss. Mana berani saya nuduh Miss Fani. Saya cuma ingin memastikan kalau di laci itu bukan flashdisk yang dicari-cari Mr. Louis. Semalam saya dimarahi habis-habisan loh, Miss, gara-gara flashdisk itu."
Tak mau dijatuhkan di depan karyawan lain, Fani hendak membuktikan bahwa dirinya tidak seperti yang ditudingkan Saron. Fani membuka laci, lalu mengintip segala sesuatu di dalamnya. Matanya melebar saat melihat benda yang bukan miliknya terdampar di sana.
Dengan tidak mengurangi kesombongan, Fani mengambil flashdisk itu. Dia tunjukkan benda itu ke muka Saron. "Oh, ini maksud kamu? Ini flashdisk-ku dan cuma aku yang punya flashdisk seunyu ini. Lihat! Pink dengan boneka hello kitty. Mana mungkin Mr. Louis memiliki benda seperti ini!"
Ruang itu hening seketika, usai gelombang suara falsetto Fani memantul ke sana-kemari. Orang-orang di ruang itu pun sontak melongo dengan pandangan mengarah ke kedua wanita yang sedang bersitegang.
"Fani!" hardik Mr. Louis, "ke ruangan saya sekarang juga! Kamu juga, Silvia!"
Fani menatap tajam Saron. Dia menggeram sambil meremas kedua tangan.
***